Melihat sikap anak laki-laki itu, sang gubernur menggeleng-geleng kepala.
"Cucumu itu kelak tentu menjadi orang yang gagah.!
Sambil mengikuti suami isteri itu memasuki kamar, Sinshe Phang menjawab.
"Ah, seorang seperti hamba mana mungkin dapat mempunyai seorang cucu yang gagah?!
Sang gubernur tertawa.
"Aha, jangan kira aku tidak tahu, Phang-sinshe! Seorang yang kabarnya pandai bermain sulap, dan pandai mengobati seperti engkau ini, tentu seorang kang-ouw, yang lihai. Apalagi mendengar betapa cucumu dapat menyelamatkan isteri dan anakku, tentu diapun telah kau gembleng dengan ilmu-ilmu yang tinggi!!
Diam-diam Sinshe Phang memuji ketajaman mata gubernur ini. Bagaimanapun juga, gubernur ini dahulunya seorang pangeran, bahkan masih paman dari kaisar yang sekarang maka tentu banyak tahu tentang dunia kang-ouw. Aku harus berhati-hati, pikir kakek itu.Setelah berada di dalam kamar, dengan disaksikan oleh Gubernur Yung Hwa, Sinshe Phang memeriksa denyut nadi lengan selir itu, kemudian memeriksa beberapa bagian kepala dan lehernya.
Segera dia mengetahui bahwa penyakit yang diderita oleh nyonya itu tidaklah begitu berat, maka dengan keahliannya pengobatan tusuk jarum, dengan mudah dia dapat menghilangkan penyakit itu. Tentu saja gubernur dan selirnya itu merasa berterima kasih dan girang sekali. Gubernur Yung Hwa lalu menjamunya. Mereka makan minum berdua saja sambil bercakap-cakap karena Ceng Liong diajak makan sendiri oleh Kui Lan yang kini telah bersahabat dengannya.
"Ceng Liong, aku hampir tidak percaya bahwa engkau hanyalah cucu seorang penjual obat.! Di waktu bermain-main Kui Lan berkata. Ceng Liong memandang tajam. Anak ini boleh juga, pikirnya, memiliki kecerdikan.
"Kenapa engkau berkata demikian, nona?!
"Sedangkan anak laki-laki putera para pembesar saja biasanya bersikap kasar, sombong padahal tidak pandai apa-apa. Akan tetapi engkau ini gagah berani dan tangkas, kulihat pandai dan bukan seperti anak dusun, akan tetapi sikapmu pendiam dan pandai merendahkan diri, ramah dan mengenal aturan. Tidak, engkau bukan anak dusun. Engkau pantasnya anak bangsawan atau hartawan besar!!
Ceng Liong tertawa.
"Aih, nona jangan main-main. Sudah jelas kakekku adalah seorang ahli pengobatan, ahli ramal dan sulap. Dan aku cucunya.!
Kui Lan menarik napas panjang.
"Sukar dipercaya! Dan di mana rumahmu? Di mana rumah kakekmu itu?!
"Di mana saja, nona. Dunia ini adalah rumahku, langit atapku, bumi lantaiku. Kalau dikecilkan, gerobak itulah pondok kami. Di mana adanya gerobak kami, di situlah kami tinggal. Kami adalah perantau-perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, nona, seperti burung-burung di udara, mau hinggap di pohon manapun bebas!!
Sepasang mata yang bening itu berseri memandang wajah tampan Ceng Liong.
"Ihhh, bicaramu juga seperti orang bersyair! Betapa senangnya hidup seperti burung, bebas melayang ke mana-mana, tidak terhalang sangkar. Aku seperti burung dalam sangkar!!
"Nona adalah puteri seorang bangsawan tinggi yang beruntung, mana bisa dibandingkan dengan aku?!
"Aku suka padamu, Ceng Liong. Engkau tidak seperti anak-anak lain. Selamanya aku tidak akan melupakanmu, tidak akan lupa ketika engkau menghentikan kuda dengan menunggangi kuda yang sedang kabur itu. Ih, masih ngeri kalau aku mengingatnya.!
Ceng Liong lalu diajak makan, terpisah dari kakeknya yang juga sedang makan minum dengan Gubernur Yung Hwa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sinshe Phang untuk berkenalan dan menjajagi hati bangsawan itu. Maka dengan hati-hati dan halus diapun membawa percakapan menuju ke kota raja dan istana, membicarakan keadaan negara.
"Engkau banyak melakukan perantauan, Phang-sinshe. Bagaimana keadaan di timur dan selatan? Apakah kehidupan rakyat baik dan keamananpun baik?! Gubernur itu bertanya demikian karena dia juga mendengar bahwa terjadi pergerakan dan pergolakan di barat dan utara.
Kakek itu mengerutkan alisnya, bersikap pura-pura keberatan untuk menyatakan pendapatnya. Sang gubernur melihat ini, maka sambil tersenyum lalu menyambung.
"Harap engkau jangan khawatir, Phang-sinshe. Aku bertanya dengan jujur dan engkau pun boleh menyatakan sejujurnya bagaimana keadaan di sana. Kita ini sedang mengobrol sebagai dua orang teman, bukan pemeriksaan seorang pejabat terhadap terdakwa!! Gubernur itu tertawa dan Phang-sinshe juga ikut tersenyum lega.
"Terus terang saja, taijin. Keadaan di daerah-daerah di timur juga tidaklah begitu baik. Banyak rakyat yang hidup kekurangan dan merasa tidak puas, dan di sana-sini terdapat gejala pergerakan menentang pemerintah.!
Gubernur itu menghela napas.
"Sudah kuduga demikian. Setiap pemerintahan tidak mungkin dapat memuaskan hati seluruh rakyat. Sudah tentu ada saja fihak yang merasa tidak puas. Sudah tentu mendiang Kaisar Yung Ceng yang memegang kendali pemerintahan, banyak fihak yang menentang, hal itu tidaklah terlalu mengherankan mengingat akan sifat-sifatnya yang keras dan kadang-kadang penuh kelaliman. Akan tetapi, sekarang kendali pemerintahan dipegang oleh Kaisar Kian Liong yang halus budi dan bijaksana. Bagaimanapun juga, tidak mungkin beliau dapat memuaskan hati semua orang. Memang demikian keadaan di dunia ini, tidak ada yang sempurna.!
Mendengar ucapan ini, diam-diam Sinshe Phang terkejut. Dia tidak melihat sedikitpun rasa dendam dalam ucapan itu.
"Bagaimanakah pendapat paduka tentang pergolakan-pergolakan yang terjadi di mana-mana?!
Gubernur itu mengerutkan alisnya.
"Orang yang merasa penasaran tentulah mereka yang merasa dirugikan. Dan melihat kenyataan betapa bijaksana Kaisar Kian Liong, maka yang merasa dirugikan sehingga penasaran dan memusuhinya tentulah orang-orang yang tidak bijaksana! Mereka yang ambisius dan menginginkan kedudukan yang lebih tinggi. Mereka itu tidak tahu bahwa andaikata kekuasaan tertinggi berada di tangan orang lain, tidak seperti Kaisar Kian Liong, maka keadaan negara tentu menjadi lebih kacau dan sengsara.!
Kini yakinlah Sinshe Phang bahwa tidak mungkin orang dengan pendirian seperti gubernur ini dapat ditarik menjadi sekutu. Bahkan berbahaya sekali untuk membocorkan rahasianya kepada seorang seperti gubernur ini. Bagaimanapun juga, dia harus dapat menarik keuntungan dalam perjumpaannya dengan Gubernur Yung Hwa agar tidak percuma semua jerih payah yang telah diperhitungkan dan direncanakannya.
"Bagaimanapun juga, hamba sendiri tidak pernah mau melibatkan diri dalam urusan negara. Hamba adalah seorang rakyat dan hamba paling suka merantau sampai ke daerah yang terpencil. Dapat berhubungan dengan rakyat jelata, dari yang paling tinggi kedudukannya sampai yang paling rendah, melalui pengobatan dan hiburan permainan sulap, hamba sudah merasa cukup puas.!
"Sinshe adalah seorang yang bijaksana dan dapat menolong orang-orang lain, sungguh kehidupan itu dapat mendatangkan kebahagiaan dan panjang usia. Kami mengharap agar engkau dapat lama-lama tinggal di kota ini dan silahkan menempati gedung kami dan sinshe akan kami anggap sebagai tamu terhormat.!
Sinshe Phang bangkit berdiri dan menjura dengan hormat.