Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 83

Memuat...

"Marilah kita duduk dan bicara, Hong-ko. Hei, Yo Han, mari duduk di sini engkau. Kenapa berdiri bengong saja di situ?"

Teriak Suma Lian sambil menggapai kepada anak itu yang sejak tadi berdiri di pinggir. Mendengar panggilan ini, Yo Han lari menghampiri.

"Enci, bagaimana pendapatmu dengan ilmu kesaktian suhuku? Siapakah yang lebih unggul antara Enci dan Suhu tadi?"

Tanyanya sambil duduk di atas rumput, dekat Suma Lian.

"Tentu saja gurumu yang lebih lihai,"

Kata Suma Lian tersenyum.

"Yo Han, duduk saja di situ dan tutup mulut, jangan bicara kalau tidak ditanya!"

Sin Hong berkata dengan tegas.

"Baik, Suhu"

Jawab Yo Han, tegas pula walaupun sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh kegembiraan. Agaknya Yo Han sudah mengenal betul watak gurunya yang lemah lembut dan tahu bahwa kegalakan tadi dibuat-buat saja. Mereka duduk berhadapan, dan Yo Han duduk agak mundur. Setelah beberapa lamanya saling pandang, Suma Lian berkata,

"Hong-ko, agaknya engkau sudah tahu bahwa aku adalah keturunan keluarga Pulau Es tentu engkau mendengar dari percakapan ketika aku menghadapi orang-orang sesat tadi. Akan tetapi aku sendiri belum tahu siapakah engkau sebenarnya."

"Namaku Tan Sin Hong."

"Itu aku sudah tahu. Akan tetapi, siapakah gurumu, Hong-ko? Aku yakin bahwa ada hubungan antara perguruan kita karena kita berdua sama-sama menguasai tenaga Sakti Inti Bumi, walaupun ilmu-ilmu silatmu aneh dan banyak yang tidak kukenal."

Sin Hong mengerutkan alisnya.

Selama ini, belum pernah dia menceritakan kepada orang lain tentang guru-gurunya tentu saja kecuali kepada keluarga suhengnya, Kao Cin Liong sebagai putera tunggal suami Isteri penghuni Istana Gurun Pasir. Akan tetapi, dia pun sering mendengar dari para gurunya bahwa keluarga Pulau Es tidak boleh dianggap sebagai "orang luar"

Karena ada hubungan erat sekali antara keluarga Istana Gurun Pasir dan Pulau Es. Dia tahu bahwa gadis yang wataknya aneh ini akan tersinggung dan marah kembali kalau dia tidak mau mengaku siapa guru-gurunya. Kiranya tidak ada salahnya kalau dia mengaku kepada seorang gadis she Suma, keturunan aseli dari Pulau Es.

"Terus terang saja, Lian-moi, tidak pernah aku memperkenalkan nama guru-guruku kepada orang lain. Akan tetapi karena para guruku mengenal baik keluarga Pulau Es, bahkan mempunyai hubungan dekat, dan mengingat pula bahwa antara kita sudah terjadi tali persahabatan yang akrab, maka biarlah aku mengaku kepadamu. Aku mempunyai tiga orang guru, mereka adalah mendiang suami isteri penghuni Istana Gurun Pasir...."

"Ahhh! Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?"

Suma Lian berseru, hampir berteriak.

"Benar, dan yang seorang adalah suhu Tiong Khi Hwesio. Mereka bertiga berada di Gurun Pasir dan aku menjadi murid para guruku itu selama tujuh tahun di sana."

"Aihhhhh....! Pantas saja engkau demikian lihai! Tapi.... tapi.... engkau tadi berkata mendiang? Apakah.... apakah mereka itu sudah...."

"Mereka sudah meninggal dunia, Lian-moi, tewas ketika belasan orang tokoh sesat menyerbu ke Istana Gurun Pasir. Dan ketahuilah bahwa para penyerbu itu bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li tadi bersama kawan-kawannya yang lihai."

"Iblis betina tadi?"

Suma Lian berseru kaget dan matanya terbelalak.

"Tapi.... bagaimana mungkin iblis betina itu dan kawan-kawannya mampu menewaskan mereka yang sakti? Padahal di sana ada engkau pula, Hong-ko?"

Suma Lian bertanya dengan nada suara mengandung penasaran. Ia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li lihai, akan tetapi ia sendiri mampu menandingi iblis betina itu bahkan Sin Hong sendiri jauh lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li. Bagaimana mungkin iblis betina itu bersama kawan-kawannya mampu menewaskan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, juga Tiong Khi Hwesio yang pernah didengarnya pula dari ayah ibunya sebagai seorang yang amat lihai? Sin Hong menarik napas panjang,

"Agaknya Tuhan telah menakdirkan bahwa tiga orang guruku itu harus gugur dan tewas sebagai orang-orang yang gagah perkasa. Kurang lebih dua tahun yang lalu terjadinya. Tiga orang guruku adalah orang-orang sakti, akan tetapi usia mereka pun sudah amat lanjut rata-rata delapan puluh tahun, bahkan suhu Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sudah berusia delapan puluh lima tahun. Adapun yang datang menyerbu, bukan orang-orang sembarangan, banyak yang lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li. Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw semua berjumlah tujuh belas orang. Tiga orang guruku tewas akan tetapi dari tujuh belas orang penyerbu itu empat belas orang tewas pula, sedangkan yang masih hidup namun terluka parah adalah Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-kauw, Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-kauw."

"Akan tetapi engkau sendiri bukankah engkau berada di sana, Hong-ko dan bagaimana gurumu tewas?"

Suma Lian memandang dengan alis berkerut agaknya merasa heran dan menyesal mengapa pemuda ini tidak dapat membela gurugurunya. Sin Hong menarik napas panjang, jantungnya terasa nyeri seperti ditusuk setiap kali dia teringat akan peristiwa itu.

"Sudah kukatakan tadi Lian-moi, agaknya Tuhan sudah menghendaki demikian dan menakdirkan tiga orang guruku itu sudah tiba saatnya meninggal dunia. Pada waktu itu, aku tidak berdaya. Tiga orang guruku itu mengajarkan sebuah ilmu gabungan ciptaan mereka bertiga dan mengoperkan gabungan tenaga sakti kepada diriku. Ilmu itu harus kupelajari selama satu tahun, dengan syarat bahwa selama setahun itu aku sama sekali tidak boleh melakukan gerakan silat apalagi mengerahkan sinkang karena kalau hal ini kulakukan.... aku akan tewas dengan sendirinya, terpukul sendiri oleh tenaga yang kukerahkan itu. Nah bayangkan saja, Lian-moi. Aku tidak dapat bergerak, terpaksa melihat tiga orang guruku tewas di tangan mereka, dan aku sendiri tertawan tiga orang yang masih tersisa itu. Mereka mengira aku seorang kacung yang tidak memiliki ilmu silat, mereka memaksaku untuk menunjukkan di mana adanya pusaka-pusaka istana tua itu. Karena memang tidak ada pusaka, mereka menyiksaku. Aku membakar istana tua itu berikut jenazah tiga orang guruku, dan aku disuruh menguburkan jenazah empat belas orang penyerbu yang tewas. Untung bagiku pada malam harinya, aku berhasil melarikan diri dan sembunyi di dalam hutan selama satu tahun untuk menyelesaikan latihanku."

Suma Lian mendengarkan dan kini senyumnya timbul kembali. Kiranya pemuda ini bukan seorang pengecut, melainkan karena terpaksa maka tidak mampu membela guru-gurunya.

"Tapi kenapa Sin-kiam Mo-li tadi tidak heran melihat engkau muncul sebagai seorang yang berilmu tinggi, Hongko?"

"Semenjak aku keluar dari dalam hutan sudah pernah aku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, yaitu ketika ia hendak membunuh ketua Cin-sa-pang. Aku menyelamatkan ketua itu dan sejak itu Sin-kiam Mo-li sudah tahu bahwa aku mewarisi ilmu dari para guruku."

"Akan tetapi, Hong-ko, sungguh aku tidak mengerti. Engkau telah bertemu dengan seorang di antara para pembunuh guru-gurumu, yaitu Sin-kiam Mo-li. Kenapa engkau tidak membalas dendam dan membunuh iblis betina itu?"

Sin Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Ketahuilah Lian-moi, guru-guruku pernah memesan dengan amat sangat kepadaku agar jangan membiarkan dendam meracuni hatiku. Kalau aku menentang Sin-kiam Mo-li, yang kutentang adalah perbuatannya yang jahat, bukan karena dendamku kepada pribadinya, karena kematian guru-guruku."

Suma Lian mengerutkan alisnya. Pernah ia mendengar ayahnya juga berpendapat demikian, namun ia sendiri tidak pernah dapat menerima dan menyetujui pendapat itu.

"Sudahlah, sekarang ceritakan, siapa keluarga-mu, Hong-ko, dan bagaimana engkau sampai dapat menjadi murid para penghuni Istana Gurun Pasir."

Terpaksa Sin Hong menceritakan riwayatnya, betapa keluarga ayahnya menjadi hancur karena perbuatan jahat musuh yang sampai kini belum diketahuinya benar siapa orangnya. Betapa ayahnya dibunuh orang, ibunya tewas di gurun pasir, dan dia sendiri tertolong oleh para penghuni Istana Gurun Pasir sehingga menjadi murid mereka. Betapa kemudian dia menyelidiki pembunuh ayahnya sampai sekarang, belum juga berhasil.

"Hemmm, kalau begitu engkau menaruh dendam dan hendak membalas kematian ayahmu?"

Suma Lian memancing. Pemuda itu menggeleng kepalanya.

"Sama sekali tidak, Lian-moi. Aku hanya mencari pemecahan rahasia itu, ingin aku mengetahui siapa pembunuh ayahku dan mengapa pula ayah dibunuh sehingga ibu pun tewas dalam keadaan sengsara. Kalau pembunuh itu memang jahat, tentu saja akan kutentang seperti aku menentang para penjahat lainnya, siapa dan di mana pun juga. Menurut hasil penyelidikanku, rahasianya agaknya terletak pada perkumpulan Tiat-liong-pang dan aku sedang hendak pergi ke sana."

Post a Comment