Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 72

Memuat...

akan tetapi siapa yang dapat menanggung kalau sesudah ada pertadingan adu kepandaian antara dua orang wakil ini lalu tidak ada lagi murid yang saling berkelahi?" tentu dengan seruan seorang di antara para tosu.

"Bagi pinceng, sekali sudah berjanji akan dipegang sampai mati!" Thian Hwesio berseru.

"Andaikata ada murid atau hwesio yang kelak melanggar janji, pinceng sendiri yang akan menghajarnya!"

"Sian-cai ! Kami semua percaya akan kejujuran dan

kegagahan bekas wakil ketua Siauw-lim-si! Akan tetapi ucapan itu lebih mudah dikeluarkan mulut daripada dilaksanakan. Bagaimana seorang saja akan mampu menjaga agar janji itu dilaksanakan di seluruh negeri?" Ucapan ini disambut dengan suara setuju oleh semua tosu, bahkan diantara para hwesio sendiri juga melihat betapa sukarnya janji itu dipenuhi kelak. Bagaimana mungkin Thian Gi iHwesio atau dibantu oleh mereka semua, sepuluh orang hwesio akan mampu menjaga seluruh hwesio yang jumlahnya ratusan ribu itu agar menepati janji yang dadakan hari ini? Pula, apakah seluruh hwesio telah menyatakan persetujuannya atas janji yang dikeluarkan oleh Thian Gi Hwesio?

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang, "Harap para Locianpwe menyadari akan buruknya permusuhan dan dapat menghabiskan sampai di sini saja"' Mendengar ucapan yang nyaring itu, para hwesio dan para tosu menoleh dan Mereka melihat munculnya seorang pemuda dari balik batang pohon yang tumbuh tidak jauh dari padang rumput itu. mereka semua heran. Mereka sembilan belas orang adalah orang-orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi akan tetapi bagaimana tidak ada seorangpun yang tahu akan kehadiran pemuda Itu? Apakah karena mereka semua terlalu tegang dan mencurahkan seluruh perhatian kepada urusan mereka, ataukah memang pemuda itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi? Pemuda itu tidak terlalu mengesankan. Pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan, nampak sederhana sekali, dengan pakaian seperti seorang pemuda petani saja.

"Siancai ! Darimanakah datangnya seorang pemuda

yang begini la berani mencampuri urusan gawat orang-orang tua?" bentak seorang di antara para tosu.

Akan tetapi Thian Gi Hwesio yang tadi pun nampak ragu- ragu setelah usulnya dibantah, memandang tajam. "Omitohud. ! Orang muda yang gagah. Siapakah

engkau dan apa maksud ucapanmu tadi?"

Han Beng, pemuda itu, memberi hormat kepada semua pendeta itu, lalu berkata dengan sikap sungguh-sungguh. "Saya hanyalah seorang pemuda biasa yang lebetulan lewat di sini dan melihat, juga mendengar semua perbantahan antara Cu-wi Locianpwe (Para Orang Tua Gagah Sekalian). Saya merasa ikut prihatin, akan tetapi, semua pendapat dari para lo- cianpwe itu menurut saya, tidak akan dapat membuka jalan keluar. Bahkan akan semakin membesarkan nyala api permusuhan dan dendam."

Thian Gi Hwesio mengerutkan alisnya yang tebal dan melintangkan toyanya. "Hemmm, orang muda yang lancang mulut! Agaknya engkau berani mencela kami tentu sudah mempunyai kebijaksanaan yang lebih patut. Nah, katakanlah bagaimana cara yang baik menurut pendapatmu?"

"Cu-wi Lo-cian-pwe bukan orang-orang muda dan merupakan orang-orang yag dipenuhi kebijaksanaan. Sepatutnya Cu-wi sudah mengetahui bahwa semua permusuhan, dendam kebencian, bukan datang dari luar melainkan datang dari dalam batin masing-masing. Oleh karena itu, melenyapkan permusuhan tidak mungkin dilakukan dengan cara menundukkan musuh yang berada di luar. Yang penting adalah mengalahkan musuh yang berada di dalam diri sendiri! Cu-wi Lo-cian-pwe dan sekalian pengikutnya, para hwesio dan para tosu yar terhormat, seyogianya mawas diri masirng-masing dan mengenyahkan semua dendam kebencian dari hati masing-masing, kalau sudah begitu, dengan sendirinya dak mungkin ada permusuhan. Kalau di dalam sudah padam, tidak mungkin menjalar dan membakar keluar. Nah, sukarnya kalau mulai detik ini juga Cu-wi masing- masing memadamkan api dalam itu dan dengan demikian tiada lagi permusuhan dan dendam?"

Amitohud. ! Enak saja memang kalau bicara, orang

muda!" kata Thian di Hwesio. "Tidak ada kebakaran tanpa sebab, tidak ada dendam tanpa sebab! Bagaimana pinceng dan kawan-kawan mampu meniadakan dendam kalau teringat akan pembasmian kuil Siauw-lim-si?”

"Siancai omonganmu memang tepat sekali, orang

muda. Akan tetapi tanpa adanya penyelesaian sekarang, bagaimana mungkin kita merasa aman dan tenteram di masa mendatang? Pertikaian ini memang sudah seharusnya diselesaikan sekarang juga, kalau perlu melalui pengorbanan!" kata seorang tosu.

Han Beng tersenyum. Sudah baik kalau kedua pihak dari orang-orang tua yang kaku itu mau mendengarkan ucapannya, setidaknya dia telah memberi bahan renungan untuk mereka yang sedang dikuasai nafsu dendam dan amarah

"Maafkan saya yang muda dan bodoh, Cu-wi Lo-cian-pwe. Bukankah hidup ini sekarang? Kemarin dan masa lalu hanyalah hal-hal yang lewat, sudah lapuk dan sudah mati, perlu apa dipikirkan dan dikenang lagi? Adapun masa depan dan hari esok adalah hal-hal yang belum akan hanya khayalan dan gambaran pikiran, perlu apa dibayangkan? Yang penting adalah sekarang ini, saat ini. Memang, tidak ada perubahan tanpa pengorbanan dan dalam hal ini, yang menjadi korban adalah perasaan sendiri, bukan mengorbankan orang lain."

Post a Comment