Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 84

Memuat...

"Sobat, apa yang telah terjadi?"

Siluman Kecil menggeleng kepala.

"Entah bagaimana, uangku yang berada di dalam buntalan ini lenyap semua tanpa kusadari. Aku lupa bahwa aku membawa uang, maka ketika lenyap aku tidak tahu...."

"Hemmm...."

Si pedagang kuda berkata dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh kecurigaan kepada Siluman Kecil dan Siauw-hong.

"Kalau begitu, biarlah aku yang membayarnya! Hei, pedagang kuda, berikan kuda putih itu kepada sobatku ini dan kuda hitam itu kubeli, lalu sediakan dua ekor kuda lain untuk pembantu-pembantu kami!"

Pemuda itu cepat mengeluarkan sekantung uang emas dari buntalannya yang tadi dibawa oleh kacungnya.

"Ah, tidak usah, Saudara.... biar kami jalan kaki saja...."

Kata Siluman Kecil.

"Sobat yang baik, kita sudah menjadi sahabat dan calon teman seperjalanan, mengapa banyak sungkan?"

"Aku tidak mau menerima pemberian dari orang yang tidak kukenal dan...."

"Kalau begitu perkenankan, aku she Kang, bernama Swi,"

Katanya.

"Tetapi...."

"Kalau kau segan menerima pemberianku, biarlah kuda itu kau pinjam saja!"

Siluman Kecil tidak dapat menolak lagi, merasa tidak enak kalau menolak terus kebaikan orang yang kelihatannya demikian tulus dan ikhlas.

"Kalau begitu, baiklah, Saudara Kang Swi. Terima kasih atas kebaikanmu,"

Katanya sambil menjura.

"Akan tetapi saya bukanlah pembantu Taihiap ini, saya hanya mengantarnya sampai ke sini saja,"

Kata Siauw-hong. Pemuda tampan itu menoleh kepadanya.

"Aku melihat engkau tadi pandai sekali menunggang kuda, tentu engkau pandai pula merawat kuda, bukan? Nah, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai perawat kuda? Berapakah gaji yang kau minta, akan kupenuhi."

Siauw-hong mengangkat dadanya dan menjawab,

"Saya menerima permintaan Kongcu, akan tetapi bukan karena besarnya gaji, melainkan karena saya memang ingin meluaskan pengalaman ke selatan."

"Jadi kau terima?"

Tanya kongcu itu dengan girang, akan tetapi ada sinar keheranan melihat sikap pengemis muda itu, yang demikian angkuh sikapnya.

"Paman, cepat pilihkan dua ekor kuda lain selain si Putih dan si Hitam ini, dan hitung berapa harus kubayar kepadamu."

Tentu saja si pedagang kuda menjadi girang bukan main. Sungguh mujur dia. Hari ini bertemu dengan kongcu yang kaya dan begini royal, membeli kuda tanpa menawar lagi! Tentu saja dia tidak mau mencelakakan seorang langganan yang begini royal, maka dia berkata,

"Akan saya pilihkan seekor kuda yang terbagus untuk Kongcu...."

"Aku sudah memilih si Hitam ini!"

Jawab kongcu itu.

"Ahhh, jangan, Kongcu! Baru saja Siauw-kai ini hampir terbanting mati oleh kuda itu!"

Siauw-hong juga berkata,

"Sebaiknya Kongcu mengambil lain kuda. Kuda hitam ini adalah kuda iblis, atau kuda porno...."

"Eh, kuda porno (cabul)....?"

Kongcu itu bertanya dan memandang Siauw-hong dengan alis berkerut.

"Habis, kuda jantan ini hanya mau ditunggangi seorang wanita! Cabul dia!"

Siauw-hong berkata dan memandang kepada kuda hitam itu dengan hidung dikernyitkan. Kongcu itu tertawa.

"Kalian semua tidak tahu rahasianya. Aku sudah pernah memiliki seekor kuda seperti ini dan kalau tidak tahu rahasianya, memang jangan harap dapat menjinakkan dia."

"Kau kau hendak mengatakan bahwa kau dapat menundukkan dia?"

Siluman Kecil bertanya penuh keheranan. Dia melihat sendiri tadi betapa Siauw-hong yang merupakan seorang ahli menunggang kuda, hampir celaka. Apakah pemuda halus yang kaya raya dan royal ini memiliki ilmu menunggang kuda yang lebih mahir daripada Siauw-hong? Agaknya tak mungkin. Dia sendiri pun harus mengakui bahwa dalam menunggang kuda, belum tentu dia mampu menandingi Siauw-hong dan dia akan berpikir dua kali untuk menunggangi kuda liar macam si Hitam itu.

"Tentu saja,"

Kata pemuda royal itu tersenyum.

"Kalau tidak, untuk apa kubeli?"

"Tapi.... tapi dia benar-benar ber-bahaya sekali,"

Kata Siluman Kecil.

"Aku mengerti bagaimana harus menguasainya, harap kau jangan khawatir, Sobat."

Akan tetapi ketika pemuda tampan itu hendak memegang kendali kuda hitam dari tangan pedagang kuda, si pedagang berkata ragu,

"Wah, bagaimana kalau sampai Kongcu terbanting jatuh dan.... dan celaka? Siapa akan membayar kuda-kuda saya?"

Kongcu itu tertawa.

"Hitunglah dan akan kubayar sekarang juga. Kalau seandainya nanti aku dibanting mati oleh kuda ini, kau tidak akan rugi apa-apa."

Wajah pedagang kuda itu menjadi merah.

"Bukan.... bukan maksudku begitu.... sebaiknya Kongcu jangan mencoba-coba untuk menunggang ini dia sungguh tidak mau ditunggangi oleh pria."

Akan tetapi pemuda itu tidak melayaninya lagi, melainkan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar empat ekor kuda. Kemudian dia berkata sambil menuntun si Hitam,

"Kalian semua lihatlah bahwa aku tidak main-main. Aku tahu bagaimana harus menundukkan kuda Mongol yang terlatih ini."

Setelah berkata demikian, dia mengusap-usap kepala kuda hitam itu, mendekatkan mulutnya pada telinga kiri kuda itu dan mengeluarkan kata-kata asing dalam bahasa Mongol. Mulutnya komat-kamit dan terdengar kata-kata aneh seperti mantra.

Siluman Kecil mengerti juga bahasa Mongol, akan tetapi karena bahasa dari suku bangsa Nomad banyak sekali macamnya, maka dia tidak merasa heran mendengar bahasa yang mirip bahasa Mongol akan tetapi tidak dimengertinya, yang keluar dari mulut pemuda tampan itu. Akan tetapi dia rnelihat betapa kuda hitam itu menggoyang-goyangkan ekornya ke kanan kiri dan kelihatan gembira dan jinak! Kemudian, dengan gerakan ringan sekali tanda bahwa pemuda tampan itu memiliki ginkang yang tinggi, pemuda itu meloncat ke atas punggung kuda. Semua orang, terutama Siuaw-hong, memandang dengan hati berdebar tegang, menduga bahwa tentu si Hitam itu akan meloncat-loncat, meringkik dan membungkukkan punggung. Akan tetapi sungguh aneh! Kuda itu berdiri diam dan tenang-tenang saja, bahkan ekornya masih bergoyang-goyang! Pemuda tampan itu tertawa.

"Nah, tidak percayakah kalian kepadaku? Kuda ini memang terlatih untuk menantang ditunggangi pria, akan tetapi ada rahasianya untuk menjinakkan dia dan aku mengenal rahasia itu. Sobat, marilah kita berangkat. A-cun, dan kau, Siauw-kai...."

"Nama saya Siauw-hong, Kongcu!"

Kata Siauw-hong, tidak senang disebut Siauw-kai (Pengemis Cilik).

"Dan saya tidak pernah mengemis."

"Ahhh, engkau seorang bocah aneh, tidak kalah anehnya dengan kuda ini dan sahabat itu!"

Si pemuda tampan menunjuk ke arah Siluman Kecil yang sudah meloncat naik ke atas punggung si Putih. dan memang benar kata-kata si pedagang kuda. Si Putih itu tenang-tenang saja ketika punggungnya ditunggangi oleh Siluman Kecil, seorang pria! Mereka berempat lalu berangkat meninggalkan si tukang penjual kuda yang berdiri bengong, masih terheran-heran menyaksikan mereka. Baru hari itu dia memperoleh keuntungan besar di samping keheranannya bertemu dengan orang-orang yang begitu aneh.

Post a Comment