Syanti Dewi menjerit, matanya terbelalak memandang ke Sumur Maut itu.
"Lu Ceng....? Candra Dewi....? Dan.... dia.... dia.... di manakah dia....?"
Jenderal Kao makin kaget. Dengan mata masih menatap wajah Syanti Dewi penuh selidik, dia menjawab,
"Untuk menolongku, dia telah mengorbankan dirinya dan terjatuh ke dalam sumur maut ini."
Kembali Syanti Dewi menjerit dan sekali ini dia menjatuhkan diri berlutut di dekat sumur maut sambil menangis tersedu-sedu, Bun Beng juga terkejut karena dia sudah mengenal nama Lu Ceng atau Candra Dewi dari Puteri Bhutan ini. Akan tetapi Jenderal Kao yang menjadi terkejut dan terheran-heran. Sambil menghadapi Bun Beng dia bertanya,
"Gak-enghiong, apakah artinya ini?"
"Nona Lu Ceng adalah saudara angkat dari Puteri Syanti Dewi, dan terus terang saja, Tai-goanswe, yang menyamar sebagai anakku ini adalah Sang Puteri Syanti Dewi dari Bhutan yang dikejar-kejar pemberontak."
"Ahhh....!"
Jenderal Kao terkejut bukan main. Tentu saja dia sudah mendengar pula akan nama Syanti Dewi, puteri raja Bhutan yang akan dijodohkan dengan Pangeran Liong Khi Ong dan yang hilang di dalam perjalanan ketika diboyong. Kiranya puteri ini masih selamat, tertolong oleh pendekar yang bernama Gak Bun Beng ini.
"Kao-goanswe, sudah lamakah nona itu terjerumus ke dalam sumur?"
Gak Bun Beng bertanya setelah sejenak memandang ke arah sumur itu.
"Baru saja,"
Jawab jenderal itu dengan suara serak karena dia menjadi makin terharu setelah melihat Puteri Bhutan itu menangisi kematian Ceng Ceng.
"Kalau begitu, biar saya mencoba untuk mencarinya!"
Gak Bun Beng cepat lari mencari tali yang banyak terdapat di antara para korban suku Bangsa Mongol karena mereka itu sudah biasa membawa tali untuk keperluan di dalam perantauan mereka, lalu menyambung-nyambung tali itu dan kembali ke dekat sumur di mana Jenderal Kao menantinya dengan heran.
"Gak-enghiong, apa yang akan kau lakukan?"
Tanyanya.
"Saya hendak mencarinya di dalam sumur, harap Goanswe suka memegangi tambang ini agar dapat menolong saya kalau di bawah sana terdapat bahaya."
"Aihh, harap Gak-enghiong jangan melakukan ini!"
Jenderal itu berseru kaget.
"Sumur ini terkenal sebagai sumur maut dan siapa saja, apa saja yang masuk ke dalamnya, tidak pernah keluar lagi."
"Betapapun berbahayanya, saya akan mencoba untuk mencarinya dan setidak-nya memeriksa di sebelah dalam. Siapa tahu kalau-kalau nona Lu masih dapat ditolong."
"Paman.... Paman Gak.... benarkah saudaraku Candra Dewi masih dapat ditolong?"
"Mudah-mudahan saja."
"Tapi.... tapi Paman sendiri? Jangan-jangan akan terancam bahaya di bawah sana...."
Puteri itu bergidik ngeri.
"Kalau berbahaya.... harap jangan turun ke sana...."
Dia bangkit, menghampiri Gak Bun Beng dan memegang tangan pendekar itu. Gak Bun Beng tersenyum.
"Tenangkanlah hatimu, Dewi. Di sini terdapat Kao-goanswe yang akan memegangi ujung tali. Andaikata aku terancam bahaya, masih dapat ditolong."
Akhirnya jenderal itu dan Syanti Dewi tidak membantah lagi, melainkan memandang dengan mata terbelalak dan jantung berdebar penuh ketegangan ketika mereka melihat betapa Gak Bun Beng mulai menuruni sumur yang kelihatan menganga hitam dan tidak dapat dilihat dasarnya itu. Jenderal Kao memegangi ujung tali dengan kuat, mengulur tali sedikit demi sedikit ketika Bun Beng sudah mulai menuruni sumur. Sebentar saja, dua orang itu tidak lagi melihat bayangan Bun Beng yang lenyap ditelan kegelapan yang hitam pekat di dalam sumur itu. Syanti Dewi berlutut di tepi mulut sumur sambil memandang dan kedua tangannya dirangkap di depan dada karena diam-diam dia berdoa demi keselamatan pendekar sakti itu dan demi tertolongnya Ceng Ceng.
"Aahhhhh....!"
Tiba-tiba Jenderal Kao berseru kaget, wajahnya berubah dan cepat-cepat dia menarik tambang itu dengan kedua tangannya secepatnya. Tadi, ketika dia mengulur tambang sampai hampir habis, tiba-tiba saja tambang itu menegang dan terasa berat, tidak bergerak lagi! Syanti Dewi memandang terbelalak dan pucat mukanya. Biarpun dia sudah terluka, jenderal itu masih kuat sekali sehingga sebentar saja dia sudah dapat menarik keluar tubuh Gak Bun Beng dari dalam sumur. Tubuh yang tergantung pada ujung tambang yang mengikat pinggangnya dan ternyata pendekar itu telah pingsan dengan muka pucat dan kulit muka serta leher dan kedua tangannya agak kehitaman!
"Paman....!"
Syanti Dewi hendak menubruk tubuh pingsan yang kini direbahkan di atas tanah itu, akan tetapi Jenderal Kao cepat mencegahnya.
"Harap paduka mundur, dia keracunan, biar kucoba menyadarkannya!"