"Heiii ! Perahu besar di sana itu! Bukan-
kah itu perahu yang telah kita kenal ?" Tiba - tiba Pek Lian menuding ke arah lautan di mana nampak sebuah perahu besar yang baru saja berangkat ber- layar.
"Benar! Dan perahu itu baru saja berangkat dari sini !" kata Bwee Hong.
"Hemm, ini ada sebatang anak panah di pantai Serupa benar dengan anak panah yang diperguna-kan untuk menyerang perahu kita," kata Seng Kun. "Hemm, si kurus itu ternyata mengadakan perse-kutuan dengan pasukan asing. Pantas orang lain tidak boleh melihat atau mendengar pertemuan
mereka di sini. Sungguh mencurigakan sekali. Kita harus melaporkan hal ini kepada Jenderal Beng Tian !"
Tiba - tiba terdengar suara ketawa. Empat orang muda itu terkejut dan ketika mereka yang tadinya memandang ke arah perahu di lautan itu membalik-kan tubuh, ternyata di situ telah berdiri si kurus bersama puluhan orang anak buah Tai - bong - pai! Si kurus Kwa Sun Tek telah mendengar ucapan Seng Kun tadi dan kini dia tersenyum mengejek dan berkata, "Tepat dugaanku bahwa kalian tentu bukan orang - orang semibarangan. Tepat pula sia-satku pura - pura melepaskan kalian tadi. Kiranya kalian adalah orang - orang yang menentang kami. Hemm, dari golongan manakah kalian ? Anak buah Liu - twako ? Ataukah petugas kerajaan ?"
Pek Lian mewakili teman-temannya menjawab cepat, "Kami hanyalah pendekar-pendekar yang menentang kejahatan ! Dan ketahuilah bahwa adik Kwa Siok Eng adalah sahabat baik kami!" "Hemm, adikku Siok Eng memang suka bergaul dengan golongan - golongan yang menjadi musuh kami. Anak itu masih saja tolol dan tidak pernah menjadi dewasa. Kalian adalah para pendekar ? Kalau begitu berarti menjadi kaki tangan Liu Pang! Dan kalian, hendak melaporkan kepada Jenderal Beng Tian ? Kalau begitu juga menjadi mata-mata pemerintah. Kami terpaksa
menangkap kalian lagi!"
Empat orang itu terkejut dan heran. Ternyata si kurus ini adalah kakak dari Kwa Siok Eng, akan tetapi agaknya kakak beradik ini memiliki watak yang amat berbeda, seperti bumi dan langit.
"Engkau iblis jahat!" Pek Lian membentak marah dan ia sudah menerjang maju menyerang Kwa Sun Tek dengan pukulan kedua tangannya bertubi-tubi. Akan tetapi, pemuda kurus itu ter- tawa mengejek dan dengan mudah mengelak, bah-kan balasan tangannya yang mencengkeram ke arah muka Pek Lian mengejutkan dara ini dan membu-atnya terpaksa meloncat mundur dengan gugup. Seng Kun yang masih lemah itu juga tidak dapat membiarkan mereka ditangkap begitu saja dan dia-pun bersama adiknya sudah melakukan perlawan-an, dikeroyok oleh Kwa Sun Tek dan puluhan orang anak buahnya.
"Jangan berkelahi lagi , ah, kenapa kita
harus selalu berkelahi menggunakan kekerasan ?" A-hai berteriak-teriak marah melihat betapa orang-orang itu suka sekali berkelahi. Akan tetapi, tentu saja tidak ada yang memperdulikannya, bahkan dia sudah ditubruk dari belakang oleh dua orang lalu dibelenggu kaki tangannya. Terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun melawan mati-matian. Biarpun Seng Kun sendiri yang paling lihai di antara mereka masih lemah namun karena mereka adalah keturunan orang - orang yang lihai, tidak mudah bagi Kwa Sun Tek untuk menangkap mereka tanpa membunuh. Maka dia lalu menggu-nakan asap harum yang mengandung obat bius dan barulah tiga orang lawan itu menjadi pening dan terhuyung-huyung, permainan mereka menjadi kacau dan dengan mudah mereka lalu ditubruk dan diringkus, kemiudian dibelenggu seperti juga A-hai.
"Jangan bunuh mereka sekarang. Ikat mereka pada pohon - pohon. Kita mengadakan upacara hio nanti malam!" terdengar Kwa Sun Tek berkata dengan suara gembira dan para anak buahnya juga menyambut perintah itu dengan gembira. A - hai, Seng Kun, Pek Lian dan Bwee Hong lalu diseret ke dekat pohon-pohon di kaki bukit, kemudian diikat pada batang pohon-pohon itu. Seng Kun diikat pada sebatang pohon bersama adiknya, Bwee Hong, saling membelakangi, terhalang batang po-hon. Pek Lian diikat pada sebatang pohon yang lebih kecil, tak jauh dari situ, demikian pula A-hai diikat pada sebatang pohon. Mereka hanya dapat saling pandang, tidak tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka. Mereka tidak tahu apa artinya "upacara hio" yang dikatakan oleh pemuda kurus itu dan tidak berani menduga - duga.
"Koko " Terdengar bisikan suara Bwee Hong
yang ditujukan kepada kakaknya di balik batang pohon. "Ya ?" kakaknya menjawab. Orang-orang
Tai - bong - pai berjaga - jaga agak jauh dari situ dan mereka itu agaknya sibuk dengan sesuatu bahkan ada yang dari jauh datang menggotong peti mati! Karena itu, kakak beradik ini memperoleh kesempatan untuk bercakap - cakap.
"Koko, apakah tidak ada jalan keluar ?"
Suara Bwee Hong agak gemetar- Ia bukan seorang gadis penakut, akan tetapi melihat orang-orang Tai-bong-pai yang mengerikan itu menggotong peti mati, ia menjadi serem dan takut juga.
"Hong-moi, tenagaku belum pulih. Apakah engkau tidak dapat menggunakan sinkang untuk mematahkan ikatanmu dan menolongku ?" Seng Kun balas bertanya. "Belenggu ini tidak berapa
kuat, kalau engkau menggunakan tenaga Pai-hud- ciang "
"Iblis keparat itu tadi menotokku dan pengaruh totokannya masih terasa, membuat aku tidak dapat mengerahkan sinkang sekuatnya," jawab Bwee Hong lirih dan jengkel.
"Hemmm , mungkin ikatan ini terlalu kuat bagi nona Ho, akan tetapi kalau saja A - hai sadar akan kekuatannya, kalau saja dia kumat, tentu se- kali renggut akan bebaslah dia dan dengan kepan- daiannya yang hebat, dia akan dapat menyelamat- kan kita semua, tapi "
"Tapi dia dalam keadaan sadar dan lupa akan segala ilmunya itu, koko. Lalu bagaimana ?
Apa-kah kita harus menghadapi semua ancaman ini tanpa berdaya sedikitpun ?"
"Tenanglah, adikku. Aku sudah sembuh, hanya tenagaku yang belum pulih. Tunggu, aku akan mengumpulkan hawa mumi sebanyaknya dan mudah - mudahan saja usahaku tidak terlambat. Kalau tenagaku sudah pulih, aku dapat membebaskan kalian semua dan kurasa aku akan dapat pula me-nandingi ilmu sesat dari si kurus itu."
Bwee Hong lalu berdiam diri, memberi kesem-patan kepada kakaknya untuk memulihkan te- naganya dan ia sendiripun lalu menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya yang tidak dapat dikerahkan dengan baik akibat totokan yang dilakukan oleh Kwa Sun Tek terhadap diri-nya.
Malam tiba. Gelap sekali. Tempat itu hanya diterangi sebuah api unggun yang dibuat oleh orang - orang Tai - bong - pai. Cahaya api yang merah menerangi tempat itu, akan tetapi hanya re-mang-remang saja. Tidak ada angin bertiup, suasana amat sunyi menyeramkan. Di dekat api unggun berjajar empat buah peti mati dan di atas tanah dipasangi hio - hio membara yang mengeluarkan asap putih dan bau harum tapi menyeramkan. A-sap hio yang membubung tinggi itu kadang-kadang tegak lurus karena tidak banyak angin bersilir ma-lam itu.
Seng Kun yang sedang tekun sekali menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga sinkangnya, menjadi terganggu sekali oleh bau asap hio itu-
Akan tetapi dia berkeras untuk mengusir gangguan ini dan melanjutkan usahanya. Memang agak su-kar baginya karena kedudukan tubuhnya. Kalau dia melakukannya dengan bersila, tentu hasilnya akan lebih cepat. Akan tetapi, dia berdiri dan ke-dua lengannya terangkat ke atas karena terikat pa-da tali yang digantungkan pada cabang pohon itu.
Bau asap hio itu sungguh keras menusuk hi-dung. Beberapa kali A - hai sampai terbangkis. Ada duapuluh lima orang Tai - bong - pai duduk bersila mengelilingi api unggun itu dan Kwa Sun Tek sendiri duduk bersila di dekat api. Upacara hio itu agaknya dimulai!