“Api terlalu besar! Siapa berani masuk untuk menolongnya?” “Tidak mungkin...!”
Tiba-tiba semua suara terhenti dan semua mata melongo memandang ke arah pintu.Terdengar suara keras dan pintu depan itupun ambrol, dan tiba-tiba saja sesosok bayangan meluncur masuk dengan cepat sekali. Akan tetapi banyak orang mengenal bayangan itu, setidaknya dari pakaian, topi dan kipas butut di tangan orang itu, karena sinar api memberi penerangan yang cukup.
“Kakek pembunuh lalat dengan kipasnya!”
Semua orang terheran-heran. Baru kurang lebih sepekan, pasar dusun itu kedatangan seorang kakek aneh. Seorang kakek kurus yang pakaiannya tambal-tambalan, topinya meruncing ke atas dan tangannya tiada hentinya menggerakkan sebuah kipasnya itu. Anak-anak suka menggodanya karena dia suka tersenyum-senyum seorang diri seperti orang yang geli mentertawakan sesuatu. Dan kini kakek yang dianggap gila itu, secara luar biasa sekali, telah meloncat ke dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat setelah terdengar jeritan kanak-kanak dari dalam rumah.
Semua orang menahan napas, memandang ke arah pintu dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dinding samping rumah itu ambrol dan kakek itu meloncat ke luar sambil memondong seorang anak perempuan. Semua orang berteriak lega, girang dan juga khawatir karena ada api berkobar mengikuti kakek itu. Kiranya ujung jubahnya yang terbakar. Akan tetapi, kakek itu berjingkrak dan kipasnya mengebut-ngebut. Padamlah api yang merupakan ekornya tadi. Semua orang bersorak, bertepuk dan tertawa girang karena merasa lucu dan lega. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam!
Kini semua orang berusaha memadamkan api. Percuma. Rumah itu terbakar habis, dan ketika para penduduk memeriksa puing kebakaran, mereka terkejut sekali menemukan mayat guru silat Siauw dan istrinya yang sudah gosong sehingga sukar untuk dikenal lagi. Akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tentulah dua mayat itu adalah mayat Siauw Teng dan istrinya. Siapa lagi kalau bukan mereka yang mati terbakar dalam rumah mereka?
Kembali gemparlah dusun itu. Semua orang bertanya-tanya kemana perginya kakek yang menolong Siauw Lian Hong. Dan mengapa pula rumah itu sampai terbakar habis, dan lebih aneh lagi, bagaimana suami istri Siauw itu sampai mati terbakar sedangkan anaknya masih sempat berteriak.
Timbul bermacam dugaan. Akan tetapi yang dianggap paling tepat oleh para penduduk dusun itu adalah perbuatan bunuh diri suami istri itu. Tentu mereka bunuh diri dengan membakar rumah sendiri, demikian celoteh mereka. Dugaan ini bukan tak berdasar.
Sebetulnya apakah yang telah terjadi di dalam rumah kebakaran itu setelah Lian Hong menjerit sekuatnya, dan kakek yang membawa kipas itu meluncur masuk ke dalam rumah yang sedang berkobar itu?
Lian Hong yang ketakutan setengah mati itu tiba-tiba melihat seorang kakek tua berada di dalam ruangan yang terbakar itu, dan kakek itu tahu-tahu sudah menyambar tubuhnya ke dalam pondongan. Kemudian kakek itu memandang kepada jenazah yang sedang terbakar.
“Itu ayah ibumu?” tanya kakek itu sambil menuding ke arah dua jenazah dengan kipasnya.
Lian Hong hanya mengangguk sambil menangis. Kakek itu lalu menggerakkan kipasnya ke kiri dan daun pintu kamar yang sedang terbakar itupun roboh. Ada kayu dari atas runtuh pula ke bawah menimpa mereka, akan tetapi dengan kebutan kipasnya, kayu yang terbakar itu tertangkis dan terpental.
Kemudian kakek itu meloncat melalui pintu yang roboh, mencari jalan keluar dan melihat betapa dinding disebelah barat masih belum terbakar, kakek itu lalu menerjang dinding dengan tendangan kakinya. Dinding itu jebol dan diapun membawa Lian Hong meloncat keluar, tidak tahu bahwa ujung jubah di belakangnya ikut terbakar sehingga tergopoh-gopoh dia memadamkannya dengan kebutan kipasnya setelah berada di luar. Melihat betapa semua orang bersorak dan memperhatikannya, kakek itu lalu meloncat jauh ke dalam kegelapan malam.
Lian Hong memejamkan kedua matanya dengan ngeri. Ia merasa betapa angin bertiup keras sekali dan betapa tubuhnya meluncur ke depan dengan amat cepatnya. Bayangan-bayangan pohon menghitam seperti raksasa mengancam itu nampak berlari-lari cepat di kanan kirinya ketika kakek itu membawanya lari di jalan besar yang diapit-apit jajaran pohon-pohon di tempat yang gelap dan sunyi itu. Ia merangkul leher kakek itu, takut terlepas dari pondongan dan jatuh. Akhirnya, saking lelahnya, lelah lahir bathin tertindih perasaan ngeri, takut, duka yang amat menghebat, Lian Hong tertidur pulas dalam pondongan kakek itu, tidak tahu sama sekali bahwa ia dilarikan sampai jauh sekali dari dusun Tung-kang, bahkan kakek itu baru berhenti setelah tiba di luar daerah Kan-ton, berhenti di bawah sebatang pohon besar di lereng bukit, di tepi sebuah sungai.
Kakek itu menggunakan sehelai kain bersih yang dicelup air sungai untuk membersihkan muka, leher, tangan dan kakinya, kemudian diapun mengusap muka Lian Hong yang kotor karena angus dan debu itu dengan kain basah.
Lian Hong sadar dan membuka matanya. Begitu membuka mata, anak perempuan itu menjerit. Kakek itu merangkul dan mendekap anak yang hendak lari itu, akan tetapi Lian Hong meronta-ronta dan setelah kakek itu mengusap belakang lehernya, barulah anak itu diam tak bergerak, akan tetapi memandang dengan sepasang mata terbelalak kepada kakek itu yang masih memangkunya. Lian Hong menggerakkan mulutnya. Bibirnya berkemak-kemik tak bersuara dan sepasang mata yang lebar itu memandang wajah si kakek tanpa kedip.
“Apa kau bilang, nak?” kakek itu mendesak sambil tersenyum memberanikan.
“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...! Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!” hanya tiga nama itulah yang berulangkali keluar dari mulut anak perempuan itu, dan tiba-tiba pandang mata anak itu berobah penuh kebencian! Mendengar dan melihat ini, kakek itu terkejut.
“Siancai... batinmu tertekan hebat, nak.”
Setelah anak itu pulas, kakek berkipas itu lalu merebahkan Lian Hong dan dengan amat teliti dia mengurut beberapa bagian di kepala anak itu. Setelah selesai diapun berkata halus.
“Tidurlah, nak. Tidurlah dengan tenang. Engkau sungguh patut dikasihani.”
Dan kakek itu sendiripun lalu duduk bersila di dekat Lian Hong, memejamkan mata, entah tidur entah tidak, akan tetapi napasnya panjang dan halus seperti orang tidur, sedikitpun tidak bergerak.
Lebih dari tiga jam mereka tidak bergerak. Tiba-tiba Lian Hong terbangun dan mulutnya segera berseru.
“Ayah...! Ibu...!”
Dan iapun bangkit duduk. Kakek itupun sudah membuka matanya dan memandang penuh perhatian. Kakek itu mengangguk.
“Benar, anak baik…”
Anak itu seperti baru sadar. Mukanya pucat dan wajahnya terbelalak. “Ahhh... ayah... ibu...?”
Sinar matanya memandang penuh selidik kepada kakek itu menanti jawaban yang agaknya sudah diduganya. Mati...? Anak itu mewek-mewek akan tetapi tidak dapat menangis, dan sinar matanya sebentar menjadi layu sebentar lagi seperti berapi-api. Tahulah kakek itu bahwa Lian Hong kembali terhimpit bermacam perasaan.
“Benar, ayah ibumu telah mati, dan engkau ditinggal sendiri saja di dunia ini. Engkau seorang diri saja, ditinggal ayah ibumu, tidak ada siapa-siapa lagi di sampingmu!”
“Ayaaahhh...! Ibuuuu...!” Dan iapun menangis tersedu tangisnya makin mengguguk.
Kakek itu tersenyum, akan tetapi dia menggunakan punggung tangannya untuk mengusap dua butir air mata yang tiba-tiba saja berkumpul di pelupuk matanya. Dia berhasil memancing keluar tangis anak itu, hal yang amat diperlukan, karena kalau tidak, anak itu berada dalam keadaan amat berbahaya, bisa menjadi gila atau bahkan mati. Kini rasa iba diri dalam batin anak itu yang menang, membuat ia merasa sengsara, dan menangis merupakan obat mujarab untuk menghadapi pelbagai perasaan yang bergejolak di dalam hati. Dia hanya melihat dan biarpun anak itu menangis terisak-isak sampai hampir sukar bernapas, dia tersenyum gembira dan membiarkan anak itu menangis terus sepuasnya.
Akhirnya tangis Lian Hong mereda. Tinggal terisak-isak saja dan ia sudah dapat mendengarkan ketika kakek itu bicara perlahan-lahan kepadanya.
Lian Hong menggeleng kepalanya.
“Aku tidak punya siapa-siapalagi di dunia ini...” Suaranya masih mengandung isak yang ditahannya. “Bagus, engkau dapat menahan tangismu.” tiba-tiba kakek itu berkata sambil menyentuh pundak anak itu.
“Memang, tangis saja tidak dapat merobah keadaan. Jadi engkau benar- benar seorang diri saja di dunia ini? Tidak ada siapapun yang dapat kaudatangi, yang dapat menampungmu?”
Lian Hong memandang wajah kakek itu dan kembali menggeleng kepala. “Akupun hidup sebatangkara seperti engkau! Nah, kalau engkau mau ikut
aku, bukankah berarti aku mempunyai seorang cucu dan engkau mempunyai seorang kakek?”
Kakek itu tertawa sendiri, gembira dengan usulnya, gembira membayangkan betapa mendadak saja dia memperoleh seorang cucu tanpa mempunyai anak atau mantu!
“Kek, apakah engkau seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi?”
Kembali kakek itu melongo dan merasa bulu tengkuknya meremang. Anak ini luar biasa sekali!
“Eh, bocah aneh! Bagaimana engkau menduga seperti itu?” dia balas bertanya.
“Semua orang dusun sudah berkumpul di depan rumah kami yang terbakar. Andaikata ada yang berani, tentu yang masuk menolongku seorang laki-laki muda dan kuat. Akan tetapi tidak ada yang berani dan hanya engkau, seorang kakek tua yang dapat menolongku. Juga engkau dapat menghindarkan semua bahaya kebakaran, engkau mendobrak dinding. Ayahku sering bercerita tentang orang-orang sakti. Apakah engkau seorang sakti?”
“Jawab dulu, apakah engkau pandai ilmu silat, kek? Kalau engkau pandai dan mau mengajarku ilmu silat tinggi, baru aku mau ikut denganmu.”
“Kalau tidak?”
“Kalau tidak, aku tidak mau. Tidak ada yang dapat kuharap dari seorang kakek tua, juga aku akan menjadi bebanmu saja.”
“Habis, kau mau apa? Mana bisa kau hidup sendiri? Dari mana engkau dapat memperoleh makan?”