Sementara itu, dua orang utusan Ciu Wan-gwe sudah tidak sabar lagi. Si tinggi besar memegang lengan nyonya itu dan menariknya, sedangkan si gendut sambil senyum-senyum mendorong kedua pundaknya dari belakang. Nyonya itu menoleh ke arah suaminya dengan air mata berlinang, mengepal kedua tangannya.
“Teng-ko...! Engkau suami pengecut, ayah yang berhati kejam! Laki-laki tak bertanggung jawab!”
Ia sendiri merasa heran mendengar suaranya yang mencaci maki suaminya. Selama menjadi istri Siauw Teng, baru sekarang ia berani memaki karena hatinya diliputi kegelisahan dan kemarahan. Akan tetapi dua orang utusan itu sudah menariknya keluar dari rumah. Si kecil menjadi bingung dan ketakutan melihat ibunya diseret dua orang itu.
“Ayah...! Ayaaah...!” Ia merengek. “Diam kau! Duduk!”
Tiba-tiba Siauw Teng membentak tanpa membuka matanya, dan anak itu terkejut, lalu terduduk di atas lantai, mengangkat muka memandang kepada ayahnya dengan mata terbelalak berlinang air mata.
Tidak lama kemudian Siauw Teng berhenti menghisap madat. Ketika dia membuka mata dan melihat putrinya yang kecil masih duduk di atas lantai mengangkat muka, memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang dibuka lebar-lebar tanpa berkedip, dia terkejut dan baru teringat betapa tadi dia membentak putrinya dan anak itu masih duduk sampai saat itu. Diapun cepat turun dari atas balai-balai dan merasa menyesal atas sikapnya terhadap putrinya tadi.
Hatinya gembira sekali rasanya, hal yang selalu dirasakannya setelah dia menghisap madat sepuasnya. Pikiran menjadi tenang dan ringan, tubuh rasanya seperti melayang di udara, segala sesuatu yang dilihatnya nampak indah, cerah berseri-seri, dan telinganya juga mendengar bunyi-bunyi yang menjadi merdu dan indah. Dunia di sekelilingnya nampak indah bukan main setelah badannya puas menerima racun madat. Tidak ada sedikitpun keresahan mengganggu pikirannya yang menjadi kosong dan bebas! Diangkatnya tubuh anaknya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya yang menyangga di bawah ketiak anak itu.
“Ayah, ibu tadi dibawa kemana?”
Siauw Teng membawa anaknya duduk di atas balai-balai, tersenyum membelai rambut anaknya yang dibagi menjadi dua sanggul kecil di kanan kiri kepalanya.
“Lian Hong, jangan khawatir. Ibumu hanya pergi bekerja membantu kesibukan keluarga Ciu yang akan menikahkan putrinya. Akan ada pesta besar disana, dan nanti kita datang ke pesta itu. Wah, ramai sekali, selain makanan yang enak-enak, juga kita akan menonton pertunjukan tari-tarian.”
“Aku ikut, ayah!”
Anak itu menjadi gembira kini, tidak khawatir lagi setelah melihat ayahnya bersikap biasa. Hatinya muak dan tidak suka mencium bau merangsang dan aneh dari tubuh dan mulut ayahnya, bau madat, akan tetapi ia tidak berani menegur karena anak ini sudah cukup tahu bahwa kesukaan ayahnya adalah menghisap madat, kesukaan yang seringkali ia lihat menjadi sebab pertengkaran antara ayah dan ibunya.
“Tentu saja engkau ikut! Aku, ibumu dan engkau. Kita akan mengenakan pakaian-pakaian baru dan...”
“Mana pakaian barunya, ayah?” Anaknya memotong.
Siauw Teng teringat, lalu merangkul anaknya sambil tertawa.
“Jangan khawatir, Ciu Wan-gwe yang baik hati akan memberi kepada kita.”
Diapun mencium lagi putrinya, dan sekali ini Lian Hong tidak dapat menahan rasa tidak sukanya akan bau madat itu.
“Ayah menghisap madat lagi,” pancingnya. “Heh-heh, benar, dan ayah gembira sekali.” “Baunya tidak enak!”
“Biarkan aku mencobanya, ayah… mencoba menghisap madat.”
Anak ini tahu benar bahwa ia dilarang keras meniru ayahnya, baik oleh ayahnya maupun oleh ibunya. Kini ia sengaja memancing untuk menyatakan rasa tidak sukanya melihat ayahnya menghisap madat.
“Akan tetapi mengapa ayah boleh dan aku tidak?”
Anak itu mendesak dengan suara mengandung penuh teguran dan penasaran. Tanpa disadarinya, Siauw Teng merasa betapa perasaan hatinya tertusuk. Dia bukan seorang bodoh. Dan dia dahulu terkenal sebagai seorang gagah yang selalu menentang kejahatan dan ketidakadilan. Kini menghadapi pertanyaan-pertanyaan putrinya yang baru berusia lima tahun, tiba-tiba saja ia melihat betapa pada hakekatnya dia tahu akan berbahaya dan buruknya menghisap madat, sehingga walaupun dia sendiri menikmatinya dan ketagihan, namun dengan amat keras dia melarang anaknya menyentuh madat!
“Ayah sudah tua dan engkau masih kanak-kanak. Anak kecil tentu saja tidak boleh menghisap madat.” Dia menjawab juga.
“Tapi ibu, kenapa ia tidak menghisap madat?”
“Ibumu? Ah, ia tidak suka. Engkau bisa membantu ayah memasak nasi, bukan?”
Setelah puas menghisap madat, kembalilah watak baik Siauw Teng, dan sehari itu dia mengasuh putrinya dengan penuh kasih sayang. Dan malam itu, setelah Lian Hong tidur pulas, barulah Siauw Teng menghisap madat lagi.
Malam itu dingin sekali. Hujan turun rintik-rintik. Dalam cuaca di luar buruk seperti itu dan hawa yang amat dingin, membuat Siauw Teng semakin keenakan menghisap madat.
Setelah puas, dia duduk termangu-mangu di atas dipan, matanya meram- melek penuh kenikmatan dan tubuhnya kadang-kadang bergoyang-goyang. Dia merasa seperti terbang di alam yang amat indahnya. Mulutnya tersenyum penuh kepuasan. Di dalam rumah sudah tidak ada apa-apanya yang berharga, perlu apa dikunci?
Api dua batang lilin di sudut ruangan itu bergoyang-goyang tertiup angin yang menyerbu masuk ketika daun pintu terbuka. Dan bersama angin dan air hujan, masuk pulalah sesosok tubuh dibarengi suara isak tertahan.
Siauw Teng terbelalak memandang istrinya yang masuk secara luar biasa itu. Rambut istrinya awut-awutan, muka dan rambutnya basah oleh air hujan, pakaiannya robek-robek dan kusut, bahkan bagian lehernya terobek sehingga nampak kulit dada bagian atas yang putih mulus. Di ujung mulut ada bekas darah dan nampak pipinya membiru, juga mata kirinya. Tentu saja Siauw Teng terkejut sekali.
“Cin Hwa... apa yang telah terjadi??” tanyanya sambil memandang dengan mata terbelalak, terlalu kaget sehingga dia tetap duduk diatas dipan itu.
Sepasang mata itu menjadi jalang. Sepasang mata yang kemerahan, dan air mata bercucuran mengalir ke atas sepasang pipi yang sudah basah oleh air hujan, wanita itu mengangkat lengannya, telunjuk kanannya ditudingkan ke arah muka suaminya.
“Engkau... engkau menjual diriku? Kautukarkan diriku, kehormatanku, dengan madat? Engkau menjual diriku untuk dapat menghisap madat?”
Siauw Teng terkejut sekali dan menjadi bingung. “Istriku, apa maksudmu?”
Melihat suaminya masih bertanya, Cin Hwa menyangka dia berpura-pura sehingga kemarahan dan kedukaannya memuncak.
“Mana anakku? Mana...?” “Ia sudah tidur di kamar...”
Cin Hwa lari memasuki kamar. Hanya untuk melihat putrinya sajalah ia lari pulang. Siauw Teng masih duduk terbelalak, tidak mengerti apa yang telah terjadi, tidak menduga sesuatu sehingga kata-kata dan sikap istrinya itu amat mengejutkan hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara berdebukan di dalam kamar seperti orang jatuh, disusul jerit anaknya.
“Ibuuuu...! Ibuuuu...!”
Dia terbelalak sejenak melihat istrinya terlentang di atas lantai berlumuran darah. Sebatang golok menancap di dada istrinya, dan Lian Hong menangis ketakutan di atas tempat tidur kayu. Anak itu terbangun ketika dirangkul dan diciumi ibunya yang menangis, kemudian menjadi ketakutan melihat ibunya menusuk dada sendiri dengan golok.
“Chin Hwa...!!”
Siauw Teng menjerit dan menubruk. Sepintas lalu dia melihat dan tahulah dia bahwa golok itu terlalu dalam menusuk dada istrinya sehingga dia tidak berani mencabutnya. Golok itu goloknya, dan kini senjatanya itu yang setia dalam menghadapi para penjahat, kini menancap di dada istrinya sendiri.
“Istriku! Mengapa kaulakukan ini? Mengapa?” Dia memangku tubuh itu, mengguncangnya dan wanita itu membuka matanya yang masih berlinang air mata.
“Mereka telah memperkosaku... Ciu Wan-gwe… kemudian pembantu- pembantunya.”
“Apa...!!!” teriak Siauw Teng mengejutkan Cin Hwa dan juga putrinya.
Barulah nyonya ini percaya bahwa agaknya suaminya memang tidak tahu akan hal itu. Akan tetapi ia sudah lemah dan kemarahan yang sejak tadi memenuhi batinnya kini menguasainya lagi.
“Kau... kau telah menjual diriku dengan madat itu... demikian kata mereka... aku... aku berhasil melarikan diri, tapi... tapi apa artinya hidup bagiku yang telah ternoda.... kau... kau… laki-laki tak bertanggung ja…wab” tubuh itu terkulai, kehilangan tenaga dan nyawa.
“Cin Hwa...!”
Siauw Teng mendekap tubuh istrinya. Setelah dia yakin bahwa istrinya sudah tewas, tiba-tiba dia menjadi beringas. Kedua matanya merah melotot, basah dengan air mata. Dicabutnya golok yang menancap di dada istrinya dan hanya sedikit darah yang keluar dari tubuh yang baru saja ditinggalkan nyawanya itu.
“Jahanam Ciu Lok Tai! Kau... kau menipuku...!”
Dan dengan sigapnya, Siauw Teng meloncat keluar dari kamar, terus berlarian keluar menerobos kegelapan malam dan hujan. Dia tidak mendengar lagi suara putrinya yang berteriak-teriak ketakutan memanggil-manggil dia dan istrinya.
Malam itu gelap dan sunyi. Semua penghuni dusun Tung-kang di luar kota Kanton sudah menutup semua daun pintu dan jendela karena semenjak sore hujan turun terus, membuat hawa menjadi amat dingin dan cuaca amat gelap di luar rumah. Hanya beberapa orang penjaja makanan yang masih nampak berjalan memikul barang dagangannya di tepi jalan raya meneriakkan dagangannya untuk menarik perhatian para penghuni rumah-rumah tertutup itu. Dan makanan yang panas-panas banyak dibutuhkan orang yang membeli.