"Tek Ciang, menurut penuturan Ciang Bun, engkau tahu bahwa sumoimu, atau juga tunanganmu itu, pernah menyerang dan hendak membunuh Cin Liong. Benarkah itu?!
"Benar, suhu. Teecu mencoba melerai namun tidak berhasil.!
"Tahukah engkau mengapa tunanganmu itu menjadi marah, membenci dan hendak membunuh Cin Liong pada pagi hari itu?! tanya pula Kian Lee, suaranya lirih.
"Teecu tidak tahu dan sudah lama teecu bertanya- tanya di hati. Sumoi juga tidak mau memberitahu kepada teecu.!
Suara Suma Kian Lee semakin lirih dan agak gemetar ketika dia bicara lagi.
"Malam itu ada seorang jai-hwa-cat memasuki kamar sumoimu dan jai-hwa-cat itu ternyata adalah Kao Cin Liong dan....!
"Ahhh....!! Pemuda itu terbelalak, mukanya pucat.
"....dan.... dan sumoimu terkena asap pembius dan.... sumoimu diperkosa olehnya....!
"Tidak....! Jahanam itu....! Keparat keji itu....! Teecu bersumpah akan membunuhnya kalau teecu ada kemampuan!! Kini Tek Ciang bangkit berdiri, mukanya merah sekali penuh geram, matanya mengeluarkan sinar berapi dan kedua tangannya dikepal kuat-kuat. Kim Hwee Li melihat ini semua dan Suma Kian Lee juga.
"Tenang dan duduklah, Tek Ciang. Bukan itu yang penting bagi kami,! kata pendekar sakti itu.
"Maaf, suhu....! Tek Ciang lemas kembali dan duduk, mukanya masih keruh dan bengis membayangkan kebencian yang mendalam.
"Tek Ciang, setelah engkau mengetahui bahwa sumoimu, tunanganmu itu kini telah ternoda, apakah.... apakah engkau masih mau untuk melanjutkan ikatan perjodohan ini? Apakah engkau masih mau menerima Suma Hui menjadi calon isterimu?! Di dalam suara pendekar itu terkandung kegelisahan yang membuat hati isterinya terharu.
Hwee Li tahu bahwa kalau pemuda ini menolak, suaminya tidak akan dapat berbuat sesuatu dan tentu suaminya akan mengalami kehancuran hati yang hebat. Maka, biarpun tadinya ia ingin pemuda ini menolak saja agar ia dapat mengusahakan perjodohan antara putrinya dan Cin Liong, kini hatinya bercabang. Kalau pemuda ini nenolak, perasaan suaminya akan hancur dan ia sendiri akan ikut merasa berduka. Sebaliknya kalau pemuda ini menerima, ia akan ikut membujuk Suma Hui agar mau menjadi calon isteri Tek Ciang. Tidak ada jalan lain yang lebih baik!
Hening sejenak, kemudian terdengar suara Tek Ciang, lantang dan tegas.
"Kenapa teecu tidak mau, suhu? Kejadian terkutuk itu bukanlah kesalahan sumoi, melainkan kesalahan manusia terkutuk itu. Tentu saja teecu mau melanjutkan ikatan perjodohan ini dan mau menerima sumoi sebagai calon isteri teecu.!
Wajah Suma Kian Lee yang tadinya keruh itu seketika menjadi berseri dan diam-diam Hwee Li juga merasa terharu. Pemuda ini memang benar-benar tidak mengecewakan! Pemuda yang berhati lapang, berpemandangan luas dan bijaksana. Ya, bijaksana! Jarang ada pemuda seperti ini.
"Terima kasih, Tek Ciang! Engkau lah yang telah dapat menerangkan persoalan yang mengeruhkan hati kami sekeluarga. Engkau lah yang telah menjadi penolong kami dan menghapuskan aib dari nama kami. Engkau tidak akan menyesal, Tek Ciang, karena dengan demikian, aku telah menentukan sejak saat ini bahwa kelak engkau yang akan mewarisi ilmu keluarga kami!! Ucapan Suma Kian Lee keluar dari hati yang setulusnya dan Tek Ciang kelihatan gembira sekali, lalu pemuda ini kembali menjatuhkan dirinya berlutut.
"Terima kasih, suhu, terima kasih!!
Hwee Li kini tidak lagi ingin melempar pemuda itu ke kursinya. Ia malah bangkit dan menyentuh pundak pemuda itu.
"Anak bodoh, apakah engkau masih juga menyebut suhu kepada ayah mertuamu?!
"Tek Ciang, bangkit dan duduklah kembali,! kata Suma Kan Lee.
Tek Ciang bangkit dan duduk, mukanya merah karena malu mendengar ucapan subonya tadi, malu akan tetapi girang. Subonya yang biasanya bersikap galak itupun kini bersikap manis kepadanya!
"Suhu dan subo, teecu belum berani lancang merobah sebutan sebelum teecu yakin betul bahwa sumoi akan.... akan mau.... menjadi....! Dia tidak melanjutkan dan menundukkan mukanya kembali.
Hwee Li saling pandang dengan suaminya dan ucapan pemuda itu seperti mengingatkan dan menyadarkan mereka! Sungguh mereka hampir lupa bahwa orang yang bersangkutan bahkan belum tahu. Bagaimana mereka dapat memastikan kalau Suma Hui belum diberi tahu dan belum ditanya pendapatnya? Membayangkan kemungkinan puterinya menolak, Suma Kian Lee sudah marah. Anak perempuan itu sungguh mendatangkan banyak pusing saja. Petama jatuh cinta kepada keponakan sendiri, ke dua peristiwa perkosaan itu, dan kalau sampai sekarang menggagalkan segala-galanya dengan menolak perjodohannya dengan Tek Ciang, dia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Panggil dia ke sini sekarang juga!! katanya memerintah kepada Tek Ciang.
"Baik, suhu.! Pemuda itu lalu keluar dengan cepat mencari Suma Hui. Dia mendapatkan sumoinya itu sedang duduk di ruangan belakang bercakap-cakap dengan Ciang Bun.
"Sumoi, suhu memanggilmu agar menghadap sekarang juga,! katanya dengan sikap halus seperti biasa, sama sekali tidak memperlihatkan perobahan sehingga Suma Hui tidak mencurigai sesuatu.
"Ada urusan apakah ayah memanggilku, suheng?!
"Suhu tidak memberitahu, hanya minta sumoi datang menghadap sekarang juga. Suhu dan subo menanti di ruangan dalam,! jawab Tek Ciang dengan suara biasa.
Suma Hui saling bertukar pandang dengan adiknya, mengerutkan alisnya, menarik napas panjang lalu bersama Tek Ciang masuk ke dalam. Tadi ia sudah mendengar dari Ciang Bun bahwa ayah ibunya berada di dalam ruangan dalam bertiga saja dengan Tek Ciang, agaknya membicarakan sesuatu yang amat penting sehingga ayahnya memerintahkan Ciang Bun untuk keluar dan tidak memperkenankan siapapun juga masuk tanpa ijin. Selain itu, Ciang Bun juga menceritakan kepadanya tentang cerita Tek Ciang kepada adiknya itu dan ia dapat melihat bahwa suhengnya itu memang baik sekali. Dan kini suhengnya disuruh memanggilnya menghadap orang tuanya!
Agak berdebar jugalah hati Suma Hui melihat wajah ayah bundanya yang serius, bahkan ibunya kini juga nampak serius dan pendiam sekali, tidak seperti biasa terhadap dirinya. Ia dapat menduga bahwa yang akan dibicarakan tentulah hal yang teramat penting.
"Duduklah di situ, Hui-ji,! kata Suma Kian
Lee menunjuk ke kursi di samping kiri Tek Ciang.
Suma Hui duduk tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Hui-ji, ketahuilah engkau bahwa lama sebelum Tek Ciang kuterima menjadi muridku, diantara ayahnya, yaitu mendiang Louw-kauwsu dan aku telah ada perjanjian untuk mengikat keluarga kami berdua dengan perjodohan antara engkau dan Tek Ciang....!
"Ayah....!!
"Dengar dulu!! Ayahnya memotong dan Suma Hui menunduk sebentar, lalu mengangkat muka lagi, dengan muka pucat akan tetapi sepasang mata menentang ia memandang ayahnya.
"Hal itu hanya kami berdua yang mengetahui, bahkan Tek Ciang pun baru tadi kuberitahu tentang perjodohan itu. Memang belum kami resmikan karena tadinya aku hendak menanyakan lebih dulu pendapatmu.!
Legalah hati Suma Hui. Kiranya ayahnya tidaklah begitu lancang mengikatkan dirinya menjadi calon isteri orang tanpa bertanya kepadanya.
"Perlu apa dibicarakan lagi, ayah? Hal itu sudah berlalu dan kini tidak mungkin dilanjutkan!! katanya singkat, dengan maksud agar ayahnya mengerti bahwa setelah dirinya ternoda, mana mungkin ia dijodohkan dengan orang? Hal itu berarti akan mencemarkan nama sendiri karena akhirnya akan ketahuan bahwa ia bukanlah perawan lagi dan tentu akan menimbulkan keributan dan mengakibatkan tercemarnya nama dan kehormatan keluarga Suma. Sama dengan membongkar dan memperlihatkan aib sendiri.
"Hui-ji, dengarkan baik-baik. Tek Ciang bukanlah orang lain. Selain dia calon suamimu, juga dia adalah muridku yang akan mewarisi semua ilmu keluarga kita. Oleh karena itu, akupun telah terang-terangan menceritakan kepadanya tentang malapetaka....!
"Ayah....!! Kembali Suma Hui menjerit dan sekali ini mukanya menjadi pucat sekali.
Akan tetapi Suma Kian Lee mengangkat tangan kanan ke atas menyuruhnya tenang.
"Tenang dan lapangkan dadamu, anakku. Tek Ciang bukanlah seorang manusia busuk. Dia adalah seorang gagah yang dapat menghadapi kenyataan yang betapa pahitpun juga. Dia tidak menyalahkanmu, Hui-ji. Manusia keparat itulah yang terkutuk dan dia memaklumi keadaanmu, dan dia dengan suka rela hati suka menerimamu menjadi calon isterinya dan melupakan hal yang telah terjadi.!