"Benar sekali!" kata Ibunya. "Memang sejak dulu aku pun kurang setuju dia menikah cengan adik misan sendiri. Kata orang tua, hal ini hanya akan mendatangkan bencana. Dan lihat saja, bencana telah menimpa keluarga Souw!"
Mendengar ucapan putera dan isterinya, Tang Gu It mengibaskan tangannya dan berkata dengan nada suara jengkel, "Sudahlah, sudahlah, jangin ribut. Urusan ini gawat sekali, dan dapat saja kita tersangkut. Kalian diam saja dan menanti, aku akan menyuruh orang un¬tuk melakukan penyelidikan ke kota raja.”
Apa yang dikhawatirkan Tang Gu It memang terjadi. Dua hari kemudian, pada suat u hari di tokonya muncul orang laki- laki tinggi kurus, berusia kurang lebih enam puluh tahun. Pakaiannya ringkas seperti pakaian orang di dunia kang-ouw, apalagi di punggungnya terdapat sebatang pecut ekor sembilan dan sikapnya serius sekali. Dia membawa sebuah guci dari besi yang bermulut lebar dan guci yang cukup besar itu ditempelkan tulisan bahwa dia adalah seorang pengumpul derma! Biasanya, yang mengumpulkan derma seperti itu hayalah para pendeta dan pengurus perkumpulan sosial, akan tetapi laki-laki ini tidak memperlihatkan bahwa dia seorang pendeta, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia seorang pengurus perkumpul tertentu yang mengharapkan bantuan sukarela dan para hartawan.
"Krekkkkk!" Kaki meja di toko itu mengeluarkan bunyi hampir patah-patah ketika dia meletakan guci itu di atas meja.
"Heiiiii, jangan taruh benda berat itu di situ!" teriak seorang pegawai toko. "Turunkan saja!"
Melihat betapa laki-laki tinggi kurus itu sama sekali tidak bergerak un¬tuk menurunkan gucinya, hanya berdiri seperti patung membisu, Si Pegawai toko lalu menghampiri dan mencoba untuk menurunkan guci itu. Akan tetapi, benda itu sama sekali tidak bergerak saking beratnya! Beberapa kali dia mengerahkan tenaga namun sia-sia belaka.
"A-kiu, bantu aku menurunkan benda ini. Meja kita bisa runtuh kalau tidak diturunkan!" teriaknya kepada .seorang temannya. Dua orang pegawai itu mengerahkan tenaga dan mencoba, akan tetapi tetap saja benda itu tidak bergerak! Bukan main beratnya benda itu! Pengurus toko, seorang laki-laki ber¬usia enam puluhan, kepercayaan Tang Gu It, segera menghampiri dan memberi isarat kepada dua orang bawahannya untuk mundur. Dia tahu bahwa laki-laki tinggi kurus ini tentu seorang kang-ouw yang hendak minta derma, maka dia pun merangkap kedua tangan ke depan dada memberi hormat.
"Harap maafkan dua orang pembantu kami. Tidak tahu siapakah Ho-han (Pendekar) dan apa puia keperluan Ho-han berkunjung ke toko kami? Harap jelaskan agar kami dapat menyampaikan kepada majikan kami."
Orang itu agaknya senang disebut ho-han (sebutan pendekar atau patriot) akan tetapi masih bersikap angkuh. "Hemmm, di mana Tang Gu It? Suruh dia keluar bicara dengan aku!"
Melihat sikap ini, tentu saja para pegawai di toko itu menjadi tidak senang. Akan tetapi, pengurus itu menyabarkan mereka dan dia pun tidak ingin majikannya harus turun tangan sendiri menghadapi peristiwa yang dianggapnya hanya gangguan kecil ini. Dia akan mengatasinya sendiri.
"Ho-han datang membawa guci untuk minta derma? Baiklah, kami akan menderma. Nah, ini sumbangan kami, kiranya cukup banyak dan tidak kalah dibandingkan sumbangan para pemilik toko lainnya." Dia mengeluarkan dua potong uang perak dan memasukkannya ke dalam guci. Suara nyaring dari dua potong perak itu menunjukkan bahwa guci itu masih kosong!
Laki-laki tinggi kurus itu mengerutkan alis, matanya memandang beringas dan dia mengeluarkan dua potong perak itu dari dalam guci, mengamatinya dan berkata, "Kalian kira aku Kiu-bwe-houw (Harimau Ekor Sembilan) datang untuk mengemis? Aku bukan mengemis!" Dia lalu menekan dua potong perak itu ke atas meja kayu tebal dan potongan perak itu melesak masuk ke dalam kayu sampai rata dengan permukaan meja!
Melihat ini, para pegawai menjadi panik dan pengurus toko menjadi pucat mukanya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, mereka adalah pegawai-pegawai dari seorang ahli silat yang terkenal, maka biarpun mereka tidak pandai silat, hati mereka cukup besar. Pengurus itu lalu memberi hormat pula.
"Aih, Sobat yang baik. Kalau memang kurang, biarlah kami tambah lagi. Berapa yang kau butuhkan, Ho-han?"
"Penuhi guci ini dengan perak!" kata orang yang berjuluk Kiu-bwe-houw itu. Para pembaca tentu masih ingat kepada orang ini. Dia adalah Kiu-bwe-houw Can Lok, seorang jagoan besar dari Taigoan yang amat terkenal di dunia kang-ouw, terutama sekali senjatanya berupa cambuk ekor sembilan dan cakar harimaunya. Dialah seorang di antara mereka yang pernah memperebutkan anak naga di pusaran maut Sungai Kuning (Huang-ho) akan tetapi telah gagal karena "anak naga" itu jatuh ke tangan Si Han Beng, Bu Giok Cu, dan Liu Bhok Ki. Sebagian besar darah anak naga itu disedot dan diminum oleh Han Beng, sebagian lagi oleh Giok Cu, dan kepalanya dimakan oleh Liu Bhok Ki sehingga menyembuhkan luka beracun yang dideritanya.
Kiu-bwe-houw Gan Lok adalah seorang jagoan, sebetulnya bukan seorang yang pekerjaannya merampok atau mencuri. Sama sekali tidak. Dia menganggap dirinya seorang datuk yang ditakuti dan dia tidak mau melakukan pekerjaan rendah sehingga dia akan dicap perampok, pencuri atau penjahat. Akan tetapi, kalau dia membutuhkan uang, dia datangi saja orang-orang kaya dan dia minta begitu saja dengan ancaman! Sekarang ini, dia membutuhkan banyak uang karena dia sudah merasa tua dan, ingin mengundurkan diri, hidup berkecukupan dengan uang yang besar jumlahnya. Selagi dia mencari jalan bagaimana untuk memperoleh uang banyak tanpa sukar, tiba-tiba saja dia mendengar bahwa hartawan Tang Gu It adalah masih terhitung ipar bahkan calon besan dari Souw Kun Tiong di kota raja, yang dicap pemberontak dan kaki tangan Siauw-lim-pai oleh pemerintah. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan dan pada pagi hari itu dia pun muncul di toko milik keluarga Tang dan menuntut uang sumbangan yang amat banyak!
Mendengar bahwa orang itu menuntut sumbangan perak seguci penuh, semua pegawai di toko itu terbelalak. Pengurus itu pun menjadi pucat wajahnya, dan maklumlah dia bahwa orang ini memang datang untuk mencari gara-gara! Bagaimana mungkin memenuhi guci besar itu dengan perak? Mungkin kalau separuh isi toko dijual, belum tentu bisa memenuhi guci itu dengan perak' Jumlah yang amat besar, cukup untuk modal berdagang sedikitnya tentu akan muat lima ratus tail!
"Aih, Sobat yang baik! Harap jangan main-main! Mana mungkin kami memberi sedekah sebanyak itu? Kami tidak mempunyai perak sebanyak itu!" katanya. Kiu-bwe houw mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar marah penuh ancaman. "Kalian ini pegawai-pegawai yang tidak tahu apa- apa, jangan banyak cerewet lagi. Penuhi guci ini dengan perak. Kalau kalian tidak memilikinya, panggil keluar Tang Cu It. Dia harus memenuhi guci ini dengan perak murni, atau kalau tidak, keluarga ini akan kuhancurkan!"
Mendengar ucapan ini, seorang pegawai muda yang pernah belajar silat menjadi marah. Dia berusia dua puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar dan dia memiliki tenaga tiga kali orang biasa. Dia baru saja datang melaksanakan tugas luar dan mendengan ucapan itu, dia men¬adi marah sekali.
"Hem, engkau ini sungguh kurang ajar! Mana ada aturan orang minta-minta sumbangan melebihi rampok seperti itu? Hayo pergi kau!"
Kiu-bwe houw mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar marah penuh ancaman. "Kalian ini pegawai-pegawai yang tidak tahu apa-apa, jangan banyak cerewet lagi. Penuhi guci ini dengan perak. Kalau kalian tidak memilikinya, panggil keluar Tang Cu It. Dia harus memenuhi guci ini dengan perak murni, atau kalau tidak, keluarga ini akan kuhancurkan!"
Mendengar ucapan ini, seorang pegawai muda yang pernah belajar silat menjadi marah. Dia berusia dua puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar dan dia memiliki tenaga tiga kali orang biasa. Dia baru saja datang melaksanakan tugas luar dan mendengan ucapan itu, dia menjadi marah sekali.
"Hem, engkau ini sungguh kurang ajar! Mana ada aturan orang minta-minta sumbangan melebihi rampok seperti itu? Hayo pergi kau!"
Melihat pemuda tinggi besar itu, Kiu-bwe-houw Gan L ok tersenyum mengejek, memperlihatkan giginya yang sudah - anyak rusak. "Hemmm, kalau aku tidak mau pergi sebelum guci ini dipenuhi I erak, kau mau apa?"
"Aku akan melemparkanmu keluar seperti ini!" Pemuda itu menggerakkan dua lengannya yang besar dan berotot untuk menangkap pundak laki-laki tua yang tinggi kurus itu. Gan Lok tidak mengelak sehingga kedua pundaknya dicengkeram pemuda itu yang mengerahkan tenaga untuk mengangkat tubuhnya dan dilemparkan keluar. Akan tetapi, terjadi keanehan! Sedikit pun tubuh yang tinggi kurus itu tidak bergerak walaupun Si Pemuda Tinggi Besar sudah mengerahkan semua tenaganya.
"Hemmm, tikus sombong, pergilah kau!" terdengar Kiu-bwe- houw Gan Lok berseru, kedua tangannya yang kecil bergerak cepat, menepuk punggung pemuda itu yang menjadi lemas seketika dan tiba-tiba saja jagoan dari Tai-goan itu telah mengangkat Si Pemuda dan melemparkannya keluar toko. "Brukkkkk!" Tubuh pemuda tinggi besar itu terbanting keluar toko! Ancaman pemuda itu kini berbalik, bukan Kiu-bwe-houw Gan Lok yang dilempar keluar, melainkan dia sendiri!
Gegerlah di toko itu. Semua pegawai berlari keluar, bukan hanya untuk mej nolong pemuda tadi, melainkan untuk menjauhi Si Tinggi Kurus yang ternyat amat lihai itu. Sang Pengurus toko sudah lari menyelinap ke dalam rumah belakang toko memberi laporan.
Kiu-bwe-houw Gan Lok masih berdiri di dekat meja di mana berdiri pula gucinya yang tinggi besar dan berat ketika Tang Gu It memasuki tokonya. Tang Gu It tadi terkejut mendengar peristiwa di dalam tokonya, apalagi ketika mendengar bahwa perusuh itu mengaku berjuluk Kiu-bwe-houw! Sebagai seorang ahli silat yang banyak mengenal tokoh-tokoh dunia kang-ouw, tentu saja dia pernah mendengar nama jagoan Tai-goan ini walaupun belum pernah melihat orangnya. Dia pun merasa heran mengapa tiada hujan tiada angin, tokoh kang-ouw itu mengganggu dia, padahal di antara mereka tidak ada hubungan atau urusan apa pun juga. Dengan hati-hati dia pun memasuki tokonya.
Kini kedua orang itu saling berhadapan dan saling pandang sejenak, sementara itu para pegawai toko hanya melihat dari kejauhan. Tentu saja mereka semua mengharapkan majikan mereka yang terkenal lihai akan memberi hajaran kepada pemungut derma yang kurang ajar itu.