Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 09

Memuat...

Mendengar pertanyaan ini, Sie Kian makin mengguguk tangisnya dan dia mendekap kepala anak itu di dadanya. Selama ini dia hidup menyepi seorang diri, tanpa sanak tanpa teman, dan segera tiba-tiba dia dipertemukan dengan anak kakak angkatnya ini, akan tetapi ternyata nasib anak ini demikian buruknya.

“Paman, apakah ayah... ayah meninggal dunia?”

Sie Kian terkejut dan memegang kedua pundak kecil itu, melalui air matanya diamemandang wajah itu dengan heran. Ci Kong tidak menangis, akan tetapi kedua matanya juga basah air mata.

“Paman, ketika aku disuruh pergi oleh ayah, dia terluka parah dan hatiku sudah tidak enak. Sikap ayah seolah-olah kami tidak akan saling bertemu kembali.”

Sie Kian menelan ludahnya dan mengangguk. Ci Kong menjatuhkan dirinya berlutut, tidak menangis hanya menundukkan mukanya dan hanya beberapa butir air mata yang menuruni kedua pipinya. Anak itu mengepal kedua tangannya yang kecil. Hening sejenak, yang terdengar hanya tarikan napas panjang berkali-kali dari Sie Kian. Kemudian terdengar suara Ci Kong, lirih dan agak gemetar.

“Paman Sie Kian, bagaimanakah meninggalnya ayahku? Dan siapakah yang mengurus penguburannya?”

Dengan hati-hati dan perlahan-lahan, Sie Kian lalu menceritakan apa yang telah didengarnya dari teman yang disuruhnya melakukan penyelidikan ke Tung-kang itu, betapa ayah anak itu dalam keadaan sakit menempelkan tulisan-tulisan yang menentang madat dan mengutuk para pembesar dan pedagang madat, sehingga dia dianggap pemberontak, ditangkap dan karena keadaannya memang payah, dia meninggal dalam tahanan.

“Ayahmu sungguh keras hati dan nekat,” Sie Kian berkata.

“Dalam keadaan masih sakit berat, dia bahkan berani bertindak demikian jauh sehingga menimbulkan keributan. Mungkin ketika ditangkap, dia berada dalam keadaan yang sudah menghebat sakitnya akibat luka-lukanya dan dia meninggal di dalam kamar tahanan.”

“Ayah hebat!” Tiba-tiba Ci Kong berkata sambil mengepal tinju.

“Biarpun lemah dan sakit, ayah berani menentang apa yang dianggapnya tidak benar, kalau sudah besar, akupun ingin seperti ayah!”

Sie Kian memandang kagum dan tiba-tiba ada sebuah pikiran menyelinap di benaknya.

“Ci Kong, dengar baik-baik. Peristiwa kematian ayahmu mendorongku untuk segera membawamu pergi ke suatu tempat. Engkau tidak bisa tinggal terus disini.”

Ci Kong mengerutkan alisnya, menatap wajah Sie Kian dengan pandang mata tajam penuh selidik.

“Apakah paman takut terlibat dan menerima akibat buruk dari urusan keluarga ayah? Kalau begitu, biarlah aku pergi dari sini agar paman tidak sampai tersangkut.”

Sie Kian merangkul pundak anak itu.

“Jangan salah sangka, anak baik. Dengarlah. Ayahmu dimusuhi oleh pemerintah, dan dicap pemberontak. Hal ini amat berbahaya bagimu. Kalau mereka tahu bahwa ayahmu mempunyai seorang putera, tentu mereka akan mencarimu dan kalau sampai ketahuan engkau disini, bagaimana aku akan dapat melindungimu ? Karena itu, engkau harus disingkirkan dan diselarnatkan, disembunyikan dari mereka. Dan kedua, engkau tadi mengatakan bahwa engkau ingin segagah ayahmu, bukan? Akan tetapi, bagaimana engkau dapat berhasil melakukan kegagahan kalau tubuhmu lemah seperti ayahmu? Engkau harus menjadi seorang yang berbeda dengan ayahmu yang hanya pandai menulis itu. Engkau harus menjadi seorang ahli silat yang pandai dan kuat.”

Ci Kong yang masih kecil itu dapat menangkap apa yang dimaksudkan pamannya dan dia mengangguk-angguk.

“Lalu apa yang akan paman lakukan?”

“Aku akan mengantarmu ke sebuah kuil. Kepala kuil itu adalah seorang hwesio tua yang berilmu tinggi. Aku mengenalnya dengan baik karena diantara kami terdapat kecocokan, yaitu kami sama-sama penentang pemerintah penjajah Mancu. Di sana engkau akan lebih terlindunng, juga tersembunyi. Engkau dapat belajar ilmu dari hwesio itu dan membantu pekerjaan di kuil. Setujukah engkau, Ci Kong?”

Anak itu mengangguk. Dan pada hari itu juga, Ci Kong dibawa oleh Sie Kian pergi ke sebuah kuil tua yang besar. Kuil itu berada di lereng dekat puncak sebuah bukit, di sebelah utara kota Nan-ning, dua hari perjalanan dari kota itu. Dari bukit inilah mengalirnya sungai Si-kang ke timur.

Ketua kuil itu bernama Nam San Losu, seorang penganut agama Budha yang taat, berusia enampuluh tahun lebih namun tubuhnya tinggi besar masih nampak kokoh kuat, dan dengan wajahnya yang hitam dan kasar, dia kelihatan seperti seorang yang berhati keras. Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian, karena Nam San Losu memiliki watak yang lembut, halus tutur sapanya dan halus gerak geriknya walaupun dalam setiap gerakannya itu tenaga yang amat kuat.

Dengan sabar Nam San Losu mendengarkan penuturan Sie Kian yang sudah lama menjadi sahabatnya, karena keduanya suka bertukar pikiran tentang ilmu pengobatan. Dan setelah Sie Kian selesai bercerita, kakek kepala gundul itu menarik napas panjang dan memandang kepada Ci Kong.

“Omitohud… pinceng sendiri prihatin melihat makin banyak rakyat yang menjadi korban madat. Kalu saja semua orang memiliki kebijaksanaan seperti Tan Siucai, tentu pengaruh madat itu akan dapat ditentang dan ditolak.” Kemudian dia bertanya kepada Ci Kong. “Anak baik, siapakah namamu?” “Namaku Tan Ci Kong, losuhu.”

“Engkau tidak lagi mempunyai sanak keluarga di dunia ini?” “Tidak, kecuali paman Sie Kian seorang.”

Ci Kong mengangguk tanpa menjawab, akan tetapi sinar matanya yang tajam berseri itu menunjukkan bahwa dia menyukai tempat sunyi yang berhawa sejuk itu.

“Ci Kong, tempat ini adalah sebuah kuil, dan hanya orang-orang yang telah bersumpah mengabdikan dirinya kepada agama saja dan menjadi hwesio yang tinggal disini. Pinceng tinggal disini bersama lima orang hwesio yang menjadi murid pinceng. Akan tetapi kulihat engkau tidak mempunyai bakat untuk menjadi pendeta. Satu-satunya jalan agar engkau dapat tinggal disini untuk sementara waktu hanyalah menjadi muridku, bukan murid agama melainkan murid ilmu silat. Bagaimana?”

Ci Kong memang cerdik. Sebelumnya dia sudah mendengar penuturan Sie Kian tentang hwesio tua ini, maka mendengar ucapan itu, diapun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio itu.

“Teecu suka sekali menjadi murid suhu dan akan mentaati segala petunjuk dan perintah suhu.”

Hwesio itu tersenyum dan saling bertukar pandang dengan Sie Kian yang mengangguk-angguk girang dan kagum.

“Selain mempelajari ilmu silat, karena kau putera seorang siucai, engkaupun harus mempelajari ilmu sastera dan pinceng akan memimpinmu sedapat mungkin. Akan tetapi, di waktu tidak belajar, engkau harus bekerja keras membantu para suhengmu di kuil ini.”

“Teecu akan mentaatinya!”

Demikianlah, mulai hari itu, Sie Kian meninggalkan Ci Kong di kuil tua dan anak itu menjadi murid Nam San Losu, hwesio tua yang hidup seperti pertapa di dekat puncak bukit sunyi itu. Dia belajar ilmu silat dan sastera kepada hwesio itu, dan bergaul dengan akrabnya dengan para suhengnya yang menjadi hwesio-hwesio berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun.

Anak ini rajin sekali, tidak pernah bermalas-malasan sehingga bukan saja Nam San Losu suka kepadanya, juga lima orang hwesio lainnya menjadi sayang kepadanya. Untunglah bagi Ci Kong, karena Nam San Losu adalah seorang ahli silat dari Siauw-lim-pai, dan betapapun beratnya gemblengan yang dilakukan Nam San Losu terhadap dirinya, dia terima dengan segala keikhlasan hati dan dia belajar tanpa mengenal lelah.

Malam yang gelap di kota Kanton. Kota ini menjadi sebuah kota yang ramai dan mewah setelah kota itu ditentukan untuk menjadi kota perdagangan dengan orang-orang berkulit putih. Kota inilah, disamping kota Makao, yang menampung penyelundupan candu dan di kedua kota ini rakyat dapat melihat orang-orang berkulit putih yang kalau masuk ke pedalaman, tentu akan menimbulkan perasaan heran bukan main karena kulit mereka yang putih, rambut dan bola mata mereka yang berwarna.

Malam itu gelap, kecuali rumah-rumah besar para pedagang kaya yang sekelilingnya digantungi lampu-lampu minyak yang besar dan yang sinarnya mendatangkan penerangan sekedarnya di jalan-jalan depan rumah-rumah gedung itu. Rumah berpintu merah itu amat dikenal oleh mereka yang suka melacur dan mereka yang suka menghisap madat. Di dalam rumah itu, laki-laki iseng dapat menghamburkan uangnya untuk pelacur ataupun untuk menghisap madat. Memang dua kebiasaan ini berdekatan selalu. Kalau malam tiba, terdengar suara cekikikan ketawa wanita menyelinap keluar melalui jendela kamar-kamar itu bersama keluarnya asap tipis berbau madat yang memuakkan bagi mereka yang tidak biasa, akan tetapi merupakan asap ajaib yang dapat mendatangkan kenikmatan tanpa batas bagi mereka yang telah mencandu.

Orang-orang yang tidak punya uang jangan harap dapat memasuki rumah berpintu merah ini, karena selain madat mahal harganya, juga para pelacur yang berkumpul di situ, yang jumlahnya belasan orang, terdiri dari pelacur- pelacur kelas mahal.

Seorang laki-laki tinggi kurus yang mukanya pucat kehijauan keluar dari dalam kamar yang bau pengap oleh asap madat dan dengan langkah terhuyung akan tetapi kedua kakinya bergerak ringan, dia berjalan ke ruangan depan. Sebuah buntalan kuning digendongnya di belakang punggung dan wajah si muka kehijauan ini nampak senyum penuh kepuasan seperti biasa senyum laki- laki yang meninggalkan kamar madat itu.

“Hai, A-Ceng! Kau hendak kemana? Malam belum larut dan kau sudah mau pergi?”

Post a Comment