Halo!

Kisah Si Bangau Merah Chapter 79

Memuat...

"Maaf, Bibi. Sedikit keterangan saja amat berarti dan penting bagi saya untuk melakukan penyelidikan. Saya pun tidak akan sembarangan saja menuduh orang, akan tetapi setidaknya, saya dapat melakukan penyelidikan."

Gan Seng menarik napas panjang.

"Memang ada yang kami curigai, akan tetapi tidak ada bukti, dan dia seorang yang berkedudukan tinggi sehingga tidak ada orang yang akan berani menyelidikinya."

Yo Han memandang dengan wajah berseri.

"Ah, siapakah dia orangnya, Paman? Dan mengapa Paman mencurigai dia?"

"Dia seorang panglima yang dipercaya Kaisar, seorang jagoan istana she Coan. Coan Ciangkun terkenal lihai dan berkedudukan tinggi. Bagaimana kita akan dapat membuktikan bahwa dia yang melakukan perbuatan itu? Tidak ada yang berani menyelidik ke sana. Rumahnya saja dijaga oleh pasukan keamanan yang kuat!"

"Hemm, kenapa Paman mencurigai dia? Apakah alasan Paman dan Bibi mencurigai panglima itu?"

"Coan Ciangkun pernah melamar puteri kami, Bi Kim,"

Kata ibu gadis itu. Yo Han memandang kepada Bi Kim dan gadis itu menundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi bibir gadis itu bergerak dan berkata lirih,

"Manusia tak tahu malu itu!"

"Tentu saja kami menolak pinangan yang merendahkan kami itu,"

Kata pula Gan Seng.

"Bayangkan saja, panglima yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu telah mempunyai sedikitnya lima selir, dan dia masih menghendaki anak kami untuk dijadikan selir! Menghina sekali!"

Yo Han mengangguk-angguk. Alasan itu memang cukup kuat. Mungkin saja karena sakit hati lamarannya ditolak, panglima itu lalu melakukan pencurian pusaka untuk mencelakakan keluarga Gan. Akan tetapi, alasan ini pun tidak begitu meyakinkan. Kalau hanya ditolak lamarannya, bagaimana panglima itu sampai melakukan perbuatan yang juga amat berbahaya bagi dirinya sendiri itu? Dan apa manfaat dan keuntungannya bagi dia?

"Maaf, Paman dan Bibi. Apakah tidak ada alasan yang lebih kuat dari itu sehingga Paman dan Bibi mencurigai Coan Ciangkun?"

"Ada.... ada...."

Kata Gan Seng.

"Semenjak dua buah pusaka itu lenyap, beberapa kali sudah dia menghubungi aku dan mengatakan bahwa kalau aku suka menerima lamarannya, dia akan membantu sampai dua buah benda pusaka itu ditemukan kembali. Nah, aku hampir yakin bahwa setidaknya dia tahu siapa yang mencuri benda pusaka itu."

"Ah, terima kasih, Paman. Sekarang, tolong beritahukan di mana tempat tinggal Panglima Coan itu, saya akan melakukan penyelidikan ke sana."

"Akan tetapi, itu berbahaya sekali, Yo Han!"

Kata Gan Seng. Yo Han tersenyum.

"Harap Paman dan Bibi jangan khawatir. Mendiang Suhu telah mengajarkan banyak ilmu kepada saya, dan dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Sakti, saya kira saya akan berhasil menyelidiki dan mendapat tahu apakah panglima itu benar yang melakukan pencurian itu ataukah bukan. Mudah-mudahan kecurigaan Paman dan Bibi benar sehingga tidak akan sukar lagi untuk mengatasi urusan ini."

"Akan tetapi, para panglima saja yang dimintai bantuan Ayah tidak sanggup menyelidiki orang itu, apakah kau tidak hanya akan mengantar nyawa ke sana?"

Tiba-tiba Bi Kim berkata dengan nada suara khawatir. Yo Han memandang gadis itu dan tersenyum.

"Harap engkau tidak merasa khawatir, Nona. Saya akan menjaga diri baik-baik."

Setelah mendapatkan keterangan jelas dari Gan Seng tentang tempat tinggal Coan Ciangkun, Yo Han lalu berpamit. Tuan rumah sekeluarga mencoba untuk menahannya dan menghidangkan makan minum, akan tetapi Yo Han menolak dengan halus.

"Masih banyak waktu bagi kita untuk bercakap-cakap dan makan bersama, yaitu setelah tugas ini selesai dengan baik. Nah, selamat tinggal, Paman, Bibi dan.... Nona

"Adik, bukan nona!"

Bi Kim memotong.

"Baiklah, Adik Bi Kim. Saya pergi dulu dan mudah-mudahan kalau saya datang lagi akan membawa kabar baik untuk Paman sekeluarga."

Untuk meyakinkan hati mereka, Yo Han sengaja berkelebat dan lenyap dari depan mereka. Tentu saja ayah, ibu dan anak itu terkejut dan sejenak tertegun. Pemuda itu dapat menghilang begitu saja dari depan mata mereka! Setelah Yo Han pergi,

Tiada hentinya mereka bertiga membicarakan pemuda itu dan timbul harapan di hati mereka bahwa pemuda yang luar biasa itu akan berhasil menolong mereka. Memang benar sekali apa yang dikemukakan Gan Seng, isterinya dan puterinya. Sungguh tidak mudah, bahkan berbahaya sekali untuk melakukan penyelidikan ke dalam gedung tempat tinggal Panglima Coan itu. Gedung itu besar dan dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi seperti sebuah benteng kecil. Memang pantas menjadi tempat tinggal seorang panglima tinggi yang memimpin pasukan besar. Di pintu gerbang terdapat sebuah gubuk penjagaan di mana berkumpul belasan orang perajurit penjaga, dan masih ada pengawal yang selalu meronda di sekaliling pagar tembok itu. Yo Han maklum bahwa di waktu siang hari, tidak mungkin menyelundup masuk ke dalam gedung itu.

Andaikata dia dapat menge-labui para penjaga di luar dan dapat masuk ke dalam, masih ada bahaya ketahuan di bagian dalam gedung yang tentu dijaga ketat. Siang hari itu dia tidak berani masuk, hanya mengelilingi bangunan itu di luar pagar tembok dan melihat-lihat keadaan. Ketika dia melihat sebuah pohon yang tumbuh di bagian belakang, agak jauh dari bangunan, dia dapat menduga, bahwa pohon itu tentu tumbuh di kebun belakang, dekat dengan pagar tembok dan dia pun memilih tempat ini untuk menyelinap masuk malam nanti kalau sudah gelap. Siang hari itu dia kembali ke rumah penginapan, menanti datangnya malam. Setelah malam tiba, dia menanti sampai gelap benar barulah dia meninggalkan rumah penginapan secara sembunyi, melalui jendela dan meloncat ke atas genteng agar kepergiannya dari situ tidak ketahuan orang lain.

Tak lama kemudian, dia sudah tiba di luar pagar tembok sebelah belakang di mana siang tadi dia melihat pohon di sebelah dalam pagar. Dia menanti sampai peronda lewat, lalu melompat-lah dia ke atas pagar tembok. Benar dugaannya, pohon itu tumbuh di kebun belakang dan dia pun melompat ke pohon itu, menanti sambil meneliti keadaan. Dari pohon dia dapat melihat beberapa orang penjaga di kanan kiri rumah, dan di sebelah belakang rumah, di luar pintu belakang, terdapat pula dua orang penjaga tengah bercakap-cakap. Di atas mereka terdapat sebuah lampu minyak gantung yang cukup terang. Bukan main, pikir Yo Han. Agaknya panglima itu telah melakukan penjagaan diri dengan ketat. Hal ini saja sudah mencurigakan. Hanya orang yang menjaga diri terhadap penyerbuan dari luar saja yang menyuruh pasukan pengawal menjaga rumah sedemikian ketatnya.

Tentu ada sesuatu yang perlu dijaga! Makin tebal dugaannya bahwa Panglima Coan inilah yang sengaja mencurl pusaka itu untuk memaksa Gan Seng menyerahkan gadisnya! Bagi seorang panglima yang mengepalai pasukan, kiranya tidak begitu sukar untuk melakukan pencurian itu. Seorang dua orang penjaga keamanan gudang pusaka itu tentu telah dapat dipengaruhinya, untuk mencuri pusaka itu untuknya! Pusaka yang amat penting bagi istana, yang kehilangannya akan mendatangkan dosa besar bagi Gan Taijin akan tetapi yang tidak ada gunanya bagi Si Pencuri! Setelah melihat suasana semakin sunyi dan yang menghalanginya masuk ke gedung besar itu hanya dua orang penjaga di luar pintu belakang, Yo Han meloncat turun dari atas pohon dan berindap-indap mendekati dua orang penjaga yang masih duduk berhadapan di bangku,

Kini tidak lagi bercakap-cakap melainkan sedang bermain catur. Yo Han mengambil dua buah kerikil dan setelah membidik dengan hati-hati, dua kali tangannya bergerak. Dua buah batu kerikil melayang dan dengan beruntun, dua orang pemain catur itu terpelanting dari tempat duduk mereka dalam keadaan lemas tak mampu bergerak karena jalan darah mereka sudah tertotok oleh kerikil yang disambitkan tadi. Dengan cepat Yo Han meloncat mendekati mereka, menotok pangkal leher mereka sehingga kini mereka tidak mampu bersuara. Dia menyeret tubuh mereka dan menyembunyikan tubuh mereka di bagian yang gelap, kemudian, dengan hati-hati dia membuka daun pintu belakang. Dia tiba di taman bunga belakang gedung yang amat indah. Tak lama kemudian, Yo Han sudah mengintai sebuah ruangan di tengah gedung itu.

Ada kesibukan di sana dan ketika dia mengintai, dia melihat seorang panglima, hal ini dapat diketahui dari pakaiannya, dihadap oleh tiga orang kakek berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun yang berpakaian preman, akan tetapi yang nampaknya kuat. Dia menduga bahwa tiga orang itu tentulah jagoan-jagoan dan mungkin sekali panglima itu yang bernama Coan. Usianya kurang lebih empat puluh tahun, tinggi besar bermuka hitam dengan bopeng bekas cacar. Seorang pria yang wajahnya kasar dan buruk sekali. Tidak mengherankan kalau Bi Kim dan ayah ibunya menolak pinangannya. Sudah mempunyai banyak selir mukanya buruk pula! Padahal Bi Kim demikian cantik jelita dan masih amat muda. Empat orang itu bercakap-cakap dan Yo Han mengerahkan kepekaan telinganya untuk menangkap percakapan mereka.

"Akan tetapi, bagaimana kalau dia menolak, Ciangkun?"

Tanya seorang di antara tiga jagoan yang mukanya kuning dan matanya sipit.

"Hemm, kalau dia menolak, dia akan dijatuhi hukuman berat, juga keluarganya. Dia pasti tidak akan menolak uluran tanganku untuk menyelamatkan keluarganya,"

Kata pembesar itu sambil menyeringai dan nampaklah giginya yang besar-besar. Makin buruk orang itu kalau menyeringai, pikir Yo Han.

"Kalau begitu, semua jerih payah kita tidak akan ada gunanya, Ciangkun!"

Kata orang ke dua yang perutnya gendut sehingga kancing bajunya bagian bawah terlepas semua dan nampak kulit perut yang buncit itu.

Post a Comment