Jawab Can Ji Kun dengan keras kepala. Maya menghela napas. Untuk mendapatkan seorang sehebat ini memang tidak mudah. Dia maklum bahwa biarpun kepandaian Ji Kun amat tinggi, namun ilmu silatnya masih berada di atas tingkat Ji Kun, demikian pula gin-kang dan sinkangnya. Hanya melihat pedang itu, dia merasa ngeri.
"Pedangmu dahsyat dan mengandung hawa kejam, Ji Kun. Akan tetapi jangan kira bahwa aku takut menghadapi pedangmu. Marilah!"
Maya menggerakkan tangan kanannya dan dia sudah mencabut pedang panjangnya, pedang panglima yang ia terima sebagai pemberian Bu-taiciangkun sendiri. Sebuah pedang yang amat baik, terbuat daripada baja biru, akan tetapi bukanlah pedang pusaka seperti yang berada di tangan Ji Kun.
"Awaslah terhadap seranganku ini, Maya!"
Ji Kun berseru dan tubuhnya menerjang maju, didahului oleh sinar putih yang menyilaukan mata dari pedangnya. Maya tidak menjawab, melainkan mengelak jauh ke kiri sambil mengelebatkan pedangnya menusuk mata kaki lawan.
Serangan seperti ini hanya dilakukan oleh seorang ahli pedang yang sudah tinggi tingkatnya sehingga Ji Kun cepat-cepat meloncat dan pedangnya sudah meluncur ke dada Maya. Ji Kun mengerti bahwa entah siapa yang menjadi guru Maya, mungkin sekali Menteri Kam Liong yang ia dengar memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari Mutiara Hitam, maka diapun mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Lan-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Iblis Jantan) yang merupakan perpaduan dari Siang-bhok-kiam dari Mutiara Hitam dan Pek-kong-To-hoat dari Tang Hauw Lam. Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa biarpun dalam hal pengalaman masih kalah jauh oleh Menteri Kam Liong, namun dalam hal ilmu silat, tingkat Maya malah lebih tinggi daripada tingkat menteri putera Suling Emas itu karena dara ini adalah penghuni, Istana Pulau Es, murid tidak langsung dari Bu Kek Siansu!
Menghadapi ilmu pedang yang dimainkan Ji Kun demikian dahsyatnya, diam-diam Maya kagum sekali dan memuji kepandaian bibinya, maka ia bersikap tenang. Terutama sekali pedang pusaka di tangan Ji Kun membuat ia ngeri. Pedang itu mengeluarkan hawa maut yang menggetar dan dingin sekali. Kalau saja sin-kangnya tidak sudah amat kuat, agaknya dia akan terpengaruh oleh getaran itu yang akan mengacaukanpermainan pedangnya. Dia pun tak berani mengadukan pedangnya dengan pedang lawan, dan ketika Ji Kun mendesaknya sedemikian rupa sehingga terpaksa sekali Maya mengelebatkan pedang menangkis, tak tercegah lagi kedua pedang bertemu.
"Takkk!"
Maya terkejut bukan main karena pedangnya itu melekat pada pedang Ji Kun yang seolah-olah mempunyai daya tarik atau daya sedot yang mujijat! Dan kesempatan ini dipergunakan Ji Kun untuk menggerakkan pedang ke bawah, membacok kepala Maya! Maya mengelak cepat.
"Breet!"
Robek dan putuslah ujung pundak baju panglima wanita itu. Dia melompat mundur, Ji Kun tersenyum girang dan mendesak terus.
Kini Maya mengerti bahwa pedang pusaka itu selain mempunyai wibawa ampuh, juga mempunyai daya menyedot. Pengetahuan ini membuat dia memutar otak mencari akal. Ketika untuk kesekian kalinya sinar pedang yang ampuh itu terus mendesaknya dan mengirim tusukan, kembali ia menangkis. Kalau dibacok, dia tidak berani menangkis karena pertemuan langsung itu mungkin sekali akan merusakkan pedangnya. Akan tetapi kalau hanya tusukan, dia berani menangkis dari samping. Dia sengaja menangkis dari atas sehingga ketika pedangnya tersedot dan menempel, pedangnya berada di atas pedang lawan dan sebelum Ji Kun melanjutkan pedangnya untuk mengirim serangan mendadak,. Maya telah mendorongkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga sin-kang yang membentuk hawa pukulan dingin. Inilah pukulan inti es yang hebatnya bukan kepalang, yang oleh Han Ki tdisebut pukulan Swat-im Sin-jiu!
Tubuh Ji Kun seperti terkena aliran halilintar, menggigil dan pedangnya terlepas dari tangannya. Dia berusaha mempertahankan diri namun ia hanya dapat mencegah tubuhnya terguling, dan hanya jatuh duduk dengan muka pucat! Cepat ia bersila dan memejamkan matanya, mengerahkan hawa murni untuk melindungi isi dadanya yang terserang hawa dingin luar biasa. Semua perwira bengong terlongong dan tidak ada yang bergerak, semua terpesona oleh pertandingan yang sedemikian hebatnya, yang belum pernah mereka saksikan selama hidup mereka. Maya menyimpan pedangnya, membungkuk dan mengambil pedang Ji Kun. Dia mengamati pedang itu dan tangannya menggigil.
"Bukan main....!"
Serunya sambil menggeleng kepala. Memegang pedang itu, ia merasa seolah-olah pedang itu bernyawa dan mengeluarkan hawa maut yang amat kejam! Can Ji Kun membuka matanya dan melotot memandang Maya. Jelas terbayang pada pandang matanya bahwa ia khawatir sekali kalau pedangnya dirampas Maya. Melihat ini Maya lalu melangkah maju dan menyerahkan pedang itu kepada Ji Kun sambil berkata,
"Ji Kun, seorang murid Mutiara Hitam yang gagah perkasa tidak patut memiliki pedang seganas ini."
Bayangan khawatir lenyap dari wajah Ji Kun, terganti rasa lega ketika ia menerima pedangnya. Ia bangkit berdiri,menyimpan pedangnya dan berkata,
"Pedang ini adalah pedang Lam-mo-kiam pemberian Subo."
"Ahhh.... sungguh heran mengapa Bibi menyimpan pedang seperti itu,"
Kata Maya perlahan, kemudian sambil menatap tajam wajah murid bibinya itu ia bertanya
"Bagaimana sekarang, Ji Kun? Apakah engkau akan memenuhi janji dan membayar taruhanmu?"
Ji Kun membusungkan dadanya dan menjawab,
"Li-ciangkun, mungkin sekali aku bukan seorang murid yang baik dari Suhu dan Subo, akan tetapi aku tetap adalah seorang gagah yang tidak akan mengingkari janji. Biarlah mulai saat ini aku menjadi pembantumu."
Sebelas orang perwira bersorak dan menghampiri Ji Kun, berebut menjabat tangan pemuda itu saking girang hatinya. Ji Kun tersenyum masam, akan tetapi diam-diam kagum sekali kepada Maya dan harus ia akui bahwa kepandaiannya tidak dapat menandingi dara itu!
"Ji Kun, mulai sekarang engkau menjadi seorang perwira berpangkat huciang dan membantu Kwa-huciang. Dari mulai sekarang aku memanggilmu Can-huciang. Eh, aku teringat akan sumoimu, Ok Yan Hwa. Di manakah dia sekarang?"
Diingatkan kepada Ok Yan Hwa, sumoinya yang juga menjadi kekasihnya, akan tetapi juga musuhnya (betapa aneh) itu, wajah yang tampan itu menjadi muram.
"Aku tidak tahu. Kami saling berpisah setelah Suhu meninggal dunia dan turun gunung."
Mungkin karena gemblengan pengalaman-pengalaman pahit, semuda itu Maya sudah dapat menjenguk isi hati orang dengan melihat wajahnya.
Ia tahu bahwa tentu ada apa-apa antara kedua murid bibinya itu dan bahwa bicara mengenai diri Yan Hwa tidak menyenangkan hati pembantu barunya ini, maka dia tidak bertanya lebih banyak. Pada keesokan harinya, terdengarlah berita mengejutkan yang disampaikan oleh utusan yang menyeberang perbatasan bahwa bala tentara Mancu yang berada di tapal batas, yang tadinya hendak menyatukan diri dengan pasukan-pasukan Bu-tai-ciangkun di pantai untuk bersama-sama menyerbu ke selatan, telah lebih dulu dihancurkan oleh bala tentara Kerajaan Cin, yaitu tentara Yucen! Bala tentara Mancu terpaksa mundur dan melarikan diri ke barat, terancam bahaya terjepit oleh pasukan-pasukan Yucen dan pasukan Sung yang bergerak dari selatan! Mendengar ini, Maya mengumpulkan dua belas orang pembantunya.
"Karena sudah jelas bahwa barisan Mancu yang menjadi sekutu kita itu terancam oleh pihak Yucen dan Sung, terpaksa aku akan melanjutkan gerakan pasukan mengejar dan membantu mereka. Akan tetapi, kita harus mengirim laporan kepada Bu-tai-ciangkun yang masih menanti di pantai. Can-huciang, aku menugaskan engkau membawa lima puluh orang pasukan untuk menyampaikan laporan kepada Bu-tai-ciangkun!"
"Baik!"
Jawab Can Ji Kun yang segera mengumpulkan pasukan lima puluh orang, membawa surat laporan Maya dan berangkat pada hari itu juga ke timur. Maya lalu mengatur rencana pengejaran ke barat.
"Sayang kita tidak tahu pasti ke mana mundurnya barisan Mancu dan di antara kita tidak ada yang mengenal baik daerah ini."
"Li-ciangkun, harap jangan khawatir. Aku mengenal daerah ini dengan baik dan kiranya tidak akan keliru kalau saya katakan bahwa barisan Mancu tentu mundur ke selatan."
Maya tercengang. Banyak hal yang aneh dan tidak tersangka-sangka dimiliki oleh bekas penggembala domba ini!
"Mengapa kau berpendapat demikian, Cia-huciang? Bukankah di selatan banyak terdapat barisan Sung?"
"Jalan mundur satu-satunya yang paling lemah dijaga musuh hanyalah ke selatan. Ke timur berhadapan dengan barisan Yucen yang kuat, demikian pula ke utara. Sedangkan di sebelah barat terdapat pasukan-pasukan Mongol dan Sung. Di selatan hanya terjaga oleh pasukan Sung, akan tetapi mengingat keadaan Sung yang makin lemah daripada menghadapi barisan Yucen atau Mongol lebih ringan menghadapi pasukan Sung. Maka kiranya tidak akan meleset jika kita perhitungkan bahwa barisan Mancu itu tentu mengundurkan diri ke selatan."
Maya mengangguk-angguk, diam-diam ia kagum karena tidak mengira bahwa Si Penggembala domba ini memiliki pemandangan yang luas dan cerdik.
"Baiklah, kalau begitu kita mengejar ke selatan."