Halo!

Kisah Sepasang Rajawali Chapter 127

Memuat...

Mukanya pucat seketika dan jantungnya berdebar tegang, matanya mengeluarkan sinar berapi dan bibirnya tertarik beringas, kedua tangan dikepal, napasnya agak terengah-engah. Tentu saja dia mengenal wajah pemuda tinggi besar ini. Pemuda laknat yang telah memperkosanya! Melihat munculnya seorang pemuda tinggi besar yang asing, hwesio tua pembantu Tek Hoat yang tadi membuat api unggun cepat menerjang dengan tongkatnya karena dia menduga bahwa tentu pemuda ini datang untuk menolong Jenderal Kao. Serangannya dahsyat sekali, toya di tangannya mengeluarkan suara mengiuk ketika memecahkan angin dan menyambar ke arah kepala pemuda tinggi besar itu. Akan tetapi pemuda itu tidak mengelak, melainkan menggerakkan lengan kirinya menangkis.

"Dukkk....!" "Ehhhh....!"

Hwesio Itu terpental dan terhuyung sampai lima langkah, terpaksa menggunakan kedua tangan untuk memegangi toyanya yang hampir terlepas dari pegangannya! Pemuda tinggi besar itu menggerakkan kepala dengan sikap gagah sekali dan rambutnya yang amat panjang, gemuk dan hitam berputar melingkari lehernya dan dia siap berdiri melindungi Jenderal Kao yang masih berlutut dengan kedua tangan terkepal dan mata memandang tajam ke arah tiga orang lawan itu. Tek Hoat terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh, sambil bertolak pinggang kiri, telunjuk kanannya menuding dan dia membentak dengan suara nyaring, "Siapa kau berani mencampuri urusan kami?"

Akan tetapi pada saat itu, terdengar lengking nyaring dan dari balik arca besar meloncat sesosok tubuh manusia yang langsung menerjang dan menyerang pemuda tinggi besar itu dengan kedua tangan terbuka, kedua tangan yang melancarkan pukulan-pukulan beracun yang amat ampuh. Dari kuku-kuku jari tangan itu menyambar angin dahsyat dan tercium bau harum yang aneh, tanda bahwa kuku-kuku itu mengandung racun amat hebat.

"Wut-wut-plak-plak, bretttt....!"

Pemuda tinggi besar itu pun terkejut, maklum bahwa dia diserang orang dengan pukulan-pukulan dan cengkeraman beracun yang amat berbahaya, maka dia sudah mengelak dan kemudian menangkis dengan lengannya, akan tetapi tetap saja ujung dengan bajunya yang digulung di bawah sikunya tercengkeram dan robek.

"Huh.... pemberontak hina....!"

Pemuda tinggi besar itu menghardik, suaranya nyaring dan besar, matanya bernyala memandang wajah orang yang menyerangnya.

Wajah yang hitam hanya tampak matanya saja yang bersinar-sinar penuh kebencian. Ceng Ceng telah melumuri mukanya dengan kotoran dan hangus hitam di belakang arca besar sebelum dia melompat ke luar tadi. Dia melakukan hal ini karena tadinya dia ragu-ragu melihat betapa pemuda laknat itu ternyata datang untuk menolong Jenderal Kao! Kalau saja dia tidak merasa enggan dan malu terhadap Jenderal Kao, tentu dia tidak akan menyembunyikan mukanya. Akan tetapi, terjadi perang di dalam hatinya. Sebagian dia harus bersyukur dan membantu pemuda yang datang menolong Jenderal Kao, akan tetapi sebagian lagi mengingat akan kebenciannya dia harus menyerang dan sedapat mungkin membunuh pemuda laknat itu! Maka ketika kebenciannya yang menang, dia menutupi mukanya agar tidak dikenal oleh Jenderal Kao.

"Mampuslah!"

Ceng Ceng membentak, kemudian dia menubruk lagi ke depan dengan menggunakan seluruh sin-kang untuk mendorong semua racun di tubuhnya ke dalam kedua tangannya.

"Dukk! Dess..... Aahh....!"

Pemuda itu mengeluh dengan kaget ketika merasakan lengan tangannya yang menangkis menjadi panas dan gatal, tanda bahwa dia terkena racun yang amat ampuh. Akan tetapi di lain pihak, Ceng Ceng tidak kuat menahan tangkisan pemuda yang luar biasa kuat tenaga sin-kangnya itu sehingga dia terbanting ke kiri dan roboh bergulingan. Ketika dia meloncat bangun lagi, pemuda tinggi besar itu telah memondong tubuh Jenderal Kao dengan lengan kiri.

"Hendak lari ke mana kau?"

Nenek pembantu Tek Hoat meloncat ke depan dan nenek ini sudah menyerang dengan tangan kosong yang dibentuk seperti cengkeraman kuku garuda. Terdengar suara bersiutan ketika kedua cakar itu menyambar-nyambar, yang satu hendak meraih dan merampas Jenderal Kao, yang lain mencengkeram ke arah leher pemuda tinggi besar. Namun, dengan gerakan indah dan gesit, pemuda itu mengelak, lalu menggunakan tangan kanannya menyambar ke depan, menangkap pergelangan tangan yang berbentuk cakar itu dan sekali sendal, tubuh nenek itu terjungkal dan terguling-guling sampal jauh!

"Wuuuutttt....! Singggg....!"

"Aihhh....!"

Pemuda tinggi besar itu cepat meloncat dan mukanya agak berubah. Ternyata Tek Hoat telah menyerang dengan sebatang pedang yang mendatangkan hawa mengerikan. Itulah pedang Cui-beng-kiam yang amat hebat, pedang peninggalan dari Datuk Pulau Neraka yang amat sakti. Karena melihat betapa pemuda tinggi besar itu ternyata lihai sekali dan Jenderal Kao telah dipanggulnya, Tek Hoat yang tidak ingin melihat tugasnya gagal telah mengeluarkan pedang simpanannya dan menyerang pemuda itu.

Melihat betapa pemuda tinggi besar yang memanggul tubuh Jenderal Kao itu masih dapat mengelak dengan sigapnya, Tek Hoat menjadi amat penasaran. Tadinya pemuda ini menganggap dirinya sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tidak ada lawannya. Akan tetapi ternyata pemuda tinggi besar ini hebat sekali kepandaiannya dan kalau sampai jenderal itu dapat dirampasnya, Tek Hoat akan merasa malu dan kehilangan muka terhadap dua orang pembantunya itu. Bahkan Siang Lo-mo sendiri mengakui keunggulannya dan dua orang tokoh besar itu tidak keberatan ketika ditunjuk oleh Pangeran Liong Bin Ong untuk "membantu"

Dia karena mereka sudah mengenal kelihaian Tek Hoat. Kalau sampai kini seorang pemuda saja mampu merampas Jenderal Kao, benar-benar dia akan merasa malu sekali.

"Jahanam, jangan harap akan dapat lolos dari sini....!"

Tek Hoat menghardik marah sekali dan tubuhnya berkelebat cepat mengejar ke depan. Gerakannya amat ringan dan cepat. Pemuda tinggi besar itu kembali terkejut. Tak disangkanya bahwa pemuda tampan yang menculik jenderal itu ternyata bukan main lihainya. Dia hanya melihat bayangan berkelebat didahului sinar pedang Cui-beng-kiam yang mendirikan bulu roma. Pemuda tinggi besar itu maklum bahwa serangan ini bukan main hebatnya, pedang meluncur menusuk lehernya, sedangkan tangan kiri pemuda itu meraih untuk merampas jenderal di pundaknya.

"Haiiittt....!"

Pemuda tinggi besar itu tiba-tiba mengeluarkan suara melengking keras sekali menggetarkan hati Tek Hoat yang cepat mengerahkan khi-kangnya dan melanjutkan serangannya. Pemuda tinggi besar itu menggerakkan kepalanya dari rambutnya yang panjang dan yang tadi melingkar di lehernya itu mendadak mencuat ke depan menangkis pedang.

"Plakkk!"

Ujung rambut itu terus membelit pedang seperti ekor ular yang hidup. Tek Hoat terkejut sekali, lalu merobah cengkeraman tangan kirinya menjadi pukulan yang disertai sin-kang kuat.

"Dessss....!"

Lengan kanan pemuda tinggi besar itu menangkis dan akibatnya membuat keduanya terkejut dan terhuyung sampai lima langkah jauhnya!

Pedang yang terlibat ujung rambut terlepas. Tek Hoat menjadi merah mukanya. Hatinya makin penasaran dan kembali dia meloncat ke depan dan menyerang pemuda tinggi besar yang masih memanggul tubuh Jenderal Kao dengan tangan kirinya itu. Pedang Cui-beng-kiam berkelebat dan kembali disambut oleh ujung rambut yang tebal dan panjang. Kini Tek Hoat menggunakan tangan kiri mendorong dengan telapak tangan terbuka dan hawa sin-kang yang amat dahsyat menyambar ke depan. Dia telah mengerahkan sin-kang yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu Tek Siauw-jin yang disebut Tenaga Inti Bumi. Dahsyatnya bukan kepalang dan debu mengepul tinggi ke arah pemuda tinggi besar itu.

"Hebat....!"

Pemuda tinggi besar itu berseru kagum, kembali tangan kanannya menangkis dengan dorongan yang sama ke depan dan kini yang bertemu di udara hanyalah dua tenaga sakti yang tidak kelihatan, akan tetapi yang memiliki kekuatan dahsyat. Pada saat itu, hwesio pembantu Tek Hoat sudah menyerang dengan toyanya, menghantam punggung pemuda tinggi besar. Tentu saja pemuda yang memiliki kepandaian tinggi ini tahu akan datangnya serangan toya, akan tetapi karena dia sedang bertanding sin-kang dengan lawannya yang amat tangguh dia terpaksa menerima gebukan itu.

"Bukkk....!"

Pemuda tinggi besar itu mengeluh sedikit, tubuhnya tergetar lalu tiba-tiba dia meloncat jauh ke belakang lalu melarikan Jenderal Kao yang masih terpondong di pundak kirinya.

"Jangan lari.... ahh....!"

Tek Hoat terkejut sekali karena tiba-tiba orang yang mukanya hitam itu telah menyerangnya dengan kedua tangan yang mengandung hawa beracun! Tek Hoat mengelak dengan loncatan ke samping. Dia menjadi bingung. Jelas bahwa orang bermuka hitam ini tadi me-nyerang pemuda tinggi besar ltu mati-matian, akan tetapi mengapa kini berbalik menyerangnya?

"Apakah kau gila? Siapa kau?"

Bentaknya dan melihat orang itu tetap menyerangnya dengan ganas, Tek Hoat menjadi marah. Tentu saja dia tidak takut akan serangan orang itu dan untuk memperlihatkan kelihaiannya, dia menangkis dengan lengan kiri sambil mengerahkan tangannya.

"Desss....!"

Untuk kedua kalinya, tubuh Ceng Ceng terlempar dan terbanting sampai bergulingan. Tubuhnya sakit-sakit rasanya, akan tetapi di lain pihak Tek Hoat terkejut merasakan lengannya panas dan gatal-gatal seperti habis menyentuh ular berbulu yang beracun!

"Keparat, kau berani menggunakan racun....?"

Tek Hoat menghardik dan kini dia melangkah maju, pedang Cui-beng-kiam tergetar di tangan kanannya. Melihat ini, maklumlah Ceng Ceng bahwa dia tidak akan mampu menang menghadapi Tek Hoat yang amat lihai itu. Maka dia cepat menggosok kedua pipinya dan meloncat berdiri.

"Lihat, siapa aku? Berani kau melanggar sumpah memandang aku?"

Sejenak Tek Hoat terbelalak dan memandang bingung ketika mendapat kenyataan bahwa wajah yang tersembunyi di balik kotoran hangus itu adalah wajah seorang dara yang cantik. Akan tetapi ketika dia melihat sehelai saputangan dikeluarkan oleh gadis itu, teringatlah dia.

Post a Comment