Ling Ling menjerit dan iapun pingsan dalam dekapan Sie Liong. Pemuda itu lalu memondongnya, membawanya ke sumber air, mengambil pakaian Ling Ling dan membawa gadis itu ke tempat mereka melewatkan malam tadi. Dengan memaksa matanya agar jangan melihat bagian terlarang dari tubuh gadis itu, dia merebahkan Ling Ling ke atas selimut dan menyelimuti tubuh yang telanjang. Baru ia memijat-mijat tengkuk gadis itu untuk menyadarkannya. Ling Ling siuman kembali, mengeluh dan membuka matanya. Tiba-tiba ia terbelalak dan menjerit karena ia teringat akan peristiwa tadi. Jerit melengking ketakutan sambil bangkit duduk. Sie Liong merangkul gadis yang menjerit-jerit histeris itu. Begitu dirangkul, Ling Ling meronta dan menjerit semakin nyaring.
"Lepaskan aku....! Lepaskan! Keparat jahanam kalian.... lepaskan akuuuu....!"
Sie Liong mendorong gadis itu dan memaksanya untuk memandang kepadanya.
"Ling Ling, lihat siapa aku....!"
Katanya setengah membentak untuk menyadarkan gadis yang dilanda ketakutan dan kengerian itu. Ling Ling terbelalak memandang, sadar dan merangkul.
"Liong-ko.... ah, Liong-ko....!"
Dan diapun menangis di dada Sie Liong, tidak sadar bahwa selimut yang menutupi tubuhnya terbuka.
"Tenanglah, Ling Ling. Tenanglah, engkau sudah terbebas dari lima orang anjing itu! Tenanglah, dan pakailah pakaian ini...."
Sie Liong menutupkan lagi selimut menutupi tubuh gadis itu. Ling Ling baru sadar bahwa ia masih telanjang bulat. Hal ini mengingatkan ia akan pengalaman tadi dan ia bergidik ngeri. Lalu dengan kedua tangan gemetar ia mengenakan pakaiannya di balik selimut. Sie Liong duduk di atas rumput membelakangi gadis itu, alisnya berkerut dan berulang kali dia menarik napas panjang. Dia termenung dan wajahnya muram sekali. Tangan itu dengan lembut menyentuh pundaknya, dan suara itu lirih berbisik penuh kekhawatiran.
"Liong-ko, engkau kenapakah....! Liong-ko, kenapa kau diam saja? Tadi.... ketika aku berada di sumber, ketika aku habis mencuci muka membersihkan diri, ketika hendak berganti pakaian, tiba-tiba mereka itu datang menyergapku. Aku tidak dapat menjerit karena mereka membungkam mulutku. Aku melawan mati-matian. Ketika engkau berteriak memanggil namaku, mereka lalu membawa aku pergi ke hutan itu dan di sana.... ahh, untung engkau datang tepat pada waktunya, Liong-ko. Hampir aku tidak kuat bertahan lagi...."
Tiba-tiba Sie Liong mengepal tinju dan tangan Ling Ling yang memegang pundak itu cepat ditarik kembali karena kaget. Pundak itu seperti mengeluarkan tenaga yang panas! Ling Ling melangkah maju dan memandang wajah pemuda itu. Ia terkejut. Wajah itu pucat, mata itu seperti sayu dan sedih, seperti akan menangis!
"Liong-ko, engkau kenapakah? Engkau kelihatan begini berduka! Apa yang telah terjadi?"
Suara itu parau dan penuh penyesalan.
"Aku telah membunuh mereka...."
Gadis itu memandgng heran.
"Tentu saja, koko! Orang-orang seperti mereka memang layak kaubunuh! Mereka itu jahat sekali!"
Sie Liong menghela napas panjang.
"Untuk menentang kejahatan, memang kadang-kadang terpaksa membunuh, akan tetapi tidak seperti yang kulakukan tadi, Ling Ling. Membunuh karena benci! Membunuh dengan hati dipenuhi dendam kebencian, karena aku melihat mereka memperlakukan engkau seperti itu. Membunuh karena cemburu dan benci. Ah, aku menjadi kejam sekali, tidak ada bedanya dengan mereka....!"
"Tentu saja engkau berbeda sekali dengan mereka! Engkau seorang pendekar sakti yang budiman, penentang kejahatan, dan mereka itu adalah segermbolan orang jahat yang berhati kejam, yang suka melakukan kejahatan. Bayangkan saja andaikata tidak ada engkau, Liong-ko, aih.... aku akan tertimpa malapetaka yang bagiku lebih mengerikan dan menyedihkan daripada maut sendiri. Engkau sudah benar, Liong-ko, tidak ada sesuatu untuk disesalkan."
Sie Liong memandang gadis itu dan tersenyum, akan tetapi senyumnya tidaklah segembira malam tadi atau pagi tadi sebelum terjadi peristiwa itu.
"Engkau tidak mengerti, Ling Ling. Sudahlah, mari kita kemasi barang kita untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, sebelum itu aku akan menguburkan dulu lima jenazah itu."
"Menguburkan mereka?"
Gadis itu terbelalak, akan tetapi melihat sinar mata pendekar itu, iapun menunduk.
"Baiklah, Liong-ko.... aku hanya menuruti semua perintahmu."
Mendengar jawaban ini dan melihat sikap Ling Leing, senyumnya melebar dan tidak begitu pahit lagi. Gadis ini sungguh merupakan sinar baru dalam kehidupannya. Dia tadi merasa terpukul dan berduka sekali mengenangkan kekejaman yang telah dilakukannya terhadap lima orang yang tidak dikenalnya itu. Dan dia tahu bahwa kekejaman itu dia lakukan karena cemburu dan kebencian yang amat hebat. Padahal, kebencian merupakan suatu hal yang harus dihindarkan, demikian yang selalu dipesankan oleh Pek-sim Sian-su kepadanya. Tak lama kemudian, Sie Liong sudah membuat lubang kuburan untuk lima jenazah orang-orang yang tidak pernah dikenalnya itu.
Ling Ling hanya menonton dari kejauhan, tidak mau mendekat karena merasa ngeri. Diam-diam gadis ini semakin kagum kepada Sie Liong. Seorang pendekar sakti yang budiman, gagah perkasa, namun berhati lembut. Mana ada orang mau menguburkan jenazah orang-orang jahat yang tadi menjadi musuhnya? Setelah selesai mengubur jenazah lima orang yang dibunuhnya itu dengan sederhana namun pantas, Sie Liong lalu mengajak Ling Ling melanjutkan perjalanan ke selatan. Penyesalan dan bertaubat tidak akan ada gunanya kalau hal itu datang dari pikiran belaka. Pikiran hanya alat dalam kehidupan ini, namun pikiran sudah bergelimang dengan daya rendah sehingga menjadi budak dari nafsu. Perbuatan apapun yang dilakukan menurut pikiran tentu mengandung nafsu, karena pikiran sendiri sudah bergelimang nafsu.
Karena akibat dari perbuatan yang dikemudikan nafsu ini, yang dasarnya mengejar kesenangan dan kepuasan, menuju ke arah kerugian lahir batin, maka timbul penyesalan dan keinginan bertaubat. Penyesalan dan bertaubat ini selalu muncul kalau akibat dari pada perbuatan berdasarkan nafsu itu datang menimpa diri. Namun, kalau hanya pikiran yang berjanji untuk bertaubat, biasanya hal itu hanya sementara saja dan akan tiba saatnya pikiran melupakan janjinya atau sengaja melanggar karena tidak mampu menahan desakan nafsu. Penyesalan dan bertaubat baru ada gunanya kalau kita menyerahkan diri kepada Tuhan! Hanya Tuhanlah yang akan dapat membersihkan pikiran dari cengkeraman daya rendah. Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat mengatur segala Besuatu menjadi beres dan tertib, sesuai dengan kedudukan dan tugas masing-masing.
Sebaliknya, pikiran tidak mungkin dapat menertibkan diri sendiri, karena usahanya itupun masih dalam tuntunan nafsu. Keinginan akan sesuatu, itulah sifat nafsu. Ingin begini atau tidak ingin begini masih sama saja, ditujukan untuk mencari kesenangan, keenakan, kepuasan. Ingin bebas dari nafsu! Inipun merupakan ulah nafsu! Yang "ingin"
Bebas inipun nafsu, dengan harapan bahwa kalau bebas dari nafsu itu tentu menyenangkan, tidak menyusahkan, dan segala harapan yang enak-enak. Maka terjadilah keinginan bebas dari nafsu yang diinginkan oleh nafeu. Jelas tidak mungkin! Selama ada keinginan akan sesuatu, di situ nafsu bekerja dan merajalela. Lalu timbul pertanyaan tentunya. Bagaimanakah kita harus melangkah agar kita dapat terbebas dari nafsu?
Kita harus berhati-hati karena pertanyaan inipun datang dari nafsu itu sendiri! Karena itu, satu-satunya jalan bagi kita adalah melihat kenyataan! Kenyataannya ialah bahwa pikiran kita bergelimang daya-daya rendah, pikiran kita dikuasai nafsu. Titik! Kita menyerah kepada Tuhan, menyerah dengan penuh kepasrahan, penuh keikhlasan, tanpa membiarkan diri diseret ke dalam keinginan-keinginan ini dan itu. Tuhan Maha Kuasa dan Maha Kasih! Telaga Nam berada di kaki Pegunungan Thang-la, di sebelah utara kota Lashe, ibu kota di Tibet. Biarpun telaga ini amat indah, namun tidak banyak orang datang berkunjung, karena tempat ini terlalu jauh di barat bagi mereka yang tinggal di Propinsi-propinsi Cing-hai, Sin-kiang, Se-cuan, atau Yun-nan. Hanya beberapa orang penduduk Tibet yang berkeadaan mampu saja yang kadang-kadang berpesiar ke Telaga Nam.
Orang-orang Han jarang yang tiba di tempat itu. Orang Han yang berdatangan ke Tibet hanyalah mereka yang berdagang, dan yang mereka kunjungi hanyalah kota-kota besar seperti La-sha. Yang berkunjung ke telaga Nam hanya orang-orang Tibet atau peranakan Han Tibet. Akan tetapi, pada pagi hari yang cerah itu, nampak seorang pemuda dan seorang gadis mendayung perahu kecil di telaga itu. Mereka merupakan pasangan yang cocok sekali. Senang orang memandangnya. Yang pria merupakan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh satu tahun, wajahnya tampan dan pakaiannya yang berwarna biru dan kuning itu rapi, menambah ketampanannya. Wajahnya dengan kulit muka putih bersih itu berbentuk bulat, sepasang alisnya berbentuk golok dan hitam sekali.
Hidungnya besar mancung dan mulutnya selalu tersenyum mengejek. Sepasang matanya tajam mencorong, Akan tetapi kadang-kadang ada kilatan aneh seperti mengandung kekejaman. Adapun yang wanita adalah seorang gadis barusia kurang lebih delapan belas atau sembilan belas tahun. Seorang gadis yang berwajah manis sekali, dengan sepasang mata yang kocak, tajam dan jeli. Wajah yang manis ini menjadi semakin menarik karena selalu cerah, penuh dengan senyum dan pandang mata jenaka, wajah yang hampir selalu berseri. Anehnya gadis ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, padahal pakaian itu bersih sekali dan kain-kain tambalan itu sama sekali bukan kain buntut. Agaknya memang dibuat tambal-tambalan, dari bahan kain yang baru!