"Hemmm, seorang pendekar sejati, ya?" Ciok An memandang kepada Han Beng dengan mata dipicingkan
"Ciok An!" kini Tang Gu It membentak puteranya. "Bersikaplah wajar dan hormat kepada tamu! Bagaimanapun juga, Si taihiap (Pendekar Besar Si) telah menyelamatkan
calon isterimu! Si-taihiap, harap maafkan kami dan kami berterima asih sekali kepadamu."
Sejak tadi Han Beng telah merasa marah sekali. Hatinya terasa panas bukan main. Dia memang sudah merasa terpukul batinnya ketika melihat Hui Im bertemu dengan tunangannya, biarpun Dihiburnya perasaannya sendiri bahwa gadis itu memiliki seorang calon suami mg amat baik, tampan kaya raya, dan gagah perkasa. Karena itulah, maka tadi diam-diam membantu Ciok An megalahkan Gan Lok. Akan tetapi kini, dia hanya mendengar kata-kata yang amat tidak enak dan melihat sikap yang amat memandang rendah kepadanya. Dan sikap Tang Gu It yang merendah itu pun amat yang merendah itu pun amat dibuat-buat, atau mungkin karena mendengar nama kedua orang gurunya. Hatinya terasa panas sekali dan kalau bukan untuk Hui Im, tentu sudah sejak tadi dia pergi
.
Ibu Ciok An agaknya juga menyadari bahwa suaminya marah dan menegur puteranya, maka ia pun hendak bersikap baik. "Benar, Ciok An. Pemuda ini sudah mengantar calon isterimu sampai ke sini dengan selamat. Sebaiknya engkau cepat mengambil perak beberapa puluh tail untuk diberikan kepadanya sebagai imbalan dan uang lelah!"
Han Beng tidak dapat menahan lagi. Dia bangkit berdiri dengan kedua telapak tangan masih berada di atas meja, lalu memandang kepada Hui Im tanpa menjawab semua kata-kata dari keluarga tuan rumah itu. "Siauw-moi, engkau tahu benar bahwa aku mengantarmu sampai kesini tanpa pamrih apa pun. Aku sudah merasa berbahagia sekali bahwa engkau telah bertemu dengan keluarga calon suamimu dengan selamat. Aku tidak minta imbalan upah apa pun, akan tetapi aku pun tidak sudi untuk dipandang rendah oleh siapa pun! Nah, engkau sudah tiba di tempat tujuan, Siauw-moi, maka perkenankan aku pergi sekarang."
"Nanti dulu, Toako! Ah, jangan engkau pergi dengan perasaan tidak enak seperti itu. Kau kaumaafkanlah semuanya, Toako. Semua ini hanya kesalah pahaman belaka. Toako, aku minta, dengan hormat dan sangat, sudilah engkau hadir pada perayaan pernikahanku tengah tahun mendatang."
Mereka berdiri dan saling pandang. Han Beng melihat betapa sepasang mata yang indah itu memandang kepada penuh permohonan, bahkan kedua mata itu basah dengan air mata. Hanya terasa lemas dan dia pun mengangguk. "Kalau Tuhan memperkenan aku tentu akan datang. Nah, selamat tinggal, Adik Souw Hui Im!"
Setelah berkata demikian, semua orang yang duduk di situ hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh pemuda itu sudah lenyap dari situ! Tentu saja Tang Gu It, isterinya dan Ciok An, terkejut bukan main. Mereka memandang ke arah pintu depan, namun tidak nampak lagi bayangan Han Beng dan tiba-tiba Tang Gu It menuding kearah meja yang tadi dihadapi Han Beng dengan telunjuk gemetar. Ciok An dan ibunya memandang, juga Hui Im. Dan meja di mana tadi ditekan oleh kedua telapak tangan Han Beng, nampak ada tanda dua telapak tangan dan papan meja itu hangus dan masih mengepulkan sedikit asap! Agaknya, saking marahnya dan menahan perasaannya, Han Beng menyalurkan kekuatannya melalui kedua telapak tangan dan sin-kang itu mendatangkan hawa panas yang sampai membakar papan meja!
"Ahhhhh. !" Ciok An berseru dan wajahnya berubah
pucat. Dia memandang kepada tunangannya. "Im-moi.
dia.............. dia begitu saktikah. ?"
Gadis itu menundukkan mukanya agar jangan nampak kedukaan membayangkandiwajahnya dan dengan perlahan ia mengangguk, "la memang seorang pendekar sakti, seperti seekor naga sakti "
Tang Gu It menarik napas panjang "Nah, sekarang terbukalah matamu, Ciok An. Jangan mudah memandang rendah orang lain. Tadi pun aku sudah terkejut mendengar bahwa dia murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong! Tahukah engkau siapa kedua orang sakti itu? Mereka adalah dua orang sakti yang amat terkenal di dunia kang-ouw, karena itu tadi pun aku segera menyebutnya taihiap. Akan tetapi engkau sudah tidak tahu diri, masih saja merendahkannya. Bahkan ingin memberi hadiah uang kepada seorang pendekar sakti! Sungguh menggelikan dan memalukan sekali!"
Keluarga itu masih belum hilang kagetnya dan sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi menyebut nama Han Beng, apalagi membicarakan persangkaan buruk kepada pendekar itu. Sikap mereka terhadap Hui Im juga menjadi baik dan hal ini sedikit banyak menghibur hati gadis itu yang merasa kehilangan sekali setelah Han Beng pergi. Baru ia yakin benar bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada pendekar itu. Akan tetapi apa daya? Sejak kecil ia sudahditunangkan denganTang Ciok An dan tidak mungkin ia mengubah kenyataan ini. Pertama, ia harus mentaati keputusan ayahnya, apalagi setelah ayahnya meninggal dunia, ia harus lebih mentaatinya lagi. Pesan seorang yang sudah meninggal dunia adalah pesanan yang suci dan harus ditaati. Kedua, ia sudah ditampung oleh keluarga tunangannya, dan bagaimanapun juga, calon ayah mertuanya adalah pamannya sendiri pula. Ia tidak mempunyai tempat lain atau keluarga lain yang dapat ditumpangi. Dan ke tiga, harus diakuinya bahwa pilihan orang tuanya itu pun tidak keliru, tidak mengecewakan. Ia sudah harus merasa beruntung mendapatkan seorang calon suami seperti Tang Ciok An, Dia ganteng, tampan, gagah perkasa, kaya raya. Mau apa lagi?
Kehidupan ini akan terisi penuh konflik kalau kita membiarkan diri kita dicengkeram oleh pikiran yang sudah bergelimang nafsu. Nafsu selalu melahiran keinginan- keinginan akan hal-hal buruk! Yang baik dan menyenangkan hanyalah apa yang diinginkan itu! Mempunyai ini, ingin yang itu sehingga yang ini nampak tidak ada daya tariknya; Mendapatkan yang itu, menginginkan yang ini, dan demikian selanjutnya. Hanya orang yang menyerahkan segala-galanya kepada kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat menerima apa yang ada tanpa penilaian! Apa pun yang datang menimpa dirinya, apa pun yang didapatkan; dari hasil usahanya, dianggapnya sebagai suatu anugerah dari Tuhan, sebagai suatu kemurahan dari Tuhan sehingga diterima dengan hati penuh keikhlasan, penuh penyerahan diri dan penuh ketawakalan. Biasanya, setiap mulut mengatakan bahwa dia ber-Tuhan, bahwa dia percaya kepada Tuhan. Akan tetapi buktinya? Kalau orang benar-benar ber-Tuhan hanya mulut saja yang mengakuinya, melainkan jauh di lubuk hatinya, didalam dasar batinnya, harus ada kepercayaan itu. Kepercayaan yang mendalam ini yang akan mendatangkan peyerahan, keikhlasan, dan kalau apa pun yang menimpa diri dianggap sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan, maka senyum ini takkan pernah meninggalkan mulut. Yang ada hanya rasa terima kasih dan syukur Tuhan Yang Maha Kasih. Dan kalau sudah begitu penderitaan lain tidak ada lagidan penderitaan batin tidak ada lagi dan penderitaan lahir pun tidak meninggalkan bekas, seperti awan lalu. Kepercayaan yang mendalam ini yang akan mendatangkan kekuasaan Tuhan bekerja di luar dan di dalam diri karena kekuasaan Tuhan meliputi seluruh alam, yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang paling kecil sampai yang paling besar, paling rendah sampai paling tinggi, yang paling dalam dan paling luar, pendeknya tidak ada apa pun di alam mayapada ini yang tidak diliputi kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih! Dan kalau kekuasaan Tuhan yang bekerja, maka segalanya akan wajai dan sempurna! Yang menimbulkan baik buruk, suka duka dan segala macam pertentangan adalah penilaian yang timbul dari nafsu.
Dan hanya kekuasaan Tuhan ini sajalah yang akan mampu menundukkan nafsu sehingga menjadi jinak dan berman faat bagi kehidupan manusia, bukan lagi sebagai perusak, melainkan sebagai pembantu dan alat mempertahankan hidup.
oooOOooo
"Omitohud, sejak dahulu, para to-su memang berhati palsu. Pada lahirnya saja kelihatan halus dan baik budi, akan tetapi di sebelah dalamnya kotor dan curang!" Seorang di antara sepuluh orang hwesio yang berada di puncak itu berseru, sedangkan sembilan orang hwesio lainnya mengangguk- angguk menyetujui.
"Sian-cai ! Para hwesio seharusnya dapat mengekang
musuh yang paling besar dalam kehidupan ini, yaitu nafsu amarah. Kenapa sudah mencukur gundul rambutnya dan sudah mengenakan jubah kuning masih mudah dikuasai nafsu amarah sehingga menyebar fitnah buruk kepada orang atau pihak lain?" seorang di antara sembilan orang tosu itu pun membantah dan kini delapan orang rekannya yang mengangguk-angguk membenarkan.
Puncak bukit itu datar dan ditumbuhi rumput yang subur. Mereka, sepuluh orang hwesio dan sembilan orang tosu itu duduk saling berhadapan, pihak hwesio satu garis dan berhadapan dengan mereka, pihak tosu juga satu garis. Mereka terdiri dari orang-orang yang sudah tua, sedikitnya berusia enam puluh tahun. Para hwesio itu mengenakan jubah kuning dan berkepala gundul, sedangkan para tosu mengenakan jubah putih dengan rambut diikat ke atas. Jelas dari sikap mereka bahwa kedua pihak saling mencela dan dalam pandangan mata mereka nampak api kemarah yang menjurus kepada kebencian.
"Siapa yang marah dan siapa yai menyebar fitnah?" bentak seorang antara para hwesio itu sebagai law an. "Kami tidak menuruti nafsu amarah dan tidak menyebar fitnah, melainkan bicara seperti apa adanya saja! Golongan kalian para tosulah yang tukang sebar fitnah! Kalau tidak karena fitnah seorang tosu, yaitu Cun Bin Tosu, apakah kuil Siauw-lim-si sampai terbakar dan banyak jatuh korban yang tidak berdosa? Nah, apakah kini kalian para tosu masih mencoba untuk menyangkal kenyataan itu?"
"Siancai , kami tidak menyangka adanya orang seperti
Cun Bin Tosu. seperti juga kami tidak menyangkal adanya banyak tosu yang melakukan perbuatan yang sesat. Akan tetapi, apa hubungannya hal itu dengan kami? Apakah kesalahan seorang tosu harus dipikul dosanya oleh seluruh tosu di permukaan bumi ini? Apakah di dunia ini tidak ada seorang pun hwesio yang menyeleweng? Dan kalau ada, apakah juga kesalahan seorang hwesio itu harus ditanggung oleh seluruh hwesio di permukaan bumi? Kalau begitu halnya, maka kesalahan tiap orang manusia juga harus ditanggung dosanya oleh kita semua, karena bukankah kita semua ini juga manusia! Jadi, kesalahan Cun Bin Tosu itu juga harus ditanggung oleh kita semua, juga oleh kalian para hwesio karena Cun Bin Tosu seorang manusia, seperti kita semua, termasuk kalian juga."
"Omitohud! Sejak dahulu para tosu memang pandai bicara, seperti perempuan, pandai memutarbalikkan kenyataan. Sekarang tidak perlu banyak cakap lagi. Kita adalah orang- orang yang sejak kecil sudah mempelajari ilmu, oleh Karena itu, daripada mengadu lemasnya lidah palsunya kata-kata, mari kita buktikan siapa di antara kita yang lebih jantan dan lebih gagah!" berkata demikian, hwesio yang jadi juru bicara itu bangkit berdiri, diikuti oleh sembilan orang temannya. Melihat ini, sembilan orang tosu juga serentak bangkit dan kedua pihak sudah siap untuk saling hantam dan saling serang untuk menyudahi percekcokan tadi.
Sudah lama sekali terjadi permusuhan antara hwesio dan para tosu. Hal ini terjadi semenjak kuil Siauw-lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Pihak para hwesio selalu menyesalkan peristiwa itu dan karena memang seorang tosu yang menjadi mata-mata pasukan pemerintah, yaitu Cun Bin Tosu yang akhirnya tewas dalam pertempuran para hwesio dan murid Siauw-lim-si, maka di dalam hati para hwesio terkandung dendam kepada para tosu. permusuhan ini semakin lama semakin menjadi sehingga menjadi permusuhan terbuka di mana setiap perjumpaan antara seorang hwesio dengan seorang tosu pasti menimbulkan percekcokan, saling mengejek sehingga berakhir dengan perkelahian. Sudah ada beberapa orang jatuh menjadi korban dalam permusuhan itu.
Akhirnya, para pimpinan hwesio dan para pimpinan tosu mengadakan keputusan untuk mengakhiri permusuhan itu dengan jalan mengadakan pertemuan antara para pimpinan di puncak bukit Kijang itu. Kedua pihak, yaitu para pimpinan yang sudah lebih luas pandangannya dan lebih matang menyerap pelajaran agama masing-masing melihat betapa tidak benarnya permusuhan itu, dan mereka bermufakat untuk mengadakan peremuan di puncak itu. Akan tetapi, kembali mereka dikuasai nafsu dan pertemuan yang dimaksudkan untuk mencari perdamaian itu berakhir dengan percekcokan yang semakin memanas dan akhirnya kedua pihak siap untuk saling serang dan saling bunuh! Betapapun pandainya seseorang, betapapun tinggi ilmunya, pada saat nafsu mencengkeram dan menguasainya, maka akan hilanglah semua pertimbangannya, lenyap semua kebijaksanaannya. Yang ada hanyalah menyalanya nafsu jalang yang menuntut pemuasan melalui kemenangan dan tercapainya keinginan. Nafsu memang terbawa sejak lahir dan nafsu merupakan alat yang amat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya dunia ini. Karena itu, usaha manusia yang melihat betapa berbahayanya nafsu, bermacam-macam. Ada yang berusaha menundukkan nafsu melalui tapa, melalui latihan-latihan pernapasan, samadhi, melalui penyiksaan diri, pengurangan makanan dan sebagainya lagi. Namun, semua, itu masih tidak keluar dari lingkaran nafsu, karena semua usaha itu mengandung suatu keinginan. Hasilnya hanya pengurangan saja, itu pun hanya sementara. Merupakan pengekangan saja terhadap nafsu. Pengekangan ini buka berarti sudah dapat menguasai nafsu sepenuhnya. Usaha melenyapkan nafsu Tidak mungkin! Nafsu tak mungkin dilenyapkan dari kehidupan kita, karena kehidupan ini ada karena nafsu, bagaikan nyala api membutuhkan bahan bakar. Melenyapkan nafsu berarti melenyapkap keadaan badan dan berarti mati! Selama masih hidup, manusia tidak mungkin dapat meninggalkan nafsu. Nafsu itu suatu keperluan untuk hidup. Namun, kalau nafsu dibiarkan menguasai batin, maka dia akan menyeret kita ke dalam penyelewengan. Nafsu adalah anugerah Tuhan, ciptaan Tuhan dan satu-satunya yang dapat mengatur agar nafsu dapat sesuai dengan kehidupan kita, dapat menjadi alat yang baik dan bukan menjadi majikan yang merajalela, yang dapat menundukkannya hanyalah kekuasaan Tuhan! Dan kekuasaan Tuhan dalam diri akan bekerja dengan sempurna kalau kita dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Tuhan, menyerahkan diri de¬ngan ikhlas, dengan penuh ketawakal. Kalau kita membiasakan diri setiap saat teringat akan kekuasaan Tuhan, maka kita pun akan terbimbing oleh kekuasaan yang maha hebat itu. Dan nafsu-nafsu akan menyingkir dan menduduki tempat masing-masing dengan teratur. Tanpa kekuasaan Tuhan, betapapun kita berusaha, maka hasilnya pun hanya akan tipis sekali dan hanya untuk sementara karena usaha kita itu pun hanya di dalam lingkungan akal budi, dan pikiran padahal pikiran dan akal budi sudah bergelimangan dengan nafsu!
Ketika sepuluh orang hwesio dan sembilan orang tosu sudah bangkit diri, kesemuanya sudah dikuasai nafsu amarah dan siap untuk saling serang dan saling membunuh, seorang di antara para hwesio itu berseru dengan suaranya yang lantang.
"Saudara semua, tahan dulu senjata Pinceng hendak bicara!"
Suaranya lantang dan berwibawa, semua hwesio yang melihat siapa yang akan bicara, merangkap kedua tangan depan dada dan berseru. "Omitohud ! dan mereka pun
mundur. Yang bicara itu adalah Thian Gi Hwesio, seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar berusia tujuh puluh tahun, dan dia ter kenal dengan wataknya yang terbuka jujur dan galak. Thian Gi Hwesio tentu saja amat terkenal dan disegani oleh para rekannya karena dia adalah wakil ketua dari kuil Siauw-lim-si yang terbakar itu. Juga para tosu mengenalnya, maka merekapun mendengarkan dengan penuh perhatian, ingin tahu apa yang akan dikatakan hwesio yang Jangkung menjadi korban dalam peristiwa kebakaran Siauw-lim-si itu.
Thian Gi Hwesio melintangkan senjata toyanya dan dia memandang kepada para tosu di depannya. "Para To-yu (Sobat) sekalian. Kita semua sudah melihat bahwa tidak mungkin diadakan perdamaian tanpa adu kepandaian di antara para hwesio dan tosu. Akan tetapi kita pun tahu betapa kelirunya hal ini. Tidak ada permusuhan di antara para tosu dan para hwesio. Mereka itu hanya terseret oleh setia kawanan belaka. Oleh karena itu, kita sebagai golongan lebih tua, sebaiknya tidak membiarkan para murid kita saling hantam dan saling serang tanpa alasan yang sehat. Maka, sekarang pin-ceng maju mewakili para hwesio untuk menyelesaikan urusan pertikaian yang berkepanjangan ini melalui adu kepandaian yang sehat dan adil, seperti yang sudah sepatutnya dilakukan oleh orang-orang yang menjunjung keadilan dan kebenaran. Harap para To-yu mengajuk seorang wakil dari para tosu dan biarlah pertandingan ini akan menentukan siapa di antara kedua golongan yang benar dan lebih kuat. Yang kalah tidak diperbolehkan menuntut balas atau mendendam!"
"Siancai ! Ucapan Thian Gi Hwesio memang tepat,