Mendengar berita bahwa ada dua orang utusan dari komandan pasukan kulit putih datang mengantarkan surat untuk isterinya, Gan Seng Bu menjadi khawatir bukan main dan cepat dia berlari pulang tanpa mencuci kaki tangannya yang masih berlepotan lumpur. Dengan ilmu berlari cepat, dia langsung saja pulang ke rumahnya dan memandang dengan mata penuh selidik ketika melihat dua orang laki-laki tinggi tegap sudah duduk di dalam rumahnya.
Melihat kekhawatiran suaminya, Sheila lalu menyongsong dan menggandeng tangannya, lalu memperlihatkan surat itu.
“Aku menerima surat penting dari Kapten Charles Elliot,” katanya dengan halus dan tersenyum ramah untuk menghilangkan kekhawatiran suaminya.
Melihat sikap isterinya, memang hati Seng Bu menjadi agak lega dan dia membalas penghormatan dua orang utusan itu dengan dingin saja. Pernah dia menghajar sekelompok pasukan Harimau Terbang yang menyamar sebagai orang biasa, dan diapun curiga apakah dua orang ini bukan anggauta pasukan itu. Dugaannya memang tepat. Dua orang itu memang merupakan dua orang anggauta pasukan Harimau Terbang golongan atas yang dipercaya oleh Koan Jit untuk mengantarkan surat dari Kapten Charles Elliot itu dan memang inilah siasat yang diatur Koan Jit!
Dua orang anggauta Harimau Terbang itu, walaupun belum pernah merasakan sendiri kelihaian Gan Seng Bu, namun mereka berdua sudah mendengar dari teman-teman mereka, apalagi mereka mendengar bahwa orang muda yang tinggi besar dan gagah perkasa ini adalah sute dari pimpinan mereka, tentu saja mereka merasa jerih bukan main.
“Apa maksudmu dia mengirim surat padamu?” tanya Seng Bu. PEDANG NAGA KEMALA
( GIOK LIONG KIAM )
Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Seperti biasa suaranya ramah dan halus kepada isterinya, akan tetapi alisnya tetap berkerut karena dia merasa tidak enak hatinya. Isterinya tersenyum, maklum akan kecurigaan suaminya terhadap bangsanya.
“Baik kuterjemahkan untukmu.” Ia lalu membaca surat itu, sudah diterjemahkannya dengan baik sekali.
Ternyata isi surat itu hanya pemberitahuan kepada nona Sheila Hellway bahwa pemerintah Inggeris menganggap Mr. Hellway dan isterinya yang gugur dalam keributan perang madat itu sebagai pahlawan-pahlawan, dan kini pemerintah mengambil keputusan untuk minta pertimbangan Sheila, apakah kuburan orang tuanya itu akan dipindahkan ke Inggeris, ataukah dimakamkan kembali secara kehormatan militer. Dan untuk itu, diminta kehadiran Sheila ke markas pasukan Inggeris di kapal, di pantai Kanton.
Dengan alis berkerut Gan Seng Bu bertanya.
“Isteriku, setelah engkau menerima surat seperti itu, lalu bagaimana niatmu?”
Sheila tersenyum, masih maklum bahwa suaminya tetap saja berkuatir. “Tentu saja aku harus datang dan menghadiri upacara itu. Aku akan minta
agar makam orang tuaku dikubur di sini saja agar mudah bagiku untuk sewaktu-waktu berziarah.”
“Perlu benarkah engkau menghadiri? Bagaimana kalau engkau membalas surat saja menyatakan keinginanmu itu?”
Sheila merangkul suaminya, tidak perduli di situ ada dua orang utusan yang memandang mereka dan mencium lembut pipi suaminya. Seng Bu tidak merasa canggung karena memang sudah biasa memperoleh perlakuan seperti itu dari isterinya yang amat bebas memperlihatkan kasih sayangnya.
“Seng Bu, pemindahan kerangka orang tuaku amatlah penting, Bukan? Aku harus menghadirinya sendiri, kalau tidak aku akan selalu merasa menyesal kelak. Jangan khawatir, Kapten Charles Elliot tidak akan berani menggangguku. Aku adalah warga negara Inggeris dan berhak penuh untuk menentukan kemauanku sendiri. Harap jangan khawatir, tidak ada yang akan berani mengganggu diriku.”
Seng Bu masih mengeritkan alisnya, menoleh kepada dua orang utusan itu dengan sinar mata mencorong sehingga dua orang itu menundukkan muka dengan sikap jerih. Mereka merasa gentar melihat sinar mata yang mencorong dari pendekar itu.
“Kapan engkau akan pergi ke Kanton?” akhirnya Seng Bu bertanya, tidak mempunyai alasan lagi untuk mencegah kepergian isterinya.
“Kurasa sekarang juga, Seng Bu. Hari masih pagi dan aku akan pergi bersama mereka ini. Engkau tidak keberatan, bukan?”
Seng Bu memandang ragu, kemudian berkata dengan suara penuh kepastian.
“Sheila, aku tidak keberatan karena memang perlu sekali engkau menghadiri urusan itu, akan tetapi aku akan mengawalmu kesana.” “Seng Bu...!”
Sheila membelalakkan matanya. Suaminya adalah seorang pejuang dan tentu saja amat berbahaya bagi Seng Bu untuk muncul di dalam kota Kanton dimana selain banyak terdapat pasukan kulit putih, juga terdapat pasukan pemerintah yang tentu akan menangkapnya karena nama Seng Bu sudah dikenal sebagai pemberontak.
Seng Bu tersenyum dan merangkul isterinya, mencubit dagunya dengan mesra sambil berkata.
“Jangan khawatir. Kalau mereka tidak mengganggumu, tentu mereka tidak akan menggangguku pula. Selain itu, apakah engkau tidak percaya kepadaku bahwa aku dapat membela dan melindungi diriku sendiri, termasuk dirimu?”
“Tapi itu berbahaya sekali, Seng Bu!”
“Tidak kalah besarnya dengan bahaya yang mengancammu, Sheila. Kita pergi berdua atau kita tidak pergi sama sekali.”
Sheila mengenal kekerasan hati suaminya. Ia berpikir bahwa di markas Inggeris, ia akan mampu melindungi suaminya. Tak seorangpun di sana akan berani mengganggu Seng Bu yang sudah menjadi suaminya, ayah dari calon anak mereka. Kapten Charles Elliot adalah seorang gentleman tulen, tidak mungkin mau bertindak curang. Maka iapun mengangguk.
“Baiklah, mari kita pergi bersama.”
Mereka lalu berkemas. Kawan-kawan seperjuangan Seng Bu banyak yang merasa cemas, mengkhawatirkan keselamatan mereka yang akan pergi ke Kanton. Akan tetapi setelah Sheila mengemukakan pendapatnya, merekapun merasa lega dan hanya memesan kepada Seng Bu agar berhati-hati.
Suami isteri ini menunggang kuda dan diiringkan oleh dua orang utusan itu, menuju ke Kanton. Perjalanan itu berlangsung dengan selamat dan menjelang senja, mereka memasuki Kanton. Benar saja, tidak ada gangguan dan merekapun langsung menuju ke pantai dimana terdapat beberapa buah kapal Inggeris yang besar dan diperlengkapi meriam-meriam besar. Banyak nampak serdadu-serdadu Inggeris di pantai hilir mudik, dan banyak pula mata yang menatap ke arah Sheila dengan sikap kurang ajar. Akan tetapi hal seperti ini sudah biasa dihadapi Sheila, maka iapun pura-pura tidak melihat saja dan bersama suaminya lalu dibawa ke atas sebuah perahu yang membawa mereka langsung ke sebuah kapal besar yang tidak dapat menepi dan melepas jangkar agak jauh di tengah lautan.
Kapten Charles Elliot sendiri setelah diberitahu, lalu keluar menyambut kedatangan Sheila dan Seng Bu. Kapten ini menyambut Sheila dengan wajah berseri, menjabat tangan Sheila dengan erat dan berkata dengan girang.
“Sungguh bahagia sekali melihat engkau dalam keadaan sehat dan selamat, nona Sheila Hellway. Berbulan-bulan lamanya kami dibuat gelisah oleh berita tentang dirimu. Selamat datang di kapal kami!”
Sheila menyambut uluran tangan itu dan berkata dengan lembut dan ramah namun suaranya tegas.
“Kapten, saya bukan lagi nona Sheila Hellway, melainkan nyonya Gan Seng Bu, dan inilah suami saya.”
Sheila memperkenalkan suaminya dengan maksud agar kapten itu menyambut suaminya sebagaimana mestinya. Akan tetapi, kapten itu hanya menoleh dan memandang kepada Gan Seng Bu sejenak.
Seorang pemuda bertubuh tegap, berpakaian seperti petani sederhana, masih lebih sederhana dari pada kuli-kuli pelabuhan, bagaimana dia sudi menyambutnya seperti seorang tamu? Dia diam saja dan kembali memandang kepada Sheila.
“Nona Hellway, mari kita bicara di kantorku. Kita harus merundingkan urusan pemindahan makam orang tuamu itu dengan para pejabat lain. Mari, silahkan!” Dan dengan sopan sekali kapten itu memberikan lengannya untuk digandeng Sheila. Tentu saja Sheila memandang ragu.
“Kapten, saya hanya mau bicara kalau disertai suamiku.”
“Ahh, mana mungkin itu, nona? Urusan ini adalah urusan intern, urusan dalam di antara bangsa kita sendiri dan amat penting. Biarlah dia menanti di sini dulu, nanti kalau rapat yang kita adakan sudah selesai, engkau boleh datang kembali menjemputnya di sini. Aku akan merasa canggung, tidak enak dan akan menjadi buah tertawaan kalau dia diajak memasuki ruangan perundingan.”
Sheila masih ragu-ragu, akan tetapi Seng Bu merasa tidak enak sendiri. Dia dapat mengerti alasan-alasan yang diajukan oleh kapten itu, maka diapun berkata.
“Sheila, pergilah, biar aku menanti di sini.”
Terpaksa Sheila menggandeng lengan Kapten Charles Elliot yang mengajaknya menuju ke ruangan luas di ujung kapal dimana telah menanti beberapa orang yang pakaiannya gemerlapan, yaitu orang-orang berpangkat dari pasukan armada Inggeris yang berada di situ. Semua orang bangkit berdiri dan memberi hormat ketika Sheila masuk, dan wanita ini yang sudah hampir satu tahun hidup di antara orang-orang dusun sederhana, merasa betapa ganjil dan anehnya sikap sopan santun dan hormat seperti itu yang kini nampak seolah-olah merupakan sikap dibuat-buat saja. Mereka lalu mengambil tempat duduk dan mulailah mereka merundingkan urusan pemakaman kembali jenazah keluarga Hellway yang diangap gugur sebagai pahlawan!
Setelah mengikuti kepergian isterinya bersama Kapten Charles Elliot sampai mereka lenyap di dalam ruangan kamar di ujung kapal, barulah Seng Bu sadar bahwa dia tidak berdiri sendiri saja. Di sekelilingnya telah berkerumun banyak orang, dan ketika dia menoleh karena ada sesuatu di belakangnya yang menarik perhatiannya, dia tertegun karena dia telah berhadapan dengan Koan Jit! Dia masih ingat benar wajah orang ini, orang tinggi kurus memakai jubah kebesaran berwarna hitam, dengan sepasang matanya yang seperti mata kucing, dengan wajahnya yang membayangkan kekejaman dan kelicikan. Hanya kini, orang yang pernah dijumpainya satu kali ketika orang ini datang di puncak Tai-yun-san dan mencoba kepandaiannya dan kepandaian Ong Siu Coan, kemudian orang ini mencuri pusaka Giok-liong- kiam, telah berubah pakaiannya. Mengenakan jubah seorang pembesar, dan kepalanya juga memakai kopyah atau topi batok seperti topi yang biasa dipakai oleh seorang pembesar Mancu, rambutnya dikuncir tebal dan ujungnya diikat pita kuning, sikapnya congkak sekali. Dan beberapa orang yang berada di dekatnya adalah beberapa orang opsir dan perajurit bule dan juga beberapa orang yang mengenakan pakaian pasukan Harimau Terbang! Seng Bu sudah dikurung!
Menghadapi ancaman ini, Seng Bu sudah siap siaga dan melihat pemuda itu memasang kuda-kuda, Koan Jit menyeringai.