Halo!

Darah Pendekar Chapter 11

Memuat...

telapak ta-ngan kiri sendiri sehingga mengeluarkan bunyi ke-ras dan mengejutkan semua orang. Pemuda ini bangkit berdiri, wajahnya yang tampan itu kelihatan merah padam. "Bagaimana negara dan bangsa kita dipimpin oleh seorang kaisar yang begitu laknat ? Kami sudah mendengar tentang ratusan ribu rakyat yang dipaksa membangun Tembok Besar dan ratusan ribu orang tewas. Kini kaisar malah membakari kitab-kitab Nabi Khong Cu dan mem-bunuhi para sasterawan ! Sungguh, nama besar Menteri Ho yang membela kaum sasterawan dan berani menentang kaisar sampai berkorban keluarga patut dijunjung tinggi, akan tetapi mengapa membiarkan diri mati penasaran ?" Dia duduk kembali dan berkata dengan marah, "Kelaliman, dari siapapun juga datangnya, harus ditentang !'

Sunyi dan hening sejenak setelah pemuda itu mengeluarkan perasaannya melalui kata-kata keras. Kemudian terdengar suara kakek Bu Kek Siang yang halus, mendinginkan suasana yang panas itu, "Seribu kepala seribu pendapat dan seribu hati seribu selera ! Seng Kun, engkau harus dapat menghargai pendapat dan selera lain orang. Karena engkau masih muda dan berdarah panas maka engkau tidak dapat mengerti mengapa Menteri Ho yang budiman itu menolak puterinya menyelamatkannya. Kalau beliau dipaksa dan dibebaskan, hal itu hanya akan menghancurkan hati beliau dan beliau akan merasa terhina sekali." .

"Tapi. !" Pek Lian yang merasa cocok dengan pendapat Seng Kun tadi hendak

membantah, akan tetapi lengannya disentuh oleh gurunya.

"Nona, ayahmu yang mulia itu adalah seorang patriot sejati, seorang pendekar besar yang di da-lam bidangnya sendiri telah berbakti kepada negara dan bangsa, sama sekali bukan kepada kaisar lalim. Beliau sengaja menentang kaisar, sengaja membiar-kan dirinya ditangkap agar semua mata para pen-dekar terbuka. Beliau memberi contoh untuk melawan kaisar dengan taruhan nyawa. Beliau juga memberontak kepada kaisar, akan tetapi bukan de-ngan cara kasar dari orang- orang golongan bu (silat) seperti kita. Beliau menentang dan membe-rontak dengan cara halus, akan tetapi hasilnya ti-dak kalah besarnya. Kaisar akan nampak semakin buruk dalam pandangan kaum patriot sehingga hal itu akan menambah kekuatan mereka yang menentang kaisar. Ayahmu memiliki kegagahan dan keberanian menentang maut, lebih besar dari pada kita menentang maut dengan pedang di tangan ! Aku amat menghormatinya, nona."

Setelah mengenal Pek Lian sebagai puteri Menteri Ho dan dua orang guru nona itu sebagai para pendekar patriot yang membantu Liu Pang, bengcu yang amat terkenal dan dihormati oleh semua orang gagah itu, hubungan antara tamu dan tuan rumah menjadi semakin akrab. Mereka lalu melakukan penjagaan dan perondaan dilakukan secara bergilir. Pek Lian bersama Bwee Hong berada di dalam kamar nona rumah itu, bercakap-cakap dan kemudian mereka mengaso dengan duduk bersila dan melakukan siulian. Bagi orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi seperti mereka, tidak tidurpun tidak menjadi persoalan dan mereka cukup duduk bersila membiarkan tubuh mereka dan pikiran mereka beristirahat, namun kesadaran mereka masih ada dan biarpun mereka seperti dalam keadaan tidur, namun sedikit perobahan keadaan saja sudah cukup untuk membuat mereka sadar. Mereka tetap waspada. Kakek Bu bersama isterinya juga beristirahat di dalam kamar mereka. Kim-suipoa duduk bersila seorang diri di ruangan tengah, sikapnya penuh kewaspadaan. Pek-bin-houw dan Bu Seng Kun tadinya juga berjaga di situ, akan tetapi mereka berdua lalu melakukan perondaan di sekitar tempat itu dengan hati-hati dan waspada sekali. Sambil meronda, Pek-bin-houw yang merasa amat tertarik oleh keluarga yang menjadi pewaris ilmu dari tokoh datuk yang hidup seabad yang lalu, yaitu Sin-yok-ong itu, mengajak si pemuda untuk membicarakan soal perguruannya.

"Saya pernah mendengar bahwa seabad yang lalu, nama Sin- yok-ong merupakan nama yang amat hebat dan terkenal di seluruh dunia sebagai tokoh yang paling lihai di antara datuk- datuk lainnya yang pernah ada."

"Menurut keterangan ayah memang ada benarnya demikian. Akan tetapi sesungguhnya ilmu silat empat orang datuk itu, dua dari golongan putih dan dua dari golongan hitam, berimbang tingkatnya. Hanya karena sucouw Sin-yok-ong itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hampir dikatakan sempurna, maka beliau mempunyai kelebihan dari pada yang lain, dan agaknya itulah kemenangannya. Sayang bahwa kami sekeluarga tidak mewarisi ginkang yang hebat itu," kata Bu Seng Kun.

"Menurut kata-kata Bhong Kim Cu si jubah coklat itu, keluargamu menerima dua macam ilmu, taihiap."

Bu Seng Kun menarik napas panjang. "Menurut penuturan ayah, di antara tiga orang murid beliau, tidak ada yang memiliki bakat hebat seperti beliau sehingga tidak ada yang dapat menguasai semua ilmu dari sucouw Sin-yok-ong itu. Maka agar adil, sucouw lalu membagi bagi ilmunya, disesuaikan dengan bakat masing- masing. Kakekku, sebagai murid pertama, menerima pusaka tentang latihan tenaga dalam. Murid ke dua menerima kitab pusaka tentang ilmu-ilmu silat dari sucouw dan rahasia-rahasianya, sedangkan murid yang termuda menerima kitab pusaka tentang ilmu ginkang beliau yang hebat itu."

"Sayang bahwa kepandaian yang hebat dari mendiang Sin- yok-ong harus dibagi-bagi seperti itu. Akan tetapi keluarga taihiap selain menerima pusaka, tentang Iweekang, juga memperoleh pusaka ilmu pengobatan." "Benar, akan tetapi justeru ilmu ini sekarang akan dijadikan rebutan dan karenanya memecah-belah persaudaraan seperguruan," kata si pemuda) dengan suara menyesal sekali.

"Lalu di manakah murid termuda yang ahli ginkang itu kini?" Pek-bin-houw merasa amat tertarik.

"Entahlah, seiak kakekku meninggal beliau tidak pernah terdengar lagi berada di mana. Ilmu ginkangnya, menurut ayah, amat hebat, bahkan tidak kalah hebatnya dengan ilmu ginkang yang pernah dimiliki oleh sucouw Sin-yok-ong sendiri."

"Ah, bukan main ! Saya kira di dunia ini tidak ada lagi orang yang dapat menyamai kesempurnaan ginkang dari Sin-yok-ong seperti yang pernah saya dengar dari guru saya."

"Paman keliru," bantah Bu Seng Kun. "Pada jaman sucouw itu, masih ada seorang lagi dari golongan hitam yang malang- melintang di utara dan selatan. Dia ini memiliki ginkang yang boleh dibilang setingkat dengan sucouw, biarpun ilmu silatnya tidak setinggi tingkat keempat orang datuk itu. Tokoh ini amat terkenal, terutama di dunia kang-ouw, di kalangan liok-lim dan bahkan ditakuti oleh pemerintah pada waktu itu. Nama julukannya adalah Bit-bo-ong (Raja Kelelawar)."

"Ah, saya pernah mendengar tentang Raja Kelelawar itu. Seperti dalam dongeng saja dan tidak saya sangka bahwa benar- benar ada orangnya. Kabarnya, tokoh ini menguasai semua golongan hitam, baik dari para pencopet paling kecil sampai maling, perampok, tukang tadah, penjudi dan tempat pelacuran semua dikuasainya. Katanya ilmu silatnya juga hebat sekali. Dia dijuluki Raja Kelelawar karena keluarnya hanya di malam hari, tidak pernah keluar di siang hari. Benarkah itu ?"

"Kabarnya demikian menurut cerita ayah. Yang sungguh menyedihkan, kalau dulu sucouw amat terpandang sebagai datuk para pendekar sedangkan Raja Kelelawar sekalipun tidak berani main-main di depannya. Akan tetapi murid-muridnya membuat perguruan menjadi terpecah-belah, dan sekarang malah paman kakek guru ke dua mengirim murid-muridnya untuk memaksa ayah menyerahkan kitab pusaka yang menjadi hak milik ayah. Sungguh membikin hati penasaran dan menyesal sekali. Mengapa bermusuhan antara saudara seperguruan sendiri sehingga hanya menimbulkan kelemahan di antara saudara sendiri ?"

Pek-bin-houw menarik napas panjang. Dia sudah banyak pengalaman dan tidak merasa heran. Betapapun tinggi kedudukan seorang manusia, betapapun pandainya dia, selama sang aku masih menguasai diri, sang aku yang selalu mengejar kelebihan, sudah pasti hidup ini menjadi arena persaingan, permusuhan dan kebencian, Dia adalah orang luar, tidak berhak mencampuri urusan keturunan datuk sakti itu. Akan tetapi, melihat betapa sikap Bu Seng Kun demikian polos, demikian terbuka terhadap dirinya, diapun merasa tidak enak kalau hanya diam saja.

"Bu-taihiap, sungguh patut disayangkan bahwa ilmu-ilmu dari mendiang kakek buyut gurumu itu, Sin-yok-ong locianpwe, telah terpecah-pecah dan terbagi-bagi sehingga tentu saja menjadi berkurang kelihaiannya. Siapa tahu kalau-kalau usaha peminjaman pusaka itu bermaksud untuk mempersatukan kembali ilmu-ilmu yang tercecer-cecer itu ? Apakah tidak pernah taihiap mempunyai minat untuk mempelajari semua ilmu keturunan perguruan taihiap, dengan jalan mempersatukan dan saling mempelajari dengan ilmu- ilmu yang terjatuh kepada murid-murid yang lain ?"

"Ahhh !" Bu Seng Kun terbelalak dan berteriak kaget. "Benar juga kata-katamu, paman

! Kenapa keluarga kami tidak berpikir sejauh itu ? Bukankah lebih baik kalau kami memberikan kitab itu dan sebaliknya meminjam pusaka mereka dan kami saudara-saudara seperguruan saling mempelajarinya sehingga kami semua dapat mewarisi seluruh ilmu dengan lengkap ?"

Pek-bin-houw tersenyum. "Sebuah pikiran yang baik sekali, Bu-taihiap. Akan tetapi, melihat sikap mereka, agaknya mereka itu tidak dapat di-golongkan pendekar-pendekar dan mungkin saja akan bertindak curang. Bagaimanapun juga, sebaiknya kalau taihiap memperbincangkannya de- ngan ayah taihiap."

Mereka terus meronda dan bulan sudah naik tinggi. Keadaan amat sunyi sekali. Sunyi yang mengerikan karena mereka masih menduga akan adanya ancaman pihak yang tidak beritikad baik terhadap keluarga Bu.

Tiba-tiba saja keadaan menjadi terang-benderang di daerah hutan itu. Kiranya awan tipis yang tadinya lewat dan menghalangi sinar bulan, kini lenyap dan bersih terbawa angin. Langit nampak terang dan bulan tidak terhalang apapun se-hingga dapat menjatuhkan sinarnya ke bumi, se-penuhnya. Pek-bin-houw dan Bu Seng Kun yang mengadakan perondaan, tiba di tepi hutan. Keadaan tetap amat sunyi dan tiba - tiba terdengar bunyi gonggong anjing dari jauh. Bukan seperti anjing menggonggong ke arah bulan purnama, dengan suara yang menyayat hati, seolah- olah anjing yang menggonggong bulan itu menjadi berduka dan menangis, melainkan gonggong anjing pelacak!

"Sungguh aneh, suara itu bukan suara anjing hutan," kata Bu Seng Kun, "dan setahuku, di sini tidak ada anjing jinak peliharaan orang."

Akan tetapi, Pek-bin-houw memegang lengannya dan menarik pemuda itu menyelinap di balik sebatang pohon besar yang gelap dalam bayangan daun-daun lebat. Hidung pendekar tua itu bergerak mencium-cium seperti hidung anjing pelacak pula.

"Mereka datang. " bisik kakek itu dan mukanya berobah pucat.

"Apa...... ? Siapa ?" Seng Kun bertanya, heran sekali melihat kakek pendekar yang gagah

perkasa itu nampak seperti orang ketakutan. "Ssttt...... tunggu dan lihatlah " kata kakek itu.

Pemuda itu kini dapat pula mencium bau harum. Namun dia masih belum mengerti. Dan tak lama kemudian, terdengar lagi gonggong anjing bahkan suaranya ada beberapa ekor. Kemudian muncullah empat orang yang memikul sebuah keranjang bambu yang besar dan panjang. Pek-bin- houw memandang kepada rombongan orang itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Memang keadaan mereka itu amat memeramkan. Pakaian mereka putih-putih dan wajah mereka yang tertimpa sinar bulan itu nampak pucat seperti muka mayat, muka orang yang jarang terkena sinar matahari rupanya. Mereka semua ada delapan orang, empat orang memikul keranjang dan empat orang lagi menjaga di kanan kiri. Empat ekor anjing hitam, putih, coklat dan belang berjalan bersama rombongan ini, kadang-kadang di belakang kadang- kadang mendahului di depan. Anjing-anjing biasa saja, tidak terlalu besar, namun mereka itu nampak liar dan ganas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment