Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 114

Memuat...

Siauw Lian Hong seorang gadis yang cantik dengan sepasang matanya yang lebar dan bersinar-sinar bening dan tajam, dengan wajahnya yang bulat, pendiam, sederhana dan nampak cerdik dan gagah sekali. Ciu Kui Eng seorang gadis yang manis sekali, matanya tajam, mukanya lonjong dengan mulut yang manis sekali, galak, manja akan tetapi juga memiliki sikap dan wajah gagah perkasa. Sukar dikatakan siapa di antara keduanya itu, Lian Hong dan Kui Eng, memiliki bentuk tubuh yang lebih elok. Keduanya bertubuh padat, penuh, langsing dan berkulit mulus. Tang Ki atau Kiki, jelita dan galak lucu, nakal manja, ditambah manis dengan tahi lalat di pipinya, biarpun nampak galak dan nakal, namun hatinya lembut sekali juga gagah perkasa dan pinggangnya ramping bukan main, agaknya dapat dilingkari dengan jari-jari tangannya. Dan Diana? Wah, gadis ini memiliki kecantikan yang khas dan aneh. Matanya biru laut, rambutnya yang seperti benang emas, kulitnya yang putih kemerahan dengan bulu-bulu halus sekali, tubuhnya yang tinggi ramping, sikapnya yang terbuka, pendeknya, ada daya tarik yang amat kuat keluar dari diri gadis bule itu.

Akan tetapi, lamunannya itu dibuyarkan oleh suara gurunya atau juga kakek gurunya yang berkata dengan nada suara lembut.

“Ci Kong, engkau sudah mendengar sendiri betapa pinceng sudah berjanji untuk membagi tugas pekerjaan dengan para tokoh Empat Racun Dunia. Bagian tugas pinceng adalah membujuk para pendekar di seluruh negara untuk menghentikan permusuhan pribadi dan mau bekerja sama dengan segala golongan, juga golongan sesat, untuk menyatukan tenaga untuk perjuangan. Pinceng sudah terlalu tua, Ci Kong, dan selain belum tentu pinceng akan kuat untuk melaksanakan tugas berat itu, juga pinceng ingin mengaso dan bertapa lagi. Engkau wakililah pinceng melaksanakan tugas itu, pinceng akan bertapa di dalam guha maut di bukit belakang kuil yang sudah kauketahui tempatnya. Setelah melaksanakan tugas itu selama satu tahun, engkau boleh datang memberi laporan kepada pinceng.”

“Baik, su-couw, teecu akan mentaati perintah su-couw,” jawab Ci Kong, dan kakek itu lalu meninggalkan dia untuk kembali ke Siauw-lim-si pusat.

Ci Kong sendiri, lalu berangkat meninggalkan kuil kecil itu untuk melaksanakan tugasnya yang baginya amat menyenangkan. Dia akan mengunjungi dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw, bukankah hal itu amat menggembirakan? Dengan penuh semangat, Ci Kong lalu berangkat.

Kita tinggalkan dulu para tokoh yang sedang berusaha untuk memupuk kekuatan guna perjuangan itu, dan mari kita melihat keadaan Gan Seng Bu dan para pejuang yang berkumpul dan tinggal di sebuah dusun sebelah barat Kanton. Mereka itu menyamar sebagai penghuni dusun, bekerja sebagai petani-petani biasa. Mereka berjuang dengan rahasia, kadang-kadang saja mereka menyelundup ke kota-kota dan menyerang markas-markas pasukan pemerintah penjajah. Gan Seng Bu tinggal pula di antara mereka, bersama isterinya, yaitu Sheila. Suami isteri muda ini, walaupun berlainan bangsa, berbeda kulit, namun ternyata mereka itu saling mencinta dengan murni. Sheila yang mengagumi suaminya, kini sudah dapat menyelami cara hidup para pejuang dan dianggapnya bahwa suami dan kawan-kawannya itu adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, yang patut dihormati. Ia merasa kagum dan menghormati perjuangan suaminya dan para pejuang. Makin nampak olehnya betapa jahatnya politik yang dianut oleh bangsanya sendiri, yang demi mengeduk keuntungan sebanyaknya, tidak segan-segan untuk meracuni sebuah bangsa dengan racun madat, bahkan kalau perlu menguasai dan menjajah negara dan tanah air bangsa lain.

Cinta kasih yang dicurahkan oleh suami isteri ini telah menghasilkan benih dalam kandungan Sheila. Ia sudah mengandung tiga bulan dan hal ini bukan hanya menggirangkan suami isteri muda itu, akan tetapi juga mendatangkan kegembiraan kepada para kawan seperjuangan, karena mereka itu rata-rata sudah dapat menerima Sheila sebagai seorang kawan, berkat sikap Sheila yang amat baik dan juga setia kawan. Kebahagiaan hidup sederhana mereka itu agaknya tidak akan mengalami gangguan. Sama sekali Seng Bu dan isterinya tidak sadar bahwa ada bayangan malapetaka semakin mendekati mereka! Bahaya ini datang dari Koan Jit!

Seperti diketahui, Koan Jit merasa marah, kecewa dan penasaran sekali karena dia gagal menangkap Diana. Apalagi ketika dia mendengar betapa anak buahnya yang hendak menangkap Sheila telah dihajar babak belur oleh Gan Seng Bu, hatinya menjadi semakin panas. Dia tahu bahwa dirinya menjadi incaran para tokoh di seluruh kang-ouw yang ingin merampas Giok-liong-kiam. Dia sendiri, sekian lamanya memiliki Giok-liong-kiam akan tetapi belum juga mampu menemukan rahasia pusaka itu, rahasia yang sudah didengarnya bahwa pusaka itu menyembunyikan rahasia harta karun yang besar. Sudah dicobanya berbagai macam, namun senjata pusaka itu sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda menyimpan rahasia! Dan dia tahu bahwa dirinya diancam oleh banyak tokoh-tokoh besar yang lihai, yang ingin sekali merampas pusaka itu. Dan dianggapnya berbahaya sekali baginya, di samping Empat Racun Dunia, juga dua orang sutenya yang telah menguasai ilmu-ilmu yang pernah dipelarinya. Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu! Dua orang sute ini merupakan saingan yang cukup berat dan berbahaya, dan kalau mungkin harus segera disingkirkan dari muka bumi!

Inilah sebabnya, ketika dia mendengar betapa anak buahnya dihajar oleh seorang pendekar bernama Gan Seng Bu yang telah menikah dengan seorang gadis bule, dia menjadi marah akan tetapi juga girang. Dia telah menemukan dimana sembunyinya sutenya itu. Untuk menyerang ke dusun itu dia tidak berani. Dia maklum bahwa tentu Gan Seng Bu yang terkenal sebagai seorang pejuang penentang pemerintah penjajah itu tidak sendirian di dusun itu, melainkan dengan kawan-kawan seperjuangan. Kalau dia menyerbu, selain belum tentu akan dapat menang karena dia belum mengetahui kekuatan musuh, juga tentu Gan Seng Bu akan lebih mudah melarikan diri. Dan dia memerlukan sutenya itu untuk dibunuhnya, dan diapun merasa iri bahwa sutenya itu telah dipilih oleh seorang gadis bule yang katanya cantik sekali. Dia harus membunuh sutenya dan merampas wanita itu! Maka, Koan Jit yang selain lihai ilmu silatnya, juga benaknya penuh dengan tipu muslihat itu lalu mengatur siasat.

Dusun yang ditinggali para pejuang itu dapat dibilang merupakan dusun pejuang. Penduduk dusun yang tadinya bukan pejuang, begitu melihat keadaan para orang gagah itu, merasa tertarik dan bangkit semangat mereka, bahkan para mudanya lalu belajar ilmu silat dari para pendekar dan mereka ikut pula berjaga, bahkan banyak yang sudah ikut aktip kalau kelompok itu mengadakan serangan dan gangguan pada kesatuan-kesatuan tentara kerajaan. Mereka bertempur secara gerilya, menyerbu selagi lawan lemah dan melarikan diri berpencar dan lenyap ke hutan-hutan kalau musuh sudah mampu mengumpulkan kekuatan yang jumlahnya jauh lebih besar dari mereka. Bahkan di antara mereka sudah ada yang membawa-bawa senjata api, yang dapat mereka rampas dari orang-orang kulit putih atau para perwira kerajaan. Dan Sheila berjasa dalam urusan senjata api ini. Ia banyak tahu tentang senjata ini dan ia melatih para pejuang cara mempergunakan senjata api.

Pada suatu hari, para pejuang sedang sibuk menggarap sawah. Kalau tidak berjuang, mereka itu bukan bermalas-malasan, melainkan bersama para petani menggarap sawah karena dari situlah mereka memperoleh ransum. Pagi-pagi itu, terdengar suara derap kaki kuda dan hal ini tidak aneh karena para pejuang itupun mempunyai banyak kuda dan banyak penunggang kuda keluar masuk dusun itu. Akan tetapi, ketika para penghuni dusun itu melihat bahwa dua orang penunggang kuda yang bertubuh tegap dan bersikap gagah itu merupakan dua orang pria yang tidak mereka kenal, beberapa orang pemuda segera berlompatan dan sudah menghadang lalu mengurung dua orang penunggang kuda itu dengan pandang mata penuh curiga.

Melihat diri mereka dikepung, dua orang laki-laki itu kelihatan gentar juga dan mereka cepat mengangkat tangan dan seorang di antara mereka berkata dengan suara lantang.

“Saudara-saudara, kami datang bukan dengan niat buruk. Kami datang sebagai utusan dari komandan pasukan Inggeris di Kanton!”

Mendengar ini, sudah tentu banyak mata melotot dan muka merah. Para patriot itu, walaupun tidak memusuhi orang-orang kulit putih secara langsung, namun di dalam hati mereka tidak suka kepada orang-orang kulit putih yang menyebar racun madat, dan yang juga menduduki beberapa kota pelabuhan setelah perang madat yang berakhir dengan kekalahan pihak pemerintah Ceng yang lemah itu.

“Kalian mata-mata orang bule!” “Tangkap saja!”

“Bunuh saja!”

Dua orang penunggang kuda itu menjadi pucat dan seorang di antara mereka cepat mengeluarkan sebuah sampul panjang dan berteriak.

“Kami datang diutus untuk menyerahkan surat ini kepada nona Sheila Hellway...!!”

“Di sini tidak ada nona Sheila Hellway, yang ada ialah nyonya Gan Seng Bu!”

“Jangan dengarkan ocehan mereka!”

“Awas, mereka tentu mata-mata yang membawa pasukan di belakang mereka!”

Untung pada saat itu, saat yang gawat bagi dua orang utusan ini, muncul Sheila yang cepat berseru.

“Kawan-kawan tahan dulu! Coba berikan surat itu kepadaku. Akulah Sheila Hellway!”

Dua orang itu nampak lega dan seorang di antara mereka turun, lalu menyerahkan surat bersampul panjang itu kepada Sheila. Orang kedua masih duduk di atas kudanya, agaknya siap untuk segera melarikan diri kalau ada bahaya mengancam. Para pemuda dusun itu masih mengepung dan semua mata memandang kepada Sheila. Kalau saja pada saat itu Sheila memberi aba- aba untuk menyerang, tentu dua orang utusan itu akan dikeroyok dan dibunuh di saat itu juga.

Sheila tidak mau bertindak sembrono. Dilihatnya dulu sampul itu dengan teliti dan melihat sampul tercetak dengan alamat Kapten Charles Elliot sebagai pengirimnya, diam-diam ia merasa terkejut. Namanya, Sheila Hellway, juga tercetak rapi dan surat itu jelas bukan surat palsu. Dengan hati-hati lalu dibukanya sampul surat dan sebelum membaca isinya, iapun meneliti cap kebesaran Kapten Charles Elliot. Kembali aseli, apalagi isi surat dalam bahasa Inggeris yang rapi itu menghapus semua kecurigaannya. Memang jelaslah bahwa surat ini datang dari Kapten itu merupakan surat resmi! Dan begitu ia membaca isinya, wajahnya berseri dan semua pemuda yang sejak tadi mengamati itu, merasa lega.

“Kawan-kawan, dua orang ini memang utusan dari Kapten Charles Elliot dan surat ini benar ditujukan kepadaku.”

Mendengar ucapan itu, semua orang bubaran, hanya ada beberapa orang menjaga dari jauh saja dengan sikap melindungi Sheila dan beberapa orang lagi oleh Sheila dimintai tolong untuk memanggil suaminya yang sedang bekerja di ladang. Kemudian Sheila mempersilahkan dua orang utusan itu untuk memasuki rumahnya dan dipersilahkan duduk sambil menanti datangnya Gan Seng Bu.

Post a Comment