“Hayo, engkau ikut denganku keluar dan perintahkan mereka untuk membebaskan semua temanku yang ditawan!” kata Cui-beng Kui-ong sambil melangkah menghampiri kaisar.
Siang Lan memaksa diri berseru. “Keparat busuk, jangan ganggu Sribaginda!”
“Heh-heh, engkau iblis betina Hwe-thian Mo-li! Engkau juga harus mati untuk menebus dosamu membunuhi banyak orang Pek-lian-kauw. Terimalah ini!”
Kakek itu melemparkan tasbehya yang berputar dan melayang ke arah kepala Siang Lan.
“Wirrr...... pyarrrr......!!” Tiba-tiba sebuah benda sebesar kepala orang menyambar ke arah tasbeh dan begitu bertemu dengan tasbeh, benda itu pecah berkeping-keping, akan tetapi tasbeh itu sendiri juga putus untaiannya dan biji-biji tasbeh jatuh berhamburan di atas lantai.
“Paman......!” Sian Lan berseru gembira akan tetapi segera terkulai pingsan lagi. Ia tadi menggunakan terlalu banyak tenaga sehingga lukanya di dalam dada semakin parah.
Sementara itu, Cui-beng Kui-ong marah dan terkejut bukan main melihat tasbehnya putus berhamburan. Dia melihat bahwa benda yang dilontarkan orang menangkis tasbehnya adalah arca singa di dalam kamar tidur Pangeran Bouw yang kalau diputar menjadi pembuka pintu rahasia ruangan bawah tanah itu. Cepat dia memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Bu-beng-cu.
“Keparat, siapa engkau?” Cui-beng Kui-ong bertanya dengan suara galak karena dia marah sekali telah kehilangan tasbehnya.
13.39. Kemesraan Hati Bu-beng-cu
“Cui-beng Kui-ong, engkau tidak perlu tahu aku siapa. Yang jelas aku adalah orang yang menentang perbuatanmu yang kejam dan jahat! Karena itu, engkau lebih baik menyerah agar diadili, daripada engkau mati konyol. Engkau tidak mungkin dapat melarikan diri keluar dari gedung ini!”
Diam-diam Bu-beng-cu menjadi terkejut dan merasa khawatir sekali ketika dia melihat Siang Lan rebah di atas lantai, dekat tubuh Pangeran Bouw Ji Kong yang biarpun tidak kelihatan terluka namun melihat keadaan wajahnya jelas sudah tewas. Dia melihat Siang Lan masih bernapas, akan tetapi pernapasannya tersendat-sendat dan wajahnya pucat sekali. Bu-beng-cu yang sudah lama dapat menguasai nafsu- nafsunya itu, melihat keadaan Siang Lan, tidak dapat menahan kemarahannya.
“Jahanam busuk engkau, Cui-beng Kui-ong!” bentaknya dan bagaikan seekor naga mengamuk, Bu-beng-cu menerjang dengan pukulan tangan kanannya. Angin menyambar seperti badai ke arah Cui-beng Kui-ong, membuat kakek itu terkejut bukan main karena dari pukulan ini saja maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang lihai bukan main, yang memiliki pukulan seperti halilintar menyambar dan mengandung tenaga yang amat kuat. Dia tidak berani menyambut pukulan dahsyat ini dan cepat melompat ke belakang mengelak.
“Blarrr !” Dinding di belakangnya yang disambar angin pukulan itu tergetar hebat dan kalau tidak dilapisi
baja, tentu akan jebol. Demikian hebatnya pukulan yang dilontarkan Bu-beng-cu!
Karena ruangan bawah tanah itu kurang luas, Cui-beng Kui-ong yang mulai merasa gentar, cepat melompat ke anak tangga dan melesat keluar, ke dalam kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong yang lebih luas. Niatnya kalau ada kesempatan, dia akan meloloskan diri.
Akan tetapi begitu tiba di dalam kamar, dari daun pintu dan jendela yang telah terbuka, dia melihat ratusan orang perajurit dipimpin belasan orang perwira tinggi sudah mengepung kamar itu. Tidak mungkin dapat melewati barisan yang demikian banyak. Maka dia menjadi nekat. Ketika mendengar gerakan Bu-beng-cu yang sudah mengejarnya, dia membalik dan sinar merah meluncur dari tangannya ketika dia menggerakkan kain merah yang ujungnya sudah terbabat putus oleh pedang Siang Lan tadi.
Bu-beng-cu dapat menduga bahwa seorang datuk besar golongan sesat seperti Cui-beng Kui-ong pasti tidak menggunakan senjata sembarangan seperti sehelai kain merah biasa. Tentu kain itu mengandung racun. Akan tetapi dia tidak merasa gentar dan dia bahkan menyambut serangan itu dengan menggerakkan tangannya secepat kilat dan tahu-tahu kain merah itu telah dapat dia cengkeram! Bu-beng-cu mempertahankan ketika Cui-beng Kui-ong berusaha menarik lepas kain itu. Terjadi tarik menarik dan adu tenaga sakti melalui kain merah yang panjangnya tinggal sekitar lima kaki itu.
“Prettt......!!” Tiba-tiba kain merah itu putus bagian tengahnya dan uap merah mengepul. Akan tetapi Bu- beng-cu yang sudah waspada meniup dengan mulutnya sehingga uap merah itu menyambar ke arah muka Cui-beng Kui-ong sendiri! Akan tetapi tentu saja Raja Iblis ini sudah menggunakan obat anti racun sehingga uap merah yang mengenai mukanya tidak mempengaruhinya. Dia semakin marah. Kedua senjatanya telah rusak.
Setelah membuang potongan kain merah itu, dia lalu menerjang ke arah lawan dengan kedua tangan kosong. Bu-beng-cu menyambut dan kini kedua orang yang sama-sama lihainya itu bertanding dengan tangan kosong. Seru dan hebat bukan main perkelahian di antara mereka. Para perwira tinggi yang nonton dari luar, termasuk Panglima besar Chang Ku Cing yang datang kemudian, terbelalak menyaksikan perkelahian tingkat tinggi yang membuat gedung itu seolah tergetar hebat.
Biarpun kedua orang itu memiliki tingkat kepandaian yang sama, Cui-beng Kui-ong memiliki kelemahan dibandingkan dengan lawannya. Dia sudah berusia hampir tujuhpuluh tahun sedangkan lawannya baru berusia empatpuluh dua tahun, dan selama ini, Cui-beng Kui-ong hidup lebih banyak menuruti hawa nafsunya, berbeda dengan Bu-beng-cu yang hidup bersih mengendalikan nafsunya sehingga keadaan jiwanya lebih bersih daripada Cui-beng Kui-ong.
Hal ini didukung oleh tenaga saktinya yang murni dan datang dari kekuasaan Tuhan, tidak seperti Cui-beng Kui-ong yang telah banyak mengandalkan tenaga sihir atau ilmu hitam yang datang dari kekuasaan setan atau daya-daya rendah yang memperhambanya. Kekejaman dan pembunuhan yang sering dia lakukan membuat jiwanya semakin bergelimang kekotoran.
Maka, setelah mereka bertanding sekitar limapuluh jurus, Cui-beng Kui-ong semakin panik. Dia tahu benar bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, maka timbul akalnya yang memang selalu siap untuk bertindak curang dan licik.
“Tahan dulu, aku mau bicara!” Cui-beng Kui-ong berseru.
Mendengar ini, untuk tidak melanggar etika dunia persilatan, Bu-beng-cu menahan gerakannya, siap mendengarkan. Akan tetapi tiba-tiba, begitu dia menghentikan gerakan dan menahan tenaga saktinya, tanpa diduganya, Cui-beng Kui-ong menerjang dengan amat cepat dan kuat!
Bu-beng-cu terkejut dan berusaha mengelak, akan tetapi sebuah pukulan telapak tangan kiri Cui-beng Kui- ong tetap mengenai pundaknya sehingga tubuhnya terjengkang. Dia masih dapat mencegah tubuhnya terbanting, dengan berjungkir balik dan dia dapat berdiri, walaupun terhuyung ke belakang. Cui-beng Kui- ong tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lawannya sudah terluka, maka dia pun menubruk maju sambil mendorongkan kedua telapak tangannya.
“Mampus kau!”
Bu-beng-cu menyambut dengan kedua telapak tangannya dan kini kedua telapak tangan mereka bertemu dan melekat. Mereka saling dorong dan saling serang melalui kedua tangan mereka dengan mengerahkan tenaga sakti mereka.
Kalau dilihat begitu, seolah-olah dua orang itu sedang main-main. Mereka berdiri dengan kedua lutut agak ditekuk, kedua tangan dijulurkan ke depan dan dua pasang telapak tangan itu saling menempel, mata mereka mencorong saling pandang dan tubuh mereka sama sekali tidak bergerak.
Dua orang perwira tinggi yang berdiri paling dekat di ambang pintu, melihat keadaan demikian itu, segera melompat maju dan menyerang Cui-beng Kui-ong dari belakang. Seorang menusukkan pedangnya ke punggung dan seorang lagi membacokkan pedangnya ke tengkuk kakek itu.
“Trak-trakkk!” Pedang-pedang itu seperti bertemu baja yang amat kuat dan bukan hanya dua batang pedang itu patah, akan tetapi dua orang perwira itu terpental ke belakang dan roboh pingsan!
Kiranya pada saat itu, Cui-beng Kui-ong sedang mengerahkan seluruh tenaga sin-kang (tenaga sakti) sehingga ketika dua orang perwira itu menyerangnya, tenaga dua orang perwira itu membalik dan selain pedang mereka patah, juga tenaga mereka yang membalik itu menghantam diri mereka sendiri sebelah dalam, membuat mereka roboh pingsan. Masih baik bahwa mereka memiliki tenaga yang tidak begitu besar karena semakin besar tenaga serangan itu, semakin parah pula kalau tenaga itu membalik dan menghantam diri sendiri! Akan tetapi, gangguan ini membuat perhatian Cui-beng Kui-ong terbagi dan pada saat yang bersamaan, Bu-beng-cu mengerahkan seluruh tenaga dan serangannya.
“Wuuuttt...... desss......!!” Tubuh Cui-beng Kui-ong terdorong ke belakang seperti disambar angin badai, menabrak dinding kamar itu yang menjadi jebol dan dia pun roboh dan tewas!
Tanpa mempedulikan orang lain Bu-beng-cu segera melompat masuk ke pintu rahasia, menuruni tangga dan tak lama kemudian dia sudah keluar lagi sambil memondong tubuh Siang Lan yang pingsan. Dia tidak lupa membawa pedang Lui-kong-kiam milik gadis itu.
“Bu-beng-cu Tai-hiap (Pendekar Besar), kenapa Siang Lan itu dan hendak kaubawa ke mana?” Panglima Chang Ku Cing bertanya dengan khawatir melihat keadaan Siang Lan terkulai lemas dengan muka sepucat muka mayat.
“Thai-ciangkun, ia terluka parah dan akan saya bawa untuk saya obati. Maafkan saya!” Dia melompat sambil memondong tubuh gadis itu dan cepat menghilang.
Panglima Chang diikuti para perwira tinggi lalu memasuki ruangan bawah tanah dan menemukan kaisar dalam keadaan selamat dan sehat. Dengan girang mereka lalu memberi hormat dan mengantarkan kaisar kembali ke istana. Tinggal keluarga Pangeran Bouw Ji Kong yang setelah tahu bahwa sang pangeran itu tewas dalam ruangan bawah tanah, menangis sedih dan berkabung.
Siang Lan membuka kedua matanya. Ia agak bingung melihat betapa ia rebah di atas sebuah pembaringan, dalam sebuah kamar yang tidak dikenalnya. Ia hendak bangkit walaupun tubuhnya terasa lemas.
“Jangan bangkit dulu, engkau masih lemah, Siang Lan.” terdengar suara yang amat dikenalnya. Ia menoleh dan melihat Bu-beng-cu duduk bersila di atas lantai, yang ditilami tikar. Ada bantal pula di situ, menunjukkan bahwa gurunya itu agaknya tidur di situ karena pembaringannya ia pakai tidur.
“Paman...... di mana aku? Apa yang telah terjadi ?” Ia bertanya, masih bingung.
“Tenanglah, Siang Lan. Bahaya maut yang mengancam dirimu telah lewat. Hawa beracun dalam tubuhmu telah lenyap, hanya engkau masih lemah. Engkau berada dalam kamar penginapan Hok An yang kusewa, ingat?”
Siang Lan teringat. Ia pernah berkunjung ke kamar ini. “Akan tetapi, apa yang terjadi, Paman? Seingatku, aku rebah tertotok oleh A-kui, kakek setan yang lihai itu, dalam ruangan bawah tanah gedung Pangeran Bouw Ji Kong. Ahh, kasihan Pangeran Bouw! Dia telah mengorbankan nyawa demi membela Sribaginda Kaisar. ”
“Benar, Siang Lan. Engkau terluka yang mengandung hawa beracun dan engkau pingsan ketika kubawa ke sini. Tiga hari engkau tidak sadarkan diri di sini dan baru pagi ini engkau sadar.”
“Tiga hari? Aih, setelah aku pingsan di ruangan bawah tanah itu, lalu apa yang terjadi, Paman? Bagaimana engkau dapat menemukan aku di sana dan membawaku ke sini? Ceritakanlah, Paman!”