Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 129

Memuat...

Sumber segala kekacauan ini, segala perebutan ini, baik perebutan kekuasaan maupun perebutan harta benda, terletak pada diri pribadi masing-masing manusia sendiri. Maka tidak mungkin menyalahkan kepada masyarakat karena kita sendiri yang membentuk masyarakat. Dunia akan berubah, masyarakat akan berubah kalau diri kita masing-masing berubah! Segala macam pemberontakan, revolusi, pembaharuan sosial, akan gagal selama diri sendiri masing-masing tidak berubah lebih dulu. Kalau manusianya sudah berubah, otomatis masyarakat dan dunia akan mempunyai wajah lain! Tidak sekacau dan sekejam ini di mana kebencian dan permusuhan tampak setiap saat di manapun juga, di mana di satu pihak orang hidup berkelebihan di lain pihak ada yang kelaparan.

Segala macam tindakan dalam hidup akan menjadi palsu dan rusak apabila ditunggangi oleh si aku, karena tindakan itu tak lain tak bukan hanyalah merupakan cara bagi si aku untuk mencapai tujuannya! Dan si aku ini amatlah cerdik dan liciknya, amatlah lihainya seperti Kauw Cee Thian Si Raja Monyet yang terkenal di dalam cerita See-yu yang pandai berpian-hoa (berganti rupa) sampai menjadi tujuh puluh dua macam. Biasa saja si aku ini bersembunyi di balik istilah-istilah muluk seperti tanah air, negara dan bangsa, bendera pusaka, Tuhan, kemerdekaan, perdamaian, kebahagiaan, dan sebagainya yang muluk-muluk lagi. Namun kalau kita mau membuka mata melihat sesungguhnya apa yang berkecamuk di dalam batin dan pikiran kita,

Akan tampaklah oleh kita bahwa semua itu hanya dipergunakan oleh si aku untuk mencapai tujuan yang menguntungkan bagi si aku, baik keuntungan lahiriah maupun keuntungan batiniah. Maka segala istilah itu lalu dibubuhi kata-kata "ku", menjadi negaraku, bangsaku, Tuhanku, dan sebagainya yang merupakan bentuk lain dari pada si aku sendiri! Maka muncullah pertentangan yang tak dapat dihindarkan lagi antara negaraku dan negaramu, agamaku dan agamamu, kebenaranku dan kebenaranmu, Tuhanku dan Tuhanmu, dan sebagainya. Mungkin usaha seperti yang direncanakan oleh Jenderal Kao itu akan berhasil seperti yang dibuktikan dalam sejarah, namun hasil ini untuk sementara, dan seperti dibuktikan oleh sejarah pula. Pemberontakan-pemberontakan timbul tenggelam di jaman Pemerintah Ceng seperti juga di jaman pemerintah-pemerintah terdahulu.

Setiap pemberontakan menentang kekuasaan yang bercokol tentu diberi nama yang indah-indah dan gagah seperti perjuangan demi rakyat, demi bangsa, bahkan ada kalanya menarik nama Tuhan tanpa segan-segan lagi sampai pemberontakan itu berhasil menumbangkan kekuasaan yang ada. Akan tetapi setelah kekuasaan baru timbul, disusul oleh pemberontakan yang lain, yang lebih seru, dengan menggunakan rakyat, bangsa atau Tuhan sebagai topeng, namun pada hakekatnya sama saja sungguhpun mungkin istilah-istilahnya yang berbeda sesuai dengan jamannya. Jenderal Kao Liang melanjutkan perjalanannya ke kota raja dengan hati-hati. Dia maklum bahwa pihak pemberontak tentu tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja dan tentu akan berusaha untuk menangkapnya kembali. Dia tidak takut akan bahaya yang mengancam dirinya, akan tetapi dia lebih mengkhawatirkan keadaan negara.

Dia harus berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai tertangkap pemberontak sebelum dia tiba di kota raja, sebelum dia menyampaikan semua pengalamannya kepada Kaisar atau setidaknya Puteri Milana. Mengertilah jenderal ini bahwa kalau sampai dia tertawan atau terbunuh, tentu pihak pemberontak akan memutarbalikkan kenyataan, melaporkan kepada Kaisar bahwa dialah yang akan memberontak dan dengan demikian kedudukan para pimpinan pemberontak di kota raja menjadi aman dan mereka dapat menyusun kekuatan. Tidak, dia tidak boleh tertangkap kembali. Maka jenderal ini hanya melakukan perjalanan di waktu malam, kalau siang dia bersembunyi dan pakaian perangnya pun sudah dibuangnya dan dia hanya memakai pakaian biasa seperti seorang penduduk biasa.

Dengan cara demikian, setelah lewat dua malam, akhirnya sampailah jenderal ini di kota raja pagi-pagi sekali, menumpang pada seorang pedagang sayur-sayuran yang mengangkut dagangannya dengan gerobak. Setelah masuk di kota raja, jenderal ini tidak banyak membuang waktu lagi, langsung saja dia menuju ke istana Puteri Milana dan kepada para pengawal yang menjaga di depan dia minta berjumpa dengan puteri itu. Para pengawal yang mengenal jenderal ini cepat melapor kepada majikan mereka dan tidak lama kemudian, Jenderal Kao Liang yang disuruh menunggu di kamar tamu disambut oleh Puteri Milana, Panglima Han Wi Kong suami puteri itu, dan dua orang pemuda tampan yang segera dikenal oleh jenderal itu. Melihat dua orang pemuda ini, Jenderal Kao cepat berseru,

"Bukankah Ji-wi yang telah datang menolong ketika rombongan kami diserang pemberontak?"

"Sayang kami tidak berhasil menyelamatkanmu, Goanswe,"

Kata Kian Lee.

"Siang Lo-mo dan para pembantunya dapat kami pukul mundur, akan tetapi Goanswe telah dilarikan orang,"

Kata Kian Bu.

"Sudahlah, kita harus bergembira bahwa ternyata Kao-goanswe dapat menyelamatkan diri dan tiba di sini. Kao-goanswe, mereka ini adalah adik-adikku, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu dari Pulau Es,"

Kata Milana.

"Ahhh.... pantas.... kiranya putera-putera dari Pendekar Super Sakti!"

Jenderal itu berseru kaget, heran dan kagum sekali.

"Goanswe, silakan duduk."

Han Wi Kong mempersilakan jenderal itu dan mereka lalu duduk mengitari meja. Jenderal Kao menceritakan semua pengalamannya, didengarkan oleh mereka berempat dan Puteri Milana mengerutkan alisnya. Setelah jenderal itu selesai bercerita, Milana mengangguk-angguk.

"Sudah pasti sekali bahwa tentu Pangeran Tua yang menjadi biang keladi ini semua. Agaknya dia berhasil membujuk Kaisar untuk memanggilmu, Goanswe, dan sementara itu dia telah menaruh kaki tangannya di tengah jalan. Untung bahwa kau bisa lolos berkat pertolongan pemuda tak terkenal itu."

"Nanti saya akan menghadap Kaisar untuk membuka rahasia mereka itu!"

Jenderal Kao berkata penuh rasa penasaran.

"Sebaiknya jangan begitu. Masih belum waktunya untuk menentang mereka secara terbuka karena kita belum memperoleh bukti pemberontakannya. Biarkan saya saja yang menyampaikan semua ini kepada Kaisar, sedangkan Goanswe sebaiknya dengan diam-diam kembali ke utara, biar dikawal dan ditemani dua orang adikku ini. Yang penting adalah agar supaya Kim Bouw Sin si panglima pemberontak itu jangan sampai lolos. Dia merupakan saksi dan bukti yang amat kuat untuk membongkar pemberontakan Pangeran itu. Kao-goanswe sendiri maklum betapa kuat kedudukan dua orang Pangeran Liong, pengaruh mereka besar dan tentu saja Kaisar merasa segan untuk menentang adik-adiknya itu. Tanpa bukti dan saksi yang cukup, berbahayalah menentang mereka secara terbuka."

"Akan tetapi kalau dibiarkan saja, makin lama kedudukan mereka makin kuat dan amat berbahayalah bagi negara."

Jenderal itu membantah.

"Karena itu, tugas kita ada dua. Pertama, dengan kekuatan pasukan yang dipimpin oleh Goanswe, kita harus menindas pemberontakan di manapun, dan aku akan membantu dari dalam untuk membersihkan mereka dari kota raja. Ke dua, kita harus mengumpulkan bukti dan saksi sebanyaknya dan sekuatnya untuk disampaikan kepada Kaisar agar pembersihan dapat dilakukan dengan sah. Maka kalau Goanswe terlalu lama di sini dan meninggalkan pasukan, saya khawatir kalau-kalau pasukan yang di utara dapat dipengaruhi dan dikuasai pemberontak."

Jenderal Kao menepuk meja.

"Bagus sekali! Memang apa yang Paduka kemukakan itu tepat semua dan harus dilaksanakan. Baiklah, hari ini juga saya akan kembali ke utara setelah saya menjumpai keluarga saya. Memang, yang terpenting adalah agar manusia rendah Kim Bouw Sin itu tidak sampai lolos!"

"Kedua adik saya Kian Lee dan Kian Bu akan mengawal dan menemani Goanswe,"

Kata Milana sambil mempersilakan Jenderal itu minum teh panas yang dihidangkan oleh pelayannya.

"Hati saya akan menjadi tenang kalau begitu,"

Kata Sang Jenderal karena dia sudah menyaksikan sendiri kelihaian dua orang muda ini, apalagi setelah sekarang dia tahu bahwa mereka adalah putera-putera Pendekar Super Sakti!

"Kami akan menemani Goanswe dan sehidup semati dalam perjalanan sampai ke benteng di utara,"

Kata Kian Lee.

"Akan tetapi sebaiknya kita berangkat meninggalkan kota raja malam nanti...."

Kata Kian Bu.

"Eh, mengapa harus menanti sampai malam?"

Kian Le berkata. Kian Bu mengejap-ngejapkan matanya kepada kakaknya itu, akan tetapi Kian Lee tetap tidak mengerti.

"Mengapa? Katakan saja, mengapa harus malam nanti baru berangkat? Tidak usah pakai bahasa rahasia, kita di sini berada diantara orang sendiri,"

Kata Kian Lee.

"Aihh, masa Lee-ko tidak mengerti? Tidak enak kalau harus kukatakan begitu saja."

"Adik Kian Bu, jangan membikin kami penasaran karena ingin tahu. Mengapa kau mengusulkan demikian?"

Panglima Han Wi Kong ikut bicara.

"Waah, kalau begitu terpaksa saya bicara akan tetapi harap Kao-goanswe lebih dulu maafkan saya,"

Kian Bu berkata.

"Eh, tentu saja.... katakanlah apa yang terkandung di hatimu, Siauw-sicu (Orang Muda Gagah),"

Jenderal itu berkata sambil tersenyum.

"Kao-goanswe baru saja tiba dari utara, baru saja terbebas dari ancaman bahaya maut, dan baru saja hendak menjumpai dan berkumpul dengan keluarganya di kota raja. Bagaimana kami berdua tega untuk mendesak-desaknya agar cepat-cepat meninggalkan mereka? Maka sebaiknya malam nanti kita berangkat."

Milana tersenyum, Kian Lee menjadi merah mukanya karena marah kepada kelancangan adiknya, Han Wi Kong mengangguk-angguk dan Jenderal Kao tertawa bergelak sambil memegang pundak Kian Bu.

"Siauw-sicu, engkau jujur dan memperhatikan kepentingan orang lain. Sungguh bagus sekali!"

"Bu-te, kau memang nakal!"

Milana menegur akan tetapi sambil tersenyum. Sedangkan Kian Lee memandang adiknya itu dengan mata penuh teguran. Jenderal Kao berkata,

"Memang saya setuju dengan usul itu, bukan sekali-kali karena saya ingin terlalu lama melepas rindu terhadap keluarga. Saya sudah tua, dan berpisah dengan keluarga sudah merupakan hal yang tidak asing lagi bagi saya. Akan tetapi memang sebaiknya kalau malam nanti baru kita berangkat agar tidak menarik perhatian pihak pemberontak. Biarlah mereka menyangka bahwa saya masih menjadi buronan dan sebaiknya kalau tahu-tahu saya telah berada kembali di benteng agar mereka tidak sempat lagi mengusahakan lolosnya Kim Bouw Sin."

"Memang tepat sekali, Kao-goanswe. Kim Bouw Sin merupakan saksi yang penting sekali,"

Milana berkata.

"Akan tetapi ada lagi orang yang lebih penting dan yang amat membutuhkan perlindungan saya, yang terpaksa saya tinggalkan ketika utusan Kaisar datang."

Jenderal itu berkata.

"Dia itu adalah Puteri Bhutan, Syanti Dewi."

"Ehhh....?"

Milana berseru kaget dan heran sekali.

"Bagaimana dia yang dikabarkan hilang itu bisa berada di utara? Menurut para penyelidikku, Syanti Dewi berhasil lolos dari kepungan pemberontak, dikawal oleh seorang gadis perkasa, akan tetapi lalu hilang, dan kabarnya ditolong oleh seorang nelayan tua ketika Syanti Dewi dan pengawalnya itu hanyut di sungai."

"Memang demikianlah,"

Jawab jenderal itu.

"Dan nelayan tua itu adalah Gak Bun Beng taihiap yang mengantarnya ke benteng saya."

Post a Comment