Di dalam hatinya pemuda gembala itu sudah tunduk dan kagum sekali kepada Maya. Dia lalu berlutut di depan Maya sambil berkata,
"Saya Cia Kim Seng adalah seorang laki-laki sejati yang tidak akan mengingkari janji. Mulai saat ini saya akan membantu Li-ciangkun dan siap melakukan semua perintah dengan taruhan nyawa!"
Wajah Maya berseri gembira dan ia menoleh kepada para perwira dan perajurit.
"Para perwira dan perajurit Pasukan Maut yang gagah perkasa. Kita menerima Cia Kim Seng sebagai seorang perwira pembantuku, sebagai seorang anggauta pasukan kita yang jaya!"
Terdengar sorak-sorai riuh-rendah dan para perwira yang tadinya dirobohkan Kim Seng menghampiri pemuda gembala itu dan memeluknya, menepuk-nepuk pundaknya dengan keramahan seorang rekan. Tentu saja pemuda itu menjadi girang sekali dan ia merasa beruntung berada di tengah-tengah pasukan yang demikian kuat dengan seorang pemimpin yang demikian sakti, muda dan jelita. Tiba-tiba semua orang tertegun ketika melihat para penggembala, teman-teman Cia Kim Seng, menjatuhkan diri berlutut dan ada yang menangis. Kim Seng melompat dan membentak mereka,
"Eh, eh, apakah kalian sudah gila? Kenapa menangis?"
"Kalau engkau masuk menjadi anggauta Pasukan Maut yang hebat ini, bagaimana dengan kami? Kami mohon diterima pula menjadi anggauta pasukan di bawah pimpinan Li-ciangkun yang sakti!"
Kata seorang di antara mereka. Maya tertawa gembira,
"Bagus! Bagus! Kumpulkan semua kawan-kawan kalian yang suka membantuku. Aku menerima kalian!"
Para penggembala bersorak dan berdatanganlah penggembala-penggembala yang bertubuh kuat itu dan jumlahnya ada dua puluh tiga orang. Maya menerima mereka dan menyerahkan ganti kerugian kepada dua orang penggembala tua yang tidak ikut masuk. Kemudian pasukannya bergerak maju bersama Cia Kim Seng dan teman-temannya yang ikut berbaris dengan langkah tegap dan dada membusung ke depan. Dari penggembala menjadi perajurit Pasukan Maut, hati siapa tidak akan menjadi bangga dan besar?
Di sepanjang jalan Maya melatih ilmu pedang kepada Cia Kim Seng dan giranglah hatinya melihat betapa "muridnya"
Ini benar-benar memiliki bakat yang baik sekali di samping kekuatan besar, keringanan tubuh, dan keberanian yang luar biasa. Juga para penggembala itu ternyata menjadi perajurit-perajurit yang baik dan kuat. Di sepanjang perjalanan, Maya berhasil mengumpulkan beberapa puluh tenaga sukarela terdiri dari pemuda-pemuda gunung dan dusun sehingga beberapa pekan kemudian pasukan yang tadinya hanya tinggal empat ratus lima puluh orang, kini menjadi lima ratus lebih, meningkat jumlahnya dibanding dengan ketika dia berangkat. Pada suatu hati, pasukan telah tiba di perbatasan daerah Mancu dan mereka membangun perkemahan di tempat itu karena Maya berniat menghentikan gerakan dan berdiam di situ menanti beberapa orang utusan yang ia kirim menyeberangi perbatasan mengadakan kontak dengan bala tentara Mancu.
Beberapa hari lewat tanpa ada peristiwa penting. Para perajurit setiap hari berlatih olah yuda di bawah pimpinan para perwira, sedangkan para perwira sendiri berlatih silat di bawah petunjuk-petunjuk Maya. Yang mengagumkan adalah Kim Seng karena ilmu pedangnya menjadi makin hebat saja sehingga dalam latihan dengan kayu, ia sanggup menandingi pengeroyokan sepuluh orang perwira rekannya! Pemuda ini merasa berterima kasih sekali terhadap Maya yang dia anggap sebagai panglimanya, gurunya, dan orang yang paling dijunjung tinggi, dihormati dan dicintainya! Akan tetapi pada malam ke empat, Cia Kim Seng menghadap Maya dan berkata lirih,
"Li-ciangkun, saya melihat berkelebatnya bayangan asing dan agaknya ada mata-mata menyelundup. Sudah saya cari, akan tetapi tidak dapat saya temukan. Karena khawatir maka saya datang menghadap dan melapor."
Sepasang alis Maya berkerut.
"Hemm, sungguh berani mati sekali! Mari kita cari dia sampai dapat. Kita geledah semua kemah. Dia harus dapat ditangkap hidup-hidup karena aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya memata-matai keadaan kita."
Karena tidak ingin menimbulkan kekacauan dan kepanikan di antara para pasukan, diam-diam Maya bersama sebelas orang perwiranya mulai melakukan penggeledahan. Semua kemah dimasukinya, dan para perajurit yang mengira bahwa panglima mereka melakukan pemeriksaan seperti biasa, menyambut dengan hormat dan gembira karena ke mana saja Maya datang, tentu akan terlepas kata-kata ramah terhadap semua perajurit sehingga mereka menjadi gembira dan bangga.
Akan tetapi, biarpun semua perkemahan telah dimasuki dan diperiksa, Maya dan para pembantunya tetap saja tidak dapat menemukan jejak mata-mata yang dicarinya. Maya mengerutkan alisnya. Apakah mata-mata itu sedemikian lihainya sehingga dapat memasuki perkemahan tanpa terlihat penjaga, bahkan tidak diketahui para perajurit yang demikian banyaknya? Kalau dia mencampurkan diri dengan para perajurit, hal itu tidaklah mungkin karena para perajuritnya tentu akan mengenal orang asing yang menyelundup. Untuk itu mereka sudah cukup terlatih dan di antara para perajurit ada banyak macam kode rahasia yang hanya mereka ketahui sehingga penyelundupan orang luar tentu akan segera diketahui.
"Cia-ciangkun, jangan-jangan engkau hanya melihat bayangan burung saja,"
Kata Kwa-huciang, kepala perwira pembantu utama Maya kepada perwira muda yang baru itu.
"Tak mungkin salah penglihatan Cia Kim Seng,"
Bantah Maya mendahului sebelum pembantu mudanya yang keras hati itu tersinggung.
"Mata-mata itu tentu amat cerdik dan kalau tidak salah dugaanku, saat ini tentu dia berada di dalam kemahku sendiri."
"Hahhh....?"
Para perwira terkejut, juga Kim Seng memandang panglimanya dengan heran.
"Bagaimanakah Li-ciangkun menduga begitu?"
Tanya Kim Seng. Maya tersenyum,
"Seorang mata-mata yang pintar akan memancing harimau keluar sarang. Setelah aku dan kalian keluar, tentu dia akan menggeledah kemahku, karena pekerjaan mata-mata tentulah menyelidiki keadaan panglima dari sebuah pasukan. Mari kita ke sana!"
Akan tetapi ketika dengan bergegas mereka memasuki kemah besar yang menjadi tempat tinggal Maya, tidak terdapat perubahan dan tak tampak bayangan manusia. Para pengawal yang bertugas menjaga di luar pintu kemah, masih berdiri tegak dengan tombak di tangan, tanda bahwa mereka pun tidak melihat orang memasuki kemah itu.
Selagi para perwira mengerutkan alis dan memandang Maya penuh pertanyaan, panglima wanita itu menyuruh mereka diam, matanya agak terpejam, kulit di antara kulitnya berkerut tanda bahwa dia sedang mengerahkan seluruh perhatiannya. Tiba-tiba wanita sakti inl berdongak memandang langit-langit tenda, kemudian memberi isyarat kepada Cia Kim Seng, menuding ke atas. Bekas penggembala domba ini memandang ke atas dan kalau tidak ditunjukkan oleh panglimanya, tentu dia tidak akan tahu. Kini tampaklah betapa kain tenda di bagian itu bergoyang-goyang sedikit, seolah-olah ada seekor tikus atau kucing di atas sana! Akan tetapi dia tahu bahwa panglimanya takkan salah duga, tentu Si Mata-mata berada di atas itu. Ia mencabut pedangnya dan memandang Maya yang tersenyum mengangguk. Isyarat ini cukup bagi Kim Seng dan berserulah ia nyaring,
"Mata-mata keparat turunlah!"
Bentaknya ini disusul loncatan tubuhnya ke atas, pedangnya membabat.
"Brettt!"
Kain tenda itu robek besar terbabat ujung pedang Kim Seng dan dari atas melayang turunlah tubuh seorang laki-laki muda yang tampan. Kim Seng yang masih berada di atas itu melanjutkan babatan pedangnya, kini ke arah tubuh yang melayang turun.
"Cringgg....!"
Dua pedang bertemu dan tangan Kim Seng tergetar.
Laki-laki yang melayang turun itu dalam keadaan terjatuh dari atas masih mampu menangkis serangan Kim Seng, bahkan kini tubuhnya berjungkir balik ringan dan lincah sekali, meluncur cepat seperti burung terbang dan tahu-tahu telah berdiri di depan Maya. Maya kaget bukan main. Inilah seorang lawan yang berat! Tak boleh disamakan dengan kepandaian para perwiranya atau bahkan kepandian Kim Seng sekalipun. Karena itu, ketika ia melihat Kim Seng dengan penasaran hendak menerjang orang itu ia memberi isyarat dengan matanya. Setiap gerak-gerik Maya dari gerak tangan, mulut dan mata, sudah dikenal benar oleh Kim Seng, maka isyarat mata itu sudah cukup baginya dan ia mundur dengan pedang di tangan. Laki-laki itu dengan sikap angkuh dan sama sekali tidak mempedulikan sikap Kim Seng yang hendak menyerangnya tadi, kini menyarungkan pedangnya. Pandang matanya tidak pernah terlepas dari wajah Maya, kemudian dengan tenang sekali ia bertanya,
"Engkaukah yang bernama Maya?"
Maya sudah menyelidiki dengan pandang matanya dan sudah menilai laki-laki ini. Ilmu kepandaiannya tinggi dan pedangnya tadi hebat sekali, mengeluarkan cahaya kilat dan mempunyai wibawa menyeramkan. Laki-laki tampan ini agaknya amat percaya kepada kepandaiannya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ia menjawab, suaranya dingin,
"Akulah Panglima Wanita Maya yang memimpin Pasukan Maut ini!"
Tiba-tiba laki-laki itu tertawa bergelak,
"Ha-ha-ha-ha! Sudah banyak aku mendengar tentang Pasukan Maut yang hebat dan terutama panglima wanitanya yang berilmu tinggi seperti dewi. Siapa kira bahwa memang wajahnya jelita seperti dewi. Maya...., Maya...., tadinya kukira mengenal nama ini.... hemm, apakah engkau puteri...."
Maya memotong dengan suara tajam seperti pedang menyambar,
"Seorang gagah tidak mengandalkan kepandaian bicara! Engkau siapakah dan menaapa engkau menyelundup seperti maling ke sini?"
"Ha-ha-ha! Nama Maya itulah yang menarikku untuk menyelidiki, di samping nama Pasukan Maut yang terkenal! Aku bernama Can Ji Kun, dan aku sengaja datang hendak menyaksikan sendiri keadaan Pasukan Maut dan hendak menyaksikan sampai di mana kebenaran nama besar Maya yang katanya lihai seperti dewi!"
Hampir saja Maya berseru saking kagetnya. Kini ingatlah dia akan pemuda angkuh ini. Tentu saja dia mengenal seorang di antara murid Mutiara Hitam, bibinya! Dan pemuda itu masih ingat namanya, akan tetapi agaknya pangling karena dia kini telah menjadi seorang dara dewasa yang berpakaian panglima. Dia pun kini tidak merasa perlu lagi menyembunyikan keadaan dirinya karena apakah salahnya kalau diketahui bahwa dia adalah Puteri Khitan? Yang dipimpinnya adalah pasukan yang memberontak terhadap Kerajaan Sung.