Tubuh Siang Lan melompat ke atas, berjungkir balik di udara lalu meluncur turun, pedangnya menyambar ke arah kepala Thian-te Mo-ong.
Thian-te Mo-ong menggerakkan ranting menangkis, akan tetapi tanpa diduga, tangan kiri Siang Lan menghantam dengan pukulan tenaga sakti ke arah muka. Ini merupakan serangan yang amat dahsyat dan berbahaya sekali. Thian-te Mo-ong menggeser tubuh ke kanan sehingga dia dapat menyambut dorongan tangan kiri gadis itu dengan tangan kirinya pula dan begitu kedua telapak tangan bertemu, Siang Lan menggunakan kesempatan itu untuk menggerakkan pedangnya menusuk dada!
Thian-te Mo-ong mengelak ke kiri, akan tetapi agak kurang cepat sehingga Lui-kong-kiam sempat menusuk pundaknya.
“Cappp......!!” Siang Lan cepat mencabut pedangnya yang menembus pundak dari depan ke belakang. Tubuh Thian-te Mo-ong terpelanting dan dia rebah telentang, rantingnya terlepas dari tangan kanan yang terasa lumpuh karena pundaknya terluka parah.
Bagaikan seekor burung cepatnya, tubuh Siang Lan sudah turun di depan tubuh lawan dan pedangnya sudah menodong leher lawan. Ujung pedang Lui-kong-kiam yang runcing tajam itu menempel pada kulit leher bagian tenggorokan.
“Hwe-thian Mo-li, aku sudah kalah. Bunuhlah aku untuk menebus kesalahanku!” terdengar Thian-te Mo-ong berkata.
Siang Lan meragu, karena ia merasa heran. Thian-te Mo-ong yang biasanya bersikap sombong dan tekebur, akan tetapi sekarang sikapnya berubah, tidak sombong lagi, juga tidak ketakutan, melainkan dengan tenang dan gagahnya minta dibunuh untuk menebus kesalahannya! Timbul keinginan tahunya dan ia berseru.
“Sebelum kubunuh engkau, ingin aku melihat macam apa rupanya jahanam keji seperti engkau ini!” Pedangnya digerakkan ke atas dan topeng kayu itu terbuka dan terlempar. Pedang itu sudah diangkat, siap untuk memenggal leher.
Tiba-tiba Siang Lan melepaskan pedangnya yang jatuh ke atas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar, mukanya pucat sekali. Ia kini menatap muka yang tidak lagi tertutup topeng itu, muka yang dagu bawahnya robek oleh ujung pedangnya ketika ia membuka topeng dan yang pundaknya bercucuran darah, muka yang memandang kepadanya dengan sedih dan pasrah, muka yang pucat karena kehilangan banyak darah.
14.43. Apa Artinya Semua Ini ?
“Paman Bu-beng-cu !” Ia menjerit sambil berlutut dekat tubuh Thian-te Mo-ong yang kini telah kehilangan
topengnya dan berubah menjadi Bu-beng-cu itu. “Paman...... ahhh...... apa artinya ini......? Mengapa begini ?”
Akan tetapi Bu-beng-cu terkulai lemas tak sadarkan diri, bukan hanya karena lukanya melainkan terutama sekali karena kesedihan dan terguncangnya hatinya.
“Paman......!!” Siang Lan lalu mengangkat tubuh pria itu, mengerahkan tenaga dan memondongnya, lalu membawanya lari memasuki rumahnya.
Para anggauta Ban-hwa-pang terkejut sekali melihat bahwa laki-laki bertopeng yang menakutkan itu ternyata adalah Bu-beng-cu yang telah mereka kenal sebagai guru ketua mereka. Mereka ikut kebingungan karena sama sekali tidak tahu mengapa guru ketua mereka itu menyamar sebagai orang bertopeng dan menjadi musuh besar ketua mereka.
Melihat Siang Lan membuang pedangnya dan juga melepaskan ikatan sarung pedang, Bwe Kiok Hwa lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam dan sarung pedangnya, memasukan pedang itu ke sarungnya lalu membawanya ke dalam rumah induk. Hanya Bwe Kiok Hwa yang berani memasuki rumah itu akan tetapi ia pun hanya menunggu di ruangan luar, tidak berani memasuki ruangan dalam di mana Siang Lan membawa Bu-beng-cu, bahkan gadis itu merebahkan Bu-beng-cu di atas pembaringannya dalam kamar.
Siang Lan benar-benar terpukul. Hatinya diliputi keresahan dan kebingungan akan kenyataan yang sama sekali tidak pernah disangkanya ini. Ia memang membenci setengah mati kepada Thian-te Mo-ong yang telah memperkosanya dan menantangnya bertanding setiap tahun. Akan tetapi bagaimana mungkin ia membenci Bu-beng-cu, pria yang dicintanya, pria yang dengan tekun melatih silat kepadanya selama ini dan berulang-ulang menyelamatkannya dari ancaman maut, yang selalu membela dan melindunginya?
Akan tetapi mengapa Bu-beng-cu menjadi Thian-te Mo-ong? Ia tidak percaya kalau laki-laki sebijaksana Bu- beng-cu melakukan perkosaan atas dirinya itu?
Melihat luka pada pundak kanan yang cukup parah dan terus mengeluarkan darah, juga bawah dagunya berlepotan darah, Siang Lan menjadi panik dan cepat ia mengambil obat luka. Setelah menotok jalan darah di dekat pundak untuk menghentikan terbuangnya darah, ia lalu mengoleskan obat luka berupa bubukan itu kemudian ia membalut luka di pundak Bu-beng-cu.
Kemudian ia mengenakan lagi baju pada tubuh bagian atas laki-laki itu menggunakan sehelai jubahnya berlengan panjang karena baju Bu-beng-cu tadi robek dan berlepotan darah. Ia melakukan semua ini dengan air mata terkadang menetes dari kedua matanya karena merasa terharu dan kasihan. Akan tetapi ia tidak khawatir karena setelah diperiksanya, maka luka tusukan pedangnya yang menembus pundak itu tidak merusak otot besar dan tidak mematahkan tulang.
Setelah mengobati luka dan mengganti pakaian atas Bu-beng-cu dan melihat pria itu masih pingsan, sepasang matanya terpejam dan mulutnya terkatup, pernapasannya agak lemas. Siang Lan lalu duduk bersila di atas pembaringan, menempelkan kedua telapak tangannya di dada Bu-beng-cu lalu mengerahkan tenaga sakti untuk membantu pria itu memulihkan tenaganya.
Akhirnya setelah beberapa lamanya pernapasan Bu-beng-cu mulai normal kembali, hanya mukanya masih agak pucat dan dia masih belum siuman. Siang Lan lalu mengambil saputangan yang bersih, mencelupkannya ke dalam air minum dan memberi minum Bu-beng-cu melalui perahan air di saputangannya. Akhirnya Bu-beng-cu membuka kedua matanya dan begitu dia siuman dan melihat dirinya di atas pembaringan dan Siang Lan duduk di dekatnya, dia segera bangkit duduk.
Akan tetapi Siang Lan memegang pundaknya dan dengan lembut mendorongnya agar rebah kembali.
“Paman, jangan bangkit dulu. Engkau masih lemah dan perlu beristirahat dulu. Engkau kehilangan banyak darah...... ah, Paman, mengapa semua ini harus terjadi ?”
Siang Lan tak dapat menahan tangisnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, bahkan tidak tahu harus berpikir bagaimana. Semua serba membingungkan.
Bu-beng-cu memejamkan kedua matanya dan ketika membukanya kembali, kedua matanya itu basah. “Siang Lan...... kenapa...... kenapa engkau tidak...... membunuhku ?”
“Paman !”
Bu-beng-cu menjadi semakin sedih melihat gadis itu kini menangis tersedu-sedu. “Jangan menangis, Siang Lan. Engkau membikin hatiku semakin pedih dan hancur. ”
Siang Lan menguatkan hatinya dan memandang wajah pria itu melalui genangan air matanya.
“Paman Bu-beng-cu, apa artinya semua ini? Benarkah Paman ini Thian-te Mo-ong yang telah ah, aku
tidak percaya! Dan mengapa Paman menyamar sebagai Thian-te Mo-ong? Berilah penjelasan, Paman, aku bingung sekali dan hal ini bisa membuat aku menjadi gila! Kalau paman ini Thian-te Mo-ong, mengapa Paman selalu membela dan melindungiku, bahkan menurunkan ilmu paman kepadaku agar aku dapat mengalahkan dan membunuh Thian-te Mo-ong? Akan tetapi kalau paman ini benar-benar Bu-beng-cu seperti yang kukenal, bagaimana mungkin menjadi Thian-te Mo-ong yang demikian jahat?”
Bu-beng-cu menghela napas panjang.
“Ahh...... aku telah melakukan dosa besar kepadamu, dosa yang akan menggangguku seumur hidup dan yang hanya dapat ditebus kalau aku tewas di tanganmu. Akan tetapi ternyata Thian (Tuhan) agaknya tidak menghendaki aku mati di tanganmu. Sekarang dengarkanlah pengakuanku yang akan menjelaskan semua pertanyaanmu tadi. “Sesungguhnya, Thian-te Mo-ong dan Bu-beng-cu bukanlah namaku. Namaku adalah Sie Bun Liong yang sejak muda merantau di barat dan selatan dan dijuluki orang sebagai Thai-lek-sian (Dewa bertenaga besar). Aku adalah kakak tiri dari Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang yang menyeleweng dan yang telah kaubunuh itu.”
“Kakak tiri Siangkoan Leng yang jahat itu ?” Siang Lan bertanya heran.
“Benar, telah bertahun-tahun aku tidak pernah berhubungan dengan adik tiriku itu sehingga tidak tahu bahwa dia telah mengambil jalan sesat. Ketika aku datang berkunjung, engkau menjadi tawanannya dan dia hendak memaksa engkau menjadi isterinya. Agaknya dia takut melihat kedatanganku karena kalau aku tahu tentang dirimu yang ditawan, pasti dia akan kularang dan kumarahi. Maka, ketika dia menjamu aku dalam pesta, agaknya dia mencampurkan obat perangsang yang amat kuat dalam minumanku.
“Aku seperti terbius dan dalam keadaan mabok kehilangan kesadarannya dia merebahkan aku di dekatmu, maka terjadilah hal terkutuk itu di luar kesadaran dan kemampuanku untuk mencegahnya. Setelah sadar
aku merasa menyesal sekali dan pergi seperti telah menjadi gila. Kemudian aku baru tahu bahwa engkau mengamuk, membunuh Siangkoan Leng dan anak buahnya. Memang hal itu patut kusesalkan, akan tetapi semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri telah mengambil jalan sesat.”
Siang Lan memejamkan matanya, mengenang kembali semua peristiwa itu dan ia masih kadang-kadang terisak.
“Aku lalu membayangimu dan melihat betapa kesedihanmu membuat engkau putus asa, aku mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu agar engkau tidak bunuh diri, agar engkau dapat memuaskan hatimu untuk balas dendam dan agar aku dapat menebus dosaku. Maka aku lalu memakai topeng menemuimu, mengaku bahwa aku sebagai Thian-te Mo-ong yang melakukan perbuatan terkutuk atas dirimu.
“Sengaja engkau kukalahkan dan kutantang untuk bertanding setiap tahun agar engkau menjadi penasaran dan marah, memberimu semangat untuk memperdalam ilmu silatmu agar dapat mengalahkan Thian-te Mo- ong. Kemudian aku muncul sebagai Bu-beng-cu untuk memberikan semua ilmuku kepadamu.
“Akhirnya terjadi seperti yang kuharapkan, engkau dapat mengalahkan Thian-te Mo-ong, akan tetapi sayang, engkau tidak jadi membunuhnya, tidak membunuhku sehingga dendammu belum impas dan aku pun belum dapat menebus dosaku. Karena itu, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, inilah aku, Sie Bu Liong yang dulu telah melakukan perbuatan keji dan terkutuk kepadamu. Sekarang bunuhlah aku untuk membalas dendam sakit hatimu dan untuk memberi kesempatan kepadaku menebus dosaku padamu ”
Tangis Siang Lan kini mengguguk kembali. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergoyang-goyang karena sedu-sedannya.
“Paman...... bagaimana..... bagaimana aku..... dapat membunuh orang...... yang mencintaku demikian mendalam...... sepertimu ?”
“Apa maksudmu? Aku...... aku tidak. ”
“Tidak perlu menyangkal lagi, Paman. Aku sudah melihat lukisan wanita yang selalu kaubawa-bawa itu?” Kini suara Siang Lan lancar walaupun masih parau karena tangisnya. “Engkau membawa lukisan diriku ke mana-mana ”
“Ah...... engkau melihatnya ”
“Paman, bagaimana aku dapat membunuhmu? Kalau sejak dulu aku tahu bahwa engkau yang melakukan hal itu, kaulakukan di luar kesadaranmu, aku...... aku tidak mungkin akan menaruh dendam ”
“Akan tetapi aku telah merusak kebahagiaan dan harapan hidupmu, Siang Lan.”
“Tidak, Paman. Engkau bukan hanya dapat menebusnya dengan membiarkan aku membunuhmu, akan tetapi engkau dapat menebusnya dengan dengan cintamu. Paman, belum yakinkah hati paman bahwa,
aku juga mencintamu? Kalau kita saling mencinta, peristiwa yang lalu itu tidak ada artinya lagi, bukan?