Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 83

Memuat...

"Ha-ha-ha, harap tenangkan hatimu, Nona. Pemberontak-pemberontak itu hanya besar mulut saja, akan tetapi tidak ada artinya. Bahkan baru-baru ini aku sendiri sudah melakukan pemeriksaan ke barat, memimpin operasi pembersihan membasmi para pemberontak yang berani mengganggu perbatasan barat. Kalau ada pemberontak yang berani muncul di daerah ini, tentu akan kusapu sampai bersih!"

Kembali dia tertawa bangga lalu melanjutkan.

"Sayang bahwa para penjahat itu berhasil mencegat rombongan Puteri Bhutan sehingga sang puteri kabarnya lenyap. Akan tetapi, Kerajaan Bhutan tentu mau be-kerja sama dengan kami untuk membasmi para pemberontak di sana yang sebetulnya hanya merupakan segerombolan orang liar dan biadab, di bawah pimpinan penjahat besar Tambolon."

"Agaknya Tai-ciangkun belum tahu jelas akan keadaan yang lebih parah dan berbahaya daripada yang Tai-ciangkun kira."

Ceng Ceng berkata,

"Hendaknya diketahui bahwa saya adalah Lu Ceng, atau Candra Dewi, saudara angkat dengan Puteri Syanti Dewi dari Bhutan, dan saya pula yang menjadi pengawal pribadinya ketika diboyong ke kota raja."

"Ehhh....?"

Jenderal itu terkejut juga dan kini memandang kepada Ceng Ceng penuh perhatian. Ceng Ceng lalu menceritakan semua pengalamannya bersama Syanti Dewi yang sekarang entah berada di mana akan tetapi yang menurut kabar diselamatkan oleh seorang nelayan dan pasti belum terjatuh ke tangan pemberontak. Kemudian dia menceritakan pula pertemuannya dengan Ang Tek Hoat yang menjadi orang kepercayaan Pangeran Liong si pemberontak, menceritakan pula percakapan yang didengarnya antara Ang Tek Hoat dan Pangeran Liong Khi Ong. Mendengar semua itu, barulah Jenderal Kao tidak memandang ringan lagi, bahkan dia menggebrak meja.

"Celaka! Kiranya di kota raja sendiri telah penuh dengan manusia-manusia khianat! Kalau begitu, aku sendiri harus ke kota raja untuk memperingatkan kaisar dan berunding dengan Puteri Milana yang bijaksana. Ahhh, pengkhianat-pengkhianat yang tak mengenal budi itu harus dibasmi secepat mungkin sebelum gerakan mereka menjadi besar!"

Pada saat itu, seorang pengawal melangkah masuk dan memberi hormat kepada Jenderal Kao sambil berkata,

"Kim-ciangkun datang dan mohon menghadap!"

"Ah, dia datang? Suruh masuk cepat!"

Kata jenderal itu. Ketika Panglima Kim Bouw Sin memasuki ruangan itu dan memberi hormat kepada Jenderal Kao, Ceng Ceng memandang penuh perhatian. Panglima Kim adalah seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluh tahun, mukanya pucat dan matanya sipit sekali. Karena tahu bahwa panglima ini adalah sahabat baik Souw Kee It, maka begitu panglima itu duduk dia bertanya,

"Kim-ciangkun, bukankah Souw-lopek sudah bertemu denganmu?"

Kim Bouw Sin memandang dara itu lalu tertawa.

"Tentu Nona adalah Nona Lu Ceng dari Bhutan seperti yang diceritakan oleh Souw-sicu. Memang dia telah bertemu denganku, Nona. Bahkan kini dia membantu menjadi penunjuk jalan bagi pasukan yang kukirimkan untuk melakukan pembersihan ke dusun tempat jual kuda itu."

"Hemm, Kim-ciangkun! Mengapa urusan besar seperti itu kau serahkan saja kepada bawahanmu dan tidak kau pimpin sendiri? Kita harus mengadakan pembersihan jangan sampai kaki tangan pemberontak memperlebar sayapnya di daerah ini!"

Jenderal Kao menegur bawahannya. Kim Bouw Sin cepat menghadapi atasannya itu dan berkata,

"Memang sebenarnya harus saya sendiri yang memimpin operasi pembersihan itu. Akan tetapi, ada hal lain yang lebih penting lagi dan yang harus saya laporkan sendiri kepada Goanswe."

"Hemm.... berita apakah yang begitu penting?"

"Para peyelidik kami mendapat kete-rangan bahwa pada hari besuk, para kepala suku mengadakan pertemuan dan perundingan tidak jauh dari sini dan mereka itu akan menerima kujungan seorang kaki tangan penberontak yang tentu akan melakukan pembujukan kepada para kepala suku untuk bersekutu dengan pihak pemberontak."

Wajah Jenderal Kao berubah merah sekali dan dia menggebrak meja.

"Bagaimana bisa ada kejadian seperti ini? Selama ini para kepala suku itu baik dengan kita!"

Dengan sikap agak ketakutan Kim-ciangkun berkata,

"Akan tetapi, pihak pemberontak itu tentu telah berhasil membujuk mereka yang mata duitan dengan menyerahkan hadiah-hadiah. Kalau Goanswe mengijinkan, saya akan melakukan penyelidikan sendiri ke tempat itu."

"Tidak! Hal ini terlalu penting sehingga harus aku sendiri yang melakukan penyelidikan. Di mana tempat itu?"

"Di sekitar sumur maut di tengah padang pasir."

"Hemm, tempat terpencil dan mengerikan itu?"

Jenderal Kao membelai jenggotnya,

Post a Comment