Diam-diam Ciong Siu Kwi merasa khawatir sekali. Ia tahu akan kecerdikan dan kelihaian Sin-kiam Mo-li. Memang, kurang lebih delapan tahun yang lalu, ketika ia membebaskan Kao Hong Li yang baru berusia tiga belas tahun dari tangan Sin-kiam Mo-li yang menculik anak itu, ia pun mempergunakan siasat bersahabat sehingga akhirnya, bersama dengan pendekar Gu Hong Beng, ia berhasil menyelamatkan Kao Hong Li dari tangan iblis betina ini (baca kisah SULING NAGA). Tentu saja kini Sin-kiam Mo-li tidak percaya lagi padanya! Ia pun tidak perlu berpura-pura lagi sekarang, melainkan harus menghadapi kenyataan ini dengan tabah.
"Baiklah, Sin-kiam Mo-li. Sekarang katakan, apa yang harus kulakukan demi menebus keselamatan dan kebebasan puteraku? Engkau tahu, kalau sampai engkau mengganggu anakku, melukainya apalagi membunuhnya, hemmm, engkau menciptakan seorang musuh yang akan terus mengejarmu sampai engkau mati. Aku akan berubah menjadi setan yang haus akan darahmu, hal ini tentu engkau tahu!"
Diam-diam Sin-kiam Mo-li, iblis betina yang berhati kejam itu bergidik juga mendengar ucapan yang mengandung ancaman yang amat mengerikan itu dan ia tahu bahwa wanita ini tidaklah menggertak saja.
"Bi-kwi, engkau bukan orang bodoh, demikian pula aku. Kalau kita bekerja sama, aku yakin kita berdua akan mencapai hasil yang amat hebat. Engkau tentu maklum pula, bahkan aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Kalau itu yang kuinginkan, tentu sudah kubunuh anakmu ini. Tidak, aku ingin bekerja sama denganmu, akan tetapi demi keamanan dan agar aku tidak ragu lagi akan kesetiaanmu, terpaksa anakmu kujadikan sandera."
Sejak tadi, Suma Lian hanya mendengarkan saja.
Kalau ia mau, tentu saja mudah baginya untuk melarikan diri walaupun puluhan orang anak buah Ang-i Mo-pang masih mengepung tempat itu dengan senjata di tangan. Juga para anggauta Ang-i Mo-pang berdiri seperti patung, memandang dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Tentu saja mereka semua mengenal baik Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi, karena wanita ini pernah menjadi pemimpin mereka setelah menaklukkan ketua mereka, beberapa tahun yang lalu ketika Bi-kwi masih berkecimpung di dunia kang-ouw (baca kisah SULING NAGA). Kini, melihat betapa dengan amat cerdiknya Sin-kiam Mo-li menekan Ciong Siu Kwi dengan ancaman terhadap putera wanita itu, Suma Lian tiba-tiba mengeluarkan suara tertawa yang cukup lantang sehingga mengejutkan semua orang. Suma Lian lalu berkata dengan lantang pula.
"Bibi yang baik, bukankah engkau bibi Ciong Siu Kwi, isteri dari paman Yo Jin? Aku adalah Suma Lian dan ayahku adalah Suma Ceng Liong, tentu bibi sudah mengenalnya. Ibuku Kam Bi Eng."
Diam-diam Ciong Siu Kwi terkejut dan juga girang mendengar nama gadis itu dan nama ayah bundanya. Tentu saja ia mengenal baik ayah bunda gadis ini, akan tetapi ia mengerutkan alisnya. Sungguh ceroboh bagi gadis itu memperkenalkan namanya begitu saja di depan Sin-kiam Mo-li! Akan tetapi, Suma Lian agaknya dapat menduga apa yang dikhawatirkan karena ia segera melanjutkan kata-katanya,
"Bibi Ciong Siu Kwi, perlu apa mendengarkan ocehan iblis betina itu? Ia hanya akan menipu dan membohongimu dengan kelicikannya. Jangan percaya padanya. Aku pun pernah mendengar dari ayah akan namanya yang tersohor jahat. Orang macam ia mana mungkin menjadi patriot dan pendekar? Jangan takut, Bibi, ancamannya terhadap puteramu hanya gertak kosong belaka. Kalau ia berani mengganggu anakmu, aku akan membasmi ia dan semua anak buahnya ini!"
"Enci itu benar, Ibu!"
Tiba-tiba Yo Han berseru kepada ibunya.
"Lawan saja iblis ini. Aku tidak takut mati! Mati pun aku akan tersenyum karena aku yakin, dengan bantuan enci yang gagah itu, Ibu akan mampu membalaskan kematianku dan membasmi iblis ini dan semua anak buahnya...."
Tiba-tiba anak itu berhenti bicara karena tubuhnya menjadi lemas ketika Sin-kiam Mo-li menotoknya dengan hati gemas.
"Han-ji....!"
Teriak Ciong Siu Kwi dan Sin-kiam Mo-li tersenyum. Bagaimanapun juga, melihat puteranya ditotok pingsan, hati ibunya menjadi gelisah sekali dan tak dapat ditahan lagi ia pun menjerit. Sin-kiam Mo-li memandang dengan hati gembira, penuh kemenangan.
"Bi-kwi, jangan dikira aku tidak akan berani menggorok leher puteramu! Dan aku pun tidak takut akan balas dendammu. Tinggal kau pilih saja, bekerja sama dengan kami dan anakmu selamat atau kubunuh dulu puteramu, baru kami akan membunuhmu, juga suamimu!"
Ciong Siu Kwi menjadi ragu-ragu. Bagaimanapun juga, melihat puteranya, ia khawatir sekali, dan orang macam Sin-kiam Mo-li memang tidak boleh dipandang ringan begitu saja. Ancamannya akan dapat dibuktikan dan hati wanita itu kejam melebihi binatang buas.
"Mo-li.... apa.... apa yang harus kulakukan?"
Tanyanya, suaranya lemah dan ia tidak berani memandang kepada Suma Lian.
"Pertama, engkau harus memperlihatkan kesungguhan hatimu bekerja sama denganku, Bi-kwi. Maka aku minta agar engkau membantu kami menghadapi gadis ini! Mari kita tangkap gadis ini!"
Seperti orang yang sudah tidak mempunyai kemauan sendiri lagi karena putus asa melihat puteranya yang berada dalam cengkeraman Sin-kiam Mo-li, Ciong Siu Kwi mengangguk.
"Baik!"
Ia lalu tiba-tiba saja bergerak dan menyerang ke arah Suma Lian yang masih berdiri tegak. Gadis ini sudah menyelipkan suling emasnya di ikat pinggang, akan tetapi selalu siap siaga menghadapi serangan lawan. Kini, melihat betapa Ciong Siu Kwi menyerangnya, ia terkejut dan bingung. Ia tahu benar mengapa wanita ini menyerangnya. Karena terpaksa, untuk menyelamatkan puteranya! Dan ia tidak dapat menyalahkan wanita ini. Akan tetapi, serangannya demikian hebat! Ketika tubuh wanita ini menerjang dan tangannya menyambar ke arah dadanya, tangan itu didahului angin pukulan yang dahsyat, dan mengeluarkan suara bercuitan mengerikan.
Sungguh merupakan serangan maut yang amat berbahaya. Suma Lian cepat mempergunakan langkah ajaibnya untuk mengelak dan serangan itu pun mengenai tempat kosong. Ciong Siu Kwi memang menyerangnya dengan sungguh-sungguh. Di dalam hatinya, tentu saja ia tidak membenci atau memusuhi gadis keturunan keluarga Pulau Es ini, akan tetapi ia pun tidak mungkin dapat melakukan serangan pura-pura terhadap Suma Lian di depan Sin-kiam Mo-li yang tentu akan mengetahui apakah serangannya itu benar-benar ataukah hanya main-main saja. Oleh karena itulah, begitu bergerak, Ciong Siu Kwi sudah mengerahkan tenaga dan mempergunakan Ilmu Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Memutuskan Otot), semacam ilmu pukulan yang amat dahsyat.
Tentu saja di dalam hatinya Ciong Siu Kwi berharap agar gadis keturunan keluarga Pulau Es ini telah memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi darinya agar semua serangannya takkan berhasil. Maka, gembiralah hatinya ketika ia melihat betapa dengan gerakan langkah yang luar biasa anehnya, tahu-tahu gadis itu telah lenyap dan telah berada di samping kanannya sehingga serangannya yang pertama tadi pun hanya mengenai tempat kosong! Melihat kehebatan cara gadis ini mengelak dari serangannya, Ciong Siu Kwi lalu membalik ke kanan sambil menyerang lagi, kini lebih hebat karena kedua tangannya dibuka dan kini kedua tangan itu membacok dari kanan kiri dan mengeluarkan suara berdesing seolah-olah kedua tangan itu telah berubah menjadi pedang yang tajam!
Inilah Ilmu Kiam-ciang (Tangan Pedang) yang ampuh, peninggalan dari Sam Kwi. Kedua tangan itu kalau mengenai tubuh lawan, dapat membuat bagian tubuh itu terluka seolah-olah terbacok pedang! Kembali dengan gerakan yang aneh, Suma Lian mengelak dan gadis ini pun kagum bukan main. Tidak heran kedua orang tuanya pernah menceritakan bahwa wanita ini dahulu menjadi seorang tokoh yang amat ditakuti di dunia kang-ouw. Baru saja ia mengelak, Ciong Siu Kwi sudah menyerangnya lagi, kini dengan tendangan bertubi-tubi yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dua macam serangannya yang pertama dan ke dua. Biarpun ia memiliki San-po Cin-keng yang merupakan langkah ajaib, namun menghadapi tendangan Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin) itu,
Terpaksa Suma Lian harus mempergunakan kedua-tangannya untuk kadang-kadang menangkis, akan tetapi ia berhasil pula menghalau serangkaian tendangan yang ampuh itu. Diam-diam Ciong Siu Kwi menjadi kagum bukan main dan semakin girang karena seperti yang diharapkan, gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan agaknya masih berada di atas tingkat kepandaiannya sendiri! Dengan kenyataan ini maka bagaimanapun ia menyerang untuk memenuhi paksaan Sin-kiam Mo-li, ia tidak akan mungkin dapat mengalahkan Suma Lian! Ia menyerang terus, akan tetapi tidak mau mempergunakan ilmunya yang, paling dahsyat, yaitu Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapan Belas Jurus Ilmu Silat Lutung Hitam), biarpun serangan-serangannya juga cukup dahsyat dan bersungguh-sungguh.
"Hemmm, Bi-kwi, apakah engkau sudah lupa bahwa ada Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang kau miliki? Kenapa tidak mengeluarkan ilmu itu?"
Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li berseru. Terkejutlah Bi-kwi. Iblis betina itu sungguh cerdik dan ia harus berhati-hati. Tanpa, menjawab, ia segera mengubah ilmu silatnya dan kini ia memainkan delapan belas jurus ilmu silat yang hebat ini, bersikap hati-hati dan ia pun mengimbanginya dengan Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit) yang sudah dipelajarinya dengan baik sekali dari kakek Gak Bun Beng. Dan ia pun mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang sehingga ketika beberapa kali ia menangkis dan lengannya bertemu dengan lengan Bi-kwi, maka wanita itu menggigil kedinginan! Melihat serangan-serangan yang dilakukan Bi-kwi, diam-diam Sin-kiam Mo-li menjadi girang. Semua serangan itu bukan palsu dan ia tentu saja tidak merasa heran kalau Bi-kwi tidak mampu mengalahkan gadis keluarga Pulau Es itu.
Maka ia pun menyerahkan Yo Han yang masih tertotok itu kepada dua orang anak buahnya, memberi perintah agar jangan ragu-ragu membunuh anak itu kalau sampai ada yang mau merampasnya dengan paksa. Kemudian ia mengeluarkan aba-aba kepada Tok-ciang Hui-moko Liok Cit yang segera mengerahkan kembali anak buah Ang-i Mo-pang untuk mengepung dan mengeroyok Suma Lian. Sin-kiam Mo-li sendiri sudah mencabut kebutan dan pedangnya, dan langsung ia terjun ke lapangan pertempuran, menyerang Suma Lian dengan sepasang senjatanya yang ampuh itu. Akan tetapi, Suma Lian sudah siap siaga dan kini suling emasnya itu telah berada di tangan kanannya. Nampak gulungan sinar emas ketika ia memutar sulingnya untuk melindungi dirinya dari sambaran kedua senjata lawan,
Kemudian ia membalas dengan hantaman suling ke arah kepala Mo-li, disusul totokan dengan jari tangan kiri ke arah lambung. Saking hebatnya serangan balasan ini, Sin-kiam Mo-li terpaksa melompat ke belakang dan pada saat itu, Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi sudah pula mengirim serangannya dengan tendangan berantainya yang berbahaya. Juga Liok Cit sudah masuk pula mempergunakan pedangnya, akan tetapi begitu pedangnya bertemu sinar suling emas, pedang itu terpental dan terpaksa Liok Cit juga melompat ke belakang. Tentu saja kini Bi-kwi merasa khawatir sekali. Betapapun pandainya Suma Lian, kalau ia maju mengeroyoknya bersama Sin-kiam Mo-li dan pembantunya yang kelihatannya juga lihai itu, tidak mungkin gadis itu akan mampu bertahan. Melihat keraguan Bi-kwi, Sin-kiam Mo-li membentak.
"Bi-kwi, hayo cepat bantu kami merobohkan gadis ini. Ingat, anakmu masih berada di tangan kedua orang anak buahku dan sekali aku memberi isyarat, mereka akan menggorok lehernya!"
Bi-kwi masih belum menyerang lagi kepada Suma Lian dan mereka bertiga hanya mengepung gadis itu.