Halo!

Lembah Selaksa Bunga Chapter 73

Memuat...

“Ah, apanya lagi yang nyeri?” Bu-beng-cu bertanya heran.

“Kakiku yang kiri...... aduh...... kakiku sakit sekali ” gadis itu merintih.

Bu-beng-cu cepat mengalihkan kedua tangannya, dari kepala kini pindah ke kaki kiri Siang Lan, memeriksa dengan teliti. Akan tetapi, dia tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar.

“Maaf, harus kuperiksa dengan teliti!” katanya dan dia menggulung celana kiri itu ke atas sampai lutut. Jari- jari tangannya memijat dan mengurut, merasakan betapa lembut dan putih mulus betis kaki itu. Akan tetapi lagi-lagi dia tidak menemukan apa-apa yang tidak beres. Dia memijat-mijat dan mengurut dengan lembut dan perlahan-lahan Siang Lan berhenti mengeluh.

14.40. Lamaran Panglima Kerajaan Beng

“Apa sekarang sudah tidak nyeri lagi?” Dia bertanya.

“Sekarang sudah sembuh karena kau pijit dan urut, Paman. Terima kasih......” kata Siang Lan menyembunyikan kegirangannya. Tentu saja ia tadi hanya berpura-pura untuk melihat bagaimana reaksi pria itu kalau ia merintih kesakitan. Ternyata Bu-beng-cu memperhatikan dengan penuh kekhawatiran dan ini membuatnya bahagia sekali. Ingin rasanya ia bangkit dan merangkul pria itu yang tidak ia ragukan lagi cintanya. Akan tetapi ia tidak mau melakukannya.

Pertama, ia tidak mau membuat Bu-beng-cu menjadi malu karena rahasianya ketahuan olehnya dan kedua, ia masih mempunyai ganjalan dalam hatinya, yaitu belum dapat membunuh musuh besarnya, yaitu Thian-te Mo-ong. Kalau ia sudah dapat membunuh jahanam itu, baru ia akan mencurahkan seluruh perhatiannya akan hubungan cintanya dengan Bu-beng-cu!

Bu-beng-cu menurunkan lagi gulungan celana Siang Lan itu dan karena dia merasa penasaran, sekali lagi dia memeriksa keadaan tubuh Siang Lan akan tetapi dia mendapat kenyataan bahwa kesehatan tubuh gadis itu sudah pulih dan tidak ada lagi gangguan apa pun kecuali masih lemah. Bu-beng-cu merasa aneh akan tetapi sedikit pun dia tidak menaruh curiga atau menduga gadis itu berpura-pura. Biarpun terkadang Siang Lan memperlihatkan perhatian kepadanya dan terkadang ada terpancar dalam matanya kekaguman dan rasa suka, dia tetap tidak percaya dan tidak dapat menerima dalam akalnya bahwa gadis itu dapat jatuh cinta kepadanya.

“Tunggu, aku masakkan obat ini untukmu, Siang Lan,” kata Bu-beng-cu, lalu dia pergi ke dapur rumah penginapan itu untuk minta kepada pelayan memasakkan obat yang dibelinya dari toko obat.

Setelah dia meninggalkan kamar, Siang Lan rebah telentang sambil tersenyum bahagia. Pria itu sungguh amat sayang kepadanya, begitu penuh perhatian dan tampak khawatir sekali ketika ia beraksi pura-pura merasa sakit di kepalanya dan di kakinya. Pijatan dan belaiannya masih terasa olehnya, begitu lembut dan hangat!

Ketika Bu-beng-cu memasuki kamar membawa semangkok obat, dengan taat Siang Lan meminumnya sampai habis. Selama dua hari Siang Lan tinggal di kamar itu memulihkan tenaganya. Kalau malam Bu- beng-cu tidur di atas lantai bertilam tikar sehingga Siang Lan merasa tidak enak sekali. Diam-diam ia semakin kagum karena Bu-beng-cu sedikit pun tidak memperlihatkan sikap kurang sopan terhadap dirinya. Padahal ia sudah tidur sekamar selama lima malam!

Pada keesokan harinya setelah selama dua hari minum obat penguat dan merasa kekuatannya pulih kembali, Bu-beng-cu tahu-tahu tidak berada dalam kamarnya. Sepucuk suratnya berada di atas meja dengan pemberitahuan bahwa dia hendak pulang lebih dulu karena Siang Lan sudah sembuh dan tidak ada urusan lagi baginya di kota raja.

Siang Lan termenung duduk di atas kursi sambil memegangi surat itu. Tiba-tiba saja ia merasa begitu kesepian sehingga rasanya ingin ia berteriak dan menangis! Segala sesuatu tampak demikian hambar dan tidak menyenangkan setelah Bu-beng-cu tidak berada didekatnya!

Ia pun mengambil keputusan tegas. Hari itu juga ia harus pulang agar dapat berada di tempat yang dekat dengan Bu-beng-cu. Apalagi Bu-beng-cu sudah berjanji akan menurunkan ilmunya yang terakhir, memperkuat tenaga sakti dan mengajarkan pukulan Thai-lek-sin-ciang (Tenaga Sakti Tenaga besar).

Menurut keterangan Bu-beng-cu, kalau ia sudah menguasainya, besar kemungkinan ia akan mampu mengalahkan musuh besarnya, yaitu Thian-te Mo-ong. Ia harus segera pulang ke Ban-hwa-kok, Lembah Selaksa Bunga yang menjadi tempat tinggalnya itu dan mempelajari ilmu yang dijanjikan Bu-beng-cu kepadanya.

Setelah berkemas dan mendapat penjelasan pelayan rumah penginapan bahwa sewa kamar telah dibayar oleh Bu-beng-cu, Siang Lan lalu pergi ke rumah gedung Pangeran Sim Liok Ong, ayah Sim Tek Kun. Ia berpamit kepada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong yang merasa gembira melihat gadis itu dalam keadaan sehat dan selamat.

Setelah berpamit, Siang Lan lalu berangkat pulang, meninggalkan kota raja menuju ke Lembah Selaksa Bunga. Akan tetapi, di tengah perjalanan sebelum meninggalkan kota raja, Panglima besar Chang Ku Cing menghadangnya dan menyampaikan perintah kaisar yang mengundang Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan agar datang menghadap Sribaginda Kaisar!

Biarpun tidak ingin menghadap, terpaksa Siang Lan tidak berani menolak dan ia ditemani panglima Chang menuju ke istana menghadap Sribaginda Kaisar Wan Li.

Kaisar menerimanya dengan ramah dan memuji-muji kegagahan Siang Lan yang begitu berani berusaha menyelamatkan Sribaginda dari sekapan Cui-beng Kui-ong sehingga mengorbankan diri sendiri roboh dan terluka oleh kakek iblis itu. Juga Kaisar berterima kasih dan hendak memberi hadiah yang boleh dipilih sendiri oleh Siang Lan, yaitu pangkat tinggi atau harta benda.

Siang Lan yang cerdik tidak menginginkan hadiah pangkat tinggi atau harta benda. Ia hanya mohon kepada Kaisar agar diberi hak memiliki Bukit Ban-hwa-san di daerah Pegunungan Lu-liang-san. Kaisar memenuhi permintaannya dan memerintahkan Menteri Urusan Tanah untuk membuatkan pernyataan hal milik itu kepada Siang Lan. Di samping itu, juga Kaisar memberi sekantung emas yang tidak dapat ditolak oleh Siang Lan.

Setelah meninggalkan istana, Panglima Chang Ku Cing minta kepada Siang Lan untuk singgah di gedungnya dan di sini panglima Chang bersama isterinya secara langsung meminang Siang Lan untuk dijodohkan dengan keponakan panglima itu, ialah Chang Hong Bu.

“Keponakan kami itu, Chang Hong Bu. sudah berusia duapuluh lima tahun dan sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Kami lihat engkau juga sudah cukup dewasa dan engkau sudah mengenal baik keponakan kami itu. Hong Bu juga dengan terus terang mengaku kepada kami bahwa dia mencintamu, Siang Lan. Karena itu, dalam kesempatan ini kami berani mengajukan usul perjodohan ini kepadamu, sekiranya engkau belum. ”

“Thai-ciangkun, saya sudah mempunyai seorang calon suami!” Siang Lan memotong singkat. “Ah ?” Suami isteri itu terkejut dan kecewa. “Mengapa Hong Bu tidak menceritakan kepada kami?”

“Dia memang tidak mengetahui, Paman.”

“Hemm, kalau boleh kami mengetahui, siapakah calon suamimu yang berbahagia itu?”

“Dia dia adalah Bu-beng-cu.” Siang Lan berkata demikian bukan hanya karena memang benar ia dan

Bu-beng-cu saling mencinta, akan tetapi terutama sekali agar panglima dan isterinya tidak bicara lagi tentang perjodohan yang mereka usulkan itu. Panglima Chang Ku Cing dan isterinya tampak kecewa sekali, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani lagi menyinggung urusan pinangan mereka yang otomatis tidak mungkin dilanjutkan.

Setelah meninggalkan kota raja, Siang Lan melakukan perjalanan cepat. Dalam perjalanan itu ia melamun. Ia memang sudah tahu bahwa Chang Hong Bu jatuh cinta kepadanya. Sebetulnya, memiliki calon suami seperti Chang Hong Bu amatlah menyenangkan dan membanggakan.

Pemuda itu tampan gagah dan berbudi baik, seorang pendekar sejati. Selain itu, juga dia keponakan Panglima Chang Ku Cing yang terkenal bijaksana. Gadis mana yang tidak akan bangga mempunyai suami seperti Chang Hong Bu? Akan tetapi kalau ia mengingat keadaan dirinya yang sudah bukan perawan lagi, ia merasa ngeri membayangkan Hong Bu menolaknya setelah mengetahui keadaan dirinya!

Dan penolakan itu akan membuat ia merasa terhina dan mungkin ia akan membunuh Hong Bu kalau pemuda itu menolaknya karena ia bukan perawan lagi! Lebih baik dari sekarang menolak pinangan itu daripada kelak ada kemungkinan terjadi hal itu.

Sebaliknya, Bu-beng-cu telah tahu bahwa ia bukan perawan lagi. Ia telah menceritakan kepadanya, namun biarpun sudah mengetahui keadaan dirinya, tetap saja Bu-beng-cu mencintainya. Dia melindunginya, membelanya, mengajarkan ilmu-ilmunya kepadanya, bahkan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ia tidak meragukan lagi cinta Bu-beng-cu kepadanya, bukan hanya terbukti dari sikapnya, melainkan juga dari gambarnya yang dibawa ke mana pun dia pergi!

“Paman Bu-beng-cu !” Ia berbisik, sama sekali tidak merasa janggal bahwa ia jatuh cinta kepada seorang

laki-laki yang jauh lebih tua daripadanya sehingga ia menyebutnya paman. Ia segera mempercepat larinya agar dapat segera tiba di Ban-hwa-san atau lebih tepat lagi, agar dapat segera bertemu dengan Bu-beng- cu.

Kui Li Ai duduk seorang diri di antara ratusan bunga di taman yang diatur dan dipeliharanya sendiri di bagian belakang rumah induk di perkampungan Ban-hwa-kok. Biasanya, kalau ia duduk seorang diri sambil menikmati keindahan bunga-bunga itu, ia merasa berbahagia sekali. Akan tetapi pagi hari ini ia tampak tidak gembira, bahkan sejak tadi termenung.

Ia teringat akan keadaan dirinya dan merasa betapa kesialan menimpa dirinya secara bertubi-tubi. Gadis yang usianya baru kurang dari duapuluh tahun itu, yang tubuhnya tinggi ramping, dengan kulit putih mulus, wajahnya manis sekali dengan bentuk bulat dan sepasang matanya lebar bersinar seperti sepasang bintang, kini tampak agak murung. Betapa ia tidak akan sedih kalau mengingat masa lalunya. Ayahnya membunuh diri untuk menebus kesalahan telah membebaskan orang-orang Pek-lian-kauw yang ditawan pemerintah. Baru saja ayahnya membunuh diri karena kesalahan yang terpaksa dilakukan untuk membebaskan dirinya yang ditawan orang- orang Pek-lian-kauw, ia sendiri diperkosa oleh dua orang Pek-lian-kauw.

Peristiwa kedua ini saja sudah membuat ia putus asa dan tentu ia telah membunuh diri kalau tidak dicegah oleh Hwe-thian Mo-li yang menolongnya dan yang membunuh dua orang Pek-lian-kauw yang memperkosanya. Kemudian, dua peristiwa yang menghancurkan hatinya ini disambung dengan sikap ibu tirinya yang menghina dan menyalahkannya, dikatakan bahwa ia penyebab kematian ayahnya. Sikap ibu tirinya ini yang kemudian dihajar oleh Hwe-thian Mo-li membuat ia tidak mungkin dapat tinggal di rumah ayahnya yang kini dikuasai oleh ibu tirinya. Ia lalu ikut Hwe-thian Mo-li dan tinggal di Ban-hwa-kok.

Kemudian menyusul lagi peristiwa yang menyakitkan hatinya. Bong Kongcu atau nama lengkapnya Bong Kim, pemuda hartawan di kota raja, yang sejak dulu tampak mencintanya, oleh Hwe-thian Mo-li didesak untuk melamarnya. Biarpun ia tidak bisa mengatakan cinta kepada pemuda itu, hanya rasa suka karena pemuda itu amat memperhatikannya, bersedia menerima lamarannya.

Ketika Bong Kim datang melamar dan ia mengaku bahwa dirinya telah diperkosa orang, pemuda itu berbalik menghinanya dan hanya akan mengambilnya sebagai selir. Hwe-thian Mo-li menghajar pemuda itu dan kembali Li Ai menderita tekanan batin yang hebat. Berturut-turut dan bertubi-tubi kesialan hidup menimpa dirinya.

Sekarang ia merasa terhibur dan senang hidup di Ban-hwa-san bersama Hwe-thian Mo-li dan anak buah Ban-hwa-pang. Akan tetapi muncul Bouw Cu An, putera seorang pangeran yang jatuh cinta kepadanya. Dan, baru sekali ini selama hidupnya Li Ai juga jatuh cinta kepada seorang pemuda.

Ia mencinta Bouw Cu An dan mereka berdua sudah saling mengetahui bahwa mereka saling mencinta. Bahkan ketika Bouw Cu An hendak meninggalkan Lembah Selaksa Bunga, mereka sudah saling menukar tanda mata. Bouw Cu An memberi sebuah kantung bersulam kupu-kupu yang indah, sedangkan pemuda itu memilih tusuk sanggul rambutnya berupa bunga teratai sebagai tanda mata. Biarpun tidak terucapkan, pemberian tanda mata itu bagi mereka mempunyai arti yang khusus, yaitu bahwa mereka saling mencinta dan secara batiniah saling terikat satu sama lain!

Li Ai menghela napas panjang dan membelai kantung bersulam kupu-kupu indah yang sejak tadi dipegangnya, Bagaimana mungkin ia dapat berjodoh dengan putera pangeran itu? Ia sudah ternoda. Kalau kelak Bouw Cu An mendengar bahwa ia bukan perawan lagi, apakah pemuda itu dapat menerimanya? Apakah dia tidak akan memandangnya rendah dan menghinanya seperti yang pernah dilakukan Bong Kim, pemuda hartawan dari kota raja itu?

Penghinaan dari Bong Kim itu hanya membuatnya marah, akan tetapi kalau sampai Bouw Cu An menolak dan menghinanya, ia tidak akan sanggup menerimanya. Hatinya akan hancur dan hidup tidak ada artinya lagi baginya karena ia sungguh mencinta pemuda itu!

Tidak, lebih baik hubungan itu diputuskan sekarang yang hanya mengakibatkan kecewa dan duka. Kalau putus karena pemuda itu mengetahui keadaannya, menolak dan menghinanya, akibatnya akan terlalu berat dan hebat baginya.

“Tidak ini tidak boleh terjadi. Tidaaakk. !” Ucapan “tidak” yang terakhir itu keluar sebagai jeritan hati yang

terucapkan oleh mulutnya.

“Heii, apanya yang tidak, Moi-moi?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki.

Li Ai terkejut dan cepat menoleh ke belakang dan ia melihat Bouw Cu An melangkah menghampirinya!

Cepat ia menyelipkan kantung bersulam itu ke ikat pinggangnya dan bangkit berdiri, menyongsong kedatangan pemuda itu.

“Koko!” Li Ai berseru dan girang bukan main. “Eh, bagaimana engkau dapat tiba-tiba muncul di sini? Bagaimana dapat melalui jebakan-jebakan rahasia kami?”

Cu An tersenyum. “Untung sekali di bawah sana aku bertemu dengan seorang anggauta Ban-hwa-pang yang telah mengenal aku maka ia mau menjadi penunjuk jalan sehingga aku dapat naik ke sini, Ai-moi.”

“Mari kita masuk dan bicara di dalam rumah, An-ko.”

“Tidak, Moi-moi. Keadaan di sini sungguh indah dan hawanya begini sejuk dan cerah. Aku ingin bicara denganmu di sini saja.” “Duduklah, An-ko.” Li Ai mempersilakan pemuda itu duduk di atas bangku panjang dan ia duduk di sebelahnya, agak jauh. “Ada apakah, An-ko? Aku melihat ada sesuatu yang membuatmu seperti orang bersedih.”

Memang gadis itu melihat biarpun mulut pemuda itu tersenyum namun pandang matanya seperti orang sedang berduka, sinar mata itu sayu.

Post a Comment