Halo!

Kisah Pendekar Bongkok Chapter 89

Memuat...

"Aku masih ingat benar! Dia memang hebat segala-galanya!"

Kata seorang pelacur berbaju hijau yang genit.

"Wajahnya tampan, bentuknya bulat dan kulitnya putih, alisnya tebal dan hitam sekali, hidungnya mancung dan dia suka.... suka mencium, hi-hik. Dia nakal dan matanya tajam, tubuhnya sedang dan kekuatannya seperti.... kuda jantan! Pakaiannya pesolek...."

Lan Hong sudah bangkit berdiri dan dia memberikan gelang kepada dua orang pelacur pertama, dan memberikan uang yang cukup banyak kepada yang lain. Kemudian, tanpa mengeluarkan kata apapun ia meninggalkan tempat itu.

Pagi hari esoknya, pergilah Sie Lan Hong, nyonya muda yang baru berusia tiga puluh tiga tahun itu, meninggalkan rumahnya, membawa buntalan pakaian dan tidak lupa membawa pedangnyanya. Ia pernah bercakap-cakap dengan Sie Liong dan adiknya itu pernah membuat pengakuan bahwa dia akan pergi ke Tibet untuk menyelidiki keadaan para pendeta Lama di Tibet, mengapa para pendeta itu memusuhi para pertapa di Himalaya. Menurut adiknya, tugas itu harus dia laksanakan sebagai pesan dari para gurunya. Maka, kalau hendak mencari Sie Liong, ia harus pergi ke Tibet. Kota tempat tinggalnya adalah kota Sung-jan yang berada di perbatasan sebelah barat Propinsi Sin-kiang, maka untuk mencari adiknya ia harus melakukan perjalanan ke selatan, memasuki daerah Tibet yang masih asing baginya.

Pada suatu hari Sie Lan Hong tiba di kaki sebuah bukit. Ia merasa lelah sekali. Perjalanan itu sungguh tidak mudah. Bagaimanapun juga, ia seorang wanita yang tergolong masih muda, bahkan dalam usianya yang tiga puluh tiga tahun itu ia nampak sebagai seorang wanita yang matang dan penuh daya tarik. Banyak godaan dihadapinya dalam perjalanan itu. Hal itulah yang membuat ia merasa kesal, disamping tubuhnya juga merasa lelah. Untung bahwa ketika kecil, ia sudah digembleng oleh ayahnya, seorang guru silat sehingga tubuhnya menjadi kuat dan ketika menjadi isteri Yaw Sun Kok, iapun menerima latihan ilmu silat dari suaminya sehingga ia memiliki bekal ilmu silat yang lumayan, cukup untuk sekedar menjaga diri. Dengan sikapnya yang pendiam dan anggun, dengan pedangnya, kaum pria yang tadinya hendak berkurang ajar meniadi jerih dan sampai hampir sebulan dalam perjalanan, ia masih dapat menyelamatkan diri dari ganguan para pria iseng.

Ketika tiba di kaki bukit itu, ia menjadi bingung. Menurut keterangan yang diperoleh di dusun terakhir tadi, di depan tidak ada lagi dusun sebelum ia melewati bukit itu. Dan bukit itu cukup besar, dilihat dari bawah penuh dengan hutan! Dan matahari sudah mulai condong ke barat. Agaknya, ia akan kemalaman di bukit itu dan terpaksa harus melewatkan malam di bukit. Baru pada hari esok ia boleh mengharapkan dapat bertemu dusun lagi. Hatinya agak kecut. Tempat itu sunyi sekali dan menyeramkan. Ia sudah memasuki daerah Tibet, dan ia tidak tahu ke mana harus mencari adiknya atau puterinya. Akan tetapi, ia akan pergi ke Lasha dan di sana ia mengharapkan akan mendapat keterangan tentang dua orang yang dicintanya dan dicarinya itu. Menurut kete-rangan terakhir yang ia dapatkan, perjalanan ke Lasha masih membutuhkan waktu sedikitnya satu bulan lagi!

Mengapa aku tidak membeli saja seekor kuda di dusun terakhir itu, pikirnya. Kalau dengan menunggang kuda, tentu perjalanan akan dapat dilakukan lebih cepat dan tidak begitu melelahkan seperti sekarang ini. Dengan hati kecut iapun mulai mendaki bukit itu. Ia mendaki dengan cepat, memaksa kedua kakinya yang sudah lelah karena sedapat mungkin ia harus tiba di puncak bukit dan mencari tempat yang baik dan aman untuk bermalam sebelum hari menjadi gelap. Baru saja ia tiba di lereng bukit itu, di tepi hutan pertama, tiba-tiba dari dalam hutan bermunculan sepuluh orang laki-laki yang kelihatan kasar dan buas. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan di dada mereka ada lukisan seekor kala putih yang menyeramkan.

"Heiii, ada seorang wanita berjalan seorang diri!"

"Amboi manisnya!"

"Lihat pinggangnya, seperti kumbang!"

"Pinggulnya....waw seksi banget!"

Sepuluh orang itu sudah mengepungnya dan Lan Hong memandang dengan muka pucat. Selama melakukan perjalanan, sudah banyak dia digoda pria, akan tetapi belum pernah bertemu gerombolan laki-laki yang begini kasar dan kelihatan buas. Juga di punggung mereka nampak golok besar yang mengerikan. Biarpun ia puteri seorang guru silat, bahkan bekas isteri seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun menghadapi gerombolan yang kasar dan ceriwis ini, jantung dalam dadanya berdebar penuh rasa tegang dan gelisah. Namun, Lan Hong menenangkan dirinya lalu berkata dengan lembut.

"Harap cu-wi suka mengasihani aku seorang wanita yang mencari anaknya dan tidak menggangguku. Biarkan aku pergi dari sini!"

"Tentu saja kami kasihan kepadamu, manis. Karena kasihan dan sayang maka kami tidak akan membiarkan engkau berjalan sendiri. Mari kami antar, ha-ha-ha!"

Kata seorang di antara mereka.

"Kawan-kawan, mari kita bersenang-senang, selagi toako (kakak tertua) tidak ada. Kalau ada dia, celaka, tentu akan dia habiskan sendiri dan kita tidak akan kebagian!"

Kata yang lain. Semua orang tertawa mendengar ini dan menyatakan setuju. Segera mereka berlumba untuk menangkap Lan Hong. Wanita ini sudah siap dan ia mencabut pedang dari buntalan pakaiannya.

"Harap kalian mundur atau terpaksa aku mempergunakan pedangku!"

Bentaknya. Melihat betapa wanita yang manis itu memegang pedang, sepuluh orang itu terkejut, akan tetapi hanya sebentar saja. Mereka memandang rendah kepada wanita itu dan kembali sambil tertawa-tawa mereka mengepung.

"Wah, pandai juga bermain pedang, ya? Bagus, kalau melawan lebih mengasyikkan!"

Dan kembali mereka hendak menangkap dari berbagai jurusan. Melihat ancaman mengerikan itu, Sie Lan Hong menggerakkan pedangnya ke belakang sambil membalikknu tubuhnya. Orang yang berada di belakangnya, terkejut ketika ada sinar menyambar. Dia menarik tangannya, akan tetapi pedang itu tetap saja menggores lengannya, merobek baju dan kulit lengan. Dia berteriak kesakitan dan juga marah.

"Hemm, galak juga, ya? Kawan-kawan, mari kita tundukkan dulu wanita manis dan galak ini. Akan tetapi jangan dilukai, sayang kalau sampai ia terluka!"

Dan mereka mencabut golok mereka, golok besar yang kelihatan berat dan tajam berkilauan. Lan Hong memutar pedangnya dan beberapa batang golok menangkis. Ketika mereka mengerahkan tenaga.

"Trangggg....!"

Pedang itu terlepas dari tangan Lang Hong yang menjadi terkejut bukan main. Sepuluh orang itu tertawa bergelak dan kesempatan ini dipergunakan oleh Lan Hong untuk menyelinap di antara mereka dan melarikan diri secepatnya ke arah kiri.

Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam itu tertawa gembira lalu lari mengejar sambil berteriak-teriak. Mereka seperti segerombolan srigala yang mengejar dan mempermainkan seekor kelinci, yakin bahwa akhirnya kelinci itu takkan terlepas dari terkaman mereka. Mereka mengejar sambil tertawa-tawa dan Lan Hong melarikan diri sekuat tenaga. Ia dapat membayangkan kengerian yang melebihi maut kalau sampai ia tertangkap oleh orang-orang biadab itu. Lebih baik mati dari pada membiarkan dirinya diperkosa dan dihina. Akan tetapi, sebelum putus asa, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri atau melawan sampai napas terakhir.

Para pengejar itu memang sengaja hendak mempermainkan Lan Hong, maka mereka hanya berlari di belakangnya, tidak segera menangkapnya. Lan Hong berlari terus, menurut jalan setapak dan ia melihat sebuah kuil tua di depan. Karena tidak tahu lagi harus lari ke mana, dan kedua kakinya sudah menjadi semakin lelah, Lan Hong lalu lari menuju ke kuil itu. Siapa tahu penghuni kuil dapat menolongnya, pikirnya penuh harapan. Sepuluh orang pria itu mengejar sambil tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha, engkau mengajak kami ke kuil itu, manis? Tempat yang enak untuk bersenang-senang!"

Lan Hong tidak memperdulikan ucapan mereka dan berlari terus. Hatinya semakin kecut ketika melihat bahwa kuil itu adalah sebuah kuil tua yang agaknya sudah tidak dipakai lagi. Tentu kosong tidak ada orangnya, pikirnya dengan gelisah. Akan tetapi, ketika ia memandang ragu dan berdiri di ruangan depan, terdengar suara dari dalam.

"Jangan takut, masuklah dan kami yang akan menghadapi gerombolan iblis itu!"

Dan nampak dua orang pria yang gagah berlompatan keluar dari ruangan dalam. Mereka adalah dua orang pemuda yang berbangsa Han, berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi besar dengan muka persegi dan sikapnya gagah. Orang ke dua bertubuh sedang, akan tetapi mukanya yang bulat itu penuh brewok yang rapi sehingga dia kelihatan gagah pula. Di tangan mereka nampak sebatang pedang. Melihat mereka dan sikap mereka yang baik, Lan Hong segera memberi hormat.

"Ji-wi taihiap (dua pendekar perkasa), tolonglah saya,...."

"Nona, jangan takut. Masuklah dan kami akan membasmi para penjahat itu!"

Kata yang tinggi besar dan dia berkata kepada orang ke dua yang brewok.

"Sute, mari kita hadapi mereka, di depan kuil!"

Mereka lalu berloncatan keluar. Lan Hong cepat menyelinap di balik dinding dan ia mengintai keluar dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akan tetapi lega juga bahwa di situ ia bertemu dengan dua orang gagah yang siap membela dan melindunginya. Ia hanya dapat berharap agar kedua orang gagah itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi untuk melawan pengeroyokdn sepuluh orang yang buas itu. Sepuluh orang berpakaian hitam dengan gambar seekor kala putih di baju bagian dada, tercengang ketika melihat dua orang pemuda gagah berdiri di depan kuil dengan pedang di tangan, menghadang mereka.

"Heii, siapa kalian berani menghadang di depan kami? Hayo cepat menggelinding pergi!"

Bentak seorang di antara sepuluh orang berpakaian hitam itu. Pemuda yang tinggi besar itu menudingkan telunjuk kirinya ke arah mereka sambil melintangkan pedang di depan dadanya yang bidang.

"Hemm, sudah lama kami mendengar tentang gerombolan Kala Putih yang jahat! Ternyata kabar itu benar, gerombolan Kala Putih bukan hanya perampok dan perkumpulan penjahat keji, akan tetapi juga tidak segan untuk mengganggu wanita. Sudah sepantasnya kalau kami membasmi gerombolan macam kalian!"

Sepuluh orang itu terbelalak penuh kemarahan mendengar kata-kata yang amat menghina itu. Seorang di antara mereka yang tubuhnya tinggi kurus, melangkah maju. Agaknya ia mewakili kawan-kawannya dan dengan suara melengking tinggi diapun membentak.

"Kalian ini bocah-bocah ingusan hendak menentang Kala Putih? Perkenalkan nama kalian lebih dulu agar kami tidak akan membunuh orang tanpa nama!"

Pemuda tinggi besar itu dengan lantang menjawab,

"Kami tidak pernah menyembunyikan nama! Kami adalah murid murid Kun-lun-pai yang selalu akan menentang kejahatan. Namaku Ciang Sun dan sute ini adalah Kok Han!"

Memang dua orang pemuda perkasa itu bukan lain adalah Ciang Sun dan Kok Han, dua orang murid Kun-lun-pai yang berani itu.

Post a Comment