Halo!

Darah Pendekar Chapter 129

Memuat...

tiba terdengar teriakan wanita penjaga di atas. Se- mua orang keluar dari bilik dan memandang ke depan. Benar saja, remang - remang nampak sebu- ah perahu besar di depan, bahkan kini perahu besar itu mulai menyalakan lampu lampunya yang cukup banyak.

"Eh, itu perahu Mongol yang dipimpin orang-orang bermuka merah dan berambut putih itu!" Tiba-tiba Pek Lian berseru.

"Benar sekali, adik Lian!" seru Bwee Hong.

"Di mana engkau mendengar suara ayahmu itu, nona Ho ?" tanya Seng Kun dengan hati tertarik. Dia sudah mendengar dari Pek Lian dan Bwee Hong tentang pengalaman mereka ketika berpisah darinya.

"Kalau begitu, kita harus menolong Menteri Ho !" kata Yap - lojin yang juga berjiwa gagah dan sudah lama kagum kepada menteri itu. Sejak da-hulu dia memang tidak suka kepada keluarga kaisar, dan inilah sebabnya mengapa dia sampai cekcok dengan isterinya karena isterinya, bibi dari kaisar, mengajaknya menghambakan diri kepada kaisar. Sejak dahulu Yap - lojin berpihak kepada para pendekar dan orang gagah yang menentang kelaliman, maka kini mendengar bahwa mungkin Menteri Ho yang dikaguminya itu tertawan musuh dan berada di perahu besar di depan, timbul sema-ngatnya untuk menolong menteri itu.

"Kita kejar perahu di depan !" katanya penuh semangat dan sikapnya ini tentu saja menggirang-kan hati Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian yang memang bertugas untuk menyelamatkan Menteri Ho. Layar cadangan dipasang dan perahu melaju cepat menyusul perahu besar di depan.

"Ayah, aku mendengar bahwa orang - orang dari utara itu bukan orang Mongol asli dan mereka adalah ahli - ahli di lautan. Kulihat perahu besar itu tentu kuat sekali dan banyak anak buahnya. Perahu kecil kita dengan tenaga kita yang sedikit ini mana dapat menang ? Pula, perlu apa kita men-campuri urusan orang lain dan menanam permu-suhan dengan mereka ?" Yap Kim berkata. Mendengar ucapan putera kandungnya ini, se-pasang mata Yap - lojin melotot. "Apakah engkau tidak tahu siapa adanya Menteri Ho itu ? Dia ada-lah seorang patriot besar, seorang menteri yang setia dan bersih, jujur, berani menentang kelaliman

kaisar dan pembela rakyat jelata. Dan kau bilang mencampuri urusan orang lain kalau kita kini hen-dak menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh-nya yang menawannya ? Sungguh ucapan yang tolol sekali. Tolol!"

Yap Kini menarik napas panjang. "Maaf, ayah. Bukan maksudku untuk bersikap pengecut dan tentu aku akan membantu ayah dengan taruhan nyawa. Hanya kupikir, bodoh sekali dan sama se-kali bukan gagah kalau nekat menyerbu lawan yang jauh lebih kuat. Dan agaknya di dunia ini terlalu banyak terjadi permusuhan karena pencampurta-nganan pihak ke tiga."

Sang ayah tidak membantah lagi walaupun amat marah karena ketika itu, perahu mereka telah ber-dekatan dengan perahu besar di depan yang agak-nya juga memperlambat pelayaran dan menanti mereka. Dan tiba - tiba saja, para perajurit di atas perahu besar itu bersorak - sorak dan menghujan-kan anak panah ke arah perahu para pendekar! Bukan anak panah biasa, melainkan anak panah yang membawa api! Jarak mereka sudah terlam-pau dekat untuk serangan anak panah, akan tetapi masih terlampau jauh untuk meloncat dan menyer-bu, maka para pendekar sibuk menangkis anak pa-nah yang datang seperti hujan itu. Melihat A - hai sama sekali tidak mampu mengelak atau menang-kis, Bwee Hong sudah memutar pedangnya melindungi pemuda ini yang kelihatan ketakutan dan bingung. Para anak buah perahu sibuk memadam-kan kebakaran - kebakaran yang diakibatkan anak panah api itu, dan karena kesibukan ini, maka be- berapa orang di antara mereka roboh terkena anak panah. Keadaan menjadi kalut, apa lagi ketika ke-bakaran makin menghebat dan layar sudah terma-kan api, juga tiang layar dan perahu itupun mulai terbakar ! Sukar meloncat ke perahu musuh yang memang sengaja menjauh itu, maka tiada pilihan lain, para pendekar itu berloncatan ke air yang gelap !

Pek Lian gelagapan. Di dalam hatin ya ia me-ngeluh. Kenapa ia harus terlempar ke air lautan lagi ? Apakah sudah menjadi nasibnya untuk mati di lautan ? Ia menggerakkan kaki tangannya ber-usaha berenang ke arah perahu besar di mana didu-ga ayahnya berada. Ia ingin naik ke perahu besar itu dan mengamuk, kalau perlu mati demi membela ayahnya. Akan tetapi, perahu besar itu setelah melihat perahu kecil terbakar, lalu cepat menjauh-kan diri dan terdengar sorak - sorai para perajurit itu yang merasa memperoleh kemenangan besar. Pek Lian tidak mampu mengejar perahu itu dan ia hampir kehabisan tenaga dipermainkan gelombang.

Tiba - tiba terdengar seruan, "Adik Lian, ke si-nilah !"

Remang - remang dilihatnya Bwee Hong dan dua orang lain di atas atap perahu mereka. Atap ini masih utuh, akan tetapi perahunya entah lenyap ke mana, juga entah ke mana perginya orang-orang lain. Pek Lian mengerahkan sisa tenaganya dan akhirnya terengah - engah ia berhasil mencapai atap perahu itu dan dibantu oleh Bwee Hong dan dua orang itu yang ternyata adalah Seng Kun dan A-hai, iapun naik dan terkapar di atas papan dalam keadaan setengah pingsan.

"Nona Pek Lian ! Nona Pek Lian !!"

Suara itu terdengar sayup - sayup, seperti pang-gilan orang dari jauh, dan ia mengenal benar suara itu, karena selama ini, suara itu hampir selalu ter-ngiang di dalam telinganya. Suara A

- hai! Pek Lian merasa seolah - olah ia terbawa oleh air, ha-nyut di atas perahu kecil, makin jauh meninggalkan A - hai yang juga berada di atas perahu lain dengan seorang dara jelita yang bukan lain adalah Bwee Hong ! Dan A - hai memanggil - manggilnya. Ah, betapa ingin hatinya menjawab panggilan itu, dan betapa inginnya untuk dekat dengan pemuda yang sejak semula telah menimbulkan rasa iba dan suka bercampur kagum di dalam hatinya. Akan tetapi, kini A - hai bersama dengan Bwee Hong dalam sebuah perahu dan ia tahu betapa akrab hubungan antara mereka. Ia tidak ingin menjadi penghalang, tidak ingin menyaingi Bwee Hong! Maka iapun tidak menjawab dan membiarkan perahunya hanyut makin jauh meninggalkan A-hai. Hatinya seperti ditusuk rasanya dan tak tertahankan lagi, iapun menangis terisak - isak ! Padahal, tidak mudah bagi pendekar wanita ini untuk menangis!

"Nona Pek Lian !" Kembali terdengar se-

ruan A - hai, sekali ini suaranya terdengar amat dekat.

"Adik Lian, engkau kenapakah ?" Tiba - tiba terdengar suara Bwee Hong, juga dekat sekali. Pek Lian membuka kedua matanya dan melihat betapa A - hai dan Bwee Hong berlutut di dekat-nya, mengguncang - guncang tubuhnya yang basah kuyup dan kedinginan itu. Ia masih terpengaruh mimpi tadi, mengira bahwa mereka berdua berha-sil mengejarnya dan kini berada di atas perahunya dan berusaha menghiburnya. Keramahan mereka bahkan menambah perih pada luka di hatinya, maka iapun menggerakkan kedua lengannya meno-lak dengan halus dan berkata dengan nada suara sedih,

"Biarkan aku-sendiri ah, biarkan aku sen-

diri dalam kemalanganku hu - huhuuhhh "

Dan iapun terisak menangis karena ia segera teri-ngat akan ayahnya dan merasa betapa sengsara hidupnya.

Seng Kun memberi isyarat kepada adiknya dan A - hai untuk membiarkan dara itu menangis.

Pemuda ini dapat menduga apa yang menyebabkan

Pek Lian berduka, tentu karena teringat akan ayahnya, pikirnya. Tentu saja dia tidak dapat menduga lebih mendalam dari pada itu. Setelah tangis Pek Lian agak mereda, diapun menghibur.

"Nona Ho, harap engkau dapat menenangkan hatimu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan ber-henti berusaha untuk menemukan kembali ayahmu. Hal itu merupakan tugasku, perintah dari sri bagin-da kaisar sendiri."

Pek Lian sadar akan kelemahannya. Iapun bangkit duduk, menyusut air matanya, memandang dengan sinar mata bersyukur kepada Chu Seng Kun dan menarik napas panjang. "Harap kalian maafkan kelemahanku tadi," katanya kepada Bwee Hong, sedangkan A - hai diam saja, memandang bingung karena dia tidak mengerti urusan.

Perahu istimewa mereka itu dipermainkan ge-lombang samudera dan karena mereka berempat tidak berdaya, merekapun hanya dapat menyerah-kan nasib mereka kepada lautan luas. Mereka mencari - cari, namun tidak pernah dapat melihat tanda - tanda tentang teman - teman mpreka yang lain. Tidak ada bayangan seorangpun di antara teman - teman uriereka. Padahal mereka begitu banyak. Kwa Siok Eng dengan anak buahnya, Yap - lojin, Yap Kiong Lee dan Yap Kim. Apakah mereka semua itu telah menjadi korban dan ditelan lautan ?

"Mudah - mudahan saja mereka dapat tertolong, seperti juga kita," kata Seng Kun menghibur hati Pek Lian dan Bwee Hong yang merasa gelisah dan berduka kalau membayangkan malapetaka menimpa teman - teman mereka itu.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, begitu ma-tahari terbit, mereka bergembira sekali melihat daratan begitu dekatnya ! Daratan besar ! Perahu mereka yang dipermainkan gelombang itu ternyata telah dihanyutkan oleh gelombang menuju pantai. Seperti pulih kembali tenaga mereka dan dengan wajah cerah mereka mendayung perahu yang se-sungguhnya bukan perahu melainkan atap perahu itu, mendekat tepi. Mereka hanya menggunakan tangan saja untuk mendayung, akan tetapi karena mereka adalah pendekar - pendekar yang memiliki kekuatan hebat, mereka berhasil juga mendayung perahu atap itu sampai kandas ke pasir. Mereka berlompatan dan dengan pakaian basah kuyup mereka tiba di daratan.

Chu Seng Kun dan A - hai masih lemah walau-pun mereka sudah sembuh. Agaknya, pemuda sinting itu pada dasarnya memiliki tubuh luar biasa yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan Seng Kun, karena tubuhnya tidaklah selemas Seng Kun yang benar - benar harus banyak istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya.

Post a Comment