“Dia itu Kakek A-kui, pelayan kami yang setia,” jawab Nyonya Bouw lirih namun suaranya jelas mendukung sehingga kecurigaan panglima itu dan Siang Lan lenyap.
“Apakah tidak ada tanda-tanda akan hilangnya Pangeran Bouw? Apakah sebelumnya dia mengatakan sesuatu kepadamu?”
“Tidak ada yang aneh, Chang Thai-ciangkun. Semua biasa-biasa saja dan tiba-tiba, ketika saya bangun pagi, dia sudah lenyap dan tidak ada yang tahu ke mana dia pergi, sampai sekarang tidak ada beritanya. Akan tetapi sekali lagi, mohon jangan menyangka bahwa dia terlibat dengan terculiknya Sribaginda Kaisar, Thai-ciangkun. Saya yakin bahwa dia tidak bersalah ”
Panglima Chang yang tadinya mencurigai pangeran Bouw Ji Kong, percaya kepada nyonya itu. Pula, apa perlunya Pangeran Bouw melakukan penculikan terhadap kaisar setelah dia sadar akan kesalahannya, bahkan telah membantu pemerintah membasmi para pemberontak? Kalau dia melakukannya, sama sekali tidak ada untungnya baginya, yang ada hanya kerugian besar karena selain dia menjadi buronan dan kalau tertangkap akan dihukum berat, juga keluarganya akan ikut menderita karena dihukum. Bukan, pasti bukan Pangeran Bouw Ji Kong yang melakukannya atau yang mendalangi diculiknya kaisar.
Panglima Chang dan Siang Lan pamit dan pergi. Setelah mereka pergi, Nyonya Bouw Ji Kong menjatuhkan diri di atas kursinya dan menangis. Tiga orang pelayan wanita itu mencoba menghiburnya. Kakek A-kui, pelayan tua itu, berkata lirih.
“Bagus, Hujin. Sikap dan tindakan Hujin tepat dan bagus sekali.”
Setelah berkata demikian, karena semua perabot di situ sudah dibersihkannya, dia meninggalkan ruangan tamu untuk bekerja di ruangan lain.
Biarpun Panglima Chang Ku Cing sudah melarang mereka yang berada dalam istana agar jangan menceritakan tentang terculiknya kaisar, tetap saja berita itu bocor dan membuat rakyat menjadi gempar, khawatir dan ketakutan.
Hal ini dapat dirasakan ketika Panglima Chang dan Siang Lan berjalan keluar dari gedung Pangeran Bouw. Di jalan raya dia melihat sikap rakyat yang rata-rata berwajah muram dan gelisah. Dia tidak dapat menyalahkan siapa-siapa karena berita seperti itu tentu segera tersiar, bahkan mungkin sampai jauh di luar kota raja. Kaisar diculik orang! Berita ini tentu amat mengguncangkan hati rakyat.
Mengingat belum diperolehnya hasil dari semua penjagaan ketat dan pencarian yang amat teliti, wajah Panglima Chang Ku Cing menjadi murung. Biarpun pencarian terhadap kaisar yang hilang itu menjadi tanggung jawab semua pejabat, namun dia merupakan pucuk pimpinan sehingga di tangannyalah terletak pertanggungan jawab itu.
“Paman Bu-beng-cu !”
Tiba-tiba Siang Lan berseru girang ketika seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang, wajahnya bersih dan tampan, sepasang matanya mencorong namun senyumnya penuh kelembutan, berada di depannya. Laki-laki itu adalah Bu-beng-cu, yang menggembleng Siang Lan dengan ilmu-ilmu yang lihai.
Panglima Chang Ku Cing memandang penuh perhatian dan Siang Lan segera memperkenalkan. “Paman, ini adalah Panglima Chang Ku Cing! Paman Chang ini adalah Paman Bu-beng-cu yang membimbing saya untuk memperdalam ilmu silat.”
Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) segera memberi hormat kepada panglima yang sudah lama dia kenal namanya dan amat dikaguminya itu. Panglima Chang membalas penghormatan itu.
“Paman Panglima, kebetulan sekali paman Bu-beng-cu berada di sini. Kalau dia membantu kita, tentu lebih besar harapan kita untuk dapat menemukan Sribaginda Kaisar!”
Panglima Chang menatap wajah Bu-beng-cu penuh perhatian. “Saudara Bu-beng-cu, apakah engkau sudah mendengar peristiwa itu?”
“Tentang hilangnya Sribaginda Kaisar? Saya sudah mendengarnya, Thai-ciangkun. Justeru karena itulah saya berada di sini karena saya tahu bahwa Nona Nyo Siang Lan ini pasti sedang sibuk untuk ikut mencari. Saya ingin membantunya sedapat mungkin.”
“Bagus! Marilah ikut dengan kami dan di sana kita bicarakan bersama apa yang harus kita lakukan.”
“Maaf, Thai-ciangkun. Saya lebih suka bekerja sendiri karena dengan cara diam-diam si penculik tidak akan mengenal saya dan tidak akan tahu bahwa saya juga ikut mencari Sribaginda. Saya akan minta penjelasan dari Hwe-thian Mo-li saja.”
Panglima Chang mengangguk-angguk setelah dia memandang Siang Lan dan melihat gadis itu mengangguk kepadanya.
“Hemm, kami kira gagasan itu baik sekali. Selama ini kami mencari beramai-ramai dan tentu saja si penculik, kalau memang dia masih berada di dalam kota raja, akan mudah melihat gerak gerik kami. Baiklah, kalau begitu, engkau yang memberi keterangan kepadanya, Siang Lan. Aku akan mengadakan rapat dengan para perwira pembantuku.” Panglima itu lalu meninggalkan mereka berdua.
Siang Lan merasa gembira bukan main melihat Bu-beng-cu muncul di kota raja. Semua kekecewaan dan kemurungannya karena tidak berhasil menemukan kaisar yang diculik orang, lenyap terganti harapan dan kegembiraan. Diam-diam ia merasakan perubahan pada perasaannya ini dan kembali hampir merasa yakin bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada orang yang selama ini bersikap demikian baik, membelanya dan bahkan mau menggemblengnya dengan sungguh-sungguh agar ia kelak dapat membalas dendamnya kepada musuh besarnya yaitu Thian-te Mo-ong!
“Paman, mari kucarikan tempat menginap untukmu.”
“Tadi begitu memasuki kota saja aku langsung mencari rumah penginapan dan sudah menyewa sebuah kamar di rumah penginapan Hok An di ujung selatan kota, Siang Lan,” kata Bu-beng-cu.
“Kalau begitu, mari kita ke sana dan kita bicara di sana agar lebih leluasa, Paman.”
Mereka berdua lalu pergi ke rumah penginapan yang tidak berapa besar itu. Bu-beng-cu membuka pintu kamarnya dan membiarkan pintu itu terbuka lebar sehingga tidak akan tampak janggal atau tidak sopan kalau seorang gadis seperti Siang Lan memasuki kamarnya. Melihat daun pintu dibuka lebar sehingga tampak dari luar, Siang Lan juga tidak ragu ragu lagi memasuki kamar itu bersama Bu-beng-cu.
Di atas meja terdapat buntalan pakaian dan juga segulung kain seperti sebuah lukisan. Karena ingin tahu, Siang Lan menghampiri meja.
“Ini lukisan apakah, Paman?”
Ia merasa heran sekali karena tiba-tiba laki-laki itu menyambar gulungan lukisan itu dan melemparkannya ke atas pembaringannya. “Jangan, Siang Lan. Gambar itu tidak kuperlihatkan kepada orang lain!”
Siang Lan menjadi penasaran. Aneh, sebuah lukisan saja mengapa dirahasiakan? “Aih, lukisan apakah itu maka aku tidak boleh melihatnya, Paman?”
“Lukisan seorang wanita!”
Siang Lan merasa seolah-olah ada batu besar menghimpit hatinya dan ia merasa betapa mukanya menjadi panas. Hatinya merasa tidak enak sekali.
“Seorang perempuan, Paman?” tanya Siang Lan sambil mengerling ke arah gulungan kain bergambar itu. “Akan tetapi paman pernah bilang bahwa Paman tidak mempunyai isteri, tidak mempunyai keluarga. Apakah itu gambar isteri paman?”
Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya. “Bukan, aku belum pernah beristeri.”
Kembali Siang Lan merasakan suatu perasaan lega yang baginya kini tidak aneh lagi karena ia hampir yakin bahwa ia sesungguhnya mencinta laki-laki ini dan tentu saja merasa cemburu.
“Lalu siapakah yang berada di gambar Paman? Kalau gambarnya Paman bawa ke mana-mana, tentu ia seorang yang penting bagimu.”
“Ya ia memang seorang yang amat penting bagiku.”
“Siapakah ia, Paman?” Siang Lan bertanya penuh ingin tahu, akan tetapi ia menyadari bahwa tidak sepantasnya ia mendesak karena hal itu sama saja dengan memperlihatkan kecemburuannya, maka cepat- cepat disambungnya. “Ah, sudahlah, kalau engkau tidak ingin mengatakan dan ingin merahasiakannya dariku, Paman.”
“Siang Lan, lebih baik sekarang kauceritakan yang jelas tentang penculikan atas diri Sribaginda Kaisar itu.”
Siang Lan teringat akan tugasnya, lalu ia menceritakan tentang kebakaran di istana sehingga menggegerkan seisi istana lalu setelah api dapat diatasi ternyata para pengawal dalam istana dan seberapa orang Thai-kam terbunuh dan Sribaginda Kaisar lenyap.
“Menurut para pelayan wanita yang pingsan, mereka hanya melihat seorang berpakaian serba hitam dengan muka tertutup kain, bertubuh tinggi kurus, menculik kaisar dan seperti terbang meninggalkan istana.”