Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 116

Memuat...

“Huh, bocah sombong, apakah engkau masih ingat padaku?” Seng Bu marah sekali.

“Siapa tidak ingat padamu? Sekali saja melihat seorang murid murtad, seorang maling dan seorang pengkhianat yang curang, selamanya aku takkan lupa!”

Tentu saja Koan Jit marah sekali mendengar dirinya dimaki di depan banyak orang. Dia segera meneriakkan aba-aba kepada para perajurit kulit putih.

“Tangkap orang ini!”

Seng Bu hendak memberontak, akan tetapi beberapa orang perajurit kulit putih sudah mendorongkan pistol ke dadanya. Seng Bu maklum bahwa kalau dia melawan dengan nekat, selain dia harus menghadapi Koan Jit yang lihai, juga harus menghadapi senjata api yang tak boleh dipandang ringan. Apalagi isterinya masih berada di situ, maka dia tidak melawan. Bahkan dia tidak melawan ketika seorang serdadu Inggeris yang bertubuh tegap dan berkumis menelikung kedua lengannya ke belakang dan memasang belenggu. Dia hanya memandang kepada Koan Jit dengan mata berapi.

“Koan Jit, dengan alasan apa engkau menangkapku? Aku datang mengantar isteriku yang diundang sebagai tamu oleh Kapten Elliot!”

Koan Jit tertawa menyeringai dan menekan tangan kirinya di atas langkan besi di tengah kapal itu.

“Heh-heh, tentu saja. Nona Sheila Hellway memang menjadi seorang tamu terhormat, akan tetapi engkau ini siapa? Engkau seorang pemberontak, engkau seorang penjahat yang suka memusuhi golongan dan pasukan Inggeris!”

“Bohong! Fitnah! Aku datang mengantar isteriku, Sheila!”

“Engkau memata-matai kapal ini! Hayo jebloskan dia ke dalam kamar tahananku di bawah!”

Seng Bu maklum akan datangnya bahaya maka diapun cepat menggerakkan khikangnya dan berteriak.

“Sheilaaaa...!!”

Akan tetapi pada saat itu, Koan Jit sudah menotoknya sehingga pendekar itu menjadi lemas tak berdaya lagi, tak mampu melawan ketika dia diseret masuk ke tanpat tahanan di bagian bawah kapal.

Biarpun demikian, teriakan yang mengandung khikang amat kuatnya itu telah menembus dinding tebal dan terdengar oleh Sheila. Tentu saja wanita ini terkejut dan bangkit dari kursinya. Tadi ia asyik membicarakan tentang pemindahan kerangka ayah ibunya, dan ia mengajukan permohonan agar kerangka itu dikubur di daerah Kanton saja, jangan dibawa pulang ke Inggeris. Juga Kapten Charles Elliot dan yang lain-lain bangkit berdiri ketika mendengar pekik yang nyaring memanggil nama Sheila itu. Tentu saja Kapten itu sudah dapat menduga apa yang terjadi, akan tetapi dia pura-pura berkata kepada Sheila.

“Akan kulihat apa yang terjadi di sana.”

“Yang berteriak tadi suamiku!” kata Sheila, juga mengikuti kapten yang sudah berlari keluar.

Kapten Elliot dan Sheila, juga beberapa orang pejabat yang tadi ikut rapat, mendengar keterangan dari beberapa orang penjaga bahwa teriakan tadi memang teriakan Gan Seng Bu yang ditangkap dengan tuduhan sebagai penjahat dan pemberontak.

“Suamiku ditangkap? Kurang ajar! Siapa yang menangkapnya? Kapten, apa artinya semua ini!” bentak Sheila dengan mata terbelalak lebar dan marah sekali.

Kapten itu memegang lengan wanita itu. “Tenang dan bersabarlah, nona Sheila. Yang menangkap adalah perwira Koan, kepala dari pasukan Harimau Terbang. Memang dia bertugas menjaga keamanan dan melakukan pembersihan terhadap penjahat-penjahat dan pemberontak-pemberontak, dan agaknya dia mengenal suamimu sebagai seorang di antara pemberontak, maka lalu ditangkapnya.”

“Akan tetapi, suamiku hanya melawan pemerintah Mancu! Dia bukan penjahat, dan harus diingat pula bahwa dia datang untuk mengantar aku. Dia seorang tamu yang harus dihormati, bukan ditangkap! Kapten, aku protes! Suamiku harus dibebaskan sekarang juga!”

“Tenanglah, tenanglah. Aku yang menanggung bahwa kalau memang suamimu tidak bersalah, dia akan segera dibebaskan. Sekarang, biarlah dia mengalami pemeriksaan dari komandan Koan. Dia tidak akan diapa-apakan, hanya ditanyai tentang penjahat-penjahat yang sudah banyak membunuh orang-orang kita, dan yang sudah banyak membajak kapal-kapal kita pula. Tidak patutkah dia ditanyai kalau memang dia dicurigai?”

“Tapi dia suamiku!”

“Benar, akan tetapi dalam urusan ini tidak dipandang siapa saja, nona Hellway. Bahkan aku sendiri, kalau mencurigakan, bisa saja ditangkap dan diinterogasi. Sabarlah dan tinggallah di sini selama satu dua hari sampai selesai pemeriksaan terhadap Gan Seng Bu.”

Karena dibujuk dan tidak berdaya membantah lagi, terpaksa Sheila bersabar dan menanti, walaupun hatinya tidak karuan rasanya. Tak seorangpun di antara mereka itu berani mengganggunya atau kurang ajar kepadanya. Akan tetapi hatinya penuh kekhawatiran terhadap suaminya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa semua itu adalah hasil siasat yang sudah diatur sebelumnya oleh Koan Jit.

Koan Jit tidak berani menyerbu ke dusun dimana Seng Bu tinggal karena maklum betapa kuatnya dusun yang penuh dengan para patriot itu. Dia menghendaki Seng Bu, sutenya itu yang tahu akan Giok-liong-kiam dan tahu pula akan pengkhianatannya terhadap Thian-tok, guru mereka. Dia harus mampu menundukkan Seng Bu, kalau mungkin harus dibujuk atau dipaksa untuk membantunya agar kedudukannya menjadi semakin kuat. Akan tetapi kalau tidak mau dan pemuda itu berkeras, dia akan membunuhnya! Dan ternyata siasatnya itu berjalan sesuai dengan rencananya.

Sheila dan Seng Bu datang seperti dua ekor kambing yang dituntun ke dalam rumah jagal! Tentu saja siasatnya ini tidak diketahui pula oleh Kapten Charles Elliot. Kapten itu menganggap bahwa usul Koan Jit untuk mengundang Sheila untuk membicarakan tentang pemakaman kembali keluarga Hellway itu sebagai hal yang sudah sepatutnya. Dia sama sekali tidak mengira bahwa di balik usul yang kelihatan baik sekali itu, tersembunyi pamrih demi kepentingan pribadi Koan Jit.

Kapten Charles Elliot merasa serba salah setelah mendengar tentang ditawannya Seng Bu oleh Koan Jit. Dia lalu memanggil Koan Jit dan diajak bicara empat mata dalam kabinnya. Setelah Koan Jit menghadap, dia segera bertanya apa sebabnya Koan Jit menangkap Gan Seng Bu.

“Dia itu, bagaimana juga, adalah suami yang syah dari nona Sheila Hellway, dan dia datang untuk mengantarkan isterinya memenuhi panggilan kami. Kenapa engkau menangkapnya begitu saja? Kami menjadi merasa sangat tidak enak terhadap nona Hellway,” kata Kapten Charles Elliot.

Koan Jit tersenyum menyeringai. Dia tidak pernah benar-benar menaruh hormat kepada atasan ini, karena di lubuk hatinya, dia tidak suka kepada orang- orang bule, hanya mempergunakan mereka untuk mencapai cita-citanya saja.

“Kapten, maafkan kalau aku menangkapnya tanpa lebih dulu melaporkan kepada kapten. Akan tetapi, Gan Seng Bu itu berbahaya bukan main. Dia lihai dan kalau tidak didahului ditangkap, aku khawatir dia akan menimbulkan bencana. Bencana besar sekali di sini.”

“Bencana apa misalnya...?”

“Apa saja mungkin dia lakukan. Membunuh kapten misalnya, atau melakukan hal hebat lainnya.”

“Kau gila!” Kapten itu berseru marah dan tidak percaya.

“Tidak, kapten. Dia itu lihai bukan main, memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi, dan hanya aku seoranglah yang dapat mengatasinya. Dia seorang pemberontak besar, dengan kawan-kawannya dia membuat persekutuan untuk memberontak terhadap pemerintah dan tentu saja kadang- kadang juga melakukan gerilya terhadap pasukan-pasukan kita. Beberapa pekan yang lalu, ketika anak buahku menyerbu ke dusunnya karena salah kira, mengira isterinya itu nona Diana, anak buahku dihajarnya habis-habisan. Bukankah berbahaya sekali orang seperti itu? Aku ingin meriksanya dan melihat sampai dimana keterlibatannya dengan para penjahat yang Susa mengacau di pelabuhan.”

“Tapi... tapi… dia suami nona Sheila Hellway. Mau kauapakan dia? Jangan kau membunuhnya.”

“Tidak dan belum lagi, kapten. Aku hendak menguras keterangan dari dia, dan kalau mungkin, hendak membujuknya agar dia membantu kita. Bukankah dengan demikian jauh lebih baik, bagi dia dan bagi nona Hellway. Coba kapten bayangkan. Nona Hellway sebagai isterinya, tinggal di antara pemberontak dan pembunuh-pembunuh itu. Kalau Gan Seng Bu mau bekerja sama dengan kita, bukankah tepat sekali.”

Kapten Charles Elliot sudah percaya penuh kepada Koan Jit yang lihai dan cerdik, dan dia memang melihat kebenaran ucapan itu. Dia mengangguk- angguk.

“Akan tetapi jangan kau berbuat yang bukan-bukan. Jangan membunuhnya. Kalau nona Hellway marah dan memprotes ke atasan, aku sendiri bisa celaka.”

“Aku tidak sebodoh itu, kapten. Dia akan kuperiksa dan kupaksa memberi keterangan dimana kita bisa menemukan nona Diana Mitchell.”

Kembali kapten itu mengangguk-angguk.

“Hemm… kalau begitu baiklah. Asal engkau tahu batas dan jangan siksa dia. Dan bagaimana engkau begitu yakin bahwa Gan Seng Bu itu orang yang memiliki kepandaian hebat sekali? Kulihat dia orang biasa saja.”

Koan Jit tersenyum cerdik.

“Akulah orang yang paling tahu, kapten… karena dia itu adalah adik seperguruanku sendiri.”

“Ahhh...!!”

Post a Comment