"Saudara sekalian tidak perlu berterimakasih kepadaku. Kuharap saja mulai sekarang saudara sekalian dapat mempersatukan tenaga untuk menjaga keamanan dusun sendiri. Sekarang, perkenankan aku pergi."
Pendekar Bongkok meninggalkan tempat itu dan Ling Ling mengikutinya. Semua orang memandang dengan heran melihat gadis itu ikut pergi bersama Pendekar Bongkok, namun tidak ada seorangpun yang berani bertanya.
Mereka hanya mengira bahwa pendekar itu tentu hendak mengantarkan gadis yang tidak dijemput orang tuanya itu ke dusunnya sendiri. Merekapun bubaran dengap hati gembira karena gadis-gadis itu ternyata dalam keadaan selamat. Nama Pendekar Bongkok lebih dikenal daripada nama Sie Liong di dusun itu dan mereka takkan pernah melupakan pertolongan yang diberikan pendekar itu dalam mengusir para penjahat yang menyamar sebagai setan merah penculik gadis-gadis remaja yang cantik.
"Ling Ling, aku mau mengajakmu pergi, akan tetapi engkau harus mentaati semua permintaanku,"
Demikian Sie Liong berkata setelah dia dan gadis itu berada di kaki Bukit Onta, jauh dari para penduduk dusun.
Wajah yang manis itu basah oleh keringat. Sejak tadi, Sie Liong berjalan saja, seolah tidak memperdulikan gadis yang berjalan di belakangnya, bahkan kadang-kadang dia melangkah lebar sehingga Ling Ling terpaksa harus setengah berlari untuk mengikutinya. Sie Liong mendengar langkah kaki pendek-pendek itu, dan mendengar pula betapa pernapasan gadis itu mulai membu-ru. Akan tetapi, sedikitpun dia tidak pernah mendengar gadis itu mengeluh. Kini, dia berhenti dan berkata demikian sambil menatap wajah itu. Wajah itu basah oleh keringat, dan napas gadis itu agak memburu namun wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan sedikitpun kekesalan hati. Bahkan wajah itu berseri penuh kegembiraan! Mendengar ucapan itu, ia menjawab lantang dan mantap, tanpa ragu.
"Tentu saja, taihiap! Aku akan mentaati semua perintahmu, biarpun untuk itu aku harus berkorban nyawa...."
Tiba-tiba ia menyambung cepat kalimat yang sebenarnya sudah berakhir itu,
".... asal saja taihiap tidak menyuruh aku pergi meninggalkanmu!"
Sie Liong tersenyum. Gadis dusun ini sederhana dan tabah, akan tetapi dalam keserdahanaannya, ternyata ia cerdik juga.
"Nah, kalau begitu, perintahku yang pertama adalah jangan sebut aku taihiap. Namaku Sie Liong dan mengingat engkau pantas menjadi adikku, sebut saja aku sebagai kakakmu."
"Baiklah, Liong-ko (kakak Liong)!"
Kata Ling Ling gembira.
"Dan ke dua, sekarang engkau harus mengantar aku ke rumah orang tua angkatmu."
Dia melihat wajah itu terkejut, maka disambungnya cepat,
"Bagaimanapun juga, aku ingin menemui mereka dan mengatakan bahwa engkau tidak suka kembali ke sana dan akan ikut dengan aku. Hendak kulihat bagaimana sikap mereka, dan juga tidak baik pergi begitu saja tanpa pamit."
Ling Ling mengengguk, nampak hilang kagetnya.
"Baiklah, Liong-ko."
Merekapun pergi nenuju ke dusun tempat tinggal orang tua angkat Ling Ling. Ketika mereka tiba di rumah itu, mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang memandang kepada Ling Ling dengan mulut cemberut. Apalagi mereka melihat bahwa gadis itu pulang bersama seorang pemuda bongkok, segera ayah angkatnya yang dipenuhi kecewa dan cemburu segera menudingkan telunjuknya ke pada Ling Ling dan mulutnya segera mengeluarkan makian,
"Perempuan tak tahu malu! Kiranya engkau bukan diculik siluman merah akan tetapi minggat bersama siluman bongkok ini, ya? Bagus, engkau membikin malu padaku!"
"Dasar anak tak tahu diri, tak mengenal budi!"
Bentak ibu angkatnya.
"Bertahun-tahun kami memeliharamu, memberi makan dan pakaian sampai kau dewasa, kini tidak membalas budi malah melempar kotoran ke rumah kami!"
Sejak tadi Sie Liong mengamati dua orang ini. Seorang pria tinggi kurus dengan muka pucat seperti berpenyakitan, berusia kurang lebih empat puluh tahun, mulutnya lebar dan giginya yang panjang-panjang itu kelihatan separuhnya lebih di luar bibir, matanya membayangkan wataknya yang kurang baik. Adapun wanita itu beberapa tahun lebih muda, tubuhnya gendut dan hidungnya pesek, muka yang tidak menarik dan nampaknya juga galak. Sungguh dia merasa heran bagaimana sepasang suami isteri seperti ini menjadi orang tua angkat seorang gadis seperti Ling Ling, bahkan dipuji oleh gadis itu sebagai orang-orang yang tadinya amat baik kepadanya.
"Ayah, ibu, aku tidak minggat, memang benar diculik...."
"Diculik setan bongkok ini, ya? Sungguh kalian pantas dihajar!"
Berkata demikian, laki-laki jangkung itu menerjang maju, siap menghajar dan tangannya menampar ke arah kepala Sie Liong.
Kalau menurutkan panasnya hati karena dimaki-maki, ingin Sie Liong sekali pukul menghancurkan mulut yang giginya panjang-panjang itu. Akan tetapi dia tidak menurutkan nafsu amarahnya, melainkan menangkap lengan yang memukul, memuntirnya dan mendorongnya. Pria itu mengeluarkan teriakan dan roboh terbanting lalu berguling-guling, mengaduh-aduh. Isterinya juga sudah maju dan dengan tangan membentuk cakar sudah siap mencakari muka Ling Ling yang berdiri diam saja tidak melawan. Akan tetapi sebelum kuku-kuku jari tangan wanita itu mengenai kulit muka Ling Ling, kakinya ditendang oleh Sie Liong dan wanita itu jatuh berdebuk. Pantat yang besar itu terbanting ke atas tanah dan ia mengaduh-aduh, mengelus pantatnya dan tidak mampu bangun, seperti seekor kura-kura yang jatuh telentang.
"Berani kamu memukul orang....?"
Ayah angkat Ling Ling sudah bangkit lagi dan membantu isterinya berdiri. Keduanya semakin marah, akan tetapi hanya mulut mereka saja yang nyerocos, tidak berani lagi menyerang. Pada saat itu, beberapa orang dusun yang tadi ikut menyerbu ke bukit Onta, mengiringkan dua orang gadis dusun itu yang terbebas dari penculikan. Melihat betapa ayah dan ibu angkat Ling Ling memaki-maki Pendekar Bongkok, mereka terkejut dan cepat semua orang lari ke situ.
"Engkau setan bongkok, kunyuk bongkok berani melarikan gadis orang!"
Teriak ayah angkat gadis itu yang menjadi semakin berani melihat para tetangga berlarian datang.
"Heiii! Gumalung.... tutup mulutmu yang kotor itu!"
Bentak beberapa orang dan mendengar ini, tentu saja Gumalung, demikian nama ayah angkat Ling Ling, memandang heran.
"Sungguh engkau lancang mulut! Tahukah engkau siapa pendekar ini? Dia adalah Sie Taihiap! Dialah yang telah mengusir para penjahat yang menculik gadis-gadis itu! Bahkan anak kalian Ling Ling juga dibebaskannya. Sekarang, datang-datang dia kalian semprot dengan makian. Kalian sungguh orang-orang yang jahat!"
Mendengar ini, seketika pucat wajah Gumalung dan isterinya.
"Ahh.... ohh.... maafkan kami.... maafkan kami...."
Kata Gumalung, diikuti oleh isterinya dan mereka membongkok-bongkok.
"Sudahlah!"
Kata Sie Liong membentak dan melihat banyak orang di situ dia menganggap kebetulan sekali untuk membersihkan nama Ling Ling.
"Kalian memang suami isteri yang tidak berbudi! Ketika Ling Ling berusia sepuluh tahun, kalian dengan dalih tidak mempunyai anak, mengangkatnya sebagai anak. Ling Ling telah bekerja seperti budak di sini untuk membalas budi kalian. Akan tetapi setelah ia dewasa, engkau yang menjadi ayah angkatnya mulai bersikap tidak wajar, merayunya bahkan hendak memperkosanya. Karena Ling Ling tidak sudi memenuhi permintaanmu yang kotor itu, engkau membencinya. Dan isterinya, yang tak tahu diri ini, bukan menyalahkan suaminya, bahkan juga membenci Ling Ling karena cemburu. Nah, coba kalian berdua katakan, benar tidak apa yang kukatakan semua ini. Kalian harus mengaku terus terang, baru akan kumaafkan. Kalau kalian membohong, aku akan turun tangan menghajar kalian!"
Suami isteri itu saling pandang. Mereka merasa takut kepada Pendekar Bongkok, akan tetapi mereka juga merasa malu kalau harus mengaku di depan para tetangga yang kini sudah berdatangan ke tempat itu. Karena merasa bingung dan serba salah, akhirnya isteri yang galak itu menuding-nudingkan telunjuknya ke muka suaminya.
"Memang engkau yang celaka! Engkau suami tidak setia, engkau suami mata keranjang, engkau rakus! Sudah kuduga bahwa tentu engkau yang hendak memaksa Ling Ling, akan tetapi engkau selalu mengatakan bahwa Ling Ling yang menggodamu! Pendusta besar! Perempuan mana yang sudi menggoda laki-laki bermuka buruk seperti mukamu? Engkau hendak memperkosanya, ya? Bagus, engkau memang layak mampus!"
Wanita itu menerjang suaminya menggunakan kedua tangannya yang hendak mencakar-cakar. Suaminya cepat menangkap kedua pergelangan tangan istcrinya dan mereka bersitegang. Agaknya, si suami yang kerempeng kalah tenaga sehingga dia terbawa terhuyung ke kanan kiri.
"Engkau perempuan cerewet! Engkaulah yang membenci Ling Ling, engkau iri hati melihat ia cantik jelita, tidak macam engkau ini babi gemuk!"
"Apa kau bilang? Aku babi? Dan engkau ini monyet, engkau tikus kurus mau mampus!"
Kedua suami isteri itu saling dorong dan para tetangga mulai tertawa melihat mereka berkelahi. Sie Liong dengan gerakan tidak sabar maju dan sekali dia menggerakkan tangan, kedua suami isteri itu saling melepaskan cengkeraman dan keduanya terpelanting, untuk kedua kalinya mereka terbanting jatuh. Keduanya terkejut, kesakitan dan ketakutan, lalu mereka berdua berlutut menghadap Pendekar Bongkok.
"Taihiap, ampunkan saya...."
Wanita itu merengek.
"Taihiap, ampunkan kami, kami mengaku salah. Kami bersalah terhadap Ling Ling...."
Kata sang suami, lalu tanpa memandang wajah anak angkatnya, dia menyambung,
"Ling Ling, maafkanlah ayahmu yang bersalah ini...."
"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu seperti kalian! Aku datang untuk berpamit, aku akan pergi meninggalkan kalian!"
"Eh....? Kenapa, Ling Ling? Kenapa engkau hendak meninggalkan kami?"
Gumalung berseru kaget, juga isterinya kaget mendengar ucapan ini. Mereka memang tidak sayang lagi kepada Ling Ling, dan kesayangan ayah angkat itu merupakan kesayangan yang terdorong nafsu, akan tetapi mereka akan repot kalau ditinggalkan Ling Ling yang mengerjakan semua pekerjaan rumah itu.
"Tapi, kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja, Ling Ling!"
Kata pula nyonya gendut itu. Sie Liong sudah merasa lega. Percekcokan suami isteri itu tadi saja sudah merupakan pengakuan dari mereka bahwa Ling Ling tidak berbohong, dan semua orang mendengarnya. Maka, diapun lalu berkata dengan suara tegas.
"Ling Ling akan meninggalkan rumah ini, ia akan pergi bersamaku. Apakah kalian merasa berkeberatan?"