Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 68

Memuat...

Biarpun tubuh tinggi kurus dari Gan Lok itu tidak mengesankan, kecuali sinar matanya yang menyeramkan dan wajahnya yang bengis, namun Tang Gu It tidak berani memandang rendah. Sebaliknya, melihat munculnya seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang berpakaian ringkas, dengan tubuh yang tegap dan wajah yang berwibawa, Kiu- bwe-houw Gan Lok memandang rendah. "Engkaukah yang bernama Tang Gu It, pemilik toko ini?" tanyanya sambil lalu, sikapnya memandang rendah sekali.

Tadi Tang Gu It sudah mendengar akan guci yang berat itu, dan mendengar betapa dalam segebrakan saja orang ini telah melempar keluar seorang pegawainya yang muda dan kuat. Biarpun dia tidak merasa jerih, akan tetapi dia harus berhati- hati. Dengan sikap hormat dia pun mengangkat kedua tangan ke depan dada.

"Maaf, karena belum pernah berjumpa, maka kami tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya. Kami telah lama mendengar nama besar Kiu-bwe-houw dari Tai-goan dan kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kami. Silahkan Sobat yang gagah masuk saja ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan baik."

Kiu-bwe-houw Gan Lok mengerutkan alisnya. "Aku bukan datang untuk mengobrol atau berkenalan denganmu. Aku datang untuk minta agar guciku ini kau penuhi dengan perak, baru aku akan pergi dengan damai!"

Tentu saja Tang Gu lt merasa penasaran. Sikap orang ini sungguh keterlaluan. "Sobat yang baik, dengan alasan apakah kami harus memenuhi guci ini dengan uang perak? Kami ingin menerimamu sebagai seorang tamu baik-baik, akan tetapi engkau menolak. Nah, kalau begitu, kami persilakan engkau keluar dari toko kami karena kami tidak mempunyai urusan apa pun denganmu!" Sikap Tang tiu It berwibawa sekali dan mau tidak mau Kiu-bwe-houw Gan Lok agak berkurang kecongkakannya. Dia melihat betapa ruangan di toko itu sempit, penuh dengan barang dagangan, maka kalau sampai dia dikeroyok, akan merugikan dirinya. Sambil menyeringai dia pun melangkah keluar.

"Ha-ha, engkau ingin bicara di luar? Baik, mari kalau engkau ingin tahu mengapa aku datang minta derma seguci uang perak!" Dengan langkah lebar Si Harimau Ekor Sembilan keluar dari toko. Di luar toko sudah berkumpul banyak penonton yang tertarik melihat ribut-ribut di dalam toko itu. Ketika melihat Si Pengacau itu keluar, para penonton segera menjauh. Di antara para penonton itu Han Beng dan Hui Im. Mereka, baru tiba, akan tetapi begitu melihat ada keributan di toko yang menurut keterangan orang-orang adalah milik Tang Cu It, keduanya tidak masuk dan hanya menonton di luar.

Kini Gan Lok sudah berhadapan dengan Tang Gu It di luar toko. Memang Tang Gu It juga menghendaki agar keributan tidak terjadi di dalam toko. Kalau sampai terjadi' perkelahian di dalam toko, tentu hanya akan merugikan dirinya, barang- barang di tokonya dapat menjadi rusak.

"Nah, Sobat. Sekarang katakan mengapa engkau datang memaksa kami untuk memberi sumbangan seguci uang perak!" Tang Gu It menegur pengacau itu.

Gan Lok tidak segera menjawab, melainkan menoleh ke kanan kiri seolah-olah endak menyatakan kepada tuan rumah bahwa amat tidak baik kalau percakapan tu didengarkan orang lain. "Tang Gu It, erlukah kujelaskan itu? Sebaiknya kalau gkau memenuhi guciku dengan perak, an aku akan pergi tanpa banyak rewel lagi. Kalau kuberitahu sebabnya, engkau sekeluarga akan celaka! Ingat akan apa yang terjadi di kota raja, yang menimpa keluarga Souw!" berkata demikian, an Lok memberi isarat dengan kedipan mata. Mendengar itu, berubah wajah Tang Gu It. Apa yang dikhawatirkannya terjadi! Ada orang yang hendak memerasnya karena pembasmian keluarga Souw di kota raja yang dituduh pemberontak. Timbul kemarahan di dalam hatinya. Orang ini adalah seorang penjahat, seorang pemeras tak tahu malu.

"Kiu-bwe-houw, sungguh tidak kusangka bahwa orang yang sudah memiliki nama besar seperti engkau, tiada lain hanyalah seorang pemeras yang tak tahu malu!" bentaknya.

Kiu-bwe-houw Gan Lok tertegun. Tak disangkanya bahwa orang she Tang itu demikian beraninya. Dia sudah memperhitungkan bahwa Tang Gu It tentu akan ketakutan kalau dia menyebut tentang peristiwa yang menimpa keluarga Souw. Tak tahunya, orang she Tang itu malah memakinya!

Sementara itu, Souw Hui Im terkejut mendengar ucapan orang tinggi kurus yang membawa pecut ekor sembilan di punggungnya itu, yang menyinggung tentang keluarga Souw di kota rajai Ia memegang lengan Han Beng, akan tetapi pemuda ini memberi isarat agar ia diam saja dan hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Tang Gu It! Masih berani engkau membuka mulut besar? Apakah engkav menghendaki aku membuka rahasia bahwa engkau adalah keluarga dari pemberontak yang ditumpas pemerintah?"

Tang Gu It menjadi marah. Dia bertolak pinggang lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Kiu-bwe-houw Gan Lok. "Kiu-bwe-houw Gan Lok! Tidak perlu dirahasiakan lagi. Memang orang she Souw di kota raja adalah iparku! Akan tetapi apakah dia pemberontak tau bukan, bukan urusanku dan aku sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan itu! Dia tinggal di kota raja dan aku tinggal di kota ini! Tidak perlu engkau memeras dan mengancam, dan kalau engkau tidak cepat pergi mem¬bawa gucimu itu, terpaksa aku akan menghajarmu sebagai seorang pengacau!"

"Ayah, serahkan saja babi tua ini kepadaku!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dari dalam rumah muncul lah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Pemuda itu tinggi tegap dan wajahnya jantan. Itulah Tang Ciok An, putra tunggal dari Tang Gu It, seorang pemuda yang tampan dan gagah, dengan kaian yang serba bersih dan rapi, terbuat dari kain sutera yang mahal. Tang Ciok An sudah mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaian ayahnya dan di kota Pei-shen dia terkenal sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan sukat dicari tandingnya. Sekali melompat, Ciok An yang usianya sudah dua puluh lima tahun itu telah berada di depan Kiu-bwe-houw Gan Lok. Sikapnya angkuh dar memandang rendah lawan, pandang matanya penuh wibawa ketika pemuda perkasa ini menghadapi orang tinggi kuru itu.

"Hemmm, engkaukah yang berjuluk Kiu-bwe-houw Gan Lok? Kudengar tadjj engkau mengancam dan memeras Ayahlj Sungguh engkau seperti orang yang buta tuli, tidak mendengar siapa Ayahku dan tidak melihat bahwa kami adalah orang

baik-baik dan kami bukanlah pengecut yang mudah kau gertak! Hayo kau cepat pergi dari sini!"

Melihat munculnya pemuda itu, berdebar rasa jantung dalam dada Hui Ini Ia pernah satu kali melihat Ciok tunangannya dan ia tidak lupa. Itu! tunangannya! Sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa yang matang, yang gagah perkasa dan ganteng! Tidak kalah ganteng dan gagahnya dibandingkan Han Beng! Bahkan pakaiannya jauh lebih mewah dan rapi. Sementara itu, Han Beng juga sudah dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah tunangan Hui Im. Diam-diam dia merasa kagum dan bersukur. Hui Im mempunyai seorang tunangan yang demikian tampan dan gagah perkasa! Dibandingkan dengan dirinya sendiri, kalau pemuda itu dapat diumpamakan seekor merak, dia sendiri hanyalah seekor burung gagak!

"Dia meninggalkan guci kosong di dalam toko!" kata Tang Gu It sambil memandang kepada puteranya dengan bangga.

"Ah, begitukah? Biar kuambil barangnya itu!" kata Ciok An, melangkah ke dalam toko. Semua orang memandangnya, apalagi para pegawai toko yang tadi sudah merasakan sendiri betapa beratnya guci kosong itu.

Melihat bentuk guci, Ciok An dapat menduga bahwa guci itu tentu berat sekali. Maka dia pun sudah siap sedia, Mengerahkan tenaga di dalam kedua tangannya, lalu sekali tarik, dia berhasil mengangkat guci itu. Memang terasa berat sekali olehnya, namun dia mengerahkan tenaga, menahan napas dan mengangkat guci itu tinggi-tinggi, membawanya keluar. Para pegawai toko bersorak dan bertepuk tangan memujinya,

"Nih barangmu, ambillah!" bentak Ciok An sambil melemparkan guci yang berat itu kepada pemiliknya. Kiu-bwe- houw Gan Lok menerima guci kosong itu yang dilontarkan oleh Ciok An. Melihat cara dia menyambut guci berat itu, diam-diam Han Beng mengkhawatirkan keselamatan tunangan Hui Im itu, karena dia dapat mengukur dan menduga bahwa orang tinggi kurus itu memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan tunanga Hui Im.

Biarpun hatinya agak gentar melihat betapa pihak tuan rumah ayah dan anak tidak merasa takut akan ancaman dari usahanya melakukan pemerasan, namun Gan Lok tidak mau mundur begitu saja. Dia sudah terlanjur menjual lagak, kini banyak orang menyaksikan di depan toko, walaupun dalam jarak yang aman dan cukup jauh. Setidaknya, dia harus mampu mengalahkan pemuda sombong ini, pikirnya.

"Hemmm, agaknya keluarga Tang sudah nekat!" katanya lantang. "Tunggu saja kalau pasukan pemerintah datang dan membasmi kalian sebagai keluarga pemberontak!"

"Manusia busuk!" bentak Ciok An arah sambil melangkah maju. "Tidak perlu banyak cerewet. Kalau memang engkau berani, tidak perlu mengancam kami dengan fitnah dan pemerasan! Hayo hadapi aku sebagai laki-laki, kalau memang engkau benar Harimau Berekor Sembilan! Kalau tidak berani, lebih baik kaugulung ekor-ekormu itu dan berjuluk Harimau Ompong dan Buntung!"

Ucapan Ciok An ini memancing gelak tawa orang-orang yang mendengarnya. Diam-diam Han Beng mengerutkan alisnya. Hemmm, pemuda ini agak terlalu mengangkat diri sendiri dan merendahkan orang lain. Sikap angkuh itu sungguh tidak akan menguntungkan dirinya. "Hemmm !" la mengeluarkan suara tak puas. "Apa, Twako? Ada apakah?"

Pertanyaan Hui Im itu menyadarkan Han Beng dan mukanya berubah merah. Ih, kenapa dia merasa tidak senang dan mencela pemuda yang menjadi tunangan Hui Im itu? Cemburukah? Iri hatikah?

"Uhhh, tidak apa-apa, Siauw-moi, hanya lihat. itu

tentu tunanganmu, dia sungguh gagah perkasa!"

Post a Comment