Jahanam keparat busuk!
Bi Lan menepuk ujung meja di depannya sehingga remuk dan ia bangkit, mengepal tinju
Kalau saja penculik Lan Lan itu berada di situ, te ntu akan diserangnya, diremukkan kepalanya, dipatahkan tulang le hernya! Karena tidak ada orang yang dapat ia jadikan sasaran kemarahannya, Bi Lan lalu melempar diri ke atas pembaringan dan menangis.! Sejak kematian suaminya, baru sekarang ia menangis dalam arti kata yang sesungguhnya
Menangis karena ia merasa betapa nelangsa hatinya, betapa sunyi hidupnya, betapa ia membutuhkan seorang yang dekat dengannya, yang mencintanya dan dicintanya
Ia tadinya sudah mendapatkan cinta itu dalam diri Lan Lan, akan tetapi kini pada saat ia menemukan lagi cinta yang le bih sempurna, dalam diri pute ra mahkota, kedua orang yang amat dicintanya itu te rancam bahaya maut
Seorang di antara mereka harus mati
Dan lebih hebat lagi, mati di tangannya! Apa yang harus ia lakukan
Tiga hari tidaklah lama dan bagaimana ia dapat mengatasi keadaan ini! Hampir saja ia menengok kepada Siauw Can, akan tetapi mengingat perbuatan Siauw Can kepadanya di malam itu, ia bergidik
Jangan-jangan kalau dimintai tolong, Siauw Can bahkan akan mengajukan syarat yang membuat ia akan menjadi semakin bingung, dan belum te ntu Siauw Can akan mampu menolongnya
Apakah demi keselamatan Lan Lan ia harus membunuh pute ra mahkota dengan racun itu
Ah, tidak, tidak!!
Aduh, pangeran, apa yang harus hamba lakukan..........!?
Bi Lan menangis di depan Pangeran Li Si Bin yang memandang dengan mata te rbelalak kepada wanita yang berlutut di depan kakinya itu
Sikap seperti itu sungguh tak pernah dapat dibayangkannya
Bi Lan yang biasanya demikian gagah perkasa, kini menangis dan berlutut di depan kakinya seperti seorang wanita le mah yang cengeng.! Akan te tapi timbul kekhawatiran juga di hati pangeran ini
Kalau sampai seorang wanita gagah perkasa seperti Bi Lan bersikap selemah itu tentu ada sebab yang amat hebat
Bi Lan, tenanglah dan ceritakan, apa yang te lah terjadi sehingga engkau yang biasanya gagah perkasa bersikap selemah ini?
Silakan paduka membacanya sendiri, pangeran.
Bi Lan menyerahkan bungkusan itu dengan tangan gemetar kepada Putera Mahkota
Pangeran Li Si Bin yang masih merasa heran itu menerima bungkusan dan membaca tulisannya
Wajahnya berubah agak pucat dan dia menaruh bungkusan itu ke atas meja, lalu memandang kepada wanita yang masih berlutut dengan muka ditundukkan, masih terisak menangis itu
Bi Lan, engkau te ntu amat mencinta Lan Lan, pute rimu itu, bukan?
Bi Lan mengangkat mukanya yang pucat dan air mata masih mengalir membasahi kedua pipinya
Pangeran, sungguhpun Lan Lan hanya anak angkat hamba, namun hamba mencintanya seperti anak kandung hamba sendiri.
Pangeran itu membelalakkan mata
Ini kenyataan baru yang mencengangkan hatinya te ntang wanita ini
Anak angkat
Jadi ia bukan anak kandung Rajawali Sakti, mendiang suamimu?
Bi Lan menggele ng kepala,
Ia adalah anak angkat hamba, pangeran
Akan tetapi hamba mencintainya dan hamba siap mempertaruhkan nyawa hamba untuk menyelamatkannya.
Hemm, kalau begitu, Bi Lan, kenapa engkau membawa surat dan racun ini kepadaku
Untuk menyelamatkan anak angkatmu itu, kenapa tidak kau lakukan saja perintah dalam surat itu.?
-ooo0dw0ooo-
Pangeran...........aihhh, pangeran..., kenapa paduka berkata demikian
Hamba diharuskan membunuh paduka dengan racun
Lebih baik hamba yang mati!
Pangeran Li Si Bin memandang dengan mulut te rsenyum dan wajah berseri, pandang matanya le mbut dan mes ra
Bi Lan, engkau mempertaruhkan nyawamu untuk keselamatan Lan Lan karena engkau mencintanya, lalu engkau le bih baik mati daripada membunuhku untuk menyelamatkan Lan Lan
Apakah ini berarti bahwa engkaupun cinta padaku?
Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Bi Lan te rsipu
Pangeran, mana hamba...berani...?
Ia te rgagap dan pada saat itu Pangeran Li Si Bin sudah membungkuk, merangkul pundaknya dan menariknya bangkit berdiri, lalu pangeran itu mendekap wajahnya dalam rangkulan
Bi Lan menyerah saja dan sejenak ia menangis di dada pangeran itu
Pangeran Li Si Bin membiarkannya sejenak, lalu dituntunnya Bi Lan dan disuruhnya duduk di kursi berhadapan dengan dia
Duduklah, dan te nangkan hatimu
Sejak berte mu, akupun sudah amat kagum kepadamu, dan sejak engkau menyelamatkan aku dari racun yang disuguhkan bekas thai-kam itu, aku sudah jatuh cinta padamu, Bi Lan
Nah, setelah kita mengetahui perasaan hati masing-masing, mari kita bicara te ntang Lan Lan dan ancaman si penculik
Jangan khawatir, aku mempunyai akal untuk menyelamatkan puterimu itu.
Pangeran Li Si Bin mengajak Bi Lan memasuki kamar yang aman, tidak akan te rdengar orang lain percakapan mereka dan di te mpat ini mereka berbicara dengan serius
Bi Lan mendengarkan siasat yang diatur oleh pangeran itu
Pangeran Li Si Bin adalah seorang panglima, seorang ahli siasat yang pandai, maka menghadapi ancaman surat itupun dia bersikap tenang dan dingin, dan menemukan cara untuk menanggulangi dan mengatasinya
Hati Bi Lan le ga bukan main setelah ia keluar dari istana pada sore hari itu
Bukan saja ia telah mendapatkan ketenangan karena siasat yang diatur oleh pute ra mahkota, akan tetapi juga ada sinar kebahagiaan di pancaran matanya, karena pengakuan pute ra mahkota yang juga mencintanya! Suasana di istana tercekam kegelisahan
Betapa tidak
Putra mahkota, juga panglima besar, Pangeran Li Si Bin, jatuh sakit parah.! Sambil berbisik-bisik semua penghuni istana membicarakannya
Terpetik berita dari tabib yang menangani perawatan putera mahkota bahwa pangeran itu telah keracunan hebat dan sukar disembuhkan
Bahkan Kaisar dan permais uri, juga para selir menjadi gelisah
Hanya tiga orang saja yang tahu bahwa putera mahkota hanya pura-pura sakit! Memang, dia pucat sekali dan nampak sakit berat, akan tetapi semua itu akibat obat yang diberikan tabib kepadanya
Hanya Pangeran Li Si Bin, Bi Lan, dan sang tabib kepercayaan sajalah, yang tahu bahwa putera mahkota sebenarnya tidak menderita penyakit apapun juga
Dia sehat-sehat saja
Akan tetapi selain mereka bertiga, semua orang percaya bahwa pute ra mahkota sakit berat, keracunan dan bahkan agaknya tidak dapat disembuhkan lagi! Pada malam hari ke tiga, ketika Pangeran Li Si Bin rebah seperti orang pingsan, dengan muka pucat sekali, ditunggui tabib yang tidak memperkenankan orang lain mendekat, masuklah seorang thai-kam yang berlutut di ambang pintu itu
Tabib Song yang tua dan te rkenal pandai itu mengerutkan alisnya dan memandang thai-kam itu
Hemm, mau apa engkau masuk ke sini
Jangan mengganggu sang pangeran!
Maafkan hamba, Tabib Mulia,
kata thai-kam (orang kebiri) itu dengan suara gemetar,
Hamba diutus oleh Permaisuri untuk menengok keadaan Putera Mahkota.
Keadaannya gawat dan jangan diganggu!
kata pula tabib itu dan di ambang pintu, para pengawal sudah siap dengan tombak dan pedang mereka untuk mengusir thai-kam itu kalau menerima perintah dari tabib
Dalam keadaan seperti itu, kaisar sendiri yang memberi kekuasaan sepenuhnya kepada tabib untuk menjaga dan merawat pute ra mahkota, dan siapapun harus tunduk kepada sang tabib
Maafkan hamba........akan tetapi Sang Permaisuri mengutus hamba untuk melihat keadaan Pangeran dan menanyakan bagaimana keadaannya, apakah masih ada harapan........ampun, hamba hanya utusan........
Dan thai-kam itu merangkak mendekat
Tabib yang sudah menjalankan siasat seperti yang diatur oleh pute ra mahkota sendiri membiarkan thai-kam itu mendekat dan membiarkan thai-kam itu mengangkat muka memandang kepada sang pangeran yang rebah te rlentang seperti mayat
Hemm, kalau begitu laporkan kepada Hong houw (Permais uri) bahwa keadaan Pute ra Mahkota amat gawat
Lihat saja, wajahnya semakin pucat dan kebiruan, itu tanda bahwa racunnya masih bekerja dan biarpun aku sudah berusaha memberi obat penawar, tetap saja hawa beracun itu tidak dapat diusir semua
Ludahnya berwarna hitam dan matanya merah, napasnya te rengah
Laporkan kepada Sang Permaisuri bahwa agaknya pute ra mahkota tidak dapat te rtolong lagi, mungkin tinggal satu dua hari lagi........
Thai kam itu menahan tangisnya, lalu mengundurkan diri dari kamar itu
Dia te risak ketika keluar dan mele wati penjaga yang mengawal di luar pintu kamar, sehingga semua orang menganggap dia seorang thai-kam yang setia dan mencitai pute ra mahkota sehingga tidak dapat menahan kesedihannya ketika menjenguk dan melihat keadaan sang pangeran yang sedang sakit payah itu
Mulai malam itu, tiada seorangpun diperbolehkan memasuki kamar itu yang selalu ditutup, dengan alasan bahwa keadaan penyakit sang pangeran s udah terlalu gawat, sehingga sama sekali tidak boleh diganggu
Hanya tabib itu saja yang diperbolehkan menjaga di dalam kamar, sedangkan di luar kamar, penjagaan pengawal diperketat
Sementara itu, Bi Lan setiap hari menangis di istana Pangeran Li Siu Ti
Pangeran Tua inipun hanya pada hari pertama pute ra mahkota jatuh sakit saja diperbolehkan menengok
Siauw Can beberapa kali datang untuk menghibur Bi Lan dan bertanya mengapa wanita itu demikian berduka
De ngan singkat Bi Lan berkata,
Bagaimana aku tidak akan berduka
Lan Lan diculik penjahat, dan kini Putera Mahkota yang kuharapkan dapat membantuku mencari Lan Lan, jatuh sakit.........
Bi Lan menangis sambil menundukkan mukanya dan ia tidak melihat betapa Siauw Can te rsenyum puas
Masih ada aku di sini, Lan-moi
Akulah yang akan membantumu mencari Lan Lan sampai dapat.
Kalau benar begitu, pergilah dan cari Lan Lan, bukan bicara saja di sini
Pergi dan jangan ganggu aku.
Siauw Can meninggalkannya dan Bi Lan cepat menghentikan tangisnya
Ia hanya menangis kalau ada orang lain melihatnya, karena tangisnya ini hanya merupakan pelaksanaan siasat yang diatur oleh pute ra mahkota
Sekarang sudah hari ke tiga dan ia harus siap-siaga karena orang yang menculik Lan Lan te ntu akan mengembalikan Lan Lan setelah mendengar bahwa sang pangeran menderita sakit keracunan hebat
Tidak sukar baginya untuk menangis, karena bagaimanapun juga ia memang bersedih karena Lan Lan diculik
Dan sekarnag ia sudah siap siaga untuk menangkap penculik itu kalau Lan Lan dikembalikan
Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada berita dari penculik itu
Bi Lan sudah hampir putus asa ketika tiba-tiba ia mendengar suara Lan Lan memanggilnya dari arah belakang, dari taman