Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 99

Memuat...

Ci Hwa mengenang nasib Hong Beng.

"Karena menolongku, dia sampai ikut tertawan. Ah, bagaimana aku harus menolongnya? Biar berkorban nyawa sekalipun, aku bersedia untuk menyelamatkannya."

Ia termenung dan menyadari sepenuhnya bahwa ia telah jatuh cinta kepada pemuda tampan dan halus yang pernah merenggutnya dari tangan maut ketika ia nekat hendak membunuh diri di hutan itu. Ia tahu bahwa tiga orang tawanan lain berada di dalam kamar-kamar sebelah karena ia dilemparkan dalam kamar terakhir, dan dia pun melihat betapa tiga orang itu lebih dahulu dibelenggu sebelum ditinggalkan dalam kamar tahanan. Akan tetapi ia tidak dapat berhubungan dengan mereka karena kamar mereka bersebelahan. Biarpun malam itu di luar amat gelapnya, namun di bangunan besar yang menjadi tempat tawanan ini cukup terang oleh lampu-lampu gantung. Agaknya memang tempat itu sengaja diterangi agar gerak-gerik para tawanan dapat dilihat jelas oleh para penjaga.

Ci Hwa melihat dua orang penjaga membawa lentera mengiringkan seorang laki-laki tinggi kurus menuju ke tempat para tawanan. Agaknya masih ada tawanan lain di tempat itu selain mereka berempat, dan kini laki-laki tinggi kurus itu melakukan perondaan, menjenguk ke dalam setiap kamar yang berisi tawanan melalui ruji besi di bagian atas pintu. Dari jauh, Ci Hwa melihat dari sinar lentera itu dan kembali ia tertegun. Tadi, ketika ia dan tiga orang lainnya diseret ke tempat tawanan ini, ia pun sudah tertegun dan terheran melihat laki-laki tinggi kurus itu, yang ternyata menjadi pimpinan para anak buah Tiat-liong-pang yang melakukan penjagaan di tempat itu. Ia merasa sudah mengenal laki-laki itu akan tetapi di mana. Seorang laki-laki yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus, dengan sepasang mata tajam dan muka agak pucat.

Pedangnya tergantung di punggung dan pandang mata yang tajam itu membayangkan kecerdikan dan juga kekejaman. Kini, melihat sinar lentera menyoroti muka orang itu, melihat lirikan mata itu, tiba-tiba Ci Hwa teringat. Ciu-piauwsu! Ya, sudah beberapa kali ia bertemu dengan rekan ayahnya itu. Dia seorang piauwsu (pengawal barang kiriman) di Ban-goan, di kota tempat tinggalnya, Sebagai seorang piauwsu, rekan dari ayahnya, tentu saja ia mengenalnya, seperti ia mengenal semua piauwsu di kota Ban-goan. Bahkan akhir-akhir ini, Ciu-piauwsu yang bernama Ciu Hok Kwi itu menarik perhatian keluarganya ketika Ciu-piauwsu mendatangi Ban-goan Piauwkiok dan menantang ayahnya! Ayah Kwee Tay Seng atau Kwee-piauwsu menyambut tantangan Ciu-piauwsu sehingga terjadi perkelahian, di mana Ciu-piauwsu tidak mampu menandingi ayahnya,

Mengaku kalah dan pergi sambil mengancam. Itulah Ciu-piauwsu! Dan kini, tahu-tahu dia muncul di tempat ini, sebagai kepala para anggauta Tiat-liong-pang! Mengingat ini, tiba-tiba saja Ci Hwa melihat kesempatan baik untuk menyelamatkan Hong Beng dan dua orang lainnya. Kalau saja ia dapat mendekati Ciu-piauwsu! Bagaimanapun juga, mereka adalah sekota, bahkan orang itu juga seorang piauwsu, seperti ayahnya. Dan ia pun teringat bahwa Ciu Piauwsu adalah seorang piauwsu di perusahaan piauwkiok milik ayah Tan Sin Hong! Ciu Piauwsu adalah pembantu dari mendiang Tan Piauwsu. Apakah ini hanya suatu kebetulan saja? Otak gadis ini bekerja dan semakin mantap hatinya untuk mendekati Ciu Piauwsu, dengan cara apa pun, bukan sekadar untuk berusaha menyelamatkan Hong Beng dan dua orang tawanan lain,

Juga untuk menyelidiki tentang kehadiran seorang piauwsu di Ban-goan di antara orang-orang Tiat-liong-pang! Seorang yang telah mengalami peristiwa hebat seperti yang diderita oleh Ci Hwa, memang dapat berubah segala-galanya. Rasa sakit hati, putus asa, duka dan kekhawatiran yang melanda hatinya semenjak ia diperkosa dan dihina oleh Siangkoan Liong, membuat ia menjadi seorang yang nekat. Ia tidak lagi menghargai dirinya sendiri, yang ada hanyalah satu tekad, ialah membalas dendam, melampiaskan kebencian atau rasa cinta tanpa mengenal batas lagi, tanpa mempedulikan keselamatan diri atau harga diri lagi. Kini, Ciu Hok Kwi dan dua orang anak buahnya yang memeriksa setiap orang penghuni kamar-kamar tahanan itu, sedang menuju ke kamar tahanan di mana Ci Hwa berdiri memegangi terali besi dan memandang keluar.

"Ciu Piauwsu....!"

Ci Hwa memanggil dengan suara lembut. Ciu Hok Kwi memandang tajam dan sejenak dia menatap wajah gadis itu dengan penuh perhatian. Ketika Ci Hwa berada di perkampungan itu dan menjadi korban Siangkoan Liong, Ciu Hok Kwi tidak berada di sana sehingga dia tidak tahu akan semua peristiwa yang menimpa diri gadis itu. Kini, ketika dia melakukan perondaan, tiba-tiba saja seorang di antara para tawanan itu, seorang gadis manis sekali dengan mulut yang penuh gairah, memanggilnya dengan sebutan Ciu Piauwsu, sebutan yang luar biasa sekali di situ karena tiada seorang pun menyebutnya seperti itu! Dia memandang tajam dan heran lalu melangkah dekat. Dia hanya tahu bahwa di antara empat orang tawanan yang tadi mengamuk dan ditangkap, gadis ini adalah yang paling lemah dan tidak berbahaya,

Demikian menurut keterangan Siangkoan Kongcu. Oleh karena itu, dia pun tidak merasa perlu untuk membelenggu gadis ini. Ci Hwa melihat sikap orang itu, maklum bahwa orang she Ciu itu agaknya lupa dan tidak mengenalnya. Memang ketika berada di Ban-goan, di antara mereka tidak ada hubungan sesuatu dan jarang berjumpa. Gemblengan batin yang mengalami guncangan dan tekanan hebat itu telah membuat gadis yang hijau itu kini menjadi seorang wanita yang matang dan penuh perhitungan! Ia tersenyum, senyum manis dan ia tahu bahwa senyumnya dengan tarikan pada dagunya itu akan menciptakan lesung pipit yang manis pada lekukan pipinya yang kiri, yang sengaja ia miringkan agar tersorot sinar lentera yang dibawa oleh kedua orang anak buah Tiat-liong-pang itu.

"Aih, Ciu Piauwsu, apakah engkau sudah lupa kepadaku? Kita sama-sama dari Ban-goan, karena itu, harap kau suka mengingat akan kawan sekota dan suka menolong aku....!"

Dalam suaranya, Ci Hwa menggetarkan permohonan yang amat sangat, demikian pula sinar matanya memandang penuh harapan. Ciu Hok Kwi tertarik. Dia bukan seorang pelahap wanita seperti Toat-beng Kiam-ong atau Siangkoan Liong, akan tetapi dia bukanlah kanak-kanak. Dia seorang laki-laki dewasa yang sudah berpengalaman, maka tentu saja dia dapat menangkap gairah dalam pandang mata gadis manis ini, di mana terkandung penawaran dan janji manis sekali.

"Hemmm, jangan ngawur! Aku bukan piauwsu....!"

Dia masih mencoba karena dia belum mengenal gadis itu, matanya tak dapat dihindarkan lagi mengamati lekukan dan tonjolan bukit dada yang menjadi amat jelas karena Ci Hwa menekan dadanya pada jeruji besi kuat-kuat.

"Aih, Ciu Piauwsu, harap jangan salah sangka. Aku.... aku mengenalmu sebagai seorang piauwsu yang gagah. Namaku Kwee Ci Hwa.... dari Ban-goan Piauwkiok! Nah, engkau tentu masih ingat, bukan?"

Ciu Hok Kwi terbelalak, lalu mengelus dagunya yang halus karena jenggotnya dia cukup bersih, matanya yang tajam itu mengamati wajah gadis cantik itu penuh perhatian.

"Ah, engkau she Kwee.... dari Ban-goan Piauw-kiok?"

"Benar, Ciu Piauwsu, aku puteri majikan Ban-goan Piauw-kiok!"

Ciu Hok Kwi mengangguk-angguk dan tersenyum simpul, lalu mendekat, untuk dapat mengamati wajah cantik itu lebih jelas lagi.

"Ah, kiranya puteri Kwee Piauwsu! Dan mengapa pula engkau sampai tertawan di sini?"

Ci Hwa, gadis yang sebetulnya masih hijau itu, kini telah menjadi matang oleh musibah yang menimpa dirinya, membuatnya menjadi amat cerdik dan pandai sekali bersandiwara. Mudah saja baginya kini untuk menekan batinnya sehingga air mata mengalir turun dari kedua matanya ketika ia mendengar pertanyaan Ciu Hok Kwi itu.

"Aih, Ciu Piauwsu, harap engkau suka menaruh kasihan kepadaku dan suka menolongku, mengingat bahwa kita sama-sama datang dari Ban-goan. Nasibku sungguh malang.... dan di tempat asing ini, siapa lagi yang dapat kumintai tolong kecuali engkau seorang? Tolonglah aku, selamatkan aku dan.... aku akan berterima kasih sekali, aku berhutang budi dan aku akan membayarmu dengan apa saja, Ciu Piauwsu...."

Kembali Ciu Hok Kwi melihat sikap yang menantang dan penuh janji manis itu, dari sepasang mata yang basah air mata, dari mulut yang setengah terbuka, dari tonjolan dada yang ditekan pada jeruji besi.

"Bagaimana aku dapat menolongmu? Aku tidak berani membebas-kanmu, nona Kwee, karena para pemimpin sendiri yang menawanmu."

"Tidak usah membebaskan aku, asal aku.... jangan sampai terbunuh.... katakan kepada mereka bahwa aku ini calon isterimu atau apa saja, asal aku dapat terhindar dari bahaya maut...."

Berdebar rasa jantung Ciu Hok Kwi. Dia memang belum menikah, dan sukar ditemukan seorang gadis yang demikian manis seperti Ci Hwa menawarkan diri seperti ini!

"Akan tetapi ceritakan dulu bagaimana engkau sampai tertawan? Apakah engkau memusuhi Tiat-liong-pang?"

"Mana aku berani? Aku akan bercerita terus terang saja kepadamu, Ciu-toako dan hal ini baru kepadamu saja kuceritakan."

Ci Hwa berbisik-bisik dan Ciu Hok Kwi semakin tertarik karena gadis itu menyebutnya toako, bukan Piauwsu lagi, sebutan yang lebih akrab.

"Aku meninggalkan rumah orang tuaku, engkau tentu mengerti, sebagai seorang gadis yang ingin meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan. Ketika tiba di dekat tempat ini, aku diganggu lima orang pemburu, aku dikeroyok dan kalah, dan hampir aku diperkosa oleh mereka berlima. Aku sudah ditelanjangi, empat orang memegang kaki tanganku dan orang ke lima sudah siap untuk memperkosa aku yang masih perawan...."

Entah dari mana Ci Hwa memperoleh kemampuan bercerita seperti itu, sengaja menggambarkan keadaan yang dapat merangsang pendengarnya. Usahanya berhasil karena mendengar cerita itu, sepasang mata Ciu Hok Kwi seakan-akan menelanjangi-nya, meraba-raba tubuhnya karena piauwsu muda itu menggambarkan keadaan Ci Hwa seperti yang diceritakannya itu. Dan Ci Hwa sengaja berhenti untuk memancing reaksi dari pendengarnya.

"Lalu bagaimana.... lanjutkan ceritamu....!"

Kata Ciu Hok Kwi agak terengah-engah dan mukanya yang biasanya pucat itu kini menjadi agak kemerahan, matanya tetap menggerayangi lekuk lekung tubuh Ci Hwa dengan lahap.

"Aku sudah putus asa, hendak menjerit mulutku dibungkam, aku hanya dapat meronta-ronta sekuatku, namun sia-sia karena empat orang itu memegangi kaki tanganku. Dan pada saat terakhir, muncullah Siangkoan Kongcu! Dengan gagahnya dia menghajar lima orang pemburu itu sampai mereka tetbunuh semua dan mayat mereka dilempar ke dalam jurang. Lalu Siangkoan Kongcu menghampiri aku yang masih belum sempat berpakaian...."

Kembali ia berhenti dan melihat dengan kegembiraan yang disembunyikan betapa laki-laki itu berkeringat dan menjilati bibirnya sendiri seperti seekor anjing kelaparan melihat daging segar yang membangkitkan selera den menambah rasa lapar.

"Kemudian.... bagaimana....?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment