Halo!

Lembah Selaksa Bunga Chapter 70

Memuat...

Tiba-tiba ada sinar merah menyambar dari depan ke arah matanya. Itu adalah sehelai kain merah di tangan kakek itu yang meluncur ke arah mukanya sehingga membuat pandang matanya silau. Akan tetapi Siang Lan tidak menjadi gugup. Gerakannya yang amat ringan karena kini gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dikuasainya sudah mencapai tingkat tinggi berkat bimbingan Bu-beng-cu, membuat gadis itu dapat menghindar dengan lompatan ke belakang.

Kemudian tanpa melewatkan sedetik pun, tubuhnya sudah berkelebat lagi ke depan, pedangnya menyerang dengan gerakan Liu-seng-kan-goat (Bintang Cemara Mengejar Bulan). Jurus ini amat dahsyat karena terdapat serangan beruntun enam kali yang amat berbahaya dan susul-menyusul.

Namun kakek itu benar-benar sakti. Kini bukan hanya tasbehnya yang menangkis sehingga mengeluarkan bunyi berkencringan berulang-ulang, akan tetapi juga sabuk merahnya menangkis dan sekaligus berusaha membelit pedang Lui-kong-kiam. Siang Lan tentu saja tidak membiarkan pedangnya terampas, maka ia membantu pedangnya dengan pukulan telapak tangannya yang membuat sabuk merah itu tertiup dan tidak dapat membelit pedang.

Serang menyerang terjadi dalam kamar tidur Pangeran Bouw yang luas itu. Meja kursi terlempar oleh tendangan kedua orang yang sedang bertanding. Ternyata dalam hal ilmu silat, kedua orang ini memiliki tingkat berimbang. Siang Lan memang sedikit lebih menang dalam hal kecepatan gerakan, namun ia kalah kuat dalam penggunaan tenaga sakti. Apalagi karena kakek itu mencampur sin-kang dengan Hoat-sut (sihir), maka sering kali Siang Lan terhuyung oleh pengaruh sihir melalui bentakan kakek itu.

Bagaimanapun juga, kakek itu merasa penasaran sekali. Dia adalah datuk nomor satu di Pek-lian-kauw dan mungkin tingkat kepandaiannya hanya kalah sedikit dibandingkan para pemimpin jajaran tingkat atas dari Pek-lian-kauw pusat. Masa kini melawan seorang gadis saja dia tidak mampu mengalahkannya?

Setelah bertanding lebih dari tigapuluh jurus dan mereka saling menyerang dan belum ada yang tampak terdesak, tiba-tiba kakek itu berteriak seperti bunyi seekor burung gagak dan kain merah di tangan kanannya melayang dan ujungnya menyambar ke arah ubun-ubun kepala Siang Lan. Serangan ini berbahaya sekali karena kalau sampai ubun-ubun kepala terkena patukan atau totokan ujung kain merah, Siang Lan pasti akan tewas. Gadis ini cepat mengelak ke kiri sambil menyabetkan pedangnya ke arah ujung kain merah itu.

“Pratt!” Ujung kain merah itu putus, akan tetapi tiba-tiba ujung itu mengeluarkan uap berwarna merah yang menyerang dan mengenai muka Siang Lan. Gadis itu tidak keburu menahan napasnya sehingga ada uap merah yang terhisap olehnya. Seketika kepalanya pening, pandang matanya kabur dan ia pun terhuyung ke belakang, ke arah pintu rahasia terbuka!

Cui-beng Kui-ong atau A-kui, kakek itu, tertawa dan dia sudah menyambar tubuh Siang Lan yang pingsan, lalu membawanya turun ke ruangan bawah tanah. Dia marah sekali karena rahasianya ketahuan. Dia teringat kepada Nyonya Bouw dan memaki.

“Anjing perempuan itu pasti yang membocorkannya. Ia pantas mampus!” Dia lalu menotok punggung Siang Lan dan melemparkan tubuh gadis itu ke atas lantai, tidak mempedulikan pedang Lui-kong-kiam yang ikut terlempar, dan seolah tidak melihat bahwa Kaisar dan Pangeran Bouw telah lepas dari ikat mereka.

Dia terlalu memandang rendah tiga orang tawanannya, apalagi setelah Siang Lan dia buat tidak berdaya dengan totokannya. Nafsu amarah membuat dia lengah dan kakek itu cepat melompat keluar dari ruangan bawah tanah, lalu menutupkan kembali pintu rahasia yang hanya dapat dibuka dengan memutar arca singa itu.

Setelah pintu tertutup, dia lari mencari Nyonya Bouw. Akan tetapi dia tidak dapat menemukannya, maka bagaikan gila dengan kejam dia membunuhi siapa saja yang ditemukannya. Kegilaannya itu membuat tujuh orang pelayan, lima wanita dan dua pria, yang bertahan di situ ketika yang lainnya sudah pergi meninggalkan keluarga Pangeran Bouw, dibantai Cui-beng Kui-ong!

Dengan kemarahan masih meluap-luap, kini Cui-beng Kui-ong yang kedua tangannya berlepotan darah karena membantai para pelayan dengan tangan kosong, memecahkan kepala, menusuk dada dengan tangan dan jarinya, berlari memasuki kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong.

Sementara itu, melihat Siang Lan roboh dan tidak mampu bergerak, Pangeran Bouw Ji Kong yang memiliki tingkat ilmu silat cukup tinggi, segera memeriksanya. Dia tahu bahwa gadis itu masih pingsan dan dalam keadaan tertotok. Cepat ia mengambil air yang disediakan untuk minum di ruangan itu dan membasahi muka Siang Lan dengan air. Gadis itu mengeluh dan siuman, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.

Pangeran Bouw berusaha untuk membuka totokan itu, akan tetapi dia selalu gagal. “Nona, tahukah engkau bagaimana membuka totokan pada tubuhmu ini?” “Totokan ini rasanya aneh, aku sendiri tidak tahu,” jawab Siang Lan lirih.

Pada saat itu, terdengar suara gerengan dan kakek A-kui yang kini tampak menyeramkan seperti orang gila, sudah menuruni tangga. Melihat ini, Pangeran Bouw cepat memungut pedang Lui-kong-kiam milik Siang Lan yang ikut terlempar ke lantai dan dia sudah berdiri melindungi kaisar.

Dengan pedang di tangan Pangeran Bouw menghadang lalu berkata dengan suara garang. “Kakek A-kui, siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau menculik Sribaginda Kaisar?”

“Heh-heh-heh, mau tahu aku siapa? Aku adalah Cui-beng Kui-ong, datuk dari Pek-lian-kauw! Aku memang diselundupkan menjadi pelayanmu untuk bertindak kalau-kalau pemberontakanmu gagal. Siapa kira, engkau malah mengkhianati perjuangan sendiri sehingga suteku Hwa Hwa Hoat-su terjebak dan tertawan. Kalian semua akan kubunuh, kucincang agar dendam kami Pek-lian-kauw terbalas ”

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring memasuki ruangan bawah tanah itu.

“Cui-beng Kui-ong......!” Suara itu terdengar jelas sekali, menandakan bahwa suara itu diteriakkan orang yang menggunakan tenaga khi-kang sehingga mengandung getaran yang amat kuat, dapat terdengar dari jauh. “Rumah ini sudah terkepung ratusan perajurit! Engkau menyerahlah dan bebaskan Sribaginda Kaisar!!”

Kakek itu terkejut dan sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah meluncur seperti terbang keluar dari ruangan bawah tanah, kemudian dari dalam kamar tidur Pangeran Bouw Ji Kong dia menjawab dengan suara yang sama nyaringnya karena dia juga mengerahkan tenaga dari dalam pusarnya.

“Hai kalian yang berada di luar! Bebaskan dulu Hwa Hwa Hoat-su dan semua kawan kami yang tertawan, baru kami akan membebaskan kaisar!”

Beberapa saat lamanya tidak terdengar jawaban karena Bu-beng-cu yang tadi mengeluarkan teriakan itu berunding dengan Panglima Chang Ku Cing lebih dulu sebelum menjawab. Kemudian dia mengerahkan khi- kang dan menjawab dengan suara melengking. “Cui-beng Kui-ong, dengar baik-baik! Kalau engkau sekarang membebaskan Sribaginda Kaisar dan mempersilakan beliau keluar menemui kami, maka kami berjanji akan membebaskan Hwa Hwa Hoat-su dan teman-temannya yang kami tawan.”

“Tidak? Harus kalian yang lebih dulu membebaskan Hwa Hwa Hoat-su dan teman-temannya, baru Kaisar akan kubebaskan!” terdengar jawaban kakek itu.

“Dengar, Cui-beng Kui-ong! Syarat kami tidak dapat ditawar lagi! Kalau engkau mengganggu Sribaginda Kaisar apalagi sampai membunuhnya, kami akan menyiksa semua temanmu di penjara sampai mati dan engkau juga akan kami hukum mati dan kepalamu akan kami gantung di depan pintu gerbang agar semua orang dapat melihat dan menghinamu!”

“Ha-ha-ha? Kalian kira aku takut akan ancaman itu? Aku akan membawa Kaisar keluar dan siapa berani menentangku dan tidak mau membebaskan kawan-kawanku, aku akan membunuh Kaisar di depan hidung kalian!!”

Setelah berkata demikian, Cui-beng Kui-ong lalu memasuki pintu rahasia dengan niat membawa Kaisar keluar sebagai sandera. Dia percaya bahwa kalau dia mengancam nyawa kaisar di depan semua panglima itu, pasti tidak ada yang berani menyerangnya dan dia dapat memaksa mereka membebaskan semua tawanan.

Akan tetapi begitu dia menuruni anak tangga untuk membawa kaisar keluar, Pangeran Bouw Ji Kong sudah menghadangnya dengan pedang Lui-kong-kiam di tangannya! Siang Lan masih dalam keadaan tertotok dan ia merasa lemah sekali. Gadis perkasa ini maklum bahwa ia telah keracunan berat oleh uap merah dan juga totokan yang dilakukan kakek itu bukan totokan biasa, melainkan sejenis pukulan yang membuat ia terluka oleh hawa beracun yang amat berbahaya.

“Hemm, Pangeran Bouw, aku hendak membawa Kaisar keluar. Engkau berani mencegah aku?” seru Cui- beng Kui-ong dengan marah dan juga heran akan sikap pangeran ini. Seorang yang tadinya hendak memberontak, hendak membunuh kaisar dan merampas tahta kerajaan, kini berbalik malah hendak melindungi kaisar!

“Jangan engkau berani menyentuh Sribaginda Kaisar! Aku siap membelanya dengan taruhan nyawaku untuk menebus dosa-dosaku!” kata Pangeran Bouw Ji Kong dengan sikap tegas. Siang Lan hanya dapat memandang dengan hati panas dan khawatir, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.

“Heh-heh-heh, pangeran tolol, memang engkau akan mampus lebih dulu!”

“Hyaaatt!!” Pangeran Bouw Ji Kong menyerang dengan pedang Lui-kong-kiam sambil mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan jurus paling ampuh. Begitu menyerang, dia menggunakan ilmu silat pedang simpanannya, yaitu Kan-seng-sin-kiam-hoat (Ilmu Pedang Sakti mengejar Bintang).

Namun, tingkat ilmu pedangnya masih jauh di bawah tingkat kepandaian kakek itu. Cui-beng Kui-ong hanya mengelak dan menangkis dengan tangan dari samping sambil berusaha menangkap pedang dan merampasnya. Akan tetapi dia tahu bahwa pedang Lui-kong-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh, maka dia juga berhati-hati agar tangannya jangan sampai terluka. Hal ini membuat Pangeran Bouw dapat bertahan sampai belasan jurus.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan tasbehnya dan melontarkan ke atas. Tasbeh itu bagaikan hidup berputar- putar dan melayang di udara, mengeluarkan suara berkeritikan dan menyambar ke arah kepala Pangeran Bouw. Pangeran ini berusaha membacok dengan pedangnya, akan tetapi tasbeh itu seperti seekor burung hidup, dapat mengelak dan menyambar-nyambar, membuat Pangeran Bouw mencurahkan perhatiannya ke atas untuk menangkis serangan tasbeh.

Pada saat itu, Cui-beng Kui-ong mengeluarkan sabuk merahnya dan sekali sabuk itu meluncur seperti sinar merah, leher Pangeran Bouw tepat tertotok oleh ujung sabuk. Pangeran itu roboh seketika, pedangnya terlepas dari tangannya dan dia tewas karena totokan ujung kain merah itu selain dahsyat sekali mengenai tenggorokannya, juga dari ujungnya keluar hawa atau uap beracun.

Kaisar yang juga melihat perkelahian itu duduk dengan sikap tenang di atas lantai sambil bersila. Agaknya dia memang pantas menjadi seorang kaisar, sama sekali tidak tampak takut biarpun dia tahu bahwa kini dirinya tidak mempunyai pelindung lagi.

Sementara itu, Siang Lan sudah hampir tidak dapat menahan rasa nyeri di dadanya dan pernapasannya juga sesak terengah-engah. Ia menyadari bahwa semakin ia berusaha untuk mengerahkan sin-kang (tenaga sakti), rasa nyeri dalam dadanya makin menghebat. Maka kini ia hanya diam menahan diri menenangkan hatinya namun ia masih dapat melihat sikap kaisar dan diam-diam ia merasa kagum dan juga terharu.

Post a Comment