”Teng-ko, sejak tadi engkau menghisap madat sampai rumah ini baunya seperti kebakaran. Darimana engkau memperoleh uang untuk membeli madat begitu banyak? Kemarinpun engkau sudah menghisap madat seharian, dan sekarang lagi. Dan aku melihat bungkusan berisi madat. Suamiku, bagaimana engkau bisa mendapatkan madat begitu banyak, sedangkan barang- barang kita sudah habis kaujual?”
Wanita itu masih muda, paling banyak tigapuluh tahun usianya. Biarpun pakaiannya bersahaja, wajahnya mem- bayangkan kemiskinan, rambutnya kusut dan tubuhnya agak kurus, namun ia termasuk wanita yang cantik manis raut wajahnya, dan tubuhnya yang agak kurus itu padat semampai.
Seorang wanita dengan daya tarik yang
masih kuat. Akan tetapi kini wajahnya muram dan sinar matanya heran dan marah ketika ia menegur suaminya yang enak-enak duduk bersila sambil menghisap madat dari cangklong bambu yang besar itu. Disulutnya tembakau campur madat yang diselipkan di tempat tembakau yang nampaknya seperti cabang yang menonjol keluar di tengah pipa bambu, lalu disedotnya. Terdengar suara menderodot disertai suara gluk-gluk. Asap tembakau madat itu melalui air, terus masuk ke mulut, langsung menembus tenggorokan memenuhi paru-paru, dihisap oleh darah di tubuh yang tak berbaju itu.
Matanya terpejam dan dia seolah-olah tidak mendengar teguran istrinya, bahkan agaknya dia sudah lupa sama sekali akan dunia di sekitarnya, terbuai oleh pandangan khayal indah yang muncul karena pikiran dan syarafnya sudah dikuasai oleh racun madat.
Pria itu bertubuh kurus, akan tetapi masih nampak bekasnya bahwa dahulunya dia tentu bertubuh tegap. Masih nampak otot menonjol di balik kulit yang hampir tak berdaging lagi itu, dadanya bidang akan tetapi kini kedua pundaknya menurun. Wajahnya juga tidak boleh disebut buruk. Tidak, pria ini tadinya tentu seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan gagah. Bahkan melihat keadaan buku-buku jarinya, pergelangan tangannya, nampak tulang- tulang menonjol dan kulit yang menebal, tanda dia banyak melakukan latihan ilmu silat yang mengandalkan tenaga gwa-kang (tenaga luar).
“Teng-ko, jawablah aku!”
Chin Hwa, istrinya, berteriak dengan hati kesal dan iapun memegang pundak suaminya yang telanjang itu dan mengguncangnya beberapa kali.
Tubuh yang sedang dibuai asap madat itu terguncang dan kedua matanya dibuka perlahan, seperti mata orang yang hampir tidak kuat menahan kantuk. Hanya sedetik saja dia membuka mata memandang kepada istrinya dengan sinar mata tidak mengenal, lalu dipejamkannya lagi matanya. Akan tetapi kedua tangannya dengan cekatan dan otomatis sudah memilin-milin tembakau campur madat lagi untuk dipasang di tempat tembakau.
Teng-ko! Dengarkan aku dan jawablah atau... akan kubuang pipamu ini!” Chin Hwa berteriak dan mengguncang pundak suaminya semakin kuat.
Sekali ini Siauw Teng membuka matanya, dilebarkan seperti orang tidur yang terganggu dan terkejut.
“Aih, engkau? Ada apakah? Mengapa kau ganggu aku yang sedang menikmati madat?”
“Suamiku…” Cin Hwa menahan kesabarannya.
“Kenapa engkau sekarang menjadi begini? Aku bertanya kepadamu, dari mana engkau memperoleh uang, kenapa tidak engkau beli lagi perabot-perabot rumah kita yang sudah kau habiskan? Kenapa tidak kau beli pakaian untuk kita, untuk anak kita? Dan beras?”
Laki-laki itu dengan muka penuh kesabaran tersenyum, akan tetapi kedua tangannya kini sibuk mengisi lagi pipanya dengan tembakau madat.
Sepasang mata wanita itu terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat, matanya memandang wajah suaminya penuh selidik.
“Ciu... Ciu Lok Tai, pedagang madat itu? Mengapa dia memberi madat kepadamu... hayo ceritakan, apa maunya...!”
Wanita itu teringat betapa hartawan itu pernah datang ke rumah mereka, bercakap-cakap dengan suaminya, akan tetapi matanya yang berminyak itu selalu ditujukan kepadanya secara kurang ajar sekali. Dan kini hartawan itu, yang ia dengar dari para tetangganya merupakan seorang laki-laki mata keranjang yang suka mengganggu anak istri orang dengan mempergunakan hartanya, telah memberi madat demikian banyaknya kepada suaminya. Suami itu memandang dengan sikap heran.
“Mengapa tidak? Engkau akan berada di rumah gedung mewah itu selama satu minggu, membantu istrinya membereskan rumah, karena katanya dia mantu. Karena engkau pandai menjahit, maka engkau dimintai bantuan, dan aku setuju. Siapa tidak akan membantu seorang sahabat baik seperti dia?”
“Tapi aku tidak sudi! Aku tidak mau!”
Tiba-tiba saja, pria yang tadinya seperti lesu dan lemah itu membuka matanya dan sepasang mata itu memandang marah. Seketika lenyaplah kantuknya dan di dalam sinar mata itu terkandung ketajaman dan wibawa yang membuat Cin Hwa menunduk. Kini ia merasa seperti berhadapan dengan suaminya yang dulu sebelum menjadi hamba madat, dan memang suaminya ini selalu dapat menguasainya dengan sikapnya yang tegas.
“Engkau istriku, bukan? Dan engkau hendak menjerumuskan aku sebagai seorang laki-laki yang menjilat ludah sendiri, yang melanggar janji sendiri? Lihat, madat itu sudah kuhisap selama dua hari. Tak mungkin kukembalikan dalam jumlah yang sama, dan aku sudah berjanji. Pula, apa salahnya membantu keluarga Ciu yang mempunyai kerja itu? Apa salahnya?”
“Akan tetapi... akan tetapi... pandang matanya kurang ajar...?”
“Ha-ha… dia tidak akan berani berbuat kurang ajar kepadamu. Dia tahu siapa aku dan aku percaya kepadamu, istriku. Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku. Pula, siapa yang dikhawatirkan? Engkau disana akan membantu istrinya. Tentang pandang mata, heh-heh… mata pria mana yang tidak akan berminyak memandang engkau yang cantik manis?”
Laki-laki itu tertawa bergelak dan melanjutkan pekerjaannya mengisap madat. Cin Hwa tidak membantah lagi, akan tetapi ia masih mencoba.
“Suamiku, ingatlah, bagaimana aku dapat meninggalkan anak kita, Lian Hong, yang baru berusia lima tahun itu? Siapa akan merawatnya?”
“Apa engkau tidak percaya lagi kepadaku?”
Cin Hwa tidak dapat membantah lagi, ingin dengan hatinya yang panas dan gelisah ia meneriakkan ketidak percayaannya. Akan tetapi suaminya adalah seorang suami yang selama ini amat baik, amat mencintanya dan selama sepuluh tahun ini ia tidak dapat mencela suaminya. Akan tetapi, semenjak suaminya menghisap madat, lima tahun yang lalu, terjadilah perobahan perlahan-lahan. Memang mula-mula suaminya masih bekerja dan masih memperhatikannya. Akan tetapi, makin lama suaminya semakin tidak menaruh perhatian kepadanya. Dan hal itu terjadi semenjak anak satu-satunya mereka, Siauw Lian Hong, lahir.
Chin Hwa semakin terkejut, akan tetapi sebelum ia mampu menjawab, terdengar suara orang di luar rumah. Daun pintu terketuk dan masuklah dua orang sambil tersenyum menyeringai. Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluhan, yang seorang gendut dan seorang lagi tinggi tegap. Si tinggi tegap ini membawa sebuah bungkusan besar yang diletakkannya di atas meja.
“Selamat siang, Siauw Kauw-su! Aha, kulihat engkau sedang menikmati madat. Hemmm… alangkah sedap baunya!”
Si gendut berkata sambil menyedot-nyedot hawa yang pengap dalam ruangan itu, dan matanya yang sipit melirik ke arah nyonya rumah yang memandang dengan muka pucat.
Siauw Teng sudah biasa disebut Siauw Kauw-su (Guru Silat Siauw), dan mendengar ucapan itu,tanpa menghentikan sedotannya, dia membuka mata memandang. Setelah dia menyedot habis semua asap dari pipa, kedua matanya dipejamkan dan dia menahan napas sekuatnya, untuk menahan asap itu selama mungkin di dalam dadanya. Baru setelah dia tidak kuat bertahan lagi, dia menghembuskan napas perlahan-lahan dan hanya sedikit sisa asap yang keluar dari mulut dan hidungnya. Sebagian besar sudah menempel pada dinding-dinding paru-parunya.
“Eehhhhh...!” Keluhnya penuh nikmat dan diapun membuka matanya lagi dan tersenyum kepada dua orang itu.
“Apakah kalian diutus oleh Ciu Wan-gwe?” tanyanya.
Si gendut itu mengangguk-angguk dan mengangkat kedua tangan di depan dada. Mulutnya menyeringai dan matanya menjadi semakin sipit, mukanya mirip seekor babi.
“Benar... eh, betul, Siauw Kau-su, kami diutus Ciu Wan-gwe untuk... eh, menjemput toanio... eh, membantu nyonya besar kami.”
Siauw Teng menoleh kepada istrinya yang memandang kepadanya penuh kegelisahan dan keraguan.
“Istriku, berangkatlah engkau bersama mereka ke rumah Ciu Wan-gwe, dan lakukanlah pekerjaanmu sebaik mungkin.”
“Tapi... tapi, Teng-ko...!” Istrinya membantah. Siauw Teng mengerutkan alisnya.
“Berangkatlah!” bentaknya, lalu kepada dua orang itu dia berkata. “Silahkan, bawa dan antar istriku kepada keluarga Ciu.” Dan diapun sudah mulai menghisap madat lagi. “Toanio, tidak baik bersikap begitu.”
Kini si tinggi besar melangkah maju dengan sikap mengancam.
“Tidak... bagaimana nanti anakku? Kami tidak mempunyai beras, aku harus mencarikan dulu untuk ditinggalkan, untuk makanan anakku…”
“Ha-ha-ha!” Si tinggi besar tertawa dan membuka buntalan yang dibawanya.
“lihat, semua telah tersedia!”
Dan benar saja, buntalan itu berisi bahan makanan, lebih dari cukup untuk dimakan suami istri dan anaknya selama satu minggu. Kiranya mereka ini sudah mempersiapkan segalanya.
“Tapi... anakku... Lian Hong...!”
Ia hendak lari menghampiri suaminya, akan tetapi lengan kanannya ditangkap oleh si laki-laki tinggi besar dan nyonya itu terkejut. Jari-jari tangan si tinggi besar itu mencengkeram kuat sekali sehingga ia meringis kesakitan dan tidak mampu meronta lagi.
“Ibu... ibu...!”
Tiba-tiba dari dalam muncul seorang anak perempuan berusia lima tahun. Anak itu terbelalak heran dan takut melihat kegaduhan itu, apalagi melihat ibunya demikian pucat mukanya dan nampak bingung.
“Ibu, ada apakah dan... siapakah kedua paman ini?”
Anak itu adalah Siauw Lian Hong, anak tunggal keluarga itu.
“Lian Hong... mintalah kepada ayahmu agar aku tidak perlu ikut kedua orang paman ini...”
“Ibu... ada apakah...?”
“Ayah... ayah... ibuku itu...”
Anak itu mengguncang-guncang lutut kiri ayahnya. Akan tetapi Siauw Teng tidak memperdulikan anaknya, atau mungkin juga tidak mendengarnya, masih enak-enakan membiarkan dirinya melayang-layang bersama asap madat.