Akan tetapi, di malam gelap itu, bayangan Siauw Teng berkelebat ketika dia berlari menuju ke rumah gedung milik hartawan Ciu. Ciu Wan-gwe adalah orang yang terkaya di dusun Tung-kang, memiliki dua buah toko di Kanton, juga di Kanton dia memiliki rumah besar. Rumah yang berada di Tung-kang adalah rumah istri mudanya yang nomor dua. Rumah besar itu nampak sudah dikapur bersih karena memang keluarga itu mengadakan persiapan pernikahan putri dari Ciu Lok Tai dan istri mudanya.
Dengan golok yang masih hangat oleh darah istrinya di tangan, Siauw Teng berlari menuju ke gedung itu, dan ketika tiba di pintu gerbang itu terbuka secara kasar. Akan tetapi tiba-tiba nampak lima orang berlompatan dan mereka itu ternyata pengawal-pengawal yang memegang senjata seperti tombak dan golok, agaknya mereka sudah siap menanti di tempat itu. Kemudian muncullah si gendut yang tadi pagi datang menjemput Cin Hwa, yaitu seorang diantara dua utusan Cin Wan-gwe. Orang gendut ini muncul dengan memakai payung hitam untuk melindungi dirinya dari hujan rintik-rintik. Penerangan yang terdapat di pintu gerbang itu, dua buah lentera minyak, cukup untuk membuat wajah seperti babi itu nampak jelas dan wajah itu menyeringai ketika pemiliknya menghadapi Siauw Teng dengan sikap congkak.
“Siauw Kauw-su, ada keperluan apakah malam-malam begini engkau datang ke sini?”
“Aku mau bertemu dan bicara dengan jahanam she Ciu! Panggil dia keluar, atau aku akan menyerbu ke dalam dan menyeretnya keluar!” Bentak Siauw Teng.
“Hemm, pemadatan, engkau sungguh tak tahu diri!” Si gendut mengejek dengan sikap merendahkan sekali.
“Apa kau bilang?”
Siauw Teng melangkah maju, akan tetapi lima orang pengawal sudah menghadang di depannya. Dia berhenti, tidak ingin memusuhi orang-orang lain kecuali mereka yang telah menghina istrinya.
“Nah, katakan saja kepadaku apa keperluanmu?” kata pula si gendut.
Besar sekali kemungkinannya kedua orang inilah, yang pagi tadi menjemput Cin Hwa sebagai utusan Cin Wan-gwe, yang ikut memperkosa istrinya.
“Hemm, akuilah secara laki-laki kalau kalian bukan pengecut-pengecut hina. Apakah Ciu Wan-gwe dan kalian berdua yang telah memperkosa istriku tadi?”
Siauw Teng menahan gejolak hatinya yang mendorongnya untuk segera menyerbu dengan goloknya dan mengamuk. Akan tetapi dia ingin yakin lebih dahulu sebelum turun tangan.
“Siauw Kauw-su, istrimu hanya membayar hutang-hutangmu. Bukankah engkau sudah menerima banyak sekali madat dan barang-barang lain dari Ciu Wan-gwe, dan engkau sudah berjanji untuk menyerahkan istrimu untuk bekerja pada Ciu Wan-gwe selama satu minggu? Engkau berjanji bahwa istrimu akan melakukan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya? Apakah engkau hendak menjilat ludah sendiri dan mengingkari janji? Akan tetapi baru sehari, istrimu sudah melarikan diri. Ini saja sebenarnya sudah tidak pantas dan masih baik Ciu Wan-gwe tidak menuntutmu. Pulanglah dan pikirkan baik-baik.”
Kini si tinggi besar yang sudah tidak sabar menjawab.
“Kalau ia menyerahkan diri dengan baik-baik, tentu kami tidak akan memperkosanya!”
Si gendut memegang lengan kawannya yang kelepasan bicara, akan tetapi sudah terlanjur. Wajah Siauw Teng menjadi pucat saking marahnya.
“Keparat! Jadi benar kalian berdua dan hartawan Ciu yang memperkosa istriku?”
“Hanya membayar hutang,” kata si gendut, merasa sudah kepalang karena kawannya sudah mengaku tadi.
“Dan kami hanya memperoleh bagian saja dari Ciu Wan-gwe sebagai imbalan jasa. Istrimu seperti kuda binal, atau kucing galak... hemm, tapi cukup menyenangkan...”
Si gendut mengelus lehernya dan ternyata lehernya berdarah, ada guratan bekas cakaran kuku di situ. Agaknya ketika dia memperkosa Cin Hwa, wanita itu melawan dan berhasil mencakar lehernya.
Mendengar ucapan itu, Siauw Teng tidak mampu menahan kesabarannya lebih lama lagi. Bagaikan seekor harimau yang haus darah, dia mengeluarkan suara menggereng dan tubuhnya yang tidak berbaju menerjang ke depan, goloknya membentuk sinar terang ketika meluncur dalam serangannya.
“Mampuslah kalian anjing-anjing busuk!”
Akan tetapi, lima orang pengawal sudah menggerakkan senjata sehingga golok di tangan Siauw Teng tertangkis, bahkan ada tombak dan golok yang menyerangnya dari kanan kiri dan belakang. Ternyata, biarpun sejak lima tahun menjadi pemadatan, Siauw Teng masih menguasai ilmu silatnya dengan baik. Dia berloncatan kesana-sini, goloknya membentuk gulungan sinar dan terdengarlah suara berdenting bertubi-tubi ketika dia berhasil menangkis semua senjata lawan. Kemudian dia menyerbu lagi dan begitu cepatnya golok itu berkelebat sehingga dua orang pengawal roboh sambil mengaduh kesakitan.
“Eh, kiranya macan pemadatan ompong ini masih bisa mencakar juga!” kata si tinggi besar.
Dan diapun menerjang maju membantu para pengawal yang tinggal tiga orang itu. Si tinggi besar ini mempergunakan sebatang pedang dan ternyata sambaran pedangnya cepat sekali.
“Tranggg...!”
Siauw Teng terkejut. Hampir saja dia menjadi mangsa pedang itu dan pada saat terakhir dia dapat menangkis, akan tetapi dia merasa betapa lengannya kesemutan.
“Pemadatan busuk!”
Tiba-tiba si gendut memaki dan diapun menyerang maju dengan... payungnya! Kiranya si gendut ini lihai sekali dan senjatanya yang aneh itu merupakan pedang yang tersembunyi di dalam payung. Tahulah Siauw Teng bahwa dua orang utusan Ciu Wan-gwe itu adalah orang-orang yang pandai ilmu silat. Dia tidak gentar dan memutar goloknya dengan cepat, selalu mengarahkan senjatanya dengan maksud membunuh dua orang yang telah mencemarkan kehormatan istrinya ini. Memang hanya itulah tujuannya. Membalaskan penghinaan terhadap istrinya, kalau mungkin membunuh tiga orang itu dan tidak melibatkan orang lain.
Akan tetapi baru sekarang Siauw Teng sadar bahwa tubuhnya sudah dirusak oleh racun madat. Mungkin dia masih menguasai ilmu silatnya dengan baik, akan tetapi tenaganya menurun dengan hebatnya, dan terutama sekali pernapasannya amat mengganggunya. Paru-parunya sudah terlalu kotor oleh racun madat, sehingga belum lewat limapuluh jurus dia dikeroyok, napasnya sudah empas-empis hampir putus dan dia merasa betapa dadanya sakit kalau menarik napas. Dalam keadaan seperti itu tentu saja tenaganya makin berkurang, pandang matanya berkunang dan gerakannya menjadi lambat dan kacau.
“Crattt!”
Ujung pedang di tangan si tinggi besar membabat siku kanannya dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh. Urat di sikunya putus dan berbareng dengan muncratnya darah, goloknyapun terlepas dari pegangan tangannya. Dia masih berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat dan bertubi-tubi tubuhnya menerima hantaman-hantaman senjata lawan. Lambungnya tertusuk, punggungnya dihantam gagang payung dengan kerasnya, kedua pahanya juga luka-luka oleh sabetan pedang dan diapun terguling roboh mandi darah.
“Cukup, jangan bunuh! Kita tidak perlu mendatangkan keributan!”
Teriak si gendut mencegah teman-temannya melanjutkan pembantaian mereka terhadap Siauw Teng. Bekas guru silat ini merangkak, mencoba untuk melawan, akan tetapi baru sekali meloncat saja sudah jatu lagi. Dia mengangkat muka dan dengan muka beringas, penuh darah dan peluh, dia memandang kedua orang itu.
“Siapakah kalian berdua?” katanya dengan suara penuh kebencian. “Lok Hun. Nah, mau apalagi kau?”
Tertatih-tatih dia berjalan setengah lari, lengan kanannya lumpuh, tangan kirinya mendekap luka di lambungnya. Di sepanjang jalan yang dilalunya, ada bintik-bintik darah yang menetes keluar dari tubuhnya yang penuh luka.
Suara tangis putrinya masih terdengar di dalam rumahnya ketika dia tiba di situ. Akan tetapi suara tangis itu terlalu lirih untuk dapat menarik perhatian para tetangga. Malam gelap dan hujan, maka suara tangis kanak-kanak tentu saja tidak begitu dihiraukan oleh para tetangga yang menganggap anak itu sedang rewel atau tidak enak badan.
“Ayah...!”
Lian Hong berteriak ketika melihat ayahnya masuk terhuyung-huyung. Matanya terbelalak dan ia menjadi semakin ketakutan melihat keadaan ayahmya, saking takut dan ngerinya. Lian Hong hanya melihat saya ketika ayahnya terhuyung-huyung memasuki kamar dimana ibunya menggeletak pucat.
“Cin Hwa... istriku, aku berdosa padamu...”
Siauw Teng meratap ketika dia berdiri dan menundukkan muka memandang tubuh istrinya. Tak dapat ditahannya lagi, air matanya bercucuran dan jatuh menimpa leher istrinya yang berlepotan darah yang sudah mulai mengering kehitaman. Lalu dia mengepal tinju dan mukanya menjadi beringas ketika dia berteriak.
“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bun, Lok Hun! Aku bersumpah untuk membalas penghinaan terhadap istriku, membalas kematian istriku kepada kalian bertiga!”
Kemudian dengan beringas dia menoleh, melihat pipa tembakau madat dan bungkusan madatnya.
“Keparat! Inilah yang menjadi gara-gara! Madat jahanam, perusak hidupku, pembunuh istriku!”
Dengan kemarahan meluap, dia menggunakan tangan kirinya untuk membanting pipa tembakau madatnya sampai pecah berantakan. Dia masih belum puas, dan dibakarnya pecahan bambu pipa itu pada api lilin, lalu dibakarnya pula semua sisa madat. Api berkobar dalam kamar itu. Akan tetapi, Siauw Teng kehabisan tenaga dan tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap dan diapun roboh terpelanting di dekat istrinya.
Bambu pipa yang tadi dipegangnya dan masih berkobar, mengeluarkan bau yang memuakkan karena madatnya juga terbakar, terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa dipan bambu yang tentu saja segera terbakar dengan amat mudahnya. Api menjalar cepat sekali dan rumah itupun mulai terbakar.
Setelah rumah keluarga Siauw itu terbakar cukup besar, barulah tetangga terdekat mengetahuinya. Lian Hong segera lari keluar dan berteriak-teriak. “Kebakaran! Kebakaran!”
Dusun itu menjadi gempar. Semua orang berteriak-teriak dan berlarian menuju ke rumah keluarga Siauw yang terbakar. Api sudah menjadi begitu besarnya, sehingga tidak ada yang berani masuk untuk memeriksa apakah di dalam rumah masih ada orangnya. Mereka hanya menggunakan air untuk disiramkan ke arah api, akan tetapi apa artinya air berember-ember itu terhadap api yang sudah membesar? Celakanya, hujan gerimis sudah berhenti sehingga tidak membantu.
Siauw Lian Hong, anak itu tadi jatuh pingsan karena bau madat dan ketika ia siuman kembali, api telah mengurungnya dan ia tidak dapat lari kemanapun juga. Ia ketakutan dan melihat tubuh ayah ibunya mulai dimakan api, iapun menjerit sekuat tenaga sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di luar rumah terbakar itu. Mendengar jerit ini, semua orang saling pandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.
“Celaka! Si kecil itu agaknya berada di dalam rumah sendirian!” “Tolong anak itu...!”
“Api sudah membakar pintunya!”