“Ciu Wan-gwe terlampau memuji!” katanya merendah.
“Ah, siapa yang tidak tahu akan keahlianmu, Tan Siucai? Di dalam ruangan perpustakaanku terdapat banyak hasil karyamu.”
Pujian-pujian ini semakin tidak mengenakkan hati sasterawan itu. Pujian dari mulut seorang seperti Ciu Wan-gwe ini amat berbahaya, dan diapun dapat merasakan adanya sikap lain yang bertentangan dengan manisnya kata-kata ejekan itu. Maka diapun cepat bertanya.
“Ciu Wan-gwe memanggil saya, tidak tahu ada keperluan apakah?” “Suruh dia membuatkan sajak yang baik, ingin aku melihatnya!” Tiba-tiba komandan gendut itu berkata.
“Bagus sekali! Nah, engkau sudah mendengar sendiri, Tan Siucai. Ma- ciangkun minta agar engkau suka membuatkan sajak yang baik.”
Legalah hati Tan Siucai. Agaknya dia terlalu banyak prasangka dan hartawan ini bersama tamunya memang suka akan seni tulis dan sajak. Dia menurunkan petinya dan mempersiapkan alat-alat tulisnya. Seperti biasa, dia lebih suka menulis mempergunakan alatnya sendiri. Dia memasang bangku yang hanya merupakan papan di atas tiga kaki, dan dia sendiri duduk bersila di atas lantai. Dia mengeluarkan sehelai kertas kuning, dan setelah menggosok tinta bak dan mengoles-oleskan pena bulu, dia mengangkat muka memandang kepada komandan gendut itu.
“Tidak tahu sajak yang bersifat bagaimana yang ciangkun inginkan?” “Sajak yang gagah, yang pantas bagi seorang perwira seperti aku
tentunya!” kata komandan gendut itu sambil membusungkan dadanya, akan tetapi akibatnya hanya perutnya yang amat besar itu yang semakin maju.
“Baiklah, ciangkun.”
Sasterawan itu lalu memejamkan kedua matanya sambil duduk bersila, kulit di antara alisnya berkerut dan dia mulai mengerahkan kemampuannya mengkhayal. Dan diapun melihat kesempatan yang amat baik untuk meneriakkan jerit hatinya, bukan hanya karena kematian sahabatnya, akan tetapi juga karena melihat kenyataan bagaimana hebat madat telah mencengkeram bangsanya. Sekarang terbukalah jalan baginya untuk menuliskan jerit hatinya, juga untuk menyampaikan bahaya itu kepada pemerintah melalui seorang perwira tinggi! Dalam keadaan seperti itu, tidak pernah Tan Siucai teringat akan diri sendiri, tidak lagi dapat melihat adanya bahaya-bahaya dari hasil tulisannya. Mulailah dia menulis.
Tan Siucai memang seorang ahli. Setelah dia membuka mata, jari-jari tangan kanannya seperti kemasukan aliran tenaga luar biasa, menjadi peka sekali, dan kini jari-jari tangannya itu mulai mengoles-oleskan pena bulu dengan gerakan yang halus dan manis sekali di atas tinta bak, dan setelah mengukur jarak di atas kertasnya, diapun mulai membuat coret-coretan yang mengandung penuh gaya dan keindahan.
Madat!
Racun yang membinasakan bangsa sampai tinggal tulang belulang belaka!
Pendekar menjadi lemah, pembesar menjadi korup Dermawan menjadi kejam, sasterawan menjadi tumpul! Hanya si kaya semakin kaya
Madat sumber keuntungan mereka Basmi madat! Basmi racun dunia!!
Setelah selesai menulis dengan gerakan cepat dan indah, Tan Siucai merasa seolah-olah dadanya lapang dan lega, dan dengan wajah berseri-seri dia menyerahkan tulisan itu kepada Ma-ciangkun sambil berkata.
“Ciangkun, tulisan ini walaupun buruk akan tetapi menyuarakan hati nurani rakyat kecil. Harap ciangkun sudi menerimanya.”
“Kurang ajar!” bentaknya marah. “Sasterawan jembel busuk, engkau berani menghinaku?”
Dengan marah, Ciu Wan-gwe lalu menyambar sebuah kemocing (sapu bulu ayam) yang bergagang rotan, lalu dia menyerang sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu dengan gagang kemocing. Sudah biasa hartawan ini menghajar pelayan- pelayannya yang tidak menyenangkan hatinya dengan gagang kemocing.
Tan Siucai berusaha melindungi kepalanya dengan kedua lengan sehingga lengannya babak belur kena hantaman rotan.
“Ciu Wangwe, saya tidak menghina seseorang!” “Ciangkun… bukankah tulisannya itu menghina sekali?”
“Maaf, saya maksudkan pedagang madat pada umumnya, bukan pribadi dan saya hanya menggambarkan kenyataan...”
Siucai terhuyung ke belakang dan bangku alat tulisnya berantakan. “Dukk...!”
Sebuah tendangan membuat sasterawan itu roboh ketika kaki kiri yang besar dari Ma-ciangkun menyambar.
Tiba-tiba terdengar teriakan. “Ayaaaah...!”
Seorang anak laki-laki lari menerobos masuk dari luar halaman. Dia adalah seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh tahun, berpakaian sederhana dan bermata lebar.
“Ci Kong... pergilah... jangan ke sini...!”
Tan Siucai mengeluh dengan penuh kegelisahan melihat puteranya yang datang itu. Akan tetapi Ci Kong, anak itu, cepat lari naik ke ruangan depan dan menjatuhkan dirinya berlutut menghadap Ma-ciangkun dan Ciu Wan-gwe.
“Harap tai-jin sudi mengampuni ayahku...!”
Dengan lagak congkak, Ma-ciangkun kembali mengangkat kaki kiri menginjak punggung Tan Siucai, dan tangan kanannya yang besar itu menempel di kepala anak yang berlutut di depannya.
“Bocah setan, berani kau mencampuri? Sekali cengkeram, kepalamu akan dapat kuhancurkan!”
“Setan cilik! Ayahmu ini kurang ajar, sudah menghinaku, dia pantas dihukum, bahkan patut dibunuh!” bentak Ciu Wan-gwe marah, menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah Tan Siucai dan mengamankan gagang kemocing di tangan kanan.
“Ampun, tai-jin. Untuk kesalahan ayah, biarlah aku yang menebus dosanya.
Hukumlah aku, akan tetapi bebaskan ayah...” Ci Kong meratap.
Bukan main terharu rasa hati Tan Siucai.
“Anakku... aahhhh, engkau... jangan begitu... kau pergilah...” Akan tetapi Ci Kong bangkit dan berlutut lagi.
“Ampunkan ayahku, ampun...” ratapnya.
Anak ini memiliki keberanian luar biasa seperti ayahnya. Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi dia takut kehilangan ayahnya.
Pada saat itu, terdengar seruan nyaring. “Ayah...!”
Muncullah seorang anak perempuan dari dalam gedung Ciu Wangwe. Anak itu berusia sekitar enam tahun, berwajah manis sekali dengan sepasang mata yang tajam dan lebar. Pakaiannya indah dari sutera halus, rambutnya dikuncir dua yang bergantungan di kanan kiri. Anak itu berhenti berlari ketika melihat Tan Siucai masih rebah babak belur dan berlumuran darah. Ci Kong yang berlutut dan meratap mintakan ampun bagi ayahnya. Setelah tertegun sejenak, anak perempuan itu lalu lari menghampiri Ciu Wan-gwe dan memegang tangan orang tua itu.
“Ayah, apakah yang telah terjadi? Kenapa ayah marah-marah dan siapa mereka ini? Apa yang telah mereka lakukan maka ayah agaknya menghajar mereka?”
“Siapa yang tidak jengkel, anakku. Sasterawan jembel ini berani menghinaku dengan tulisannya.”
“Tulisan apakah, ayah? Boleh aku melihatnya?”
Ciu Wan-gwe amat sayang kepada puteri bungsunya ini. Ciu Kui Eng, demikian nama anak itu, memang amat cerdas dan menyenangkan hati, selain jelita dan manis, juga biarpun disayang tidak menjadi manja. Yang mengagumkan hati ayahnya adalah karena anak ini selalu bersikap berani dan tegas, bahkan bijaksana sekali.
“Dia mengejekku dan bersikap memberontak. Itu tulisannya.” Ciu Wan- gwe menunjuk kearah kertas yang sudah terobek menjadi dua potong.
Kui Eng mengambil kertas itu, dan dengan alis berkerut dibacanya sajak itu. Biarpun baru berusia enam tahun, anak ini memang cerdik dan sudah dapat menghafal banyak sekali kata-kata tulisan, sehingga sajak itu tidak terlalu sukar baginya untuk dapat dibacanya dengan mengerti. Sehabis membaca sajak itu, ia lalu menghampiri Tan Siucai yang sudah bangkit duduk di atas lantai karena agaknya kemunculan anak perempuan itu membuat Ma-ciangkun juga menyingkirkan injakan kakinya.
“Orang tua, tulisanmu bagus sekali, juga sajakmu bagus dan menggambarkan kenyataan. Akan tetapi engkau lancang sekali berani menulis sajak seperti ini di depan ayah, padahal engkau tahu bahwa ayah adalah seorang pedagang madat. Nah, pergilah! Dan dia itu siapa?”
Ia menuding ke arah Ci Kong yang masih berlutut. Tan Siucai memandang anak perempuan itu dengan heran dan kagum, sungguh anak ini memiliki sikap yang penuh wibawa, dan dari gerak-gerik dan ucapannya, mudah diketahui bahwa ia seorang anak yang cerdik sekali.
“Dia adalah Ci Kong, anakku...” jawabnya lirih, karena seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, terutama sekali dada kanannya yang tadi terkena tendangan kaki Ma Cek Lung.
“Aku benci melihat anak laki-laki merengek dan meratap minta ampun!”
Tiba-tiba Kui Eng berkata sambil memandang kepada Ci Kong. Ci Kong menoleh dan mereka saling pandang. Ci Kong mengerutkan alisnya dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api.
“Aku mintakan ampun untuk ayah, bukan untuk diriku sendiri!” katanya, seketus suara Ciu Kui Eng. Sejenak mereka saling panadang dan Kui Eng lalu membalikkan tubuh, menghampiri ayahnya.
“Ayah, biarkan mereka pergi.” “Pergilah!”
Ma Cek Lung menggerakkan kakinya dan kembali kakinya menendang rusuk kakek itu. Terdengar suara ‘bukk!’, dan tubuh sasterawan itu terlempar, terbanting dan dari mulutnya keluar darah. Tendangan itu saja sedikitnya meretakkan dua tiga batang tulang rusuknya.
“Engkau telah nenimbulkan kekacauan dan engkau kuanggap pemberontak. Kau harus pergi meninggalkan dusun ini, atau kau akan kutangkap dan kumasukkan penjara!” kata Ma Cek Lung. Ci Kong membantu ayahnya bangkit berdiri, mengumpulkan alat-alat tulis dan sambil memapah ayahnya, anak itu lalu mengajak cepat-cepat pergi meninggalkan halaman gedung keluarga Ciu.