Mereka berempat duduk di tepi pantai ketika tiba - tiba hidung mereka mencium bau harum du-pa ! Cuping hidung mereka kembang - kempis dan mereka menoleh ke kanan kiri. Pantai lautan itu sunyi dan tidak nampak adanya manusia lain, na-mun jelas bahwa yang tercium oleh miereka itu adalah bau dupa harum. Pek Lian dan Bwee Hong saling pandang dan berbareng mereka berbisik, "Dupa harum kaum Tai - bong - pai!"
"Adik Siok Eng selamat !" kata Pek Lian
girang karena mengira bahwa tentu dara puteri ketua Tai - bong - pai itu yang mengeluarkan bau dupa harum seperti ini.
Akan tetapi, mereka berempat memandang de-ngan curiga dan khawatir ketika muncul belasan orang laki - laki kasar yang dipimpin oleh seorang pria berusia kurang lebih tigapuluh tahun yang berperawakan kurus. Orang ini juga kelihatan ka-sar dan menyeramkan. Pakaiannya serba putih, rambutnya awut-awutan dan kaku, mukanya se-perti muka mayat saja, pucat dan jarang bergerak. Wajah itu sebetulnya tampan, akan tetapi karena pucat dan tak bergerak seperti mayat, maka me-nyeramkan sekali. Begitu tiba di situ, belasan orang itu segera mengurung dan bau hio semakin keras.
Empat orang itu bangkit berdiri dan Pek Lian cepat menjura ke arah pemuda yang seperti mayat itu. "Kami adalah sahabat - sahabat dari adik Kwa Siok Eng. Di manakah dia ? Apakah ia selamat?"
Akan tetapi, pertanyaan ini agaknya membuat belasan orang itu marah - marah. Mereka menge-pal tinju dan memandang dengan sikap mengan-cam. Pek Lian tidak tahu bahwa pertanyaan kese-lamatan merupakan pantangan bagi para anggauta Tai - bong - pai! Mereka itu menganggap diri mereka sebagai keluarga kuburan, sebagai orang-orang yang telah mati, maka pertanyaan tentang kesela-matan itu seperti ejekan atau penghinaan saja bagi mereka ! Pemuda pucat itupun marah - marah dan tanpa banyak cakap dia sudah mengeluarkan tong-katnya dan menyerang Pek Lian.
"Eh, eh gila !" Pek Lian cepat meng-
elak, akan tetapi sambaran tongkat itu lihai bukan main seolah - olah tongkat itu bernyawa dan terus mengikuti ke mana ia mengelak, sampai Pek Lian terpaksa bergulingan menyelamatkan diri.
"Manusia jahat!" Bwee Hong membentak sam-bil menotok dari belakang ke arah punggung pemuda miuka pucat itu. Akan tetapi, biarpun totok-an yang dilakukan oleh Bwee Hong itu bukan sem-barang totokan melainkan ilmu keturunan dari Si Tabib Sakti, ternyata pemuda itu mampu mengelak dengan cekatan ! Diam - diam Bwee Hong terke-jut juga, dan maklumlah dara perkasa ini bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh.
Pek Lian dapat bernapas lega karena serangan bertubi - tubi tadi tidak dilanjutkan dan kini pemuda mengerikan itu telah ditandingi oleh Bwee Hong yang jauh lebih lihai dari padanya. Akan te-tapi ia sendiripun tidak dapat tinggal enak - enakan karena belasan orang sudah mengeroyoknya dengan sengit. Kiranya para anggauta Tai - bong - pai itu membencinya karena pertanyaan keselamatan tadi! Tentu saja Pek Lian melawan mati - matian dan untung baginya bahwa tingkat kepandaian para anggauta Tai - bong - pai ini tidaklah sehebat pemuda muka pucat itu. Biarpun demikian, repot jugalah ia karena dikeroyok oleh belasan orang ka-sar dan ia sendiri bertangan kosong. Pedangnya telah hilang ketika ia terlempar ke lautan.
Keadaan Bwee Hong sama buruknya dengan Pek Lian. Ternyata pemuda kurus pucat itu lihai bukan main ! Dan makin kagetlah hati Bwee Hong ketika melihat betapa pemuda itu mengeluarkan ilmu - ilmu yang mujijat dari Tai - bong - pai, ilmu-ilmu yang pernah didengarnya. Begitu sebuah pu-kulan menyerempet lengannya, ia melihat lengan bajunya menjadi merah dan ternyata darah telah keluar dari lubang pori-pori kulit lengannya! Tahulah ia bahwa itu adalah ilmu mengerikan dari Tai - bong - pai yang disebut Pukulan Penghisap Darah! Dan tenaga pemuda kurus itu sungguh membuatnya pening, karena tenaga sinkang yang amat kuat itu mengeluarkan bau asap hio wangi! Selain Tenaga Sakti Asap Hio ini, yang membuat keringat pemuda itu berbau dupa, juga ilmu silatnya aneh dan mengerikan. Tentu itulah yang dina-makan Ilmu Silat Mayat Hidup karena kadang-ka-dang gerakan pemuda itu kaku seperti mayat hidup. Hanya dengan kelebihan ginkang (ilmu meringan-kan tubuh) sajalah maka sampai sekian lamanya Bwee Hong masih mampu mempertahankan diri dan tidak sampai terkena pukulan - pukulan ampuh itu. Entah mana yang lebih berbahaya, sinar tong-kat yang menyambar-nyambar itu ataukah cengke-raman tangan kiri itu.
"Jangan berkelahi ah, jangan berkelahi. !"
A - hai berteriak - teriak kebingungan, mengangkat kedua tangan ke atas dan lari ke sana ke
sini.
Dengan matanya yang bersinar tajam, Seng Kun dapat melihat bahwa adik kandungnya
terancam bahaya besar. Pukulan - pukulan orang kurus pucat itu sungguh amat ampuh dan dia tahu bahwa sekali terkena pukulan itu, tentu adiknya akan terluka parah dan mungkin akan keracunan. Dia sendiri masih amat lemah, tenaganya belum pulih benar, akan tetapi tentu saja tak mungkin dia mendiamkan adiknya terancam bahaya tanpa membantu. Meli-hat betapa adiknya ini hanya dapat mengelak ke kanan kiri mengandalkan kegesitannya, Seng Kun lalu meloncat ke depan dan membantu adiknya, mengirim pukulan yang merupakan tamparan ta-ngan kanan ke arah leher pemuda kurus pucat itu.
Hebat tamparan ini dan si muka pucat terkejut,
lalu diapun menggunakan lengan kiri menangkis sambil mengerahkan tenaga. "Wuuuuttt ! Plakkk ! !"
Pertemuan dua tenaga sinkang yang kuat itu amat hebat dan seandainya keadaan Seng Kun sehat - sehat seperti biasa, belum, tentu dia kalah kuat. Akan tetapi, dia masih belum pulih benar kesehatan dan kekuatannya, maka pertemuan tena-ga itu tidak dapat tertahan oleh tubuhnya yang masih lemah. Dia terdorong ke belakang dan terpelanting ke atas tanah, sedangkan si muka pu-cat itu hanya terhuyung mundur.
* * *
KOKO !" Bwee Hong menubruk kakak- nya yang terengah - engah bangkit duduk
itu, dan A-hai juga mendekatinya. Juga Pek Lian yang masih menghadapi pengeroyokan belasan orang anggauta Tai - bong - pai itu menengok. Perbuatan ini mencelakakan dirinya karena tahu- tahu belasan orang telah menubruknya dan betapa- pun ia meronta, tetap saja ia tertangkap, dan kaki tangannya dibelenggu sampai dara ini tidak mampu bergerak lagi.
Sementara itu, si kurus pucat sudah menyerang lagi, tongkatnya bergerak seperti kitiran cepatnya dan menyerang ke tubuh Bwee Hong. A-hai meng-hadang di depan, bertolak pinggang sambil berkata, "Eh, eh, mengapa kalian menyerang orang - orang tak berdosa ?"
Melihat sikap A-hai yang begitu polos, agaknya si kurus pucat itu menjadi tertegun dan malu. "Ka-mi harus menawan kalian dan baru akan kami be-baskan setelah urusan kami di tempat ini selesai," katanya, seperti mayat bicara.
"Kalau cuma begitu, kenapa tidak bicara dari tadi ? Tanpa kekerasanpun, kami tidak akan mela-wan. Silahkan kalau mau menawan kami!" Men-dengar ini, diam - diam Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun tercengang. Pemuda ini sungguh penuh keanehan, kadang - kadang sikapnya begitu matang, tenang dan menguasai keadaan. Dan memang si-kapnya itu membuat si pemuda kurus pucat men-jadi serba salah.
"Baiklah, kalau begitu kalian ikut bersama kami Asal tidak melawan kamipun tidak akan menggu-nakan kekerasan," katanya dan dengan isyarat ta-ngan ia memerintahkan anak buahnya membebas-kan Pek Lian dari belenggu. Lalu mereka ber-empat digiring oleh belasan orang itu ke sebuah bukit yang letaknya tak jauh dari pantai itu.
Siapakah pemuda kurus pucat yang amat lihai itu ? Dia memang bukan orang sembarangan. Na-manya Kwa Sun Tek dan dia adalah putera dari ketua Tai - bong - pai. Kwa Siok Eng adalah adik kandungnya! Pemuda kurus ini telah mewarisi ilmu-ilmu Tai - bong - pai dari ayahnya, maka tentu saja dia lihai sekali, lebih lihai dari pada adiknya dan semuda itu dia telah dijuluki Song-bun-kwi (Setan Berkabung) yang sesuai dengan pakaiannya yang serba putih.
Empat orang muda itu dibawa masuk ke dalam sebuah kuil kosong yang berada di puncak
bukit. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar dan dijaga ketat oleh belasan orang anak buah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Dan di tempat itu terdapat puluhan orang anak buahnya yang lain. Mereka kelihatan seperti sedang menunggu kedatangan tamu.
*
* * *
Mengapa putera ketua Tai - bong - pai berada di tempat itu dan siapakah yang dinantikannya ? Dan biarpun Pek Lian telah menyebut nama Kwa Siok Eng, adik kandungnya, mengapa pemuda kurus pucat itu seakan - akan tidak memperdulikan nama adiknya ?
Song - bun - kwi Kwa Sun Tek tak dapat diban-dingkan dengan adiknya. Dan diapun telah me-nyeleweng dari pada peraturan dan kebiasaan Tai-bong - pai. Tai - bong - pai semenjak dahulu memang tersohor sebagai perkumpulan rahasia yang penuh misteri, penuh dengan keanehan, akan tetapi biarpun perkumpulan ini dapat digolongkan seba-gai perkumpulan hitam atau sesat, namun Tai-bong - pai memiliki keangkuhan dan tidak pernah mau melibatkan diri dalam urusan orang-orang lain.
Namiun Kwa Sun Tek tak dapat mempertahan-kan tradisi nenek moyangnya. Dia tidak sama seperti nenek moyangnya yang selalu mempertahan-kan keangkuhan sebagai pimpinan suatu golongan tersendiri yang tidak tunduk kepada siapapun dan tidak bersekutu dengan siapapun, mielainkan meng-andalkan kekuatan sendiri malang - melintang di dunia kang - ouw. Kwa Sun Tek termasuk seorang muda yang ambisius dan diam - diam dia menga-dakan persekutuan dengan golongan - golongan yang hendak mengadakan pemberontakan terhadap kerajaan ! Dia mengharapkan kalau sampai pem-berontakan itu berhasil, dia akan memperoleh ke-dudukan. Kemuliaan dalam kedudukan tinggi ini-lah yang diidamkannya, karena yang lain - lain, seperti kekayaan, kepandaian dan nama besar sudah dimilikinya sebagai putera ketua Tai - bong - pai.
Setiap orang manusia di dunia ini tentu pernah mengalami dorongan hasrat untuk mengejar dan memperoleh kemuliaan hidup ini. Hampir semua orang dicengkeram hasrat ini, keinginan untuk memperoleh kemuliaan hidup yang dianggapnya sebagai sumber dari pada kesenangan ! Dan ke-muliaan hidup ini mereka lihat bersembunyi di dalam beberapa hal. Dalam kedudukan dan ke-hormatan. Dalam harta benda. Dalam kekuasaan. Inilah sebabnya mengapa kita semua seakan