Matahari naik semakin tinggi dan hari nampak cerah. Terdengar derap kaki kuda naik ke bukit itu menuju ke kuil. Mereka adalah tiga orang ber-pakaian perwira kerajaan yang dikawal oleh sepuluh orang pasukan berkuda. Mereka ternyata adalah pasukan pengawal gubernur daerah pantai timur dan mereka datang sebagai utusan sang gubernur yang bersekongkol dengan pemberontak Chu Siang Yu. Kwa Sun Tek menyambut mereka dan setelah melihat pakaian yang gemerlapan dan bendera pengenal itu dengan seksama, dia merasa heran sekali. Setelah menyambut dengan ucapan selamat datang, dia bertanya.
"Maaf, sam - wi ciangkun (tiga perwira), apakah tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan ke-curigaan dan perhatian orang dengan pakaian sera-gam sam - wi seperti ini ?"
Perwira yang berkumis tebal tertawa. "Ah, sa-ma sekali tidak. Bahkan kami kira lebih aman be-gini. Orang - orang tentu mengira bahwa kami se-dang menjalankan tugas atau sedang meronda. Dan pertemuan ini adalah pertemuan penting, kami tidak ingin menjatuhkan martabat kami!"
Kwa Tek Sun mengangguk - angguk dengan alis dikerutkan karena diam - diam dia merasa bahwa orang - orang pemerintah ini sungguh berpeman-dangan sempit dan bodoh. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani banyak mencela lagi dan memper-silahkan tamu - tamu itu duduk di sebelah dalam, di mana terdapat sebuah ruangan dan di situ telah tersedia bangku - bangku untuk menerima para ta-mu. Karena pertemuan itu adalah pertemuan rahasia, maka tempat pertemuanpun seadanya dan tidak ada yang mengeluh karena hal ini.
Beberapa orang anggauta Tai-bong-pai datang menghadap Kwa Sun Tek, melaporkan bahwa ada sebuah perahu besar berlabuh. Tak lama kemudian, nampak seorang raksasa tua berjenggot putih me-langkah lebar menuju ke kuil, diiringkan pasukan asing yang bersenjata lengkap. Itulah kepala suku yang memimpin pasukan asing peranakan Mongol itu. Setelah utusan ketiga golongan itu datang, per-temuan segera diadakan. Yang mengadakan perca-kapan dalam rapat rahasia itu adalah Kwa Sun Tek, tiga orang perwira, dan Malisang, yaitu kepala suku peranakan Mongol yang tinggi besar itu. Anak buah Tai - bong - pai, pasukan pengawal gubernur, dan juga anak buah Malisang berjaga di luar dan di sekitar kuil.
"Chu - bengcu (pemimpin rakyat Chu) meng-hendaki agar gerakan di timur dimulai dari pantai ini," antara lain Kwa Sun Tek menyampaikan pe-rintah Chu Siang Yu. "Di bagian barat, gerakan pa-sukan Chu-bengcu telah berhasil merebut beberapa kota dan dusun."
"Memulai gerakan mudah saja, akan tetapi kita harus melakukan penyelidikan dengan seksama akan kekuatan penjagaan di setiap daerah," kata si raksasa peranakan Mongol yang bernama Malisang itu.
"Tentu saja dan tentang hal itu, kami percaya sam - wi ciangkun ini tentu lebih paham," kata Kwa Sun. Tek. Sebelumnya, mereka semua memang sudah sepakat untuk membagi gerakan mereka menjadi dua bagian. Bagian barat digerakkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu sendiri, sedangkan bagian timur dilakukan oleh gabungan sekutu mereka, yaitu pasukan peranakan Mongol dan pasukan gubernur dan para pejabat tinggi. Adapun pasukan Tai - bong - pai yang hanya ber-jumlah kecil hanya bertugas membantu sana - sini untuk tugas - tugas praktis. Perwira berkumis tebal mengangguk - angguk. "Hal itu sudah kami selidiki. Panglima kerajaan yang ditempatkan di daerah timur ini adalah Lai-goanswe (Jenderal Lai), bawahan Jenderal Beng Tian yang dipercaya. Dia seorang ahli perang yang pandai, juga memiliki pasukan yang terdidik dan terlatih baik. Harus diakui bahwa bukan merupa-kan pekerjaan ringan untuk
menandingi pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Lai itu."
Kwa Tek Sun berkata, "Chu - bengcu juga su-dah tahu akan hal itu dan karenanya beliau meng-utus kami dari Tai - bong - pai untuk mencari jalan baik membantu gerakan saudara sekalian. Kami sudah mendengar berita bahwa sebagian pasukan pendekar pimpinan Liu Pang juga berada di daerah ini. Kami akan berusaha agar terjadi bentrokan antara pasukan Liu Pang dan pasukan Jenderal Lai. Kalau mereka itu bentrok sendiri, maka tugas kita untuk membuka dan memulai gerakan di ti-mur ini akan menjadi lancar dan mudah."
Semua orang mengangguk tanda setuju. Lalu seorang di antara tiga perwira itu berkata, "Akan tetapi, bagaimana hal itu dapat dilakukan ? Bukan-kah kaisar telah mengampuni para menteri, bahkan akan mengembalikan kedudukan mereka dan semua itu dilakukan kaisar untuk memberi hati ke-pada Liu Pang dan anak buahnya ?"
"Memang benar demikian," jawab Kwa Sun Tek yang sebagai pembantu terpercaya dari Chu Siang Yu, agaknya mengenal baik keadaan negara pada waktu itu. "Karena itulah, maka Liu Pang bersikap lembut kepada kaisar dan bahkan melakukan gerakan membantu pasukan kerajaan menentang kita. Bahkan Liu Pang agaknya telah sadar bahwa yang meniup - niupkan kebencian antara pasukannya dan pasukan pemerintah adalah pihak kita, maka dia bersikap hati - hati. Kami telah mendengar kabar bahwa dia telah mengutus wakilnya ke daerah ini untuk menghubungi Lai - goanswe dan untuk me-nyampaikan iktikad baiknya membantu pemerintah menghadapi pemberontakan. Selain itu, juga ka-barnya dia hendak menanyakan mengapa janji kai-sar untuk mengembalikan para menteri ke tempat kedudukan masing-masing, sampai sekarang belum juga terlaksana."
Kini Malisang, raksasa Mongol yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk - angguk maklum. "Ah, jadi kalau be-gitu, Chu - bengcu yang memerintahkan agar Men-teri Ho dibawa ke daerah ini, sebenarnya ada hu-bungannya dengan persoalan ini ?"
"Benar demikian!" kata Kwa Sun Tek. "Men-teri Ho dapat kita pergunakan sebagai alat untuk memecah belah di antara pihak perajurit kerajaan dan pihak anak buah Liu Pang. Dengan demikian maka usaha Liu Pang untuk berdekatan dengan pihak pemerintah akan gagal dan itu merupakan keuntungan yang tak ternilai harganya bagi kita"
"Eh, bagaimana caranya ?" tanya perwira ber-kumis tebal.
Biarpun di ruangan itu hanya ada mereka ber-lima dan kuil itu dijaga oleh banyak sekali anak buah mereka, namun sebelum menjawab orang she Kwa yang kurus itu menengok ke kanan kiri lebih dulu, kemudian berbisik, "Mendekatlah ke sini dan dengarkan baik - baik rencana yang telah diatur oleh
Chu - bengcu " Mereka lalu berbisik - bisik dengan kepala saling berdekatan.
***
Empat orang muda itu, Chu Seng Kun, A - hai, Ho Pek Lian, dan Chu Bwee Hong, masih berada di dalam kamar kuil di mana mereka ditahan dan kamar itu dijaga ketat oleh orang - orang Tai-bong-pai. Seng Kun hanya duduk bersila dan berusaha untuk memulihkan kesehatannya. Dia baru saja mengalami keracunan ketika bersama A-hai dia menjadi tawanan Jeng - bin Siang - kwi, dua orang wanita iblis dari Ban - kwi - to itu. Dan belum juga kesehatannya pulih, dia harus mengalami hal-hal yang berat, bahkan terlempar ke lautan, dan baru saja dia terkena pukulan ampuh dan kuat dari Kwa Sun Tek. Memang tubuhnya sudah tidak keracun-an, akan tetapi masih lemah dan tenaganya belum pulih benar. Agaknya A - hai memang memiliki tubuh yang luar biasa sekali maka pengaruh racun-racun itu tidak begitu hebat terasa olehnya dan tubuhnya tidak kelihatan lemah.
Pek Lian, seperti juga Bwee Hong dan A-hai, duduk di atas lantai kamar itu dan termenung. Da-ra ini diam - diam merasa gelisah sekali memikirkan ayahnya. Ia sama sekali tidak pernah mengira bah-wa pada saat itu justeru nama ayahnya disebut-sebut dan menjadi bahan percakapan antara orang-orang yang sedang mengadakan rapat di ruangan dalam kuil itu. Sebagai murid dari Liu Pang, dan sebagai pemimpin dari pasukan pendekar, tentu saja Ho Pek Lian juga tahu akan keadaan negara pada waktu itu. Ia tahu pula akan gerakan Chu Siang Yu yang menentang kaisar dengan ambisi untuk merampas kedudukan. Gadis yang banyak berkecimpung dalam pergolakan negara itu dapat mengumpulkan data - data bahwa pada waktu itu, negara sedang kacau-balau dan terjadi perpecahan-perpecahan dan pemberontakan - pemberontakan akibat dari kelaliman kaisar. Kaisar yang agaknya menurutkan bisikan beracun para pembantunya yang palsu, telah melakukan banyak hal yang mem-bangkitkan kemarahan rakyat. Bukan hanya me-nindas rakyat dengan pekerjaan berat yang mema-kan banyak korban jiwa seperti pembangunan Tem-bok Besar, juga kaisar telah membakar kitab-kitab kaum sasterawan, bahkan mengejar dan membunuh banyak sasterawan dan pendekar. Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan di kalangan rakyat dan menimbulkan pemberontakan - pemberontakan- Pek Lian mjaklum bahwa golongan gurunya adalah ka-um pendekar yang menentang kelaliman kaisar untuk membela rakyat dan mereka tidak berambisi mengejar kedudukan. Kalau kaisar dapat merobah sikapnya dan rakyat tidak menderita, tentu gerak-an Liu Pang ini akan berhenti pula. Golongan ke dua adalah golongan pemberontak yang tadinya bermarkas di lembah Yang - ce, yaitu pemberon-tak yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, pemberon-takan yang berpamrih merampas kedudukan. Ten-tu saja selain golongan pendekar yang dipimpin-nya bersama suhunya itu dan golongan pemberon-tak pimpinan Chu Siang Yu, juga ada golongan pemerintah sendiri yang menentang pemberontak-an, yaitu bala tentara pemerintah yang memiliki
banyak jenderal - jenderal yang tangguh terutama jenderal Beng Tian. Kemudian, gadis inipun meli-hat munculnya golongan baru yaitu golongan kaum sesat yang agaknya akan dihimpun dan dibangun oleh seorang tokoh sesat yang menyeramkan, yaitu Bit - bo - ong Si Raja Kelelawar
!
Sementara itu Bwee Hong juga duduk bersila mengumpulkan hawa murni karena bagaimanapun juga, setelah mengalami segala hal yang mengeri-kan di Kepulauan Selaksa Setan itu dan telah be-berapa kali keracunan, walaupun racun telah lenyap dari tubuhnya, namun ia perlu beristirahat dan memulihkan kekuatannya. A - hai sendiri juga du-duk di lantai, dan pemuda ini dengan bengong memandang kepada Bwee Hong penuh kagum, dan kadang - kadang dia menoleh dan memandang ke-pada Pek Lian, alisnya berkerut seperti orang hen-dak mengingat- ingat namun lupa segalanya.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan muncul lah pemuda kurus yang menawan mereka tadi. Kiranya rapat itu telah bubar dan para tamu telah pergi. Kwa Sun Tek menghampiri empat orang muda itu dan menjura dengan sikap hormat. "Harap maafkan kami bahwa terpaksa kami me-nahan kalian berempat di sini karena kami mem-punyai urusan yang sangat penting. Tak seorang-pun boleh melihat atau mendengar urusan kami itu.
Akan tetapi setelah sekarang urusan selesai, kalian boleh meninggalkan tempat ini."
Pek Lian dan kawan - kawannya tentu saja me-rasa mendongkol sekali. Apa lagi mengingat bah-wa mereka ini adalah orang - orang Tai-bong-pai, anak buah Kwa Siok Eng yang mereka kenal de-ngan baik. Akan tetapi, mereka tidak sudi berurus-an dengan orang - orang kasar ini dan di dalam hati saja mereka itu berjanji akan melaporkan sikap orang - orang Tai - bong - pai ini kepada Kwa Siok Eng kelak kalau mereka berkesempatan bertemu dengan dara puteri ketua Tai - bong - pai itu. Tan-pa bicara dan tanpa pamit mereka berempat lalu pergi meninggalkan kuil, menuruni bukit dan me-nuju ke pantai kembali.