Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 117

Memuat...

Koan Jit tersenyum melihat betapa kapten itu terkejut dan kini kapten itu tidak membatah lagi. Kalau orang yang ditawan itu adik seperguruan Koan Jit, tentu lihai bukan main dan kalau begitu, urusan itu lebih bersifat intern kekeluargaan antara saudara-saudara seperguruan.

“Baiklah, aku memberi waktu sampai besok sore. Harus selesai dan dia harus dapat dibebaskan, karena aku sudah berjanji kepada nona Sheila Hellway.”

“Baik, kapten.”

Koan Jit begitu yakin akan hasil baik siasatnya. Akan tetapi di dunia ini, harapan lebih banyak menelurkan kekecewaan daripada kepuasan. Dia menghadapi watak yang keras seperti baja dan semangat yang pantang mundur dalam diri Gan Seng Bu, sutenya itu. Dia memang belum pernah berkenalan dengan Seng Bu dan tidak tahu bahwa watak dari murid gurunya yang satu ini berbeda dengan yang lain. Seng Bu yang baru satu kali dijumpainya memiliki watak yang sama sekali tidak pantas menjadi murid seorang datuk sesat seperti Thian-tok!

Seperti lajimnya pada tokoh-tokoh sesat atau semua anggauta golongan hitam, kehidupan mereka hanya menjadi hamba dari pada nafsu-nafsu mereka. Hidup mereka hanya untuk bersenang-senang, mengejar kesenangan dan memenuhi semua keinginan dan kepentingan diri sendiri, tannpa memperdulikan orang lain, bahkan kalau perlu menghancurkan orang-orang lain yang dianggap sebagai penghalang dari tujuannya untuk menyenangkan diri. Karena itulah, mereka itu suka melakukan segala macam pelanggaran, tanpa memperdulikan kesopanan, kesusilaan, kehormatan, perikemanusiaan ataupun dalam mengejar segala macam hal yang dikehendakinya. Dan karena ini, mereka banyak melakukan kejahatan-kejahatan dan disebut golongan hitam atau kaum sesat.

Thian-tok sendiri adalah seorang di antara Empat Racun. Tentu saja dapat dibayangkan betapa kejam dan jahatnya, betapa besar ambisi hidupnya dan entah berapa banyak perbuatan keji yang pernah dilakukannya. Tentu saja murid-muridnya juga demikian, termasuk Koan Jit, yang merasa paling tepat menjadi murid Si Racun Langit itu. Dan tadinya dia mengira bahwa sebagai murid Thian-tok, tentu Gan Seng Bu juga sama saja. Tentu mudah diajak berunding dan bersekutu kalau dipameri kedudukan yang baik dan keuntungan besar bagi dirinya.

Akan tetapi, kiranya Koan Jit sama sekali salah terka! Gan Seng Bu begitu keras dan kuat dalam pendiriannya, membela kebenaran dan keadilan, menentang penjajahan bukan untuk mencari kedudukan, melainkan bangkit dari rasa patriotnya. Dan juga tidak sudi bersekutu dengan orang kulit putih yang dianggap meracuni bangsanya. Bermacam akal dipergunakan Koan Jit untuk membujuk, namun sia-sia belaka!

“Gan Seng Bu,” katanya kehabisan akal.

“Bukankah engkau ini murid suhu Thian-tok? Dengan demikian, bukankah engkau ini seorang suteku sendiri? Kenapa seorang sute tidak mau menurut kata-kata seorang toa-suheng?”

Seng Bu yang dibelenggu pada sebuah pilar itu diikat lehernya, tubuhnya, kaki dan tanggannya, sehingga dia tidak mampu bergerak, mencibirkan bibirnya.

“Koan Jit, engkau sendiri menyerang suhu dengan curang, mencuri Giok- liong-kiam dan pernah menyerang aku dan suheng Ong Siu Coan, hampir membunuh kami. Apa anehnya kalau sekarang aku melawanmu?”

“Goblok! Kalau engkau mau membantuku, engkau akan hidup mulia. Kelak mungkin aku akan menjadi kaisar, tahukah kau? Dan engkau kelak dapat menjadi menteri! Giok-liong-kiam berada di tanganku. Kalau kau membantuku menghadapi mereka yang hendak merampasnya, dan kelak kita memperoleh hasilnya, bukankah kita akan hidup makmur? Kenapa kau begini tolol dan pura- pura bersikap seperti seorang pendekar sejati? Engkau hanya murid Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia. Jangan Sok aksi dan berlagak menjadi pendekar!”

“Sudahlah, Koan jit. Bebaskan aku, atau kalau memang engkau gagah, mari kita bertanding secara gagah. Aku tidak takut kepadamu! Jangan kau menggunakan kedudukanmu di sini menjadi anjing penjilat orang kulit putih, untuk berbuat curang!”

“Plakkk…!”

Koan Jit menampar muka Seng Bu, akan tetapi yang ditampar sama sekali tidak berkedip walaupun tamparan itu membuat pipinya menjadi merah.

Pada Saat itu, pintu kamar itu diketuk orang dari luar, Koan Jit menyumpah dan membuka daun pintu. Kiranya seorang serdadu kulit putih yang muncul. Dia memberi hormat secara militer kepada Koan Jit dan melaporkan bahwa nona Sheila Hellway datang hendak bicara dengan dia. Wajah keruh Koan Kit seketika menjadi berseri.

“Ah, ia datang ? Baik, baik, silahkan ia masuk ke sini.”

Serdadu itu melirik ke arah Seng Bu yang terbelenggu, lalu memberi hormat dan membalikkan tubuhnya. Tak lama kemudian dia datang lagi mengiringkan Sheila yang wajahnya agak pucat dan sinar matanya menunjukkan kekhawatiran dan juga kemarahan. Sheila nampak cantik sekali pagi hari itu. Rambatnya tersisir rapi, mukanya diberi bedak tipis dan kedua matanya seperti bintang pagi. Gaunnya juga baru dan terbuka di kedua pundaknya, memperlihatkan lekuk buah dadanya yang menggembung karena ia berada dalam keadaan mengandung. Cantik dan segar berseri, membuat Koan Jit diam-diam menelan ludahnya.

“Ah, nona Hellway. Silahkan masuk, silahkan…”

Koan Jit menyambut dengan sikap hormat dan ramah sekali. Akan tetapi karena memang dia tidak memiliki wajah yang ramah ketika dia tersenyum, senyum itu nampak dingin dan menyeringai aneh. Akan tetapi Sheila tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan sikap aneh itu, karena matanya sudah mencari-cari ketika kakinya melangkah masuk. Iapun tidak sadar betapa daun pintu sudah ditutup kembali oleh Koan Jit tanpa memperdulikan serdadu bule yang tadi mengantar Sheila. Serdadu itu mengerutkan alisnya dan tetap berdiri di luar pintu kamar itu.

Begitu memasuki ruangan yang agak luas itu dan melihat suaminya berdiri dan terbelenggu di pilar, Sheila mengeluarkan jerit tertahan dan cepat ia lari menghampiri Suaminya, lalu membalikkan tubuhnya dan memandang kepada Koan Jit dengan mata terbelalak penuh kemarahan.

“Kenapa suamiku dibelenggu seperti ini? Hayo lepaskan belenggunya!” bentaknya marah sekali.

Koan Jit memperlebar senyumnya dan dengan sikap kurang ajar sekali dia mengangkat kaki kanannya di atas kursi, menunjang dagu dan memandang kepada wanita itu dengan sinar mata cabul.

“Kalau kau dapat, lepaskan sendiri, nona manis.”

Baru ucapan itu saja sudah mengandung kekurangajaran, dan hal ini dirasakan oleh Seng Bu. Pemuda ini dapat membayangkan bagaimana jahatnya watak seorang seperti Koan Jit, maka diapun membentak.

“Koan Jit! Urusan antara kita jangan kaulibatkan dengan isteriku! Kalau memang kau jantan, biarpun engkau masih kakak seperguruanku sendiri, lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seribu jurus. Jangan bersikap curang, menangkap aku dengan bantuan serdadu Inggeris, kemudian hendak melibatkan isteriku. Sheila, kau keluarlah dan jangan mencampuri urusan ini!”

Seng Bu sengaja bicara panjang lebar untuk memberi tahu isterinya akan duduknya perkara mengapa dia sampai terbelenggu di tempat itu.

“Tidak!” Sheila berteriak dan marah sekali, maju menghampiri Koan Jit. “Aku sudah mendengar tentang penjahat yang bernama Koan Jit ini!

Engkau murid durhaka, mengkhianati guru sendiri dan sekarang engkau dengan curang menangkap adik seperguruanmu sendiri. Hayo bebaskan dia atau aku akan melaporkan kepada Kapten Elliot!”

“Ha-ha-ha, mau lapor? Laporlah, nona manis, karena diapun sudah tahu bahwa aku menangkap, suamimu.”

“Bohong! Dia tidak akan menangkap suamiku! Koan Jit, hayo cepat bebaskan dia. Tidak ada alasan bagimu untuk menangkapnya!”

“Tidak ada alasan? Dia pemberontak, dia memimpin kawan-kawannya untuk menentang dan memusuhi orang kulit putih. Nona Sheila Hellway, engkau sungguh tidak tahu malu. Engkau telah mengkhianati bangsamu sendiri dengan menjadi isteri seorang musuh bangsamu. Seharusnya engkau bersyukur bahwa engkau telah bebas dari orang ini dan berterima kasih kepadaku!”

“Tutup mulutmu yang busuk!”

Sheila membentak, semakin marah mendengar ucapan orang yang semakin kurang ajar itu. Bagaimana ada seorang bawahan Kapten Elliot berani berkata itu kepada dirinya.

“Lekas bebaskan suamiku. Dia tidak berdosa, dia adalah seorang pendekar besar, penentang penjajah.”

“Heh-heh, murid guru kami Thian-tok, seorang datuk kaum sesat, mana bisa menjadi pendekar? Dia tawananku, akan kubunuh, kusiksa atau kuapakan saja adalah hakku. Engkau tidak bisa memaksaku membebaskannya, nona.”

Wajah Sheila menjadi semakin pucat. Ia lari menghampiri suaminya dan berusaha melepaskan belenggu-belenggu itu, akan tetapi mana mungkin tangannya yang lemah itu dapat melepaskan belenggu yang demikian kuatnya? Apalagi kedua tangan dan kaki itu dipasangi belenggu besi. Setelah usahanya sia-sia belaka, Sheila lalu lari menghampiri Koan Jit seperti seekor Singa betina yang marah karena anaknya diganggu.

“Jahanam! Bebaskan dia! Bebaskan suamiku!”

Dicobanya untuk memukuli dada dan muka Koan Jit. Akan tetapi laki-laki ini hanya tersenyum saja, membiarkan dadanya dipukuli. Merasakan kehangatan dan kelembutan tangan wanita itu, melihat betapa dada yang nampak menonjol bersar itu naik turun, mencium kehangatan yang harum, tiba- tiba saja timbul nafsu berahi Koan Jit. Kenapa tidak? Dia benci sekali kepada Seng Bu. Kalau Seng Bu tidak mau membantunya, dia tentu akan membunuhmsute itu, dan sebelum dibunuh, apa salahnya kalau disiksa dulu, disuruh menyaksikan isterinya yang hamil tiga bulan itu dia perkosa di depan, matanya?

Membayangkan kejahatan yang istimewa ini, sepasang mata Koan Jit bersinar-sinar penuh kegirangan. Akan tetapi, dia masih ingat akan keuntungan yang lebih besar lagi, maka ditangkapnya kedua tangan wanita itu dengan tangan kanannya, ditelikungnya ke belakang sambil tersenyum.

“Lepaskan aku! Jahanam busuk, lepaskan aku!” Sheila meronta-ronta, tanpa hasil dalam cengkeraman tangan kanan Koan Jit yang kuat.

“Koan Jit, lepaskan isteriku, jangan ganggu dia! Demi Tuhan, akan kubunuh kau kalau kau mengganggunya!”

Seng Bu juga berteriak dan meronta-ronta, akan tetapi betapapun lihainya, dia tidak dapat melepaskan belenggu besi pada pergelangan kedua tangan yang ditelikung ke belakang dan kedua pergelangan kakinya.

“Sute, sekarang kau pertimbangkan baik-baik. Engkau menerima usulku agar membantuku, atau aku akan memperkosa isterimu di depan matamu.”

Bukan main hebatnya ancaman ini bagi Seng Bu. Isterinya akan diperkosa di depan matanya! Isterinya yang mengandung tiga bulan!

“Koan Jit… kau keparat jahanam...!!”

Post a Comment