Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 74

Memuat...

"Tidak perlu melihat terlalu jauh atau mencari contoh yang terlalu jauh, ingat saja pengalamanmu sendiri. Ketika engkau masih berkecimpung di dunia persilatan, dengan modal kepandaian silatmu, bagaimana keadaan dirimu? Kemudian, lihat keadaanmu sekarang, sejak kita menikah, sejak engkau meninggalkan dunia persilatan, sejak engkau tak pernah lagi mempergunakan ilmu silatmu, hidup sebagai petani biasa. Apakah engkau tidak melihat perbedaannya?"

Ciong Siu Kwi tersenyum dan merangkul suaminya, merasa kalah.

"Tentu saja aku melihat perbedaannya yang amat jauh, jauhnya seperti langit dan bumi! Kini hidupku tenteram, tak pernah mempunyai musuh, bahkan tak pernah dimusuhi orang."

"Dan engkau bahagia?"

"Ya, aku berbahagia sekali."

"Nah, mengapa engkau hendak menyeret anak kita ke dalam kehidupan yang penuh dengan pertentangan, perkelahian, permusuhan itu? Coba bayangkan saja. Andaikata engkau melatih Han-ji (anak Han) memainkan ilmu silat, andaikata dia sudah pandai ilmu silat, tentu terjadi perubahan dalam pergaulannya dengan teman-temannya. Dia akan ditakuti, disegani, juga tentu ada yang iri. Kemudian, kalau ada anak lain yang juga pernah belajar silat, tentu akan terjadi bentrokan antara dia dan anak itu, karena keduanya tentu ingin melihat siapa yang lebih unggul. Mereka akan berkelahi, mempergunakan ilmu silat mereka, saling pukul. Kalau tidak anak kita yang terluka, tentu anak yang lain itu dan timbullah permusuhan dan dendam antara keluarga kita dengan keluarga anak itu! Tidak, aku tidak suka melihat anak kita menjadi jagoan dan tukang pukul, aku ingin melihat anak kita menjadi seorang laki-laki sejati, yang gagah berani menentang kelaliman, bukan mengandalkan kerasnya tulang dan kulit, melainkan mengandalkan kebenaran yang tidak dipaksakan oleh kekerasan."

Ciong Siu Kwi yang amat mencinta suaminya, mengalah dan demikianlah, sampai berusia tujuh tahun, Yo Han tidak pernah diajar ilmu silat. Namun, anak itu mewarisi watak ayahnya. Dia pemberani, jujur, dan terbuka, akan tetapi juga mewarisi kecerdikan ibunya. Ketika sampai sore suami isteri itu tidak melihat putera mereka, keduanya menjadi khawatir sekali. Ciong Siu Kwi mencari-cari dan bertanya-tanya, akhirnya ada seorang petani yang melihat ketika dia berada di luar dusun betapa Yo Han dipondong dan dilarikan seorang laki-laki yang berpakaian serba hijau memakai caping lebar sehingga tidak nampak wajahnya, dan tubuhnya kurus. Mendengar ini, Ciong Siu Kwi gelisah bukan main. Juga Yo Jin. Keduanya dapat menduga bahwa putera mereka diculik orang? Yo Jin menarik napas panjang.

"Aih, tak kusangka bahwa setelah bertahun-tahun hidup tenteram, kembali terjadi kekerasan seperti ini. Aku yakin bahwa ini juga merupakan akibat dari keadaan hidupmu yang dahulu. Balas dendam! Ah, balas-membalas tiada habisnya, Yo Han yang tidak berdosa ikut pula terseret ke dalam permusuhan dunia persilatan."

"Sudahlah, apa pun yang terjadi, kita tidak boleh tinggal diam saja. Aku harus mencari anakku dan merampasnya kembali. Kalau perlu, aku akan mempergunakan kepandaian yang dulu. Anakku harus diselamatkan, dengan taruhan nyawaku!"

Yo Jin tak dapat membantah, hanya menarik napas panjang ketika melihat isterinya berangkat setelah membawa perbekalan. Bukan hanya lenyapnya Yo Han diculik orang itu saja yang membuat dia prihatin, akan tetapi terutama sekali terseretnya kembali isterinya ke dalam arus kehidupan dunia persilatan itulah! Dia dapat membayangkakn betapa isterinya akan bertemu dengan lawan-lawan dan akan selalu diancam bahaya dalam usahanya merampas kembali putera mereka. Dia sendiri tidak mungkin dapat melakukan pengejaran dan setelah isterinya pergi meninggalkan dusun itu, dia termenung.

Diakah yang benar, atau isterinyakah ketika mereka berdebat apakah putera mereka perlu diajari ilmu silat ataukah tidak? Dunia begini penuh orang jahat! Cukupkah mengandalkan para petugas keamanan saja untuk menjaga keamanan keluarga atau diri sendiri? Tanpa ilmu silat, dia sekarang merasa sama sekali tidak berdaya kalau menghadapi perbuatan jahat orang lain yang menimpa dirinya atau keluarganya. Akan tetapi, andaikata dia pandai ilmu silat, bukankah kemungkinan puteranya diculik orang lebih besar lagi karena musuh-musuh mereka akan lebih banyak lagi? Buktinya, demikian banyaknya anak-anak dusun itu, tidak ada penjahat yang mengganggu mereka, kecuali anaknya atau lebih tepat lagi anak isterinya! Ini hanya disebabkan karena isterinya pernah menjadi seorang tokoh dunia persilatan! Andaikata isterinya seorang wanita dusun biasa,

Seorang wanita petani yang lemah, sama sekali tidak ada kemungkinan dan alasan bagi orang jahat mana pun juga untuk menculik Yo Han! Demikianlah, Ciong Siu Kwi meninggalkan suaminya yang duduk termenung, dan begitu ia keluar dari dalam dusun, ia sudah menjadi Bi-kwi yang dahulu, dalam arti kata sebagai seorang wanita perkasa yang siap menghadapi bahaya dan lawan. Ia mengerahkan tenaganya untuk berlari cepat, tangkas bagaikan seekor harimau betina kehilangan anaknya, siap untuk mencakar dan merobek-robek dada orang yang berani mengganggu anaknya! Bukan lagi sebagai Ciong Siu Kwi yang rajin bekerja di ladang setiap hari. Karena ia pernah menjadi seorang tokoh besar dunia persilatan, bahkan seorang datuk sesat yang ditakuti, banyak pengalaman, maka tidak sukar baginya untuk mengikuti jejak penculik puteranya.

Ia pandai mencium jejak, pandai mencari keterangan di sepanjang perjalanan sehingga akhirnya ia dapat juga tiba di dalam hutan di mana Sin-kiam Mo-li tinggal untuk sementara waktu dalam tugasnya menghimpun kekuatan. Dan kebetulan sekali ia melihat seorang gadis yang cantik dan lihai bertanding dikeroyok oleh Sin-kiam Mo-li dan para pembantunya, kemudian melihat betapa Sin-kiam Mo-li mengancam hendak membunuh Yo Han! Melihat Yo Han berada di tangan Sin-kiam Mo-li, mengertilah Ciong Siu Kwi. Benar sekali dugaan suaminya. Kiranya yang menculik puteranya bukanlah orang asing, akan tetapi musuh lamanya, yaitu Sin-kiam Mo-li. Dan melihat betapa gadis cantik itu tadi dikeroyok dan bahkan Sin-kiam Mo-li mempergunakan siasat curang untuk memaksa gadis itu menyerah dengan mengancam Yo Han, tahulah Ciong Siu Kwi bahwa gadis itu adalah orang yang berusaha menolong puteranya.

Sebagai seorang bekas tokoh sesat yang banyak pengalaman, sekali melepas pandang saja Ciong Siu Kwi sudah dapat menilai keadaan. Ia tahu bahwa gadis itu tentu lihai bukan main, kalau tidak demikian, tidak mungkin seorang seperti Sin-kiam Mo-li mempergunakan cara curang, yaitu dengan mengancam akan membunuh Yo Han kalau gadis itu tidak mau menyerah. Dengan adanya gadis selihai itu, ditambah ia sendiri, kiranya mereka berdua tidak perlu takut menghadapi Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Akan tetapi, ketika ia teringat kepada puteranya, hatinya seperti ditusuk. Tidak, tidak mungkin ia mempergunakan kekerasan karena setelah ia hadir, Sin-kiam Mo-li bukan lagi menggunakan gertak kosong belaka kalau mengancam Yo Han, seperti yang tadi dilakukannya terhadap gadis itu.

Dan demi keselamatan puteranya, tidak ada jalan baginya kecuali untuk sementara mengalah. Untuk sementara! Ketika mendengar ucapan Sin-kiam Mo-li bahwa wanita itu sedang bergerak bersama para pendekar dan patriot untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah Mancu, tentu saja di dalam hatinya Ciong Siu Kwi tidak percaya seujung rambut pun. Ia dapat menduga "gerakan"

Macam apa yang dilakukan orang-orang seperti Sin-kiam Mo-li. Dahulu pun, wanita ini bersekutu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Memang kedua perkumpulan itu sejak dahulu menentang pemerintah Mancu, namun sama sekali bukan demi perjuangan membela rakyat, melainkan untuk kepentingan perkumpulan mereka sendiri. Akan tetapi, semua ini ia sembunyikan di lubuk hatinya saja dan wajahnya kini berubah, senyumnya menjadi ramah.

"Aih, benarkah itu, Mo-li? Kalau begitu, sungguh aku pun ikut merasa girang dan bangga sekali kepadamu! Dan tentu saja aku mendukung perjuanganmu yang mulia itu. Akan tetapi, mengapa engkau menyuruh orang membawa puteraku ke sini?"

Sin-kiam Mo-li kembali tersenyum.

"Hi-hi-hik, Bi-kwi, apakah kecerdikanmu juga sudah hilang setelah engkau menjadi seorang wanita petani? Tentu saja bukan percuma aku membawa puteramu yang tampan dan gagah ini ke sini. Bukan lain karena kami menginginkan tenagamu, menghendaki bantuanmu dalam gerakan kami."

"Ah, Mo-li, untuk urusan begitu saja mengapa harus membawa anakku ke sini? Kita pernah menjadi rekan segolongan, kenapa bersikap sungkan dan ragu? Kalau engkau datang kepadaku dan berterus terang, tidak perlu lagi engkau mempergunakan cara yang membikin kaget dan khawatir itu. Tentu saja untuk gerakan perjuangan menentang kaum penjajah Mancu, aku selalu siap siaga setiap saat. Nah, biarkan anakku ke sini, aku sudah rindu padanya. Aku akan membantu perjuanganmu itu,"

Kata Ciong Siu Kwi sambil mengembangkan kedua lengannya untuk menyambut puteranya. Akan tetapi Yo Han tak dapat bergerak karena pundaknya masih dipegang dan ditekan oleh tangan Sin-kiam Mo-li, dan ketika Ciong Siu Kwi melangkah mendekati puteranya, tekanan jari tangannya semakin kuat membuat Yo Han meringis karena nyeri.

"Berhenti, Bi-kwi!"

Sin-kiam Mo-li membentak.

"Kalau engkau maju lagi, sekali menggerakan jari tanganku ini, anakmu akan mampus!"

Tentu saja Ciong Siu Kwi menghentikan langkahnya dan ia memperlihatkan muka terheran-heran.

"Aih, kenapa, Mo-li? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku dengan senang hati akan membantu gerakan perjuanganmu? Bebaskan puteraku, dan anggap aku ini sudah menjadi rekanmu seperjuangan!"

Ia berkata sambil tersenyum ramah. Akan tetapi Sin-kiam Mo-li tetap memandang dengan alis berkerut dan senyumnya mengejek.

"Hemmm, Bi-kwi, kau kira aku begitu bodoh untuk mempercayaimu begitu saja? Aku belum lupa ketika beberapa tahun yang lalu engkau menipuku dengan sikapmu seperti ini, pura-pura bersahabat! Aku takkan pernah melupakan kecerobohanku itu, dan sekarang jangan harap engkau akan dapat menipuku lagi!"

Post a Comment