Halo!

Darah Pendekar Chapter 131

Memuat...

- akan berebut dan berlomba untuk memperolehnya, ka-lau perlu dengan cara apapun juga, dengan jegal-jegalan, dengan pukul - pukulan, dan saling gasak, saling bermusuhan dan saling bunuh. Kita selalu

mementingkan tujuan sehingga muncullah cara-cara yang sesat. Kita seolah - olah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Pa

***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***

dyang menjadi langkah - langkah dalam hidup kita, penuh dengan kepalsuan seperti sekarang ini, tidak wajar lagi karena setiap langkah hidup, setiap kelakuan dan perbuatan kita, hanya merupakan jembatan untuk dapat membawa kita ke arah tujuan yang kita kejar - kejar.

Demikian pula dengan Song - bun - kwi Kwa Sun Tek. Dia mempunyai ambisi besar, mempunyai cita - cita yang menjadi tujuannya, yaitu hidup se-bagai seorang penguasa, dan untuk mencapai tujuan ini, cara apapun akan dipergunakannya. Dan dia melihat kesempatan dan harapan untuk dapat men-capai cita - citanya itu melalui persekutuan dengan pihak pemberontak yang menentang dan hendak menggulingkan kaisar.

Pada waktu itu, para pemberontak memang te-ngah menyusun kekuatan. Seperti telah kita keta-hui, pemerintah mengerahkan pasukan - pasukan kuat yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian yang dibantu pula oleh Pek - lui - kong Tong Ciak, dan berkat kepandaian dua orang tokoh istana ini, pa-sukan - pasukan para pemberontak di sekitar Lem-bah Yang - ce telah diobrak - abrik dan dihancurkan. Banyak yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai. Pasukan - pasukan pemberontak itu adalah sebagian besar pasukan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu, yaitu pemimpin para pemberontak yang lihai, keturunan Jenderal Chu yang amat terkenal sepanjang sejarah. Setelah pasukannya dihancurkan oleh pemerintah, Chu Siang Yu bukan mundur, sebaliknya hal ini malah mengobarkan semangat nya untuk membalas dendam. Cita - citanya seting-gi langit, yaitu untuk merebut kekuasaan kaisar! Dan untuk mencapai cita - cita ini, dia mengorban-kan semua harta bendanya dan kepandaiannya, mengumpulkan orang - orang gagah, dihimpun dan dibujuk, dibakar semangat mereka sampai akhirnya dia memiliki banyak pengikut yang setia.

Kini Chu Siang Yu mengadakan persekutuan rahasia dengan fihak mana saja yang dapat meng-untungkan gerakannya. Dia merasa sakit hati ka-rena daerahnya, yaitu Lembah Yang-ce yang subur itu direbut pemerintah. Mulailah dia memimpin anak buahnya yang jumlahnya cukup banyak sam-pai melebihi selaksa orang itu untuk bergerak menggempur dari timur. Desa demi desa, sampai kota demi kota direbutnya. Gerakan itu baru berhenti ketika bala tentara kerajaan datang menyam-but dan menggempurnya. Pasukan pemberontak yang dipimpin Chu Siang Yu menjadi kewalahan dan terpaksa mundur, lalu pemimpin pemberontak ini mengadakan persekutuan dengan para pembesar di wilayah timur. Sampai gubernur daerah pantai timur ditempel dan dipengaruhinya. Di samping ini, juga dia tidak segan-segan untuk bersekutu dengan orang-orang asing dari utara, peranakan Mongol yang memiliki pasukan yang cukup kuat. Pendeknya, untuk mencapai cita-citanya, yaitu menggulingkan kekuasaan kaisar, cara apapun akan ditempuhnya. Maka, bersekutu dengan orang asingpun bukan merupakan sesuatu yang diharamkan. Kemudian, diapun mengajak orang-orang Tai - bong - pai bersekutu setelah melihat betapa pemuda Tai - bong - pai, Kwa Sun Tek, kelihatan berambisi besar. Pasukan Tai - bong - pai memang tidak dapat dikata besar untuk dipergu-nakan dalam perang. Akan tetapi sama sekali tidak kecil artinya mengingat bahwa pasukan itu adalah orang - orang yang ahli dalam mempergunakan racun sehingga mereka itu dapat meniadi pasukan istimewa. Juga pemuda itu lihai sekali ilmu silat-nya, dapat menjadi pembantu yang amat mengun-tungkan

Demikianlah, pada hari itu, di dalam kuil di atas bukit dekat pantai itu akan diadakan pertemu-an rahasia antara pemberontak pimpinan Chu Siang

Yu yang diwakili oleh Kwa Sun Tek yang sudah mendapat kepercayaan dari pimpinan itu, lalu pa-sukan Mongol yang dipimpin sendiri oleh kepala mereka, seorang bertubuh raksasa yang bertenaga besar sekali, dan utusan gubernur dan para pejabat daerah.

Gerakan Chu Siang Yu ini diam - diam diikuti oleh para pendekar, yaitu para pendekar penentang kaisar karena kelalimannya, para pendekar yang bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Liu Pang. Di antara para kelompok atau gerombolan pemberontak yang timbul di sana - sini pada jaman itu, yang patut disebut hanyalah pasukan pimpinan Chu Siang Yu dan para pendekar pimpinan Liu Pang. Pasukan Chu Siang Yu memang lebih besar jumlahnya, namun pasukan Liu Pang yang tidak berapa besar itu terdiri dari para pendekar yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi. Apa lagi, karena Liu Pang berasal dari ke-luarga tani sederhana dan di antara para pendekar-pun dia disebut dengan sebutan sederhana, yaitu Liu- twako, maka dia memperoleh dukungan dari rakyat jelata, terutama kaum tani. Sebaliknya, Chu Siang Yu adalah keturunan ningrat dan untuk membangkitkan semangat para pengikutnya, dia menjanjikan pangkat-pangkat dan kemuliaan. Ber-beda dengan Liu Pang yang didukung oleh orang-orang yang ingin "berbakti" kepada nusa dan bangsa, ingin menjadi pahlawan dan patriot.

Memang banyaklah "cara" untuk menggerakkan manusia menuju kepada cita - cita. Dalam hal pe-perangan, caranya hanyalah kekerasan, kekejaman, saling bunuh dan memperebutkan kemenangan. Jadi, kemenangan itulah tujuannya. Akan tetapi tentu saja bukan tujuan terakhir karena kemenang-an itu hanyalah merupakan "jembatan" saja untuk mencapai yang diidam - idamkan, yaitu kedudukan-kehormatan, kemuliaan, harta benda. Para pimpin-an yang berambisi pandai sekali membangkitkan semangat rakyat dengan berbagai cara. Ada yang membangkitkannya melalui kepahlawanan, patriot atau pejuang, rela berkorban nyawa! Ada pula yang membangkitkan semangat melalui janji - janji muluk, kedudukan, kehormatan, kemuliaan atau harta benda. Apapun tujuannya, kalau caranya adalah saling bunuh dengan kejam, sudah dapat dipastikan bahwa tujuannya itupun hanya merupa-kan pementingan diri sendiri, pemuas kehausan nafsu sendiri belaka, mencari sesuatu yang diang-gap akan mendatangkan kesenangan hidup, seperti kedudukan, kemuliaan, kehormatan dan harta ben-da !

Gerakan Chu Siang Yu yang membalas dendam kepada pemerintah ini, mula - mula memang didi-amkan saja oleh Liu Pang. Pada waktu itu, memang kelaliman kaisar membuat rakyat menderita. Rak-yat ditindas, dipaksa bekerja membuat Tembok Besar, kaum sasterawan dikejar-kejar dan dibunuh, menteri - menteri yang setia dan jujur dipecat dan dihukum, hukum rimba berlaku di mana - mana. Karena itu, rakyat membenci kaisar dan pemerin-tahnya. Dan karena ini pula, maka melihat gerakan Chu Siang Yu, Liu Pang dan pasukannya mendiam-kannya saja, menganggap bahwa memang sudah sepatutnya kalau kaisar ditentang. Akan tetapi, setelah mendengar bahwa Chu Siang Yu bersekong-kol dengan pasukan asing, Liu Pang menjadi marah sekali dan mencap Chu Siang Yu sebagai seorang pengkhianat yang hendak menjual negara kepada orang asing. Maka bergeraklah Liu Pang, memim-pin pasukan para pendekar, membantu tentara kerajaan dan menggempur pasukan asing yang bersekongkol dengan pasukan pemberontak Chu Siang Yu-

Karena pasukan Liu Pang merupakan pasukan istimewa yang menggiriskan, rata - rata memiliki ilmu silat tinggi, maka pasukan pemerintah berha-sil merebut kembali dusun dan kota yang jatuh ke tangan bala tentara pemberontak Chu Siang Yu.

Marahlah pimpinan pemberontak she Chu itu dan mulai saat itu, dia menganggap Liu Pang se-bagai saingan dan juga musuh. Dan biarpun per-musuhan di antara mereka tidak atau belum terjadi secara terbuka, namun di dalam hati masing-imasing mereka itu telah menganggap masing

- masing se-bagai musuh dan saingan berbahaya.

Akan tetapi, bantuan dari Liu Pang dan kawan-kawannya inipun tidak dapat diterima begitu saja oleh pihak pemerintah. Para pendekar itu terkenal sebagai orang - orang yang mendukung para sas-terawan dan menteri yang diperlakukan dengan se-mena - mena oleh kaisar, dan mereka itupun diang-gap sebagai pemberontak. Mereka selalu dicurigai dan hubungan antara mereka tidak akrab sama se-kali. Padahal, ketika Chu Siang Yu memberontak dibantu oleh pasukan asing itu, Liu Pang benar-benar berniat membantu pemerintah. Apa lagi ketika mendengar keputusan kaisar yang mengam-puni para menteri yang telah dipecat, hal ini me-nimbulkan suka di hati para pendekar.

Chu Siang Yu maklum akan sikap pemerintah yang mencurigai Liu Pang, maka di manapun juga, dia menyuruh anak buahnya untuk menyebar fit-nah dan berita-berita bohong untuk memanaskan suasana dan untuk mengadu domba antara pasukan para pendekar dengan pasukan pemerintah !

Demikianlah keadaan pemerintah yang dirong-rong oleh para pemberontak pada waktu itu dan si kurus Kwa Sun Tek bersama anak buahnya te-ngah menanti datangnya para tamu penting pada hari itu.

Post a Comment