Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 73

Memuat...

"Enci, jangan dengarkan gertak kosong iblis ini! Di antara kita tidak ada hubungan apa pun, kalau ia membunuhku pun, Enci tidak akan rugi apa-apa. Jangan mau diancam dan digertak. Kalau ia mau membunuhku, boleh bunuh, siapa sih yang takut mati? Akan tetapi, Enci sebagai pendekar harus menentangnya dan membunuh iblis jahat ini berikut anak buahnya!"

Suma Lian terbelalak memandang anak laki-laki itu. Tidak kelirukah pendengarannya? Anak itu baru berusia kurang lebih tujuh tahun! Akan tetapi ketika mengeluarkan kata-kata tadi, berdirinya tegak, matanya mencorong dan suaranya lantang, pantasnya diucapkan oleh seorang laki-laki dewasa yang gagah perkasa, yang sedikit pun tidak takut mati!

Jelas bahwa anak ini pun bukan bocah sembarangan saja, tentu keturunan orang tua pendekar! Mendengar ucapan itu, Suma Lian tersenyum lebar bahkan tertawa. Ia pun mengerti bahwa sikap dan ucapan anak itu sekaligus menghantam dan menghancurkan siasat wanita itu untuk memaksanya dengan cara mengancam hendak membunuh anak itu. Anak itu benar! Kalau ia merasa khawatir akan keselamatan anak itu, tentu saja hal ini merupakan senjata ampuh bagi lawan, dan lawan dapat memaksakan kehendaknya dengan mengancam anak itu, melakukan pemerasan kepadanya. Sebaliknya, kalau lawan mengetahui bahwa ia tidak peduli akan keselamatan anak itu, tentu lawan merasa percuma mempergunakan siasat seperti itu, dan tidak mau membunuh anak itu dengan sia-sia, apalagi agaknya anak itu penting bagi mereka.

"Hemmm, iblis betina, engkau sudah mendengar sendiri ucapan bocah yang gagah perkasa itu! Dia bukan apa-apaku, mau kau bunuh atau kau apakan terserah, akan tetapi ketahuilah bahwa setelah aku mengetahui akan kejahatan kalian, aku pasti tidak akan tinggal diam sebelum membasmi kalian dengan sulingku ini!" Sin-kiam Mo-li merasa mendongkol bukan main kepada Yo Han.

Tak disangkanya anak itu sedemikian nekat dan beraninya, mengeluarkan kata-kata seperti itu sehingga gagallah semua siasatnya terhadap Suma Lian. Ia merasa gemas dan ingin sekali ia sekali tusuk dengan pedangnya menembusi dada anak itu. Akan tetapi ia masih membutuhkannya, untuk memancing datangnya ibu anak ini dan memaksa ibunya untuk membantu gerakan persekutuannya. Kalau kini ia membunuh anak ini, selain Suma Lian akan menentangnya mati-matian, juga kalau ibunya mengetahui, tentu ia mendapat tambahan musuh yang berbahaya juga. Ibu anak ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan, walaupun ia percaya bahwa dengan ilmu kepandaiannya, ia mampu mengalahkan Bi-kwi (Setan Cantik) Ciong Siu Kwi itu.

"Hemmm, kau kira aku hanya gertak kosong belaka? Lihat, anak ini tidak akan kubunuh memang, belum lagi, akan tetapi aku dapat menyiksanya!"

Katanya sambil menggerakkan kebutannya ke atas kepala anak itu yang memandang tanpa berkedip, penuh keberanian dan ketabahan. Suma Lian memandang dengan menahan napas penuh kekhawatiran yang disimpannya saja di dalam hatinya. Ia khawatir kalau-kalau iblis betina itu benar-benar menyiksa anak itu, karena bagaimana pun juga, walaupun anak itu bukan apa-apanya, tentu saja ia tidak rela kalau anak itu disiksa atau dibunuh! Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring,

"Sin-kiam Mo-li, berani engkau hendak menyiksa anakku?"

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri seorang wanita. Suma Lian memandang penuh perhatian. Wanita itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya sederhana sekali dari kain kasar yang kuat, jelas pakaian seorang petani seperti yang biasa dipakai wanita petani, wajahnya pun tidak memakai alat kecantikan, namun harus diakui bahwa wajahnya itu cantik menarik, dan tubuhnya pun masih padat dan langsing, kulit mukanya, leher dan tangannya nampak kecoklatan, tanda bahwa ia biasa bekerja di sawah ladang dan terbiasa setiap hari dibakar matahari. Seorang wanita dusun biasa saja, akan tetapi ada sesuatu yang luar biasa, yaitu pada sinar matanya yang mengeluarkan sinar tajam sekali.

"Ibu....!"

Tiba-tiba Yo Han, anak itu, berseru.

"Aku diculik oleh laki-laki kurus di sana itu, atas perintah iblis wanita ini!"

Wanita itu memandang kepada puteranya, tersenyum dan berkata,

"Tenanglah, anakku."

Kemudian ia pun memandang kepada Sin-kiam Mo-li. Sesaat kedua orang wanita ini saling pandang, seperti hendak menjenguk isi hati masing-masing, kemudian wanita dusun itu berkata,

"Sin-kiam Mo-li, engkau tahu bahwa sejak dahulu aku tidak pernah lagi mencampuri dunia kang-ouw. Aku hidup di dusun bersama suamiku dan puteraku, hidup bersih sebagai petani. Mengapa sekarang tiba-tiba engkau masih mengganggu kami dan menculik anakku? Kalau engkau hendak menggunakan anakku sebagai sandera untuk memaksaku melakukan sesuatu, ingatlah bahwa biar engkau membunuh kami sekeluarga, aku tidak akan sudi membantu engkau melakukan kejahatan, Sin-kiam Mo-li!"

Sin-kiam Mo-li yang masih mengamati wanita itu, tiba-tiba tertawa.

"Hiik-hi-hi, sungguh mati, hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi, Bi-kwi! Engkau, yang dahulu cantik jelita, gagah perkasa dan cerdik sekali, murid tersayang dari Sam Kwi, sekarang telah menjadi seorang wanita dusun yang kotor, dungu dan berbau pupuk tahi kerbau! Heh-heh-hi-hi-hik, alangkah lucunya. Akan tetapi, jangan salah sangka, Bi-kwi. Kalau engkau dapat berubah, kau kira aku tidak dapat? Aku pun sudah meninggalkan dunia hitam dan kini aku bahkan sedang bergerak bersama para pendekar dan patriot untuk membebaskan bangsa kita dari cengkeraman penjajah Mancu!"

Bi-kwi, yaitu julukan dari Ciong Siu Kwi, wanita itu, memandang terbelalak tidak percaya, akan tetapi sinar matanya memandang penuh selidik kepada wanita yang dikenalnya sebagai wanita iblis yang pernah dimusuhinya beberapa tahun yang lalu.

Ia maklum betapa cerdik dan liciknya wanita yang berjuluk Sin-kiam Moli ini, maka ia pun tahu bahwa nyawa puteranya berada di tangan wanita iblis itu, dan bahwa ia sama sekali tidak boleh bersikap lengah. Ia harus berhati-hati sekali berurusan dengan iblis betina ini. Sementara itu, Suma Lian kini teringat. Ayah ibunya banyak bercerita kepadanya tentang tokoh-tokoh di dunia persilatan dan pernah ayahnya bercerita tentang Sam Kwi, tentang dua orang murid Sam Kwi. Yang seorang bernama Can Bi Lan dan kini menjadi isteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw, yaitu suheng dari ibunya. Can Bi Lan mempunyai seorang suci (kakak seperguruan perempuan) yang tadinya merupakan seorang tokoh sesat yang amat terkenal dengan julukannya Bi-kwi, bernama Ciong Siu Kwi yang menurut ayah ibunya,

Kini tokoh sesat itu telah sadar, bahkan telah melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa membela para pendekar. Menurut ayahnya, tokoh itu telah menikah dengan seorang pemuda petani yang berjiwa gagah perkasa walaupun tidak paham ilmu silat, dan kini kabarnya telah mengundurkan diri dan hidup sebagai petani, entah di mana karena keluarga itu tidak pernah menghubungi teman-teman lagi, bahkan tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan. Tadinya, cerita tentang wanita itu tidak begitu menarik perhatiannya, akan tetapi kini, secara aneh dan kebetulan, ia dihadapkan dengan tokoh itu! Maka, tentu saja ia merasa amat tertarik dan ingin sekali ia melihat apa yang akan terjadi antara bekas tokoh sesat itu dan wanita lihai yang berjuluk Sin-kiam Mo-li ini. Kini ia pun mengerti mengapa anak kecil berusia tujuh tahun itu memiliki.

sikap seorang jantan, seorang pendekar. Kiranya dia putera bekas tokoh sesat yang pernah dipuji-puji oleh orang tuanya itu! Memang tidak bohong kalau Ciong Siu Kwi mengatakan kepada Sin-kiam Mo-li bahwa sudah lama sekali ia tidak pernah lagi mencampuri dunia persilatan. Jangankan dunia persilatan, bahkan selama ini ia belum pernah memperlihatkan ilmu silatnya sehingga kecuali suaminya sendiri, tak seorang pun di dalam dusun mereka atau di dusun-dusun sekitar tempat tinggal mereka tahu bahwa nyonya Yo Jin yang setiap hari bekerja seperti wanita petani biasa itu sebetulnya adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi! Bahkan Yo Han sendiri pun tidak tahu! Yo Jin ayah anak itu, melarang isterinya untuk melatih putera mereka dengan ilmu silat.

"Ilmu silat tak terpisahkan dari kekerasan,"

Demikian suami itu berkata.

"Dan kekerasan selalu mendatangkan permusuhan, dendam, kebencian dan kekejaman. Kita tidak boleh membiarkan putera kita menjadi seorang yang banyak musuh dan akhirnya menjadi seorang manusia yang berhati keras dan kejam."

"Kurasa tidak selalu harus begitu, karena ilmu silat selain menjadi ilmu bela diri, juga merupakan olah raga yang menyehatkan badan dan batin, juga merupakan kesenian yang indah, bahkan kalau tidak keliru penggunaannya, dapat membuat orang menjadi seorang pendekar yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan.

"Hemmm, bagaimanapun juga alasannya tetap saja akhirnya dia akan mempergunakan kepandaiannya, yaitu ilmu memukul roboh, melukai dan membunuh orang lain, untuk mempertahankan apa yang dinamakannya kebenaran dan keadilan itu,"

Kata Yo Jin.

Post a Comment