Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 08

Memuat...

Kebutuhan akan madat makin hebat, orang-orang yang ketagihan semakin banyak dan mulailah benda yang amat berbahaya itu mengalir dalam jumlah besar ke Cina. Pada permulaan abad kesembilan belas itulah, Persatuan Dagang India Timur (East India Company) milik orang-orang Inggeris, melihat kesempatan untuk mengeduk keuntungan yang amat besar. Mereka lalu bersekutu dengan para pejabat pemerintah Ceng. Dan sebentar saja, dengan jalan penyuapan dan penyogokan, kaum pedagang Inggeris itu berhasil menguasai seluruh pejabat pemerintah di Kanton, dari gubernurnya sampai kepada perajurit-perajurit petugas keamanan.

Pemerintah Kaisar Tao Kuang sama sekali tidak mengijinkan peredaran madat itu dan mereka sudah tahu akan bahayanya. Akan tetapi, di Kanton terjadi penyelundupan-penyelundupan atau penyuapan-penyuapan dan dengan cara bagaimanapun juga, orang-orang berkulit putih itu berhasil memasukkan madat dalam jumlah yang luar biasa besarnya ke daratan Cina. Melalui madat, kaum kulit putih itu menghisap seluruh kekayaan Cina. Dan melihat sukses yang diperoleh orang-orang Inggeris, maka bangsa kulit putih lainnya seperti Amerika, Portugis dan Belanda, juga tidak mau tinggal diam, dan merekapun mengharapkan bagian sehingga perdagangan madat menjadi semakin ramai. Orang-orang kulit putih itu mengusap-usap perut gendut dan kantong padat, meninggalkan rakyat Cina menjadi kurus kering karena kehabisan kekayaan dan juga karena keracunan madat.

Cerita ini terjadi pada jaman itu, selagi madat merajalela di Cina, dan pusatnya berada di Kanton, dimana terdapat banyak kantor-kantor perdagangan orang kulit putih.

Tidaklah mengherankan kalau Ciu Lok Tai menjadi kaya raya karena dia merupakan seorang diantara para pedagang madat yang menerima madat dari orang-orang kulit putih. Dan tentu saja dia mempunyai hubungan erat dengan para pejabat, termasuk Ma Cek Lung yang menjadi komandan pasukan keamanan di Kanton. Dan tidak mengherankan pula kalau Tan Siucai mati di dalam kamar tahanan karena dia berani menyinggung masalah yang amat peka itu, soal peredaran madat yang tentu saja dianggap membahayakan kedudukan para pembesar yang menjadi makmur karena perdagangan madat.

Pada waktu itu, orang-orang kulit putih tidak memperoleh kebebasan gerak di daratan Cina. Mereka hanya boleh datang di dua tempat saja. Yaitu pertama di Makao yang menjadi pusat orang-orang portugis berpangkal, sedangkan kota ke dua adalah Kanton. Agaknya, setelah ribuan tahun lamanya mempunyai pemerintahan feudal dan keluarga Kaisar selalu menganggap derajatnya amat tinggi, jauh lebih tinggi dari derajat manusia biasa, bahkan Kaisar menganggap dirinya sebagai utusan Tuhan, maka setelah bangsa kulit putih mulai mengadakan hubungan dengan Cina.

Kaisarpun memandang mereka itu atau bangsa-bangsa asing pada umumnya sebagai bangsa biadab. Hal ini mungkin tadinya timbul karena di luar Cina banyak tinggal suku-suku bangsa yang liar dan yang selalu membikin kekacauan, menyerbu ke pedalaman sehingga timbul pandangan bahwa bangsa yang berada di luar Cina adalah bangsa liar atau bangsa biadab. Pandangan yang besar sekali kemungkinan timbul karena kecongkakan pemerintahannya sebagai akibat sistim perbedaan kelas yang menyolok dari keluarga Kaisar ini, kemudian menjalar ke seluruh rakyat sehingga timbul semacam penyakit dalam batin masyarakat Cina untuk menganggap bangsa apapun di luar Cina adalah bangsa biadab.

Kecongkakan dan pemujaan diri sendiri yang berlebihan ini menghancurkan Cina sendiri. Karena congkak, mereka tidak mau tahu bahwa bangsa-bangsa biadab yang mereka pandang rendah itu telah memperoleh kemajuan pesat sekali dan sama sekali tidak dapat dinamakan bangsa yang lebih bodoh, lebih sederhana, atau lebih rendah dari pada mereka. Bahkan untuk mengurus bangsa asingpun oleh pemerintah dinamakan Kantor Urusan Bangsa-bangsa biadab!

Kaisar keturunan Bangsa Mancu, yang sebelum menguasai Cina juga dianggap bangsa biadab oleh pribumi daratan Cina sendiri, agaknya sengaja mengangkat bangsanya agar terlupa bahwa mereka adalah suku bangsa di luar tapal batas Cina dan hendak melebur diri sendiri dengan pribumi. Pemerintah mengadakan peraturan yang amat menghina bangsa asing. Bangsa asing dari manapun juga yang hendak menghadap Kaisar harus tunggu berbulan lamanya dan diperlakukan sebagai utusan negara yang hendak menyatakan tunduk dan setia kepada Kaisar. Mereka diharuskan menjura dengan hormat kepada kaisar. Kalau tidak mau melakukan penghormatan ini, mereka tidak akan diterima dan akibatnya mereka tidak boleh berdagang, apalagi tinggal di Cina.

Pemerintah juga melarang orang-orang asing melakukan perdagangan langsung ke pasar-pasar, melainkan harus berhubungan dengan badan yang ditunjuk pemerintah khusus melayani mereka, dan badan atau orang ini disebut Co-hong. Akibatnya tentu saja ada persekutuan antara orang-orang asing dengan Cohong-cohong ini, yang meluas menjadi kerja sama dengan para pejabat yang menerima suapan.

Pemberontakan yang merajalela di seluruh Tiongkok membuat pemerintah Kaisar Tao Kuang menjadi semakin lemah. Sementara itu, orang-orang Eropa yang datang ke daratan Cina bukan lagi perantau-perantau seperti abad-abad yang lalu, melainkan orang-orang yang mewakili negara-negara yang mulai berkembang menjadi negara yang kuat.

Akan tetapi, pada permulaan abad ke sembilan belas itu, Cina tidak membutuhkan baran-barang dari Eropa. Kemudian, setelah orang-orang kulit putih melihat kelemahan rakyat Cina yang mulai ketagihan candu, mereka melihat kesempatan baik sekali untuk mengeduk keuntungan sebesarnya, dan mulailah mereka memasukkan madat secara besar-besaran, madat yang mereka datangkan dari India.

Dan madat ini, seperti yang digambarkan oleh Tan Siucai, memang benar- benar merupakan malapetaka bagi rakyat Cina. Dalam waktu beberapa tahun saja, racun itu bukan saja terdapat dalam rumah-rumah madat umum dimana para pecandu boleh membeli dan menghisap madat, akan tetapi juga sudah menyusup ke rumah-rumah para hartawan dan bangsawan, bahkan banyak sekali pendekar-pendekar gagah perkasa tunduk dan lumpuh oleh pengaruh madat, para pejabat juga menjadi hambanya.

Demikianlah gambaran sekilas tentang keadaan di jaman itu, dan mari kita ikuti perjalanan Tan Ci Kong, putera tunggal Tan Siucai yang bernasib malang itu. Pesan ayahnya masih terngiang di telinganya ketika akhirnya dia tiba di tepi sungai Si-kiang, menyusuri tepi sungai sebelah utara menuju ke barat untuk mencari tempat penyeberangan. Air sungai itu penuh dan arusnya deras sekali dan tidak nampak ada perahu disitu. Di antara pesan ayahnya yang paling membingungkan adalah, jangan sekali-kali engkau kembali ke Tung- kang sebelum ada berita dariku. Kelak aku akan menyusulmu ke Nan-ning. Jadi aku tidak akan melihat dusun tempat kelahiranku lagi, pikir Ci Kong ketika dia berjalan dengan menyusuri sungai.

Melakukan perjalanan di waktu itu tak dapat dibilang aman, tidak boleh membawa senjata dan tanpa senjata di tangan, tentu saja orang mudah menjadi korban keganasan perampok-perampok yang bersenjata. Akan tetapi, siapakah mau menganggu seorang anak laki-laki kecil, apa lagi kalau dia tidak memakai pakaian bagus dan tidak membekal uang ?

Setelah menemukan perahu yang suka membawanya ke seberang dan melanjutkan perjalanannya yang amat melelahkan, berulah seminggu kemudian Ci Kong tiba di kota Nan-ning. Kota ini tidak begitu besar dan tidak sukar bagi Ci Kong untuk menemukan toko

Obat milik orang yang bernama Sie Kian. Dia tiba di toko itu setelah hari mulai gelap dan toko itu sudah tutup, hanya daun pintunya saja yang masih terbuka. Sebuah toko sederhana saja, tidak terlalu besar. Ketika Ci Kong mengetuk daun pintu perlahan, muncullah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih, pakaiannya seperti seorang pelajar dengan lengan baju yang lebar sekali. Biarpun usianya baru limapuluh tahun lebih, akan tetapi kepala orang itu sudah putih, semua rambutnya sudah menjadi uban. Wajahnya juga bahwa hidupnya lebih membayangkan banyak menderita dari pada bersuka ria. Pandang matanya sayu dan gerak geriknya halus.

“Anak baik, apakah engkau hendak membeli Obat? Ataukah ada yang sakit?” Tanya kakek itu denga sikap ramah.

Ci Kong menggeleng kepala.

“Tidak, paman… saya mencari seorang paman yang bernama Sie Kian dan kata orang tinggal di toko Obat ini.

Ci Kong memandang penuh selidik karena dia sudah menduga bahwa agaknya orang inilah sahabat ayahnya itu.

“Sie Kian? Ah, aku sendirilah orangnya. Engkau anak kecil ada urusan apakah mencari aku? Nampaknya kau lelah sekali.”

Bukan main girangnya hati Ci Kong ketika orang itu mengaku bernama Sie Kian, orang yang dicarinya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut sebagai penghormatan.

“Paman Sie Kian, saya datang diutus oleh ayah saya yang bernama Tan Seng...” katanya dengan suara serak karena hatinya merasa terharu sekali.

Orang itu terbelalak.

“Apa? Kaumaksudkan Tan Siucai... yang tinggal di Tung-kang?” “Duduklah. Taruh buntalanmu di atas meja dan keluarkan surat itu. Ingin

sekali aku tahu apa isi surat ayahmu,” kata Sie Kian, masih terheran-heran melihat anak sekecil ini datang sendirian saja dari tempat yang begitu jauhnya. Hatinya merasa tidak enak. Apakah gerangan yang terjadi dengan diri kakak angkatnya itu? Sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak saling mengadakan hubungan, dan dia tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan

sasterawan itu.

Setelah dia membaca surat Tan Siucai yang diterimanya dari Ci Kong, wajah orang she Sie itu berobah agak pucat.

“Ah... ahhh...!” berkali-kali dia mengeluh, kemudian dia menyimpan surat itu di saku jubahnya.

“Anak baik, namamu Tan Ci Kong?” “Benar paman.”

“Engkau tinggallah disini bersamaku, engkau bisa membantuku. Besok aku akan menyuruh seorang teman untuk pergi ke dusunmu dan menyelidiki tentang keadaan ayahmu. Kalau mungkin, aku akan membawa ayahmu itu ke sini agar dapat kurawat dia sampai sembuh.”

Tentu saja hati anak kecil itu menjadi girang sekali dan diapun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Kian.

“Terima kasih, paman… aku Tan Ci Kong selama hidup tidak akan lupa kepada budi paman ini.”

Sie Kian merangkul anak itu dengan hati terharu dan diam-diam dia merasa kagum. Anak kecil ini bukan hanya tabah dan pemberani sekali, tahan menderita dan dapat melakukan perjalanan demikian jauhnya sendirian saja, akan tetapi juga baik budi dan berkelakuan sopan.

Mulai hari itu, Ci Kong membantu paman angkatnya yang tidak mempunyai pelayan. Dia membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencari air, masak nasi dan air, juga belajar membuat masakan dari pamannya. Sementara itu Sie Kiam mengutus seorang teman untuk melakukan penyelidikan ke Tung-kang. Seminggu kemudian, teman itu datang kembali dan menyampaikan kabar yang amat mengejutkan hati Sie Kian, bahwa Tan Siucai telah tewas didalam tahanan setelah ditangkap karena menempelkan tulisan-tulisan yang dianggap memberontak!

Sie Kian segera menutup tokonya dan membawa Ci Kong ke dalam kamarnya. Di situ dia merangkul anak itu, tak mampu mengeluarkan kata-kata, dan orang yang bertubuh agak gemuk pendek dan biasanya amat peramah dan halus budi ini menangis!

Ci Kong adalah seorang anak yang amat cerdik. Melihat sikap pamannya, hatinya terasa perih seperti tertusuk.

“Paman Sie Kian, apakah yang telah terjadi dengan ayahku?”

Post a Comment