Baik, Pangeran.
Katanya
Setelah Pangeran Li Si Bin meninggalkan ruangan belajar silat itu, Bi Lan melamun dan akhirnya ia membubarkan para muridnya, karena ia tidak dapat memusatkan lagi perhatiannya
Ia lalu pergi ke taman bunga yang amat luas di bagian belakang is tana
Karena mendapat kepercayaan Putera Mahkota, apalagi karena semua petugas mengenalnya sebagai guru dan pelatih para dayang, Bi Lan sudah biasa berjalanjalan di taman dan tidak ada seorangpun petugas yang melarangnya
Perasaan hatinya terguncang oleh undangan makan siang Pangeran Li Si Bin
Sampai lama dia te rmenung, duduk di te pi kolam ikan emans, agak te rlindung dan te rsembunyi di balik semak berbunga
Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang
Sebagai seorang ahli silat yang sudah bertualang di dunia persilatan, sudah te rbiasa menghadapi bahaya, Bi Lan sudah waspada dan cepat ia menyelinap di balik semak dan mengintai
Bayangan itu mencurigakan sekali
Kalau orang itu seorang tukang kebun atau petugas istana, tentu gerakannya tidak se perti itu
Orang itu berloncatan dari pohon ke pohon, bersembunyi, kadang berjongkok di balik semak, menuju ke dapur yang te rletak di bagian belakang bangunan yang menjadi ruangan makan
Dari dapur, para petugas, yaitu para dayang dan para thai-kam (laki-laki kebiri) yang bertugas membawa hidangan ke kamar makan, akan melalui lorong pendek dari dapur ke ruangan makan yang je ndelanya menghadap ke taman itu
Melihat bayangan itu menyelinap masuk ke dalam dapur melalui jendela dengan gerakan ringan, Bi Lan semakin curiga
I a lalu mengintai ke dalam dapur melalui je ndela
Agaknya hidangan sudah dikeluarkan dan dapur itu nampak sunyi
Ia melihat orang tadi berdiri di dekat pintu
Ia tidak mengenal laki-laki itu yang bertubuh gendut pendek, usianya kurang le bih tigapuluh tahun, wajahnya tampan dan kulit mukanya halus tanpa kumis dan jenggot
Tak lama kemudian, dari pintu dapur masuklah seorang thai-kam yang biasa bertugas membawa hidangan dari dapur ke ruangan makan
Ketika thai-kam itu melihat lakilaki itu, dia kelihatan terkejut
Akan tetapi, si gendut itu sudah menangkap pergelangan tangan thai-kam itu dan bertanya dengan suara mendesis,
Sudah kau hidangkan guci arak itu?
Sudah, akan tetapi kenapa engkau memaksa aku untuk menghidangkan guci arak yang itu
Aku tidak mengerti dan.....................
Pada saat itu, si gendut sudah menggerakkan tangannya dan sebatang pisau menancap ke dada thai-kam itu dan sebelum dia sempat mengeluarkan suara, si gendut sudah menotok lehernya, sehingga dia te rkulai roboh tanpa dapat bersuara lagi
Heiiii, apa yang kau lakukan itu?
bentak Bi Lan sambil membuka daun je ndela
Akan tetapi, orang gendut itu tidak menjawab, bahkan cepat melompat bagaikan seekor rusa, melarikan diri keluar dari dapur itu ke dalam taman
Melihat ini, Bi Lan segera lari mengejar dan dengan mudah saja ia dapat menyusul
Orang gendut itu tiba-tiba membalik dan di tangannya sudah terdapat dua batang pisau seperti yang tadi dia pakai membunuh thai-kam di dapur
Diapun cepat menggerakkan kedua pisau itu menyerang Bi Lan! Akan tetapi betapa kuat dan cepat gerakan serangan kedua pisau itu, bagi Bi Lan masih te rlalu lambat, sehingga dengan amat mudahn ya ia mengelak mundur dan ketika sepasang pisau itu menyambar le wat dari kanan dan kiri, kakinya mencuat dan menendang kea rah lutut kiri penyerangnya
Akan te tapi, ternyata penyerangnya itupun bukan orang lemah
Dia mampu meloncat ke samping sehingga te ndangan itu luput, dan kembali dia menubruk ke depan, menggerakkan sepasang pisaunya dengan ganas
Orang itu menyerang untuk membunuh, serangan orang yang nekat dan yang melihat bahwa jalan satu-s atunya baginya untuk dapat meloloskan diri hanya membunuh siapa saja yang menghalanginya
Pembunuh keparat!