"Coba tangkap aku kalau bisa!"
Para perajurit itu saling pandang, ada yang merasa penasaran dan marah menyaksikan lagak dara remaja itu, ada pula yang tersenyum geli, akan tetapi tidak ada seorang pun berani bergerak karena mereka menanti perintah komadan mereka.
"Nona, jangan bergurau. Kembalilah saja, atau turun dari kuda untuk kami hadapkan kepada atasan kami,"
Berkata komandan tinggi besar itu dengan wajah sungguh-sungguh.
"Dan aku tidak bergurau, melainkan menantang kalian semua untuk menangkap aku kalau bisa!"
Merah wajah komandan itu. Dia merasa dipermainkan oleh anak perempuan ini di depan anak buahnya.
"Tangkap dia!"
Teriaknya memberi aba-aba. Setelah terdengar aba-aba ini, barulah para perajurit bergerak, mengulur tangan dan seolah-olah hendak berlomba menangkap atau menjamah tubuh dara remaja yang cantik manis dan menggemaskan hati itu! Ceng Ceng tertawa, kakinya bergerak dan tubuhnya sudah mencelat dan melayang melalui atas kepala mereka, bagaikan seekor burung saja gadis ini meloncat dari atas kudanya melalui kepala para perajurit dan turun ke atas tanah di luar kepungan sambil tertawa-tawa. Ceng Ceng menggapai kepada para perajurit yang kini membalikkan tubuh memandang kepadanya dengan mata terbelalak.
"Mari, mari! Siapa yang merasa ada kepandaian, boleh maju! Atau kalau kalian tidak tahu malu, boleh mengeroyok aku!"
Tentu saja para perajurit menjadi marah dan bergerak maju, akan tetapi tiba-tiba komandan tinggi besar itu berteriak,
"Tahan!"
Serentak para perajurit menghentikan gerakan mereka dan berdiri tegak menanti perintah komandan mereka. Akan tetapi komandan itu melambaikan tangannya memberi isyarat agar mereka mundur, kemudian dia sendiri melangkah maju menghadapi Ceng Ceng. Sejenak dia memandang dara itu penuh perhatian dan kecurigaan, kemudian dia berkata,
"Nona, sebetulnya siapakah engkau, ada keperluan apa datang ke tempat ini dan mengapa menantang kami?"
Ceng Ceng yang sudah kumat nakalnya dan memang sengaja hendak mempermainkan orang, tersenyum dan berkata,
"Soal nama dan keperluan nanti saja. Sekarang karena aku dilarang melanjutkan perjalanan, aku tantang siapa saja di antara kalian. Kalau aku kalah, aku akan kembali tanpa banyak cerewet lagi, akan tetapi kalau aku menang, kalian harus membolehkan aku melanjutkan perjalananku...."
Komandan itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Peraturan di sini tidak boleh diubah oleh siapapun juga, Nona. Siapa yang melanggar akan berhadapan dengan kami."
"Aku tidak mau tunduk akan peraturan itu!"
"Kalau begitu terpaksa Nona akan kutangkap."
"Cobalah!"
Akan tetapi kembali komandan itu ragu-ragu.
"Aku adalah seorang laki-laki sejati yang tidak suka memukul wanita. Akan tetapi harap Nona ketahui bahwa kami telah berbulan-bulan bertugas di sini dan jauh dari wanita, maka jangan katakan aku kurang ajar kalau tangan-tanganku menjadi gatal."
Para perajurit tertawa mendengar kelakar komandan mereka ini, dan wajah Ceng Ceng menjadi merah sekali. Akan tetapi karena dia pun tahu bahwa komandan itu bukan bermaksud untuk kurang ajar melainkan bicara sejujurnya, dia pun mejawab,
"Tidak usah banyak sungkan, Ciangkun. Mari perlihatkan kepandaianmu."
"Heiiiiitttt!"
Komandan itu yang juga memiliki ilmu silat cukup tangguh sudah bergerak maju, menubruk dengan kedua lengannya dipentang lebar.
"Yaaaahhhh!"
Dengan lincahnya Ceng Ceng mengelak dan tubuhnya yang kecil ramping itu lolos dari bawah lengan kanan komandan itu, tidak lupa untuk menggerakkan tangan kiri menampar belakang pundak kanan.
"Plakkk!"
Tubuh komandan itu terhuyung-huyung dan wajahnya kelihatan kaget bukan main.
Tak disangkanya bahwa tubrukannya itu tidak hanya dapat dielakkan, malah dia kena ditampar, tamparan main-mainan saja karena kalau dara itu menghendaki, tamparan itu tentu dapat diubah menjadi pukulan yag berbahaya. Tahulah dia bahwa gadis ini memang berllmu tinggi maka berani berlagak seperti itu, maka dia tidak menjadi sungkan-sungkan lagi dan sambil berteriak keras mulailah dia menyerang, bukan sekedar untuk mengalahkan. Ceng Ceng yang memang hanya ingin mempermainkan, menggunakan gin-kangnya dan dengan amat lincah dia selalu dapat mengelak dari semua serangan lawan tanpa membalas karena dia memang tidak berniat untuk bermusuhan. Kemudian, ketika komandan itu menyerangnya dengan dahsyat, menggunakan lengan kanan untuk memukul ke arah lambung dan tangan kirinya mencengkeram pundak, Ceng Ceng mengelak dengan loncatan ke kanan sambil menggerakkan kepalanya.
"Plak! Plak!"
Komadan itu terkejut dan cepat meloncat mundur sambil terhuyung-huyung karena tadi dua helai kuncir dara itu dengan tepat telah menyambar dan mengenai leher dan dadanya. Melihat ini, para perajurit sudah bergerak maju hendak menolong dan membantu komandan mereka, akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng meloncat jauh ke belakang sambil berseru keras,
"Tahan....!"
Komandan itu sudah mencabut pedangnya dan dengan mata terbelalak marah memandang. Ceng Ceng cepat menjura kepadanya dan berkata,
"Harap Ciangkun maafkan. Sebetulnya saya hanya main-main saja. Saya hendak menghadap Jenderal Kao Liang, harap Ciangkun mengantar saya kepadanya."
Komandan itu mengerutkan alisnya. Tentu saja dia menjadi makin curiga. Gadis ini adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kedatangannya demikian mencurigakan dan sekarang menyatakan ingin bertemu dengan Jenderal Kao Liang, tentu saja dia menjadi curiga sekali.
"Nona, terpaksa kami hanya dapat menghadapkan engkau sebagai seorang tangkapan."
Ceng Ceng tersenyum, lalu merogoh saku mengeluarkan tek-pai yang diterimanya dari Pengawal Souw Kee It, menyodorkan tek-pai itu ke depan perwira komandan itu sambil berkata,
"Apakah engkau masih mencurigai aku?"
Komandan itu memandang tek-pai, bambu kuasa itu dan setelah membaca dan mengenal tulisan di atas tek-pai, melihat cap kebesaran Puteri Milana sendiri, cepat dia menjatuhkan diri berlutut. Para perajuritnya terkejut dan biarpun mereka belum mengerti jelas, mereka pun cepat meniru perbuatan komandan mereka, berlutut.
"Harap Nona maafkan kami yang tidak mengenal Nona,"
Kata komandan itu.
"Aihh, tidak apa-apa, Ciangkun. Salahku sendiri karena memang aku yang ingin main-main dengan pasukanmu yang begini perkasa. Nah, sekarang antarkanlah aku menghadap Jenderal Kao Liang."
"Baik, Nona."
Komandan itu meninggalkan perintah kepada anak buahnya, dan dia sendiri lalu mengantarkan Ceng Ceng memasuki benteng besar di mana terdapat penjagaan yang ketat dan mengagumkan hati Ceng Ceng. Dia maklum betapa akan sukarnya memasuki benteng yang terjaga kuat ini apabila tidak diantarkan oleh komandan itu. Jenderal Kao Liang yang gagah perkasa itu menerima kedatangan Ceng Ceng dengan ramah, apalagi ketika Ceng Ceng memperlihatkan tek-pai (bambu tanda kuasa) dari Puteri Milana dan menceritakan bahwa dia mewakili Perwira Pengawal Souw Kee It.
"Aih, sungguh patut dipuji seorang wanita muda seperti Nona menempuh segala kesukaran untuk membantu negara. Nona amat gagah perkasa! Silahan duduk di ruangan dalam dan ceritakan semua tugas Nona datang menjumpai kami,"
Kata jenderal itu yang mengajak Ceng Ceng duduk di ruangan dalam. Setelah minum teh yang disuguhkan, Ceng Ceng mulai dengan penuturannya.
"Souw-ciangkun sekarang pergi ke ben-teng di barat sana untuk melaporkan bahwa daerah ini telah kemasukan kaki tangan pemberontak. Kami berdua telah dicegat oleh dua orang tosu Pek-lian-kauw dan kaki tangannya. Menurut Souw-ciangkun, pemberontak yang sekarang sedang berusaha untuk menghimpun kekuatannya, tidak hanya bergerak di barat, melainkan agaknya juga sudah mulai mengulur tangan kotor di daerah perbatasan ini."
Jenderal Kao Liang tertawa sambil mengangkat cawan arak dan minum arak dengan lahapnya. Dia kuat sekali minum dan tidak pernah menjadi mabuk.