Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 80

Memuat...

Bi-kwi mengangguk dan sambil tersenyum ia mengikuti rombongan Sin-kiam Mo-li meninggalkan tempat itu. Ia melihat betapa suaminya terdapat pula dalam rombongan itu, bahkan tidak dibelenggu dan ia pun diperbolehkan berjalan dekat suaminya. Tanpa berkata-kata, mereka saling berpegang tangan dan berjalan. Sin-kiam Mo-li berjalan di belakang mereka siap dengan senjatanya untuk mencegah kalau-kalau Bi-kwi berusaha melarikan suaminya. Namun, Bi-kwi tidaklah sebodoh itu.

Ia tahu betapa lihainya Sin-kiam Mo-li, apalagi ditambah dengan banyak anak buahnya. Ia takkan mampu melarikan suaminya dengan jalan kekerasan. Kalau hal itu dicobanya, berarti ia hanya akan bunuh diri bersama suaminya. Biarpun hatinya sudah merasa lega dan tenang karena putera mereka telah ikut pergi bersama Tan Sin Hong yang sakti, namun ia harus dapat mempertahan-kan dirinya dan suaminya dari kebinasaan dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri mereka berdua hanyalah mentaati perintah Sin-kiam Mo-li untuk sementara waktu ini. Tentu saja ia tidak mau percaya begitu saja bahwa seorang jahat dan keji macam Sin-kiam Mo-li, mendadak dapat berubah menjadi seorang patriot! Tentu ada apa-apanya dalam pergerakan yang dimaksudkan Sin-kiam Mo-li itu.

Maka, ia pun menjadi penurut dan wajahnya selalu cerah, apalagi karena ia diberi kebebasan untuk berkumpul dengan suaminya, walaupun siang malam mereka berdua selalu dibawah pengawasan ketat. Suma Lian merasa penasaran sekali. Ketika ia meninggalkan rombongan Sin-kiam Mo-li yang menawan Yo Jin dan memaksa Bi-kwi menjadi pembantunya, ia masih merasa penasaran bukan main. Ia memang tidak begitu peduli akan keadaan Bi-kwi. Bukankah menurut cerita yang ia pernah dengar dari ayah ibunya, Bi-kwi memang dahulunya seorang tokoh sesat dan mungkin sejalan dengan Sin-kiam Mo-li? Kalau sekarang ia "kembali"

Kepada golongan hitam, hal itu tidak aneh walaupun hal itu masih meragu-kan melihat bahwa Bi-kwi memang dalam keadaan terjepit. Suaminya masih ditawan dan dijadikan sandera, maka terpaksalah wanita itu menyerah.

Betapapun juga, ia percaya bahwa seorang wanita yang demikian cerdik dan banyak pengalaman seperti Bi-kwi, tentu akan menjaga diri sendiri dan suaminya dan tidaklah perlu dikhawatirkan benar. Akan tetapi, yang membuat hatinya mendongkol adalah karena Yo Han oleh Bi-kwi diserahkan kepada pemuda yang mengaku bernama Tan Sin Hong itu! Huh, tak tahu diri, pikirnya dengan hati dan perut panas ketika ia berlari cepat meninggalkan hutan itu. Bukankah ia sendiri hampir saja tewas karena membela anak itu? Hampir saja ia mengorbankan nyawanya demi menolong Yo Han. Dan apa balasnya? Anak itu diserahkan orang lain yang datang belakangan, seolah-olah anak itu dan ibunya lebih percaya kepada Tan Sin Hong daripada kepadanya! Bahkan anak itu sendiri pun memilih Sin Hong! Memang itu hak mereka.

Hanya ia mendongkol kepada pemuda itu yang dianggapnya menonjolkan diri dan menyainginya! Seolah-olah pemuda itu lebih lihai darinya, maka Yo Han memilih pemuda itu daripada ia untuk menjadi gurunya! Bukan karena ia ingin sekali menjadi guru Yo Han! Ia pun tidak mau menjadi guru, karena kalau anak itu ikut dengannya, maka hanya akan menjadi beban. Ia seorang gadis muda, untuk apa mengambil murid? Andaikata Yo Han jadi dibawanya, paling-paling akan dititipkannya kepada keluarga lain, atau juga kepada ayah ibunya. Makin panas rasa perutnya kalau ia teringat kepada Tan Sin Hong. Pemuda itu agaknya sengaja memamerkan kepandaiannya ketika melawan Tok-ciang Hui-moko Liok Cit! Huh, ia pun mampu merobohkan Liok Cit dalam sejurus saja! Apa anehnya mengalahkan si baju hijau itu? Pemuda sombong!

Dengan pikiran yang makin menggerogoti hatinya dan membuat hati itu menjadi semakin panas, Suma Lian mempercepat larinya untuk mengejar dan mencari Sin Hong yang tadi membawa pergi Yo Han! Segala macam emosi datang dari pikiran! Pikiran mengingat-ingat dan mengunyah pengalaman lampau, menonjolkan kepentingan diri sendiri, menciptakan gambaran si aku yang demikian agung dan tingginya sehingga diganggu sedikit saja akan menimbulkan emosi dan perasaan marah, duka, takut dan sebagainya. Pikiran yang hening dan kosong dari beban ingatan masa lampau dan bebas dari bayangan khayal masa depan, akan membuat kita menjadi waspada akan diri sendiri lahir batin sekarang saat demi saat, waspada akan keadaan sekeliling kita, sehingga kita akan mampu menghayati hidup yang sesungguhnya, hidup yang seutuhnya.

Karena Sin Hong yang pergi sambil menggandeng tangan Yo Han berjalan biasa, tidak mempergunakan ilmu berlari cepat, tentu saja dia segera dapat disusul oleh Suma Lian. Pemuda itu berjalan seenaknya sambil mengobrol dengan Yo Han. Dia minta kepada anak itu untuk menceritakan keadaan keluarganya. Tidak banyak yang dapat diceritakan Yo Han. Anak itu hanya tahu bahwa ayah dan ibunya hidup sebagai petani-petani yang hidup penuh damai dan tenteram, cukup makan dan pakaian, dan dia sendiri sejak kecil hidup di dusun itu, bermain dengan anak-anak dusun lainnya. Hanya bedanya dengan anak-anak dusun, dia sejak kecil diberi pelajaran baca tulis oleh ibunya sehingga kini dia sudah pandai membaca dan menulis, bahkan membuat sajak.

"Engkau tidak pernah dilatih ilmu silat?"

Tanya Sin Hong yang merasa heran sekali. Yo Han menggeleng kepala.

"Jangankan dilatih ilmu silat, bahkan mengetahui bahwa ibu pandai ilmu silat pun baru saja tadi ketika ayah ditawan. Sebelum ini ayah dan ibu tidak pernah bicara tentang ilmu silat dan aku pun tidak pernah mimpi bahwa ibuku pandai ilmu silat."

Diam-diam Sin Hong merasa heran akan tetapi juga kagum. Dia dapat menduga bahwa agaknya ayah ibu dari anak ini ingin menjauhkan anak mereka dari kehidupan kang-ouw yang serba keras dan penuh dengan permusuhan.

"Ibumu memang memiliki ilmu silat yang cukup hebat, akan tetapi apakah ayahmu tidak memiliki ilmu kepandaian silat pula yang tinggi?"

"Tidak, tidak. Ayah seorang petani biasa. Di dalam tawanan itu, ayah menceritakan semua padaku, Paman. Katanya bahwa ibu dahulu adalah seorang tokoh besar yang memiliki ilmu silat tinggi sehingga di juluki Bi-kwi (Setan Cantik), sedangkan ayah hanyalah seorang petani biasa saja. Ketika ayah dan ibu menjadi suami isteri, ibu berjanji akan meninggalkan kehidupannya sebagai seorang ahli silat. Bahkan ayah pula yang melarang agar ibu tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku. Akan tetapi setelah terjadi penculikan atas diriku, ayah merasa menyesal bahwa aku tidak diajar ilmu silat sehingga tidak mampu membela dan melindungi diri sendiri."

Atas permintaan Sin Hong, Yo Han lalu menceritakan bagaimana dia diculik dan dilarikan oleh Liok Cit, betapa kemudian di tengah jalan dia dilarikan karena Liok Cit dikejar oleh Suma Lian.

"Enci Suma Lian yang gagah perkasa itu hampir saja celaka karena membelaku. Betapa gagahnya enci Suma Lian. Untung kemudian muncul engkau, Paman. Dan aku merasa girang sekali bahwa Paman suka membawa aku pergi. Paman tentu akan melatih ilmu silat kepadaku, bukan? Aku suka sekali menjadi muridmu, Paman. Sebaiknya sekarang juga aku mengangkat Paman menjadi guruku."

Setelah berkata demikian, Yo Han menjatuhkan dirinya berlutut di depan Sin Hong sambil menyebut,

Post a Comment