Nenek Ciu Ceng juga segera sembuh seketika ketika mendengar hasil baik yang diperoleh Yo Han dalam menyelamatkan keluarga puteranya.
Ketika diberi tahu tentang kematian kakaknya, nenek ini menangis dan menuntut kepada puteranya agar malam itu juga diadakan sembahyang terhadap arwah kakaknya, mendiang kakek Ciu Lam Hok, yang telah mengirim muridnya dan menyelamatkan mereka. Melihat ini, Yo Han merasa tidak tega untuk menceritakan keadaan kakek Ciu Lam Hok yang buntung kedua kaki tangannya itu. Biarlah mereka menganggap bahwa suhu hidup sampai saat terakhir dalam keadaan sehat dan berbahagia, pikirnya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendengar nenek Ciu Ceng yang bersembahyang depan meja sembahyang itu menangis lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, seolah-olah suhunya masih hidup dan berdiri atau duduk di situ.
"Hok-ko, kami sekeluarga hutang budi dan nyawa kepada muridmu! Oleh karena itu, ijinkanlah kami mempererat ikatan antara muridmu dengan keluarga Gan Seng, keponakanmu. Kami mohon persetujuanmu agar muridmu dapat menjadi jodoh cucuku Gan Bi Kim."
Tentu saja Yo Han terkejut bukan main. Dia tidak dapat mengeluarkan kata apa pun dan dia lalu diam-diam menyingkir dari ruangan itu, menuju ke kamar yang sudah dipersiapkan untuk dia bermalam di rumah keluarga Gan itu.
Dia tidak tahu bahwa gadis cantik itu pun menjadi merah sekali wajahnya dan seperti juga dia, Bi Kim cepat lari memasuki kamarnya. Malam itu Yo Han tidak dapat tidur pulas. Gelisah dia memikirkan ucapan nenek Ciu Ceng. Ucapan itu seperti terdengar terus bergema di dalam telinga-nya. Dia akan di jodohkan dengan Bi Kim! Terjadi semacam pertempuran di dalam hatinya. Ada suara-suara yang seolah memaksanya untuk membayangkan kesenangan-kesenangan yang akan dinikmatinya kalau dia menjadi suami Bi Kim. Dia seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan tidak punya apa-apa, mendadak akan menjadi suami seorang gadis puteri bangsawan! Bi Kim seorang gadis yang cantik jelita, berdarah bangsawan dan kaya raya. Kalau dia menjadi suaminya, maka sekaligus derajatnya akan ter-angkat naik tinggi sekali!
Dia akan mempunyai seorang isteri yang cantik jelita, dari keluarga bangsawan yang terhormat dan menurut penglihatannya baik budi. Dia akan menjadi seorang yang dimuliakan, dihormati dan kaya raya. Bahkan besar kemungkinan dia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Dan yang lebih dari semua itu, Bi Kim adalah cucu keponakan mendiang suhunya! Mau apalagi? Belum tentu selama hidupnya dia akan mendapat kesempatan sebaik itu, menerima anugerah sebesar itu. Demikian bisikan di dalam hatinya yang menonjolkan segi-segi yang akan mendatangkan kesenangan bagi hidup-nya. Akan tetapi, ada suara lain yang menentangnya. Suara ini menonjolkan hal-hal yang sebaliknya. Mengingatkan dia bahwa kalau dia menerima perjodohan itu, dia akan kehilangan kebebasannya. Dia akan terikat di situ.
Dan tiba-tiba saja bayangan seorang anak perempuan yang mungil dan berpakaian merah muncul dalam benaknya. Sian Li! Bayangan anak ini selalu saja muncul setiap kali harinya mengalami guncangan atau dalam keadaan kesepian atau gelisah seperti sekarang ini. Sian Li yang manis, yang mungil, yang lincah jenaka, yang amat sayang kepadanya dan amat disayangnya! Dia ingin bertemu kembali dengan Sian Li! Dan kalau dia menjadi mantu keluarga Gan di kota raja, dia terpaksa harus tinggal di situ, padahal dia masih harus melaksanakan tugas lain yang dipesan suhunya, yaitu mencari mutiara hitam pusaka milik gurunya yang hilang dan kabarnya dibawa seorang kepala suku bangsa Miao! Ah, inilah yang dapat dia jadikan alasan! Mendapatkan jalan untuk dipergunakan sebagai alasan penolakannya hatinya tenang dan dia pun dapat tidur pulas menjelang pagi. Dia hanya tidur selama dua jam saja karena pada keesokan harinya,
Pagi-pagi sekali ketika terdengar kokok ayam jantan, dia sudah bangun kembali. Tubuhnya terasa segar. Jauh lebih menyehatkan tidur selama dua jam dengan pulas daripada tidur semalam suntuk dalam keadaan gelisah. Dia segera mandi karena dalam gedung besar itu selalu tersedia air secukupnya di kamar mandi. Tubuhnya makin nyaman dan dia pun berganti pakaian dan melihat bahwa rumah itu masih sunyi, agaknya penghuninya masih tidur, dia pun keluar melalui pintu belakang menuju ke taman bunga yang berada di belakang. Agaknya, setiap rumah gedung seorang bangsawan atau hartawan pasti mempunyai sebuah taman bunga yang indah. Taman bunga milik keluarga Gan itu pun luas dan indah sekali, terdapat kolam ikan yang lebar dan anak sungai buatan yang selalu mengalirkan air yang jernih.
Ada beberapa buah jembatan yang cantik sekali, dibuat dengan seni indah dan dicat merah kuning. Ada pondok kecil tempat berteduh kalau hawa sedang panas. Yo Han mengagumi keindahan taman itu dan karena pada waktu itu musim bunga sedang mulai, maka sebagian besar tanaman di situ mulai berkuncup dan berbunga. Bahkan teratai merah dan putih di kolam ujung juga mekar meriah. Tiba-tiba Yo Han terkejut dari lamunannya ketika dia melihat seorang wanita berdiri di dekat kolam bunga teratai, membelakanginya. Tadi dia tidak melihatnya karena serumpun mawar menutupinya dan sekarang dia melihatnya, akan tetapi sudah terlampau dekat dan selagi dia hendak cepat membalikkan tubuh pergi dari situ, orang itu sudah membalikkan tubuh memandangnya dan menegur.
"Yo-twako (Kakak Yo)...."
Yo Han merasa serba salah. Hendak pergi dapat menimbulkan kesan tidak ramah dan sombong, kalau tinggal di situ dapat dianggap kurang sopan karena bertemu dengan gadis puteri tuan rumah di pagi buta dalam taman. Apalagi mengingat bahwa semalam, nenek gadis itu menjodohkan dia dengan Bi Kim. Dia cepat merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat.
"Kim-moi (Adik Kim), selamat pagi! Aku tidak tahu bahwa engkau berada di sini, maafkan aku kalau mengganggu ketenanganmu."
Wajah gadis itu berubah kemerahan dan ia menahan senyumnya sambil memandang dari bawah dengan kepala menunduk. Kerling matanya sungguh amat menarik, kerling sopan dan malu-malu.
"Ah, Yo-toako kenapa bersikap amat sungkan? Tentu saja tidak meng-ganggu. Akan tetapi, kulihat sepagi ini engkau sudah bangun, sudah mandi dan berpakaian rapi!"
"Benar, Kim-moi, karena aku hanya menanti sampai orang tuamu dan nenekmu bangun untuk berpamit dari mereka."
Bi Kim mengangkat muka dan menatap wajah Yo Han sepenuhnya dengan mata terbelalak. Diam-diam Yo Han terpesona. Mata itu demikian indahnya ketika terbelalak. Seperti lukisan! Nampak betapa sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu agak terangkat menjauhi mata betapa bulu mata yang halus lebat itu bergerak-gerak menimbulkan bayang-bayang gelap di sekitar mata, dan biji mata itu nampak lebih lebar dari biasanya, begitu bening dan lembut, mengkilat basah.
"Toako.... kau.... kau mau berpamit? Mau pergi....?"
Sejenak dua pasang mata bertemu dan mata yang terbelalak itu akhirnya menunduk kembali, terbawa muka yang ditundukkan. Dalam suara itu terkandung getaran seperti orang yang menangis sehingga Yo Han menjadi terheran-heran. Dia menganggukkan muka dan kalau gadis itu masih memandangnya, tentu dia tidak akan mengeluarkan suara, cukup dengan meng-angguk saja. Akan tetapi karena gadis itu menunduk dan tidak memandangnya, tentu saja anggukan kepalanya sebagai jawaban itu tidak akan terlihat, dan sikap gadis itu jelas menuntut jawaban.
"Benar, Kim-moi. Aku akan pergi melanjutkan perjalananku,"
Katanya lirih dan singkat. Gadis itu mengangkat mukanya dan Yo Han merasa semakin heran. Gadis itu jelas menangis, atau setidaknya berlinang air mata! Sungguh aneh!
"Akan tetapi, semalam nenek...."
Tiba-tiba ia menghentikan ucapannya dan menunduk makin dalam, agaknya baru teringat bahwa ia telah mengeluarkan ucapan yang sama sekali tidak pantas. Ia tidak sengaja berkata demikian. Ucapan neneknya semalam yang menjodohkan ia dengan pemuda ini terngiang di telinganya sepanjang malam, membuat ia tidak dapat tidur dan pagi-pagi ini ia keluar ke taman dengan suara neneknya masih terus mengiang di telinganya. Oleh karena itulah, tanpa disadari dan tanpa disengaja, perasaannya itu terucapkan oleh mulutnya dan biarpun ditahannya, namun ia telah menyebut neneknya dan tentu pemuda itu dapat mengerti. Betapa memalukan! Memang Yo Han mengerti dan dia pun tertegun. Kiranya seperti juga dia, usul nenek Ciu Ceng itu membuat gadis ini menjadi gelisah!
"Maksudmu, pernyataan nenek Ciu Ceng tentang.... perjodohan itu, Kim-moi?"
Mendengar betapa ucapan pemuda itu terdengar wajar dan santai, perlahan-lahan kecanggungan yang dirasakan gadis itu pun berkurang dan ia berani mengangkat muka meman-dang wajah Yo Han. Bi Kim mengangguk dan bertanya lirih,
"Bagaimana pendapatmu tentang usul nenek itu?"
Hemm, gadis ini cukup tabah, pikir Yo Han. Dan dia merasa girang sekali. Memang jauh lebih baik membicarakan urusan ini dengan hati terbuka, daripada harus menyimpannya dalam hati dan menjadi ganjalan kelak. Dia tahu bahwa Bi Kim adalah seorang gadis terpelajar dan mampu berpikir jauh dan berpandangan luas, tidak sempit seperti gadis-gadis yang tiada pendidikan yang baik.
"Nanti dulu, Kim-moi. Karena usul itu datang dari pihak keluargamu, maka aku ingin sekali mendengar dulu bagaimana pendapatmu dengan pertanyaan nenek itu. Lebih baik kita bicara dengan terus terang, karena hal ini menyangkut kehidupan kita berdua di masa mendatang. Nah, katakan bagaimana pendapatmu?"
Kembali wajah gadis itu memerah. Biarpun dia bukan gadis dusun dan berpendidikan, namun bicara tentang urusan perjodohan tentu saja membuat ia merasa kikuk dan malu. Ia kembali menunduk dan suaranya terdengar gemetar dan canggung, juga lirih.\n\n