Bentak yang bermantel bulu.
"Maaf, loya. Kamar ini sudah ada tamunya, bahkan sedang sakit. Harap ji-wi suka memakai kamar yang berada di dalam atau di belakang."
"Tidak! Kami memerlukan kamar paling depan! Hayo suruh si sakit itu keluar dan pindah ke belakang. Kami berani bayar tiga kali lipat!"
"Tapi, loya...."
"Heh-heh, kamu minta mampus?"
Tiba-tiba yang setengah telanjang itu membentak sambil terkekeh, tangannya menepuk meja di sebelahnya dan.... permukaan meja itu menjadi hangus seperti dibakar! Para pelayan terkejut sekali dan tidak berani bicara lagi, sedangkan Syanti Dewi yang menyaksikan demontrasi tadi juga terkejut. Mengertilah dia bahwa kakek setengah telanjang itu memiliki sin-kang yang amat hebat sehingga mampu membakar meja! Dia lalu menyelinap dari samping, mendorong daun jendela kamar Gak Bun Beng. Akan tetapi dia melihat pendekar itu sudah bangkit dan duduk, dan ketika melihat Syanti Dewi, dia berkata,
"Biarlah kubereskan urusan di luar."
"Jangan, paman.... mereka.... mereka lihai sekali...."
Tentu saja kata-kata ini hanya disambut dengan senyum saja oleh Gak Bun Beng dan dia lalu turun dari pembaringan, terhuyung dan membuka pintu kamarnya. Melihat dua orang kakek itu menghadapi lima orang pelayan yang ketakutan, Gak Bun Beng mengerutkan alisnya dan berkata,
"Andaikata ji-wi sedang sakit dan aku yang sehat, tentu dengan senang hati aku mengalah dan memberikan kamar ini untuk ji-wi. Akan tetapi karena keadaan kita sebaliknya, sungguh tidak patut kalau ji-wi hendak memaksa para pelayan. Harap saja ji-wi suka memandang aku yang sedang sakit untuk mengambil kamar di dalam saja."
"Heh-heh-heh-heh, apa kau juga ingin mampus?"
Kembali kakek setengah telanjang berkata dan dia menggunakan telapak tangannya mendorong meja tadi dan.... seketika keempat kaki meja itu amblas ke dalam lantai yang keras, seolah-olah lantai itu terbuat dari agar-agar saja! Melihat ini Gak Bun Beng mengerutkan alisnya.
"Hemm, kau memang hebat, akan tetapi berwatak buruk sekali!"
Gak Bun Beng melangkah maju dan sekali kakinya dihempaskan ke lantai, meja yang kakinya amblas tadi mencelat ke atas sampai ada setengah meter dari lantai! Dua orang kakek itu terkejut sekali, saling pandang, kemudian menghadapi Gak Bun Beng.
"Bagus, engkau merupakan lawan yang boleh juga! Kau menantang kami, ya?"
Serta merta kakek bermantel tebal itu menghantam ke depan dengan telapak tangan kanan. Mendengar sambaran angin ini dan merasakan betapa ada hawa yang amat dingin datang menyambarnya, Gak Bun Beng terkejut dan maklumlah dia bahwa kakek ini adalah seorang ahli Im-kang, maka diapun cepat menyambut dengan telapak tangan kiri.
"Plakkk!"
Pada saat itu, kakek setengah telanjang juga sudah menghantam dengan telapak tangan terbuka pula, dan Gak Bun Beng merasa betapa hawa yang menyambarnya amatlah panasnya. Maka diapun menyambut dengan tangan kanannya.
"Plakk!"
Dua orang kakek ini terkejut, berseru
"Aughh....!"
Dan muka mereka menjadi pucat. Tentu saja kedua orang kakek itu tidak mengenal siapa yang mereka serang.
Kakek kembar ini pernah kita jumpai, yaitu ketika mereka bersama kawan-kawannya yang semua berjumlah dua puluh orang menyerbu ke Pulau Es dan dapat dihalau pergi oleh Pendekar Super Sakti, dua orang isteri dan dua orang puteranya. Si muka putih yang selalu bermantel itu adalah Pak-thian Lo-mo sedangkan si muka merah yang setengah telanjang itu adalah Lam-thian Lo-mo. Kedua kakek kembar ini memang memiliki kelstimewaan masing-masing, kalau si baju tebal itu seorang ahli tenaga sakti Im-kang yang selalu kedinginan adalah si setengah telanjang itu seorang ahli Yang-kang yang selalu kepanasan. Akan tetapi, sekali ini mereka bertemu dengan Gak Bun Beng, seorang ahli dalam tenaga sin-kang Inti Salju dan Inti Api, maka dengan sendirinya dia berani menghadapi pukulan panas dengan hawa yang lebih panas sedangkan pukulan dingin dia hadapi dengan hawa yang lebih dingin lagi!
"Ouhhhh....!"
Kedua orang kakek itu mengerahkan tenaganya karena Pak-thian Lo-mo si ahli Im-kang mulai menggigil kedinginan sedangkan Lam-thian Lomo si ahli Yang-kang mulai berpeluh kepanasan.
Untung bagi mereka bahwa Gak Bun Beng tidak niat membunuh orang, dan lebih untung lagi bahwa pendekar sakti itu sedang sakit, maka pengerahan tenaga ini membuat Gak Bun Beng terbatuk-batuk dan muntah darah! Kesempatan ini dipergunakan oleh kakek kembar itu untuk menarik tangan masing-masing, kemudian melihat lawannya muntah darah, mereka berdua menyerang lagi dengan hebatnya! Gak Bun Beng menggerakkan kedua tangannya dan biarpun dia menggoyang-goyangkan kepala untuk mengusir kepeningan kepalanya dan mengusir kunang-kunang yang tampak ribuan di depan matanya, dia masih bisa menangkis setiap pukulan yang datang dengan cepatnya sehingga kedua kakek itu merasa amat terheran-heran dan terkejut bukan main! Belum pernah mereka menghadapi lawan yang sehebat dan setangguh ini setelah Pendekar Super Sakti!
Tentu saja mereka menjadi penasaran dan kini mereka mengeluarkan senjata mereka, yaitu sabuk baja yang berupa pecut. Terdengarlah bunyi meledak-ledak ketika kedua kakek itu menggerakkan senjata mereka menyerang Gak Bun Beng. Pendekar ini berusaha mengelak dan bahkan menangkis dengan lengannya yang penuh dengan hawa sin-kang, namun karena pandang matanya berkunang dan dia terhuyung-huyung, ada beberapa pukulan yang mengenai tubuhnya sehingga dia terluka cukup berat. Pada saat itu, Syanti Dewi sudah meloncat masuk ke dalam kamar, menyambar buntalan dari meja dan melihat betapa Gak Bun Beng dikeroyok dan terhuyung-huyung, dia menjerit. Pada saat itu, terdengarlah derap banyak kaki kuda dan sesosok bayangan menyambar masuk disertai bentakan nyaring seorang wanita.
"Sepasang iblis laknat, kalian berani mengacau kota raja?"
"Sing-sing....!"
Dua sinar terang menyambar ke arah dua orang kakek itu.
"Trang-trang....!"
Dua batang pisau terbang itu dapat disampok pecut baja, namun kedua kakek itu terkejut ketika tangan mereka terasa tergetar, tanda bahwa dua batang pisau terbang itu diluncurkan oleh orang yang memiliki tenaga hebat. Wanita yang bukan lain adalah Puteri Milana ini sudah membentak lagi dan sinar-sinar halus menyambar, kini serangan jarum-jarum halus menyambar ke arah jalan-jalan darah di tubuh bagian depan dari kedua orang kakek kembar.
"Hayaaaa....!"
Dua orang kakek itu berteriak dan dengan cepat mereka memutar pecut untuk melindungi tubuh sambil meloncat keluar dari rumah penginapan di mana mereka disambut oleh sepasukan pengawal yang cukup lihai. Sementara itu, ketika Milana melihat orang yang tadi dikeroyok oleh sepasang kakek kembar itu terhuyung dan dipapah oleh seorang gadis cantik, dia cepat membalikkan tubuhnya mengejar dua orang kakek kembar yang sudah merobohkan dua orang pengawal. Dengan pedangnya yang berkilauan Milana menerjang dan kedua orang kakek itu terpaksa harus mengerahkan kepandaian mereka karena wanita ini benar-benar amat lihai, apalagi dibantu oleh banyak sekali pengawal yang mengurung mereka.
"Paman, kau.... terluka...."
Syanti Dewi memeluk tubuh yang terhuyung itu.
"Dewi.... cepat.... bawa aku pergi.... jangan sampai dia melihatku....!"
Syanti Dewi tadi sudah melihat kedatangan Milana dan dia kagum meyaksikan kehebatan puteri itu. Setelah dekat dan melihat wajah Milana terkena sinar penerangan, barulah dia melihat betapa cantiknya puteri itu, sungguhpun wajah itu begitu pucat, begitu dingin dan muram seperti kehilangan cahayanya. Kini mendengar ucapan Gak Bun Beng, dia menjadi bingung. Mengapa penolongnya ini selalu hendak menghindarkan diri dari kekasihnya?
"Dewi, cepat.... aku tak tahan lagi...."
Bun Beng berbisik.
"Ke sana.... melalui jendela...."